Japanese Herons

Japanese Herons
Origami Kesebelas




🎏


Bagi Lucy, menjadi pusat perhatian orang-orang adalah hal yang wajar. Tapi kali ini sensasinya berbeda karena untuk pertama kalinya orang-orang melihatnya dengan tatapan iri. Meski Lucy tidak dapat memastikan ekspresi sekitar secara jelas, namun ia dapat merasakannya secara pasti.


Hanya saja, wajah Toshi jauh lebih enak dipandang daripada wajah-wajah orang sekitar. Jadinya ia tak lagi mempedulikan sekitar.


"Makanan ini harganya berapa?" Lucy menelan ludah melihat ayam penyet yang Toshi bawa untuknya. Sedikit menyesal dia mendengar Toshi yang menjawab nominal yang hampir menyentuh dua puluh ribu. Seharusnya ia ngotot pesan makanan sendiri saat Toshi memaksa untuk memesankannya.


"Kenapa? Ini kesukaanmu, kan?" Laki-laki itu tersenyum kemudian duduk di hadapan Lucy.


"I-iya sih, tapi ..." Lucy menggaruk tengkuk yang tidak gatal mengingat uang yang ia punya hanya sepuluh ribu dari pemotongan Milo ditambah tiga ribu sisa uang kemarin.


"Aku tidak tahu kalau kamu orangnya tidak suka traktiran." Mendengar hal itu, Lucy langsung menyanggah dan mengatakan jika ia senang dengan traktiran. Toshi menertawai keluguannya dan Lucy hanya tertunduk malu.


"Tadi ..."


"Tadi ..."


Mereka berdua bicara pada saat yang bersamaan. Untuk beberapa detik mata mereka saling terpaku satu sama lain sebelum akhirnya saling lempar siapa duluan yang bicara. Lucy akhirnya mengalah setelah Toshi memaksanya untuk bicara duluan. Paksaan yang kurang lebih sama seperti saat ingin memesan makanan tadi.


"Tadi ada mahasiswi kakak yang minta nomor ponsel kakak, aku—"


"Kau memberikannya?" Potong Toshi cepat.


"Be-belum."


"Belum?" Suara Toshi terdengar meninggi. "Itu artinya kau akan memberikannya? Tidak boleh."


Lucy menatap Toshi bingung. "Tidak boleh? Kenapa?"


"Pokoknya tidak boleh. Mereka cuma mau mengganggu." Toshi menggeleng beberapa kali.


Lucy menghela napas gusar. "Apakah selama ini aku juga mengganggu kakak?"


"Tidak. Aku tidak pernah merasa terganggu olehmu." Lucy senang mendengar jawaban lugas dari sosok pria di depannya. Matanya tak henti-hentinya melihat cara Toshi menyuap dan mengunyah. Ia bahkan suka dengan cara pria itu menghancurkan makannya.


"Nah, sekarang ap—"


"Permisi." Keduanya menolehkan wajah ketika suara merdu menghampiri mereka. "Boleh aku duduk di sini? Sepertinya semua meja sudah penuh."


Lucy tersenyum melihat wajah cantik Shinzui disertai Erika di belakangnya. "Tentu sa—"


"Tidak boleh." Jawaban Toshi sontak membuat tiga pasang mata di sekitar melebar. "Kami ingin berdua."


"Tapi Kak Toshi."


"Kau belum periksa meja pojok kiri ruang seberang."


Shinzui mengecutkan bibir dan pergi dengan gumaman yang tidak jelas. Erika yang masih tak percaya hanya bisa mengekori.


"Dia cantik sekali seperti Jisoo." Puji Lucy saat melihat Shinzui yang melenggang pergi.


"Memangnya kau tahu Jisoo itu siapa?"


Lucy menggeleng dan Toshi tertawa mendapatinya. "Kenapa kau samakan dia dengan orang yang tidak kau ketahui?"


"Entahlah, mendengar Olivia sering menyebutkannya membuatku merasa jika Jisoo cewek yang cantik. Kakak tahu sama Jisoo?"


"Enggak."


Keduanya tertawa secara bersamaan setelahnya. Lucy kemudian menanyakan alasan kenapa Toshi tidak membolehkan Shinzui dan Erika bergabung di mejanya padahal masih bersisa dua kursi. Toshi menjawab alasan yang sama dengan yang ia katakan pada Shinzui sebelumnya.


"Oh iya, kakak tadi mau bilang apa?"


Toshi berpikir dan mengingat-ingat sejenak. "Ah, kapan kau akan perkenalkan aku dengan Milo? Aku ingin tahu dia laki-laki seperti apa."


"Dia baik."


Toshi menatap Lucy dalam. "Benarkah? Dia tidak mengejekmu, kan?"


Lucy menggeleng pelan. "Aku merasa seperti memiliki seorang kakak."


