
π
Tak pernah terbayangkan dalam hidup Lucy sebelumnya jika akhirnya dia bisa duduk di motornya Jun meski sepanjang jalan Jun tidak mengeluarkan kata apa-apa. Dulu, saat ulang tahun Jun yang ke lima belas, ayah dan ibu mereka menghadiahinya motor ini meski tentu saja Jun tidak dan belum bisa memiliki SIM.
Hanya saja, Jun tidak pernah mau mengajak Lucy untuk sekadar pergi bersama di motornya. Orang tuanya pun berpendapat sama, mereka berpendapat jika Lucy akan mempermalukan Jun di depan teman-temannya.
Jadinya, setiap pergi dan pulang sekolah, Lucy selalu naik angkot sementara Jun dengan motornya.
Lingkungan universitas termasuk baru bagi Lucy karena arah dari rumah ke sekolah-sekolahnya dulu bertolak belakang dengan arah dari rumah ke kampusnya saat ini. Jadinya, Lucy belum mengenal jalan dan lingkungannya meski ia sudah lima hari pergi pulang di sini.
Lucy memejamkan mata sejenak, merasakan sensasi yang pernah dirasakan oleh pacar-pacarnya Jun terhadap boncengan di bagian belakang. Gadis itu senang melihat Jun yang semakin tumbuh dewasa. Bahu tegapnya yang terlihat menyerupai bahu Toshi saat masih SMA dulu, dan harum shamponya yang pernah menjadi wangi kesukaan Lucy.
Selain dengan Toshi, Lucy selalu ingin berada sedekat ini dengan Jun meski hal ini terbilang langka.
Ketika Lucy memberikan arahan pada jalan terakhir menuju rumah Milo, Jun menghentikan motornya tidak tepat di depan rumah Milo. Laki-laki itu mengode Lucy untuk turun, dan ahirnya Lucy turun.
Dengan semangat dan senyum lebar, ia kembali menatap wajah Jun yang cukup lama tidak dilihatnya. "Aku merinβ"
"Jangan hubungi aku lagi," potong Jun dingin. Mata sipitnya menatap tajam pupil Lucy yang bergerak berlawanan arah. "Seharusnya aku sudah memblokir nomormu."
"Jun ..."
"Hidupku lebih baik setelah kakak tidak ada di rumah." Ucapan itu menusuk dan menembus jantung Lucy yang lemah. "Aku kira kakak sudah pergi dari hidupku, namun tidak. Jadi, aku minta kalau ini yang terakhir kalinya."
Belum sempat Lucy mengucapkan sepatah kata balasan apapun, Jun sudah memutar motornya dan melaju pergi.
Lucy menatap pergi cahaya motor Jun yang telah hilang dengan tatapan sedih. Kemudian ia mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas. Yosh!
πππ
"Ya ampun Lucy, Tante baru saja mau menelponmu." Lisa yang melihat kemunculan Lucy dari pintu depan rumahnya, langsung mengusap kedua pipi gadis itu. "Tante sempat kaget saat Milo pulang sendirian."
"Dia meninggalkanmu?" Pandangan Lucy beralih kepada Om Arthur yang bersedekap, dari lekuk wajah dan alis datarnya, dapat dipastikan perasaannya saat ini sedang tidak senang.
Lucy melirik sekilas Milo, yang wajahnya tertunduk, di kursi meja makan.
"Tidak." Jawaban Lucy membuat laki-laki itu menegakkan wajah. "Aku tadi sempat bertemu dengan Jun, jadinya aku meminta Milo pulang lebih dulu dengan Olivia."
"Kalian dengar sendiri, kan? Aku tidak meninggalkan dia." Milo menghentak seraya menendang kursi tempat duduknya. Laki-laki itu melangkah ke atas menuju kamarnya dengan kesal.
Arthur yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala sebelum akhirnya melenggang.
Lucy tersenyum senang. "Tante, hari ini aku bertemu Kak Toshi. Aku senang sekali."
"Benarkah?" Air wajah Lisa berubah seketika. Lucy mengangguk mengiyakan.
"Aku akan menceritakannya nanti, aku mau mandi dan sholat dulu." Pamit Lucy yang kemudian menuju lantai atas. Lisa kembali melanjutkan masaknya sementara yang lain tengah berbenah diri.
Tak lama, Milo orang pertama yang menyambangi meja makan. Lisa menuangkan beberapa sayuran ke piring seraya melihat putranya tajam. "Aku tak suka melihatmu berbohong."
