
π
"Kenapa kamu mau disuruh jagain dia?" Olivia bergidik. "Hiiii, jagain orang cacat." Seraya mengenyam cilok gorengnya, Olivia melayangkan pikiran dan daya imajinasi jika dia yang harus mengurus orang cacat.
Milo menanggapinya dengan kalimat provokatif. Sedikit banyaknya laki-laki itu bersyukur, setelah dua setengah jam yang panjang hanya untuk menjelaskan apa yang terjadi, akhirnya pacarnya bisa memahami dengan kepala dingin ketika sekantong besar cilok goreng ada di tangannya.
"Kamu bisa bayangin kan bagaimana jengkelnya aku?" Milo menyilangkan tangan di depan dada, laki-laki itu membuka mulut saat Olivia menyuapinya setusuk cilok. "Ayah sama Ibu yang mau bawa dia ke rumah, kalau aku sih ogah."
"Dia pasti jelek, iya kan?"
"Asli." Milo mengangguk mengiyakan. "Aku bahkan gak tahu arah mata dia waktu ngomong ke aku. Bola matanya tuh bergerak berlawanan. Nyebelin banget kan kalau tiga tahun harus jagain dia."
Olivia menautkan alis, lekas ia menanyakan maksud dari waktu tiga tahun itu. Milo menjelaskan padanya bahwa ia hanya perlu menjaga Lucy selama gadis itu berkuliah dan setelahnya ia kembali terbebas.
"Dia kuliah di sini?" Olivia terlihat tak percaya.
Milo mengangguk dan mengatakn jika gadis itu ternyata lulus jurusan Bahasa dan Sastra seperti yang diberitahukan ibunya. "Dia lulus UTBK."
"Gila! Dengan mata yang rabun kayak gitu?"
Sekali lagi Milo mengangguk, laki-laki itu juga menjelaskan jika tujuan Lucy berkuliah tak lain hanya sekadar bisa bertemu dengan Toshi, dosen Bahasa dan Sastra di kampusnya.
"Apa?" Olivia mendelik. "Berani-beraninya dia mengatakan hal sepede itu. Dia pasti cewek naif, dia pikir dia bisa ngedeketin dosen populer kayak Kak Toshi?" Milo tak dapat membantah jika semua orang memuji Toshi. Pasalnya dia termasuk dosen muda di kampusnya dan baru berusia dua puluh lima tahun. Orangnya humble, ramah, dan disiplin. Dengan nilai tambahan berupa wajahnya yang rupawan. Para mahasiswa memanggilnya 'Kak Toshi' karena sosoknya lebih seperti kakak dibandingkan guru meski kadang cukup serius.
Bukan rahasia umum jika banyak cewek-cewek kampus yang menyukainya. Hanya saja, Toshi bukan tipe laki-laki yang suka bergonta-ganti dan mempermainkan perempuan. Dia sendiri bahkan tidak pernah berpacaran dengan siswanya.
Milo tak percaya jika Kak Toshi berteman dengan Lucy. Bahkan kenal pun ia masih tidak percaya. Entah Lucy yang hanya berangan atau dia hanya memperhatikan Toshi dari kejauhan selama ini, yang pasti Milo akan mencari tahu kebenarannya.
"Aku tidak rela. Kak Mel, Si Gadis Kampus aja pernah ditolak, mana mungkin orang cacat kayak gitu bisa sama Kak Toshi, ya kan?"
Milo mengacak rambut pacarnya sambil menyeringai. "Kenapa kamu terdengar begitu kesal? Rasanya seperti kamu yang suka sama dosen itu."
"Ya iyalah."
Milo terpaku. "Kamu bakal tinggalin aku hanya karena dosen itu?"
"Iya."
Milo tertawa beriringan dengan pacarnya, ia mengelap bibir Olivia yang penuh kecap dengan ibu jarinya. Meski kadang menyakitkan, namun Olivia selalu mengatakan kebenaran pada Milo. Itu yang membuatnya jatuh cinta pada pacarnya saat ini.