Toshi terlihat tak senang mendengar hal itu. Kemudian setelahnya ia menyerobot, "besok, setelah jam pelajaranku, kau harus kenalkan aku padanya."


Lucy tersenyum lebar. Senang bukan karena Toshi yang ingin cepat-cepat bertemu Milo, tapi senang karena besok akhirnya ia bisa berada di kelas Toshi.


🎐🎐🎐


"Aku tidak mengerti." Mendapati Arthur yang mengatakan hal sedemikian rupa, membuat Lisa mengerutkan dahi turut kecewa. "Katanya dia sedang sibuk begitu pula dengan istrinya."


"Mereka tak mau menemui Lucy?" Tanya Lisa kemudian, Arthur menggeleng. "Tapi ini sudah hampir satu bulan, setidaknya mereka menelpon anak itu."


Arthur mengidikkan bahu. "Mungkin mereka menelpon ketika Lucy sedang sendiri atau di kampus. Lagipula baru-baru ini adiknya menemuinya bukan?"


Lisa mengangguk kemudian meninggalkan suaminya ke dapur. Ia tersenyum mendapati Lucy yang sedang melipat sesuatu di meja makan. Saat turut bergabung, ia melihat beberapa origami bangau yang sudah terlipat dan kini Lucy sedang menulisan sesuatu di atas kertas origami yang baru.


"Bagus sekali." Ketika mangatakan hal itu, Lucy baru menyadari keberadaan Ibunya Milo di sana.


"Tante." Dia terkekeh. "Aku memang suka membuat origami bangau."


"Benarkah? Lalu apa yang sedang kau tulis di dalamnya?"


Lucy menyelesaikan tulisannya sebelum menjawab. "Harapan."


Lisa tersenyum mendengarnya seraya memperhatikan raut wajah lucy untuk beberapa saat. "Kau gadis yang punya banyak mimpi," ucapnya yang kemudian bangkit dan kembali melanjutkan masak.


Tak lama, Milo turun dari lantai dua. Matanya mengernyit melihat apa yang tengah dilakukan Lucy saat ini. Tanpa berusaha menghiraukan, ia duduk di kursi yang berlainan.


"Lucy, kau tidak memeriksa ponselmu? Tante dengar dari Milo sedang ada pengumuman tentang mahasiswa baru," tanya Lisa tanpa menoleh.


Lucy melirik Milo yang saat ini juga menatpnya. "Lucy akan periksa di kampus saja, Tante."


"Periksa saja sekarang." Lisa meniriskan ayam yang baru saja ia goreng.


"Lucy akan periksa saat di kampus. Saat ini paket internetku kadaluarsa, aku akan gunakan wi-fi kampus." Jelas Lucy.


"Kalau begitu minta hotspot Milo saja."


Milo mendelik dan menolak mentah-mentah saran ibunya yang berat sebelah. Ia turut menjelaskan jika pengumuannya tidak terlalu penting, hanya sebatas uang pembayaran dan pakaian kampus.


"Sebentar saja Milo." Bujuk ibunya. Milo bersihkeras tidak mau berbagi sampai-sampai ayahnya yang secara tiba-tiba berada di belakangnya, merebut ponselnya begitu saja.


"Ayah!" Laki-laki itu merengek, tapi ayahnya tidak mempedulikan.


"Sudah dihidupkan. Hotspotnya unlimited." Om Arthur mempersilakan Lucy. Gadis itu melirik sekilas Milo yang melotot memperingatkan, tetapi perintah Om Arthur dan tante Lisa tidak dapat ditolaknya. Jadinya dia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel, namun ternyata Milo juga mendatangi kamarnya.


"Cepat buka IG-mu!" Perintah Milo dengan sungkan. Lucy berterima kasih dan duduk di ranjangnya seraya membuka Instagram.


Mata gadis itu terbelalak seketika tatkala melihat pemberitahuan yang tertera di sana. 'Toshi Tetsunaga' muali mengikuti anda. "Wowww!" Lucy melompat dari ranjangnya dan itu mengagetkan Milo hingga laki-laki itu mendelik heran.


"Apa? Kenapa?"


"Kak Toshi ngefollow IG aku." Teriak Lucy girang. Milo mendengus jengah kemudian menggelengkan kepala. "Aku pikir tadi ada kenapa-napa."


Lucy tersenyum dan memeluk ponselnya dengan mata yang menatap ke atas tak beraturan. Kalimat-kalimat syukur terpanjatkan di bibirnya dan itu membuat Milo mendenguskan napas heran.


"Milo, besok kak Toshi mau ketemu kamu. Dia mau kenal sama kamu."


Milo menyeringai. "Tidak mau, besok aku tidak ada jam kuliah."


"Bagaimana bertemu sebentar setelah kau mengantarku ke kampus?"


"Tidak mau."


"Saat menjemput?"


"Tidak, tidak, tidak." Laki-laki itu menggeleng dan mulai menyuruh Lucy untuk segera menyelesaikan hajatnya dalam penggunaan hotspot Milo.


