
🎏
Olivia menatap air wajah pacarnya yang memprihatinkan. Milo seperti orang yang kehilangan arah dan kekurangan oksigen. Meskipun begitu, Olivia justru geli dengan kondisi laki-laki itu saat ini. Dapat ditebaknya jika ini pasti masalah yang bersangkutan dengan cewek yang mendatangi rumah Milo baru-baru ini, karena setelah cewek itu datang masalah Milo pastilah tak jauh dari sana.
Kali ini Olivia mendengar kalau masalah Milo saat ini adalah keuangannya yang harus dibagi dengan gadis itu.
"Aku tidak mengerti, mereka memperlakukannya seperti anak mereka sendiri," gumam Milo tak henti-hentinya. Laki-laki itu mengacak-acak rambutnya tak terima.
"Memangnya orang tuanya tidak memberikan uang?"
"Mana kutahu, dia dibuang kali."
Olivia mengangguk. "Yah, memang tidak ada orang yang mau menerima gadis cacat seperti itu, bahkan orangtuanya sendiri memperlakukannya setega itu." Gadis itu menyedot Thaitea yang ada di meja. "Menurutku orangtuamu juga terpaksa melakukan hal ini. Tapi tidak mungkin." Olivia mencondongkan tubuhnya dengan tatapan menyelidik. "Milo, gadis itu tidak secantik Jisoo, kan?"
"Kenapa kau masih memikirkan hal semacam itu? Aku kan sudah bilang kalau dia menyeramkan."
Olivia menghembuskan napas seraya bersedekap. "Ak-aku hanya ingin memastikan saja karena orang tuamu mau menerima gadis itu. Meski matanya juling, tapi kalau kulitnya putih bersih ... ah, tidak," gadis itu menyeruput minumannya lagi dan berusaha membersihkan pikirannya dari kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan membuatnya jungkir balik di trotoar jika itu ternyata kenyataan.
"Jadi kamu sekarang gimana? Kamu bisa kan hidup tanpa uang banyak? Aku gak bakal sering-sering minta traktir cilok, kok."
Milo menelungkupkan wajahnya di meja. "Aku tidak bisa hidup seperti ini, ibuku bahkan ingin memberikan ponsel hadiah ulang tahunku sama cewek itu."
Olivia mengatupkan mulut. Ia mulai bingung dengan cerita Milo tentang gadis itu yang sepertinya kurang sinkron. Orang tua gadis itu membuangnya, tapi kenapa orangtua Milo justru terasa lebih sayang dengan gadis itu dibandingkan dengan putranya sendiri?
"Milo, kamu jujur deh, kalo orang tua kamu sampai segitunya sama dia, berarti dia itu anak yang cantik. Dia kayak Jisoo, kan?"
"Aku bilang enggak Oliviaku yang tersayang dunia akhirat sampai hari kiamat! Udah kubilang dia jelek, burik, kuno, kudel, bogel, pokoknya gak banget deh."
Olivia mendelik tak percaya. "Kalau gak kayak Jisoo, dia berarti kayak Jennie?"
"Ya tuhan, Jennie siapa lagi? Kalo kamu gak percaya, kamu lihat aja Instagramnya. Mungkin ada tuh foto alay dia."
"Dia punya Instagram?" Milo mengangguk menjawab pertanyaan histeris pacarnya. Masih dengan firasat tak percaya, Olivia mulai membuka akun Instagramnya. Olivia bukan hanya tak yakin dengan cerita Milo, ia juga tak yakin karena saat pertama kali bertemu dengan kedua orangtua Milo, gadis itu memastikan jika ayah dan ibu Milo merupakan orang yang cukup berkelas meski sederhana. Jadi aneh rasanya jika kedua orangtua Milo menerima gadis jelek, burik, kudel seperti itu jika Milo sendiri tak menyukainya.
"Kau kenal dengan BangauLucy?"
"Itu akun Instagramnya." Milo langsung menyerobot ponsel sang pacar, lalu mendapati akun yang beberapa jam lalu ia buat dan saat ini ingin mengikuti Olivia. "Jangan diterima." Milo mengembalikan ponsel itu pada sang pacar.
"Kenapa dia ingin mengikutiku? Lagipula dari mana dia tahu tentangku?"
"Dia tahu jika kau pacarku."
Olivia memanyunkan bibir dan melihat akun milik Lucy. Sesaat, ia kembali harus menahan rasa penasarannya tatkala tidak ada postingan apapun dari gadis itu. Ia melihat angka nol pada postingan dan pengikut akun Lucy, tapi tertulis angka satu pada orang yang ia ikuti.