"Ibu masih tak percaya?" Milo mengalihkan wajah dari ponselnya. "Lucy sendiri sudah menjelaskan, bukan?"
"Dia gadis yang polos, Milo." Lisa kembali membawa panci ke tempatnya dan mematikan kompor. "Mudah sekali mendeteksi jika dia tengah berbohong."
Milo ingin kembali membantah sebelum hal itu diurungkannya setelah sang ayah keluar dari kamar dan menggambrungi meja makan. Milo berusaha kembali fokus pada ponselnya untuk beberapa saat.
"Panggil Lucy." Perintah ayahnya kemudian. Milo yang tak punya pilihan akhirnya hanya bisa menurut dengan terpaksa.
Laki-laki itu berjalan malas menaiki tangga. Akan tetapi, di pertengahan tangga, ayahnya kembali memanggilnya.
"Milo." Milo berbalik badan. "Jangan lakukan hal itu lagi."
Milo menggeram mendengar peringatan itu. Seketika, ia mempercepat langkah menuju lantai atas dengan perasaan yang begitu kesal. Ketika ia mendapati pintu Lucy yang terbuka, ia langsung saja memanggil Lucy dari ujung lorong. Akan tetapi, Lucy tak menyahut panggilannya.
Milo mendesah dan berjalan sampai ke ambang pintu kamar gadis itu. Namun, mulutnya terkatup saat melihat Lucy yang tengah menciumi origami bangau berwarna biru muda. Gadis itu menciuminya beberapa kali sebelum tersenyum menatapnya untuk beberapa saat.
Setelahnya, gadis itu meletakkannya ke etalase bagian atas. Milo melebarkan mata sedikit tatkala mendapati ada tiga buah origami yang kini terletak di etalase bagian atas. Mendapati hal itu, matanya refleks melihat etalase bagian bawah yang masih kosong.
Dan, enatah kenapa, perasaannya lega melihat hal itu.
Seketika ia membuang pikiran anehnya dan berdehem. Saat itu juga Lucy baru menyadari keberadaan Milo di sana. Milo memberi kode untuk Lucy segera turun ke bawah, dan Lucy langsung mengekorinya.
Ia tersenyum melihat Om Arthur dan Tante Lisa sudah menunggu di meja makan.
Lisa mengambilkan nasi untuk Lucy tepat saat gadis itu mendaratkan badannya di kursi. "Kau bilang kau bertemu adikmu, kenapa tidak sekalian kau ajak mampir? Om dan Tante mau bertemu dengannya."
Lucy mengulum senyum. "Sepertinya dia sedang sibuk, Te."
"Ah masa? Ini kan baru tahun ajaran baru." Lucy hanya bisa tersipu terhadap ketelitian Ibunya Milo. Ia kembali memberikan alasan jika Jun tengah mempersiapkan diri dalam kegiatan organisasi, dan kali ini mereka percaya.
"Bagaimana dengan Toshi?" Tanya Lisa kembali setelah semuanya sudah bersiap menyantap hidangan.
Dengan senangnya, Lucy menceritakan setiap detail tentang pertemuan emasnya hari ini. Lisa bahkan terpaku pada wajah dan mata Lucy yang berbinar-binar saat menceritakannya. Lucy bahkan menambahkan cerita tentang dirinya dan Toshi saat masih kecil dulu, juga menambahkan tentang Jun yang kadang ia sandingkan dengan Toshi.
"Om Arthur, apa benar Om itu temannya ayah?" Tanya Lucy kemudian.
Arthur mengiyakan. "Kami bersahabat sejak kuliah."
"Benarkah? Tapi aku gak pernah lihat Om main ke rumah kami."
"Ronald juga gak pernah main ke rumah Om." Arthur tersenyum melihat Lucy yang tertawa. Gadis itu kembali melanjutkan makannya hingga beberapa saat kemudian, dia kembali bertanya.
"Om tahu gak kenapa aku dititipin di sini?"
"Setelah berminggu-minggu, kenapa kau baru tanya sekarang?" Milo tersenyum miring, "kau ituβ"
"Ayahmu tidak memberi tahumu?" Potong Lisa cepat. Milo mengatupkan mulut saat mata ayahnya terlihat ingin membunuhnya.
Lucy menggeleng.
"Sekarang akan Tante kasih tahu. Ayahmu ingin kamu punya orang tua tambahan karena gadis spesial seperti kamu berhak mempunyai empat orang tua. Juga tidak hanya punya seorang adik, tapi juga punya seorang kakak."
Lucy mengembangkan mata dengan sorot yang berwarna. Ia melirik Milo sesaat. Meski laki-laki itu terlihat bersungut-sungut, tapi Lucy tetap merasa senang.