Lucy meminta maaf. "Aku punya dua pengikut, satunya lagi akun Obat Peninggi Badan."


Milo mendengus geli mendengarnya.


🎐🎐🎐


"Kamu gak apa-apa nih tidak pakai kacamata? Bagaimana kalau ada yang presentasi pakai power point, kamu bisa lihat gak?" Toshi bertanya khawatir saat ia akan memulai kelasnya hari ini. Ia bahkan menyuruh Lucy untuk duduk di barisan paling depan meski Lucy sudah melakukannya.


"Orang presentasi pun pasti menjelaskannya secara lebih terperinci. Jadi aku bisa mengandalkan telingaku." Jawab Lucy kemudian.


Toshi tersenyum dan menepuk-nepuk kepala anak itu. "Aku bangga padamu."


Ia tersenyum beriringan dengan detak jantung yang bergemuruh. Beberapa orang melihatnya dengan tatapan tak suka, namun Lucy berusaha untuk tidak mengiraukannya.


Saat kelasnya di mulai, Lucy tak menyangka jika dia tidak bisa berkonsentrasi. Bahkan tujuh puluh persen materi yang dipaparkan Toshi tidak masuk ke otaknya. Selama itu ia hanya terpaku pada Toshi yang terlihat begitu berwibawa memandu kelas dan menjelaskan tentang materi sastra secara lugas. Alam bawah sadar Lucy mulai membawanya pada sosok kepala rumah tangga yang membimbingnya dan anak-anaknya secara baik suatu hari nanti.


Gadis itu menggelengkan kepala menyadarkan diri ketika kelasnya selesai. Ia melihat hasil catatannya yang tak ternodai sedikitpun.


Detak jantungnya semakin kuat melihat siluet tubuh Toshi yang membereskan map ditimpa sinar matahari dari jendela. Beberapa mahasiswa meninggalkan kelas, namun Lucy hanya terpaku di tempat. Setelahnya, Toshi menatapnya dan berjalan ke arahnya.


"Sudah siap?"


"S-siap apa?" Lucy gelagapan dan mengusap wajahnya sekali guna mengembalikan fokus.


"Bertemu Milo."


Untuk beberapa detik Lucy hanya tertegun. "Ah, Milo? Iya-iya. Anu, itu, dia gak mau."


"Apa?"


"M-maksudnya gak bisa dateng hari ini ... mungkin besok karena hari ini dia sedang ada jadwal." Jelas Lucy terbata-bata.


Toshi mengangguk mengerti. "Kalau begitu aku yang akan mengantarmu pulang hari ini. Mau?"


Kepala Lucy mengangguk begitu saja seperti anjing hiasan mobil. Kelasnya sudah berakhir dan Milo menjemputnya sekitar satu jam lagi sesuai yang Lucy katakan sebelumnya. Namun, karena Toshi ingin mengantarnya, ia tidak perlu menunggu Milo.


"Pegangan." Pinta Toshi ketika Lucy sudah menaiki motor. Wajah Lucy merah padam karena Milo dan Jun sebelumnya tidak pernah mengatakan hal ini ketika Lucy menaiki motornya. Perlahan, Lucy memegang punggung tegap Toshi dan itu semakin membuat jantungnya berdetak kencang.


"Kakak ngefollow IG aku, ya?" Tanya Lucy di pertengahan jalan.


"Iya, aku sempat gak kepikiran jika kamu buat IG, aku bahkan gak tahu awalanya kalau itu IG kamu. Tapi lihat namanya aku rasa itu memang IG kamu."


Lucy tersenyum dan mulai merasakan angin yang menerpa wajahnya. Dulu ia juga sering dibonceng bersepeda oleh Toshi dan sesnasi seperti inilah yang kerap ia rindukan.


"Ini rumahnya?" Laki-laki itu mengedarkan pandangan pada rumah Milo setelah sampai. Lucy turun dari motor dan mengiyakan.


"Kalau begitu sampai jumpa lagi ya. Jangan lupa untuk perkenalkan kakak barumu padaku." Terdengar penekanan pada kata 'Kakak'.


Lucy mengangguk dan berterima kasih. Namun, tidak seperti Milo dan Jun yang melaju begitu saja, Toshi justru menyuruh Lucy untuk masuk ke rumah duluan sebelum melajukan motornya.


Dengan malu-malu, Lucy melangkah dan sempat menoleh ketika sudah berada di ambang pintu. Toshi masih menunggunya dan menyuruhnya masuk.


Dengan cepat, Lucy menutup pintu dan langsung mengintip dari jendela. Senyumnya mengembang tatkala melihat Toshi yang mulai menghidupkan motornya dan berputar arah. Kemudian senyum itu hilang ketika bayangan samar motornya sudah tak terlihat.


🎐🎐🎐


ORIGAMI 11 : Pria di Masa Depan