Japanese Herons

Japanese Herons
Origami Kedua




🎏


Milo pikir saat ayahnya mengetahui ada gadis cacat yang tingal di rumahnya, ayahnya akan mengusirnya dari sini. Namun, semua itu kekeliruan. Justru ayahnyalah yang mengirim gadis cacat itu ke sini. Benar-benar menjengkelkan.


"Kenapa Ayah tidak membicarakannya terlebih dahulu dengan Milo? Ayah pikir Milo mau orang kayak dia tinggal di sini?"


Arthur merenggangkan dasinya. Saat baru pulang kantor, anaknya langsung menginterogasinya di meja makan, sementara istrinya masih mengurusi masakan yang ada di wajan.


"Kenapa harus diberi tahu? Toh nantinya kamu juga gak setuju. Lagipula Lucy anaknya baik, dan ibumu juga ingin punya sosok anak perempuan di keluarga kita."


Milo mengetuk meja, sekilas melirik ibu yang sedang sibuk di dapur. Jarak antara meja makan dengan dapurnya hanya dibatasi meja masak sehingga mereka dapat melihat satu sama lain dengan jelas.


"Tapi dia cacat, Ayah. Matanya juling dan rabun, entah penyakit apa lagi yang dideritanya sampai-sampai orang tuanya membuangnya ke sini."


"Dia tidak dibuang, Milo. Cuma dititipkan sementara."


"Dititipkan?" alis Milo terangkat.


Ayahnya mengangguk sekali. "Cuma sampai dia namatin kuliahnya."


Terbesit kebahagiaan dalam diri Milo, namun di sisi lain ia juga merasa jengkel karena semasa kuliahnya harus dihabiskan untuk mengawasi gadis seperti Lucy.


"Memangnya rumahnya di mana sih, sampe-sampe harus dititipin segala?" kali ini perbincangan kembali diisi dengan suara yang normal.


"Desa sebelah."


"What The ...!!! Palingan bermotor lima menit nyampe. Kenapa harus dititipin ke sini segala? Jarak universitasnya juga dekat meski jarak dari rumah kita lebih dekat."


Kehisterisan Milo hanya dibalas dengan gidikan bahu oleh ayahnya. "Entahlah. Saat itu ayah Lucy yang menawarkan pada ayah agar putrinya bisa tinggal di sini."


"Dan Ayah terima gitu aja?"


"Kayak yang ayah bilang sebelumnya."


"Orang tua macam apa mereka?" Milo berdecak kesal, ia tak dapat membayangkan jika kedua orang tuanya menitipkannya pada orang lain yang rumahnya hanya berjarak lima menit dari rumahnya sendiri.


"Ini yang terakhir." Ibunya menaruh semangkuk daging potong asam manis. Jika ibu sudah bilang ini yang terakhir, artinya jam makan malam sudah dapat dimulai.


"Lucy mana? Belum turun?"


"Biarkan saja dia." Milo tak peduli dan langsung mengambil piring makan.


"Sebaiknya kamu panggil dia."


"Ahh, Ibu. Manja sekali sampai-sampai harus dipanggil, kalo dia mau makan ya turun aja, kalo enggak ya mantep aja di sana."


Sesaat kemudian yang dibicarakan muncul sendiri. Dengan langkah yang hati-hati dan membungkuk, Lucy menuruni anak tangga.


"Ah, Lucy! Milo baru saja mau memanggilmu." Teriakan ibunya barusan mendapat pelototan dari putranya.


Lucy tersenyum sekilas. "Om sudah pulang ya, Tante?"


"Iya. Semuanya di sini, ayo kita makan malam bersama." Ibunya Milo tersenyum dan langsung menambah piring makan ke bagian meja di depan Milo.


Pria itu mendengus kesal tatkala gadis ponytail itu sudah mencapai lantai dasar dalam waktu yang lama. Sekilas ia melirik tak suka ke arah ibunya yang seenaknya meletakan piring itu tepat di depannya.


"Hai Om Arthur!" dengan sigap Lucy menyalami ayahnya Milo.


"Hai, Cantik. Kapan sampainya?" tanya Arthur meski sudah tahu jawabannya.


"Tadi siang." Gadis itu duduk di kursi yang dipersilakan ayahnya Milo. Sekali lagi Milo mendengus kesal melihat gadis itu ada tepat di depannya.