πππ
"Hei, Lucy ya?" Beberapa orang gadis tengah mendekati kursi paling depan yang diisi oleh Lucy.
Lucy mengernyit untuk beberapa saat. "Iya." Matanya takjub akan kecantikan ketiga orang yang saat ini berada di depannya. Satu orang terlihat tak asing baginya, tapi ia lupa pernah melihatnya di mana.
"Namaku Elisa, seniormu."
Lucy memberikan salam sesopan mungkin mendengar hal itu. Elisa mengibaskan tangan sungkan.
"Jangan seperti itu. Bersikap nonformal saja." Gadis itu tersenyum ramah.
"Kakak asisten dosen, kan?" Elisa menyambut baik tebakkan Lucy yang tepat sasaran.
"Aku Erika, jika kau ingat, aku yang memegang kendali ponselmu hari itu. Aku minta maaf sekali lagi." Erika yang berambut pendek tersenyum sekaligus memancarkan aura yang berbeda.
Seketika Lucy teringat. "Apakah kakak-kakak ini temannya Kak Olivia?"
Mereka membisu beberapa saat dan saling bertukar pandang. Beberapa saat setelahnya Elisa mengiyakan.
"Kalau begitu, Kakak cantik ini pasti Jisoo."
"Bukan, aku Shinzui." Gadis itu tersenyum dan duduk di samping Lucy. "Jisoo itu artis korea."
Telinga Lucy panas mendengarnya. Itu artinya ia harus secantik orang Korea untuk terlihat layak di mata pacarnya Milo. Padahal Lucy yang paling cantik di Indonesia, apa ia juga harus menjadi yang tercantik di Korea?
"Hei, apakah kau benar teman masa kecilnya Kak Toshi."
Lucy mengrejap beberapa saat, terpaku pada mata anjing yang Shinzui gunakan. "I-iya, sejak aku kecil."
"Kau menyimpan foto Kak Toshi ketika masih sekolah?"
"Sebelumnya ada." Lucy melirik Erika. "Tapi sekarang sudah hilang."
"Aku minta maaf, aku yang menghapusnya."
Shinzui dan Elisa seketika melototkan mata pada Erika. Shinzui sempat bergumam karena fotonya hilang. Lucy sendiri tak mengerti apa maksud dari seniornya yang terlihat begitu kesal.
"Bukankah di ponsel saat ini, foto yang dihapus masih dapat di lihat? Itu belum dihapus untuk kedua kalinya, kan? Jadi masih bisa."
"Benarkah?" Lucy langsung menyerahkan ponselnya saat Shinzui mengiyakan dan meminta ponsel Lucy secara gamblang. Hanya saja, ketika melihat ponsel milik Lucy, wajah shinzui dan Elisa berubah masam.
"Ini ponsel lama, tidak ada fitur yang seperti itu di ponsel ini."
Lucy meminta maaf dan menjelaskan jika itu ponsel bekas sang ayah.
Shinzui dan Elisa mendengus jengah. Kini mereka menatap Lucy dengan tatapan yang berbeda. "Kau punya nomor WA Kak Toshi?"
"WA itu apa? Semacam Instagram ya?"
Ketiga orang itu tertawa. "WA sama saja dengan nomor ponsel."
Lucy mengangguk paham. "Ada, tapi aku tak dapat memberikannya tanpa izin."
Elisa memelaskan wajahnya. "Ayolah Lucy." Gadis itu menggenggam tangan Lucy dan meremas-remasnya. "Aku sebagai asistennya kadang kesulitan jika hanya mengontaknya melalui Line. Aku butuh nomornya."
Lucy masih menolak, namun ketiga orang itu terus berusaha memaksanya untuk memberikan nomor ponsel Toshi.
Sampai akhirnya Lucy tak punya pilihan dan menyebutkan nomor ponselnya.
"Kosong delapanβ"
"Claw!" Semua kepala menoleh dan semua mata melebar saat mendapati Toshi yang berdiri di amban pintu. "Ayo kita makan siang."
Tanpa mempedulikan yang lain, Lucy langsung menyambut ajakannya.
πππ
**ORIGAMI 10 : Adik Laki-laki dan Kakak Laki-Laki
Hai Guyss, giman nih cetitanya?
Masih bisa tahan kan baca ceritanya.
Baca terus ya, dijamin ceritanya gak bakal bikin kecewa(kecuali typo yang berhamburan kayak gliter di sekujur badanπ )
See ya,.
π
Qomichi**