
π
Beberapa hari setelah ujian, yaitu hari-hari bebas di kampus, Lucy benar-benar kehilangan kontak Toshi. Lucy bahkan tak pernah lagi melihat Toshi di kampus. Jika ia meminta Milo mengantarnya seperti sebelumnya, laki-laki itu pasti menolak karena akhir-akhir ini dia terlihat ingin bebas menghabiskan waktu bersama sang pacar.
Jika Lucy menekatkan diri datang ke sana sendirian dan orangtuanya kembali menemuinya, hal yang sama bisa saja terulang. Lucy sudah berjanji untuk tidak mengusik kehidupan Jun lagi meski waktu itu secara tidak sengaja ia sudah melanggarnya.
Lucy menenteng tas gendongnya karena Milo sudah teriak dari bawah menyuruhnya untuk berkemas cepat. Langkah Lucy tersendat ketika ponselnya berdering dan terpampang nama Toshi pada layar ponselnya.
Tangan Lucy bergetar dan spontan ia berjingkrak-jingkrak. "Kakak!!!!" Gadis itu langsung menyembur, "Kak Toshi di mana? Telponku kok gak pernah dibalas? Kakak sesibuk apa sih sekarang?"
Terdengar kekehan suara berat Toshi dari seberang sana. Lucy merasakan haru setelah sekian lama tak mendengar suara Toshi lagi. "Iya-iya, Kakak minta maaf soalnya banyak banget yang harus Kakak persiapin akhir-akhir ini."
"Tentang kepindahan?"
"Bisa jadi."
"Kakak!" Lucy merengek tak terima, entah kenapa sifat manjanya kembali keluar setelah menghilang bertahun-tahun yang lalu.
Toshi kembali tertawa mendengarnya. "Maafkan Kakak tidak memberikan kabar padamu akhir-akhir ini," ucap Toshi setelahnya, "Kakak juga kengen dengan kamu."
Seketika kembang api rasanya berletupan di hatinya. Lucy bahkan mencium layar ponselnya berkali-kali saking bahagianya.
"Lucy!!!!" Teriakan Milo dari bawah membuat Lucy tersadar. Gadis itu mulai meninggalkan kamar dan berjalan lambat dengan ponsel yang masih di telinga.
"Nanti saat sudah sampai di kampus, kamu temui Kakak di rooftop gedung sastra."
Tanpa syarat apapun, Lucy langsung mengiyakannya. Gadis itu memeluk ponselnya setelah sambungan terputus dan terhuyung seperti orang mabuk. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa ketemu lagi dengan Toshi. Saat di kampus nanti, ia akan mengintrogasi laki-laki itu dengan sejuta pertanyaan.
"Dasar siput!" Teriak Milo yang menyusul Lucy ke lantai atas.
Lucy tersentak kaget namun kembali menjadi bahagia. "Milo! Kak Toshi telpon lagi!" Gadis itu melompat-lompat. "Dia mau ajak aku ketemuan." Wajah Lucy memerah dan Milo hanya menggelengkan kepala.
Laki-laki itu mendesah dan berbalik badan. Akan tetapi, tubuhnya tertahan oleh Lucy yang memeluknya dari belakang.
Entah mengapa, tapi Milo merasakan ada yang aneh dalam dadanya. "Hei! Kau ini kenapa? Lepas!"
"Aku senang." Lucy malah mempererat pelukannya. "Aku tidak pernah sesenang ini. Aku pikir dia akan menghilang dari kehidupanku."
Milo tertegun mendengar kalimat persis seperti yang Olivia ucapkan dulu sekali. Laki-laki itu akhirnya membiarkan Lucy memeluknya hingga gadis itu melepaskannya sendiri.
πππ
Ketika telah sampai di parkiran, Lucy langsung ngonyor begitu saja tanpa kata-kata penutup. Milo menyipitkan matanya mulai mengenali jika gadis itu semakin tidak waras.
Belum genap ia menginjakkan kaki di tanah, ponselnya berdering dan itu membuatnya kembali duduk di atas motor. Senyumnya mengembang ketika melihat nama 'Olivia Puppy Beary Honey Sweatty Jegermenjensen' di layar ponselnya.
"Halβ"
"Milooooo!!!!" Milo menjauhkan ponselnya ketika teriakan Olivia memekakan telinganya. "Aku gak mau tahu, pokoknya jemput aku sekarang di jalan depan rumah. Aku gak mau naik angkot yang kecepatan rata-ratanya itu gak sesuai aturan Gerak Lurus Berubah Beraturan. Mana tadi supir bau ketek goda-godain aku. Aku maunya kamu anter aku sekaraaaaang!"
Milo menjawab dengan satu kata. "Iya." Entah mengapa rasanya seluruh wanita hari ini sedang kehilangan kewarasannya. Meski Olivia sering melakukan protes terhadapa apa yang terjadi padanya, tapi ini kali pertama ia melibatkan Milo di dalamnya.
Milo menemukan pacarnya yang bersungut-sungut ketika ia telah sampai ke tempat kejadian perkara.
Ketika menghentikan motor tak jauh dari gadis itu, Olivia mendatanginya dengan bibir yang melengkung ke bawah. "Tadi supir angkotnya godain aku. Aku gak suka digodain Pa'de-Pa'de bau ketek." Olivia duduk di bangku belakang dan langsung memeluk Milo. "Aku suka cowok wangi kayak kamu."
Milo terkekeh mendengarnya dan melepaskan pelukan gadis itu. "Ayo ngaku! Kamu sebenarnya kenapa hari ini?"
Olivia menggeleng, "aku gak kenapa-napa, kok."
"Serius?"
"Suer!" Olivia menunjukkan jari telunjuk dan tengah. "Sumpah demi kebenaran Dalil Phytagoras."
Milo nyengir tak mengerti. Ia menggelengkan kepala dan mengencangkan helmnya. "Kalau memang gak ada maksud apa-apa, peluk aku lebih kenceng lagi dong!"
Olivia langsung mengencangkan pelukannya sampai Milo merasa tidak bisa bernapas.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Milo kembali bertanya-tanya. Hal ini dikarenakan Olivia yang sering menyembunyikan kesedihannya dengan bersikap menjadi kucing manja. Hal itu pernah dirasakan Milo saat kedua orangtua pacarnya resmi bercerai.
Saat itu Olivia bertingkah serupa, di mana dia tidak pernah melepaskan Milo dari pelukannya. Sampai akhirnya, ketika di akhir hari Milo hendak mengantarnya pulang, Olivia justru tidak mau pulang. Dan akhirnya gadis itu mengaku jika kedua orangtuanya bercerai.
Olivia memang gadis egois dan kasar. Namun, dia memiliki sisi lembut yang kadang terlihat seperti manusia berkepribadian ganda. Hanya saja, hal itu hanya ditunjukkan pada Milo seorang. Itu membuat Milo merasa kalau dirinya istimewa bagi sang pacar.
"Olivia kamu mau mengakuinya sekarang?"
"Kamu ini ngomong apa sih?"
Milo menatap mata gadis itu dalam. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
"Nanti juga kamu tahu sendiri."
Milo berdecak mendengar jawaban itu. Ia menatap pacarnya dengan raut khawatir meski itu hanya dapat dilakukan melalui kaca spion. "Apakah kabar buruk lainnya?" Tanya Milo kemudian di pertengahan jalan.
Olivia menggeleng. "Ini kabar baik untukmu."
Milo tak bertanya apa-apa lagi setelahnya. Ia melajukan motor dengan kecepatan tinggi hingga sampai di parkiran kampus. Serasa seperti deja vu, Olivia turun begitu saja dan berjalan cepat meninggalkan Milo.
Milo sempat memanggilnya beberapa kali, sampai akhirnya ia harus berlari untuk kemudian menyeimbangi langkah gadis itu.
Sepenjang perjalanan, Milo bertanya kenapa Olivia terburu-buru dan apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, Olivia tak menggubris pertanyaan itu dan terus berjalan cepat menuju ke Gedung Sastra. Milo hanya mengekori tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Olivia semakin mempercepat langkahnya menuju ke salah satu kelas yang ada di Gedung Sastra. Ketika Olivia masuk ke sana, gadis itu mulai meneteskan air mata mengikuti orang-orang yang ada di sana.
Milo melebarkan mata sekaligus menambah kerutan di dahi melihat pacarnya yang tiba-tiba tersedu. Olivia memeluk Shinzui yang sudah menangis terisak-isak, sementara Elisa sedikit memisahkan diri dan dapat Milo pastikan jika gadis itu juga menangis meski menutup wajah dengan kedua tangan.
Milo menggaruk kepala serba salah. Sebenarnya apa yang terjadi, ia tak paham sama sekali.
Memilih posisi netral, Milo mendekati Erika yang tidak menangis. Gadis itu hanya menenangkan teman-temannya yang lain.
Erika mengela napas dan tertunduk lesu, kemudian gadis itu menyerahkan sesuatu kepada Milo.
Milo terkesiap dengan apa yang saat ini ada di tangannya. Dengan perasaan kaget, senyum lebarnya mulai terukir. Ini pasti menyenangkan.
πππ
Lucy melambaikan tangan ketika sudah melewati berpuluh-puluh anak tangga dengan waktu yang cukup lama. Rasa lelahnya terbayarkan sudah ketika melihat wajah tampan Toshi terukir di depannya.
Gadis itu sedikit melompat kegirangan, menggambrungi posisi pria yang ada di depannya yang saat ini tengah menikmati spektrum birunya langit.
"Aku hampir mati karena rindu dengan Kakak."
Toshi menyelipkan kedua tangan di dalam saku celananya. "Tidak usah berlebihan."
"Bagaimana tidak berlebihan? Kakak hilang dari kehidupanku, lalu muncul, lalu hilang lagi, lalu muncul lagi sesaat, lalu hilang lagi. Aku bersumpah tak akan menyerukan Eiketsu no Asa lagi dalam kehidupanku."
Rentetan kalimat yang jarang sekali terdengar dari mulut Lucy membuat Toshi tertawa mendengarnya. Laki-laki itu menatap wajah Lucy dengan senang. "Kau mau memberikanku beberapa bait tentang langit yang indah ini?"
Lucy melirik langit yang tengah cerah-cerahnya. Kemudian ia menatap Toshi dan mengangguk seraya berpikir beberapa saat.
"Lamunanku buyar tatkala kemeja biru senada dengan ekspresi tata surya siang ini." Lucy memulainya, "aku tertegun, menatap bahu tegap dan siluet masa depan yang kembali terlukis di tengah-tengah kornea. Merasakan iris yang menjernih sebening langit, dan bola mata barsapu awan malu-malu.
"Mereka tak dapat menyembunyikan wajah merahku, sama halnya seperti menyembunyikan matahari siang ini. Dan kulindungi lelaki kemeja biru, di bawah gerakan orbit yang tak terasa. Serta angkasa raya yang tertipu daya."
Lucy tersenyum menyudahinya. Seperti kebiasaan mereka dulunya, kini giliran Toshi yang memutar otaknya.
"Detik terasa abad. Semuanya lambat padahal nyatanya aku melewatkan banyak tenggat. Kesibukan busur yang mengarahkan ke sasaran setepat mungkin, pada bidikan dan anak panah yang memaksa segara melesat.
"Mataku justru mendongak pada jernihnya air di angkasa. Tanpa sengaja, tekanan jemari melemah dan anak panah melesat entah kemana. Kutitipkan kalbu bersamanya, dan kini aku melihatnya berada di sasaran yang tidaklah salah."
Toshi mengakhirinya dengan senyuman yang sama seperti yang Lucy lakukan sebelumnya. Namun, gadis itu justru merubah air wajahnya seratus persen berbeda. Sorot mata Lucy menunjukkan ketidak percayaan dan kemungkinan yang masih bisa diterimanya.
"Apa itu tadi?" Suara Lucy serak begitu saja. Toshi malah mengrenyit tak mengerti pada reaksi Lucy yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Bukankah kau seharusnya senang? Ini kejutan!" Pria itu berusaha tersenyum. Namun, tidak dengan Lucy.
Lucy menggigit bibir dan menggeleng, "Kakak jatuh cinta dengan seseorang?"
Toshi mengulum senyum, mengeluarkan sesuatu dari kemejanya, dan menyerahkannya kepada Lucy.
Lucy menerimanya dengan napas yang tertahan. Matanya bergerak ke seluruh arah melihat kertas tebal biru muda yang mencantumkan nama Toshi dan gadis lain. Bukan dirinya. Mata Lucy bahkan menyeru tak terima melihat tanggal yang jatuh pada minggu depan.
"Jadi, Kakak selama ini sibuk karena persiapan pernikahan?"
Toshi mengangguk dengan senyum yang masih terlihat tak mengerti.
"Kenapa Kakak tidak memberitahuku?"
"Karena ini kejutan."
Toshi mengatakannya dengan mudah tanpa tahu jika itu lebih dari cukup untuk menyobek-nyobek perasaan Lucy.
"Aku kira Kakak akan menikah denganku nanti." Lucy menatap dalam mata Toshi, ia masih tak terima dengan apa yang terjadi.
Kini raut wajah Toshi turut berubah, laki-laki itu menggeleng tak percaya. "Kenapa kau berpikiran seperti itu? Kau sudah seperti adikku, Claw."
Tenggorokan Lucy tercekat. Dengan susah payah ia menelan ludah dan mengangguk pelan. "Ternyata benar. Semua orang benar. Kakak hanya kasihan padaku."
πππ
Dengan semangat, Milo menaiki tangga menuju atap Gedung Sastra bersama undangan biru muda yang terkepal di tangan.
Laki-laki itu tak pernah merasakan kelegaan seperti ini sejak enam bulan terakhir. Undangan ini telah meenjelaskan jika Lucy salah dan dia akan segera menyingkir dari kehidupannya, rumahnya, bahakan matanya.
Milo bersorak beberapa kali, tak sabar ingin melihat reaksi Lucy yang biasanya selalu tersenyum dan tertawa terhadap hal apapun kini mengetahui kekalahannya. Apakah reaksi ceria masih terpampang di wajah menyebalaknnya? Seperti apa ia tersenyum jika mengetahui kabar ini.
Milo semakin tak sabar untuk segera mempermalukan gadis itu. Membuktikan bahwa dia salah, menyatakan bahwa kebenarannya adalah Lucy tidak diinginkan oleh siapapun, dalam hal apapun.
Milo mulai menghitung beberapa anak tangga. Peduli setan jika nantinya Lucy masih tersenyum, yang penting gadis itu pergi dari semesta ini.
Milo mengerem mendadak ketika mendapati Toshi yang sedang menuruni tangga. Sepertinya baru turun dari atap gedung. Milo melirik belakang pria itu dan tidak menemukan Lucy di sana.
"Kak Toshi, Lucy di mana?" Tanya Milo dengan penuh semangat.
"Masih di atas." Toshi menunjuk atap gedung. Milo mengangguk dan permisi untuk menaiki tangga, sementara Toshi mengangguk dan menuruni anak tangganya.
"Oh, ngomong-ngomong." Milo berbalik, "selamat ya atas pernikahannya."
Toshi tersenyum dan mengangguk, "terima kasih."
Setelahnya Milo menambah kecepatan, tak sabar untuk segera melihat senyuman miris Lucy yang menahan kekalahannya.
"Dia tidak pantas. Dia hanya buangan." Milo terkekeh sebelum membuka pintu atap. Akan tetapi, hal itu tertahan ketika suara isak tangis terdengar dari atas sana.
Jantung Milo terasa terhenti dan tubuhnya menegang. Perlahan ia membuka pintu dan mengintip apa yang terjadi di baliknya.
Milo melebarkan mata dan mengatupkan mulut, melihat Lucy yang berdiri membelakanginya, menangis, terisak, dan sesenggukan dengan tangan kanan yang mengusap wajah dan tangan kiri yang memegang undangan serupa dengan yang Milo pegang saat ini.
Milo mengeratkan genggaman dan merasakan kesedihan yang ikut terbawa.
Perlahan laki-laki itu mundur seiring dengan isakkan yang semakin tersedu-sedu.
Ia menyandarkan tubuhnya di dinding dengan napas yang memburu. Sekali lagi ia mengintip gadis itu yang semakin terguncang.
Ini pertama kalinya ia melihat Lucy menangis.
πππ
ORIGAMI 19 : Pernikahan