"Lucy nanti tidurnya di mana?" Tanya Arthur pada istrinya.


"Di gudang." Milo menanggapi langsung, ia mengambil nasi tanpa mempedulikan hunusan tatapan tajam dari kedua orang tuanya.


"Lucy akan ambil ruangan Milo." Jawab ibunya setelahnya.


"Enak saja. Aku bilang tidak ya tidak." Setelah sekian jam berlalu, Milo masih tak terima ruangannya diambil.


"Itu ide bagus." Jawab Arthur pada istrinya tanpa menghiraukan protes anaknya.


"Ayah!"


Lucy mengernyit kebingungan. Hari pertama kedatangannya langsung membuat keributan di rumah ini.


"Kamarmu sudah luas, Milo. Barang-barangmu bisa dipindahkan ke sana."


"Aku tidak mau. Tidak boleh ada yang berubah pada ruangan itu." Milo masih ngotot, membuat kedua orang tuanya menghela napas panjang.


"Lucy pikir gudang sepertinya bukan hal yang buruk." Gadis itu mengeluarkan suara, berharap-harap keributan kecil ini dapat segera berhenti.


"Tidak, Lu, gudang sangat kotor dan berdebu. Kamu bisa ambil ruangan Milo." Ibunya Milo sama ngototnya seperti anaknya.


"Lihat, kan! Dia sendiri yang minta di gudang, biarkan si cacat ini tidur di sana."


"Jaga perkataanmu, Milo." Ayah mengucapkannya dengan nada yang tegas, "Cacat bukan berarti buruk. Sekarang Lucy adalah adikmu, kau harus menjaganya seperti apapun kondisinya. Kau juga harus berbagi dengannya."


"Menyebalkan!" laki-laki itu menghempaskan sendoknya ke meja makan hingga mengeluarkan suara dentingan yang begitu keras.


"Besok pindahkan semua barang-barangmu." Ayah menatap lurus mata kesal Milo. "Kau juga bantu dia pindahkan barangnya, Libby. Ranjangnya sudah kupesankan dan besok akan sampai."


Ibunya Milo mengangguk setelahnya, dan itu menambah kekesalan nampak di raut putranya.


"Diamlah cacat! Tidak usah menunjukan wajah sok baikmu. Karena kedatanganmulah hari ini akan kujadikan hari terburuk dalam hidupku." Laki-laki itu berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan meja makan.


"Milo!" panggil ibunya untuk kembali ke meja makan, namun pria itu sudah menghilang di lantai atas.


"Biarkan dia, Libby. Jangan terus-terusan memanjakannya." Tahan suaminya yang mau tak mau membuatnya duduk membiarkan putranya mengurung diri.


"Sekali lagi kau jangan dengarkan ucapannya ya, Lucy." Ibunya Milo kembali menenangkannya. Lucy mengangguk sekali dan tersenyum.


"Mungkin nanti Lucy bakal terbiasa dengan kesensitifannya Milo." Gadis itu tersenyum.


Satu hal yang harus Lucy sembunyikan lagi, yaitu kekesalan pada dirinya sendiri karena berhasil melatar belakangi terbentuknya hari terburuk bagi orang yang baru dikenalnya.


Ia menunjukan raut kesedihan meski yang tampak hanyalah air wajah yang sulit diartikan. Perlahan ia menarik napas, dan perlahan pula ia menghembuskannya. Yosh.


🎐🎐🎐


"Sudah kubilang ini sulit." Arthur mencuci tangan di wastafel cuci piring, kemudian ia mengelap tangannya dengan kain lap sebelum akhirnya berbalik badan menatap sang istri. "Putra kita merupakan masalah terbesar."


Lisa tersenyum seraya merapikan meja dan bolak-balik wastafel membawa piring kotor.


"Gadis itu akan tersiksa karenanya."


Setelah seluaruh piring berada di bak wastafelnya, Lisa mulai menanggapi wajah lelah suaminya. "Milo akan terbiasa."


"Kau lihat seperti apa tingkahnya tadi?"


Lisa terkekeh, "Itu resiko mempunyai anak tunggal," wanita itu menghidupkan kran air, "Mengingatkanku akan anak laki-laki yang begitu manja."


Arthur tertawa, kemudian memeluk istrinya dari samping dan mencium kepala Lisa. "Tapi akhirnya kau menikahi laki-laki manja itu."


Lisa tersenyum. Sebenarnya ia juga kecewa melihat tingkah Milo terhadap Lucy sejak kedatangan gadis itu. Laki-laki itu terasa seakan tidak mempunyai etika dan moral, dan itu membuat Lisa merasa gagal sebagai seorang ibu.


"Kita harus bertindak tegas kepada anak kita, ya kan?"


"Tentu, tapi jika Milo seperti ini, aku kasihan pada Lucy." Arthur menanggapi dengan serius.


Lisa menggeleng, "Aku tak tahu." Semuanya sama sekali tidak seperti yang ia harapkan. "Lagipula kau sendiri yang membawanya ke sini."


"Dan kau yang memutuskan segalanya." Dengan menyelami tatapan yang penuh kekhawatiran itu, Arthur berusaha bersikap tenang di depan istrinya. "Aku bisa meminta Ronald untuk menjemput putrinya minggu depan."


Lisa terlonjak, dari bahunya yang terlihat tagang dan bibirnya yang sedikit bergetar, ia ingin sekali memberontak. "Tidak boleh."


"Kau tak lihat seperti apa cemoohan anak kita tadi? Lucy akan semakin menderita di sini."


"Ibunya bahkan memperlakukan hal yang sama padanya." Tanggap Lisa dengan cepat, "Ayahnya bahkan tidak mempedulikannya, kau pikir dia bisa bertahan dengan kondisi seperti itu?" Suara wanita itu semakin tersendat, "Aku bahkan tidak melihat sebuah keluarga saat berhadapan dengan mereka tadi. Mereka membuang gadis malang itu. Sekarang aku ibunya."


"Libby,"


Lisa menggeleng, "Aku ingin anak perempuan, Thur. Aku juga ingin seorang putri." Lisa memalingkan wajahnya karena matanya mulai panas dan berair. Ia tak yakin pasti, tapi ia merasa kalau Arthur saat ini menatapnya dengan raut wajah yang serba salah.


"Kau mau jika melihat putramu membully putrimu?"


"Kau melakukan ini hanya karena dia cacat?"


"Tidak, Libby. Hanya saja..."


"Oh ayolah, Thur. Dia bahkan bisa sampai menempuh universitas, tidak ada yang berhak menghinanya."


Laki-laki itu menggapai istrinya lembut dan kembali mendekapnya. Meski dengan emosi yang tertahan, Lisa tetap menumpahkan air matanya pada bahu suaminya. Seketika energi baru tertransfer pada dirinya.


"Lucy bisa menahan semua ini."


"Dia tidak selamanya milik kita, Libby. Suatu hari dia pasti pergi."


Spontan, Lisa melepaskan pelukannya. Wajah ketakutan itu kembali merayapi dirinya dengan segala kecemasan yang membuntuti. "Kau benar. Suatu hari nanti aku pasti tidak siap kehilangannya. Bagaimana kalau kita buat anak lagi? Kali ini harus seorang putri."


Kini giliran Arthur yang menggeleng tak terima.


"Dokter bilang ada kemungkinan, Thur."


Arthur kembali menggeleng tak menyetujui. "Terlalu beresiko." Arthur menggenggam kedua bahu Lisa dengan kedua tangannya, "Aku lebih baik tidak mempunyai siapapun daripada aku harus kehilanganmu." Ia mencium pipi istrinya. "Kau ajaklah Lucy keluar rumah. Aku akan bicara pada Milo."


"Kau akan mencobanya? Lucy menjadi putri kita?"


Arthur tersenyum kemudian mengangguk pelan. Mata Lisa kembali meneteskan air mata, ia memeluk suaminya dan berbisik tentang seberapa cintanya dia pada laki-laki itu.


🎐🎐🎐


**ORIGAMI 2 : Anak Perempuan


Ohayouuu Gozaimasuuu!!!


Ini sudah bagian di chapter dua. Jika ada banyak kesalahan dan kekeliruan bahkan kekakuan, jangan sungkan mengkritik.


Silakan berkomentar di kolom komentar, jangan hanya sekadar berkomentar di dalam hatiπŸ™Š


Matta, Sayounara


πŸŽ‹


Qomichi**