Olivia kadang mengadu pada Milo jika ia menyukai Kating, ketua organisasi, alumni, atau laki-laki lainnya pada Milo dan selalu mengancam jika ia akan meninggalkan Milo jika nantinya ia mendapatkan laki-laki yang ia incar.
Hanya saja, Olivia tidak pernah meninggalkan Milo meski beberapa laki-laki yang menjadi incarannya jatuh hati kepadanya.
"Aku harus pastiin bentuk kesimetrisan wajahnya. Aku gak mau kalau diagram wajahnya gak sesempurna wajah yang menjadi nilai minimal untuk Kak Toshi," keluh gadis itu setelahnya, "wajahnya minimal harus seperti Jisoo Blackpink kalau mau jadi istrinya Kak Toshi."
Milo terkekeh melihat tingkah kompetitif pacarnya. Dia masih saja melakukan penuntutan pada Lucy seakan dia masih tidak percaya jika kecacatan mata Lucy sudah cukup membuat gadis itu bernilai jauh dari artis korea yang sering Olivia sebutkan.
"Aku harus ketemu sama cewek itu, Si ... siapa?"
"Lucy?"
"Ya. Aku harus bertemu langsung dengannya."
Milo terkesiap. "Jangan." Dia berani bersumpah jika Olivia akan menyesal setelah bertemu dengan Lucy.
"Kenapa? Aku mau menceramahi kalau wajah cacatnya tidak pantas untuk Kak Toshi. Dia nanti tersinggung dan sadar diri, kemudian merasa kesal dengan diri sendiri dan menyerah." Gadis itu tertawa seakan dialah antagonis dalam semua ini. Milo ikut tertawa dengan tingkah pacarnya.
"Itu tidak mempan, dikata-katain dalam bentuk apapun dia gak bakal tersinggung. Lucy punya keoptimisan yang tinggi."
"Jadi kau meragukan pacarmu ini? Kalau begitu aku akan membuktikan sore ini juga. Bawa aku ke rumahmu!"
Milo terlonjak. Laki-laki itu tak tahu lagi harus menghadapi pacarnya dengan cara seperti apa jika rasa kepenasaran dan tekad Olivia sudah terbentuk. "Jangan Sayangku!! Sebentar lagi kan kita Ospek, nanti kamu juga ketemu sama dia."
Olivia memanyunkan bibir. "Tapi Agustus masih lama. Kalau gitu aku bakal ajak teman-temanku yang ada di jurusan Sastra untuk membully dia. Mari kita hancurkan dia secara Live!"
"Itu baru gadisku!"
πππ
Setelah membereskan piring kotor dan meja makan, Lisa duduk berhadapan dengan suaminya yang terlihat menunggunya untuk segera berbicara. Lisa memberikan waktu sebelum memulainya. Ia bertanya pada suaminya untuk memastikan Milo dan Lucy benar-benar sudah berada di lantai atas.
"Hampir tiga juta." Kalimat pertama Lisa pada perbincangan yang sesungguhnya. "Biaya persemestrer Lucy hampir tiga juta. Gadis itu pucat saat mendengar nominal uang yang disebutkan oleh pihak kampus."
Arthur menahan napasnya. Kembali, dia harus berusaha bersikap tenang apabila Lisa sedang bicara dengan serius. "Aku akan minta Ronald untuk-"
Arthur tersenyum seraya mengangguk. "Ya, sejak dua minggu lalu."
Lisa turut tersenyum meski kegetiran nampak jelas di wajahnya. "Itu artinya, kita harus menabung lima ratus ribu tiap bulan."
"Kita harus meminimalisir pengeluaran."
"Termasuk pengeluaran Milo." Arthur melebarkan mata mendengar pernyataan Lisa barusan. "Biaya mingguan, klub, uang jajannya,"
Arthur menggeleng tak setuju. Ia menjelaskan jika hal itu benar-benar dilakukan, maka Milo akan semakin memperlakukan Lucy dengan lebih kasar mengingat dua minggu terakhir Milo semakin kasar dan semakin keras kepala.
"Dia akan mengerti, Thur."
"Tidak."
"Dia harus belajar. Kita tidak bisa membiarkan Milo terus-terusan mendapatkan apa yang dia mau." Lisa menegaskan.
"Bulan lalu aku sudah menahan motornya, itu hukuman yang sudah cukup berat baginya."
"Tapi lihat hasilnya!" Lisa memejamkan mata sesaat dan memijat pangkal hidungnya. "Aku ingin melihat Milo menjadi dewasa, paling tidak seperti Lucy."
"Aku tidak yakin." Arthur pesimistis, "Lucy terlalu sempurna." Arthur mengatakan hal itu bukan karena fisik Lucy, melainkan karena kedewasaan yang dimiliki gadis itu. Seama dua minggu sejak kedatangan Lucy, keluarga itu merasa seperti mempunyai sosok anak yang memiliki masa depan cerah. Hanya saja, semenjak dua minggu itu pula Milo menjadi tempramental dan kesetanan.
"Kita akan melalui semua ini." Setelah kesepakatan itu terbentuk, Arthur ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Lisa memilih untuk memeriksa kedua anaknya di lantai dua.
Ia mengintip Milo yang sedang bermain game online di kamarnya. Anak itu bahkan tidak menyahut meski Lisa sudah mengetuk pintu kamarnya dua kali. Padahal pintu kamarnya terbuka.
"Milo," panggil Lisa akhirnya, "sudah shalat Isya?"
"Belum." Jawab Milo tanpa menoleh. Lisa mengingatkan agar Milo segera melaksanakannya dan Milo hanya mengiyakan. Setelahnya, ia mengetuk pintu kamar di ruang sebelah kanannya. Kali ini pintunya tertutup.
"Masuk." Suara lembut Lucy terdengar dari dalam. Lisa tersenyum melihat gadis itu tengah memotong-motong tali rafia.
"Sudah shalat Isya?" Lisa sumeringah saat jawaban yang Lucy utarakan berbeda dengan Milo.
"Tugas persiapan Ospek, ya?" Tanya Lisa turut berjongkok dan membantu gadis itu. Lucy mengiyakan. Tidak hanya itu, Lucy juga mengekspresikan kepada Lisa seberapa bersemangat dan seberapa tidak sabarnya dia untuk segera berkuliah. Lisa bahkan terkekeh saat mendengar alasan Lucy untuk cepat-cepat kuliah tak lain agar bisa bertemu Toshi dengan segera.
"Selain membuat pom-pom ini, kamu sudah tahu apalagi yang harus kamu persiapkan?"
Lucy menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Lisa barusan. "Kata Kating, Lucy harus periksa di Instagram jurusan kampus Lucy. Lucy tadi udah minta bantuan Milo, tapi Milo sampai sekarang belum kasih tahu."
Lisa mengerutkan dahi mendengar pengaduan Lucy. Sedetik kemudian ia berteriak kencang memanggil Milo, namun butuh beberapa detik untuk Milo muncul di hadapan mereka.
"Kenapa kamu tidak bantu Lucy untuk lihat pengumuman Ospek?"
Milo berdiri mematung dengan tangan dan wajah yang masih konsentrasi pada game onlinenya. "Itu kan bisa dilihat di Instagram."
"Aku tidak punya Instagram."
"Kalau punya pun, gak bakal ada yang mau jadi followersmu."
"Milo!" Sergap ibunya yang langsung membuat Milo menghentikan gameingnya, "cepetan bantuin! Ini lebih penting."
Milo mendesah dan mulai membuka Instagramnya untuk mencari informasi yang gadis itu butuhkan.
"Saat mulai kuliah nanti, Milo akan ajarkan Lucy membuat akun Instagram."
Milo berdalih dan menolak. Namun, tatapan ibunya kembali membuatnya tak punya pilihan lain.
πππ
**ORIGAMI 4 : Instagram
.
Hola, makasih buat kalian yang udah baca cerita iniπ
Jika masih bertebaran kesalahan pada cerita ini, maka silakan beri masukan sebanyak-banyaknya (kayak sms lombaπ )
See ya!
π
Qomchi**