"Kau orang pertama yang dia follow!" Olivia memekik seraya menunjukkan hal itu pada Milo. Milo mengernyit melihat hanya satu orang yang Lucy ikuti dan anehnya itu akunnya.
"Rasanya aku ingin menghabisinya."
Olivia bergidik seraya memilih 'hapus' pada pilihan untuk menerima BangauLucy sebagai pengikutnya atau tidak.
"Bisakah kau menolongku? Minta bantuan temanmu dan mari kita siksa dia saat Ospek Selasa nanti."
Olivia tersenyum lebar, ia menggenggam tangan kanan Milo dengan tangan kirinya sambil mengelusnya perlahan. Ketika gadis itu mengangguk menyetujuinya, saat itu pula semangat Milo kembali pulih. Ia menegakkan badan dan menunjukkan kunci motornya pada Olivia.
"Motormu sudah kembali?" Mata Olivia berbinar melihat benda yang ada di tangan Milo. Satu bulan belakangan hidupnya tersiksa karena bergonta-ganti angkot hanya untuk pergi ke suatu tempat bersama Milo.
"Tapi aku harus menjadi tukang ojek untuk mengantar Lucy pulang-pergi kuliah."
Seketika Olivia menggeram, "gadis seperti dia memang patut dihancurkan."
🎐🎐🎐
"Ini, almamater yang akan kau bawa besok." Lisa menunjukkan almamater universitas yang sudah ia setrika. Lucy bertepuk tangan melihat almamater yang akan membawanya dekat dengan Toshi.
Dadanya terasa bergemuruh mengingat kebersamaan yang sudah lama hilang dan sebentar lagi akan kembali di kehidupannya. Hanya bersama Toshi-lah ia kadang mendengarkan kata-kata yang membuat seluruh semesta berwarna dan langit biru-kejinggaan.
"Tante jadi teringat saat kuliah dulu. Waktu itu ada cowok cupu yang ngejer-ngejer tante." Lisa duduk di ranjang, di samping Lucy. "Sekarang saatnya kamu yang merasakan dikejar-kejar cowok nantinya."
Lucy terkekeh. "Apakah cowok yang ngejar-ngejar tente termasuk cowok romantis?"
"Tidak. Dia norak. Sialnya aku malah menikahinya." Lisa memanyunkan bibir dan itu semakin membuat Lucy tertawa geli. "Kenapa? Toshi orangnya romantis ya?"
Lucy mengiyakan, lalu kembali ia bercerita panjang lebar tentang laki-laki yang selama ini mendiami hatinya itu. "Om Arthur panggil tante 'Libby', padahal nama tante Lisa, apa itu panggilan kesayangan seperti Kak Toshi yang kadang panggil aku 'Claw'?"
Lisa mengangguk dan menceritakan asal-usul bagaiman Arthur menyingkat namanya dari Lisa Blessy menjadi Libby. Kemudian Lisa juga menceritakan bagaimana noraknya Arthur saat melamar gadis itu di perpustakaan. Hanya saja, setelah mempunyai anak dan menjalani hidup yang semakin berubah, Arthur menjadi orang yang semakin dewasa dan tegas.
Setelah bercerita, Lisa pamit ke lantai bawah untuk memasak karena sebentar lagi Arthur akan pulang. Lucy yang mulai bermimpi untuk memiliki kisah serupa dengan Toshi nantinya, mulai membuka Instagram untuk melihat apakah Toshi sudah menerima permintaan mengikuti darinya atau belum.
Akan tetapi, hal itu hanya sia-sia belaka. Dahinya justru mengerut heran dengan apa yang terjadi. Setelah mengcek kejanggalan pada akunnya, Lucy langsung beranjak dan mengetuk pintu kamar Milo yang terbuka lebar.
Laki-laki itu berdecak kesal melihat Lucy yang sebelumnya berdiri di ambang pintu kamarnyanya, tiba-tiba ngonyor masuk begitu saja.
"Maaf Milo, aku bukan lancang, tapi aku mendekat ingin memastikan kau ada di kamar atau tidak."
Milo memutar kedua bola mata memahami Lucy yang rabun parah. "Lo mau apa? Gue lagi enek lihat muka lo."
Lucy melengkungkan bibirnya ke bawah, bukan karena ejekan Milo, melainkan karena kejanggalan yang ingin dilaporkannya. "Milo aku ingin tanya, sebelumnya aku sudah mengikuti akun Instagram Jun, tapi sekarang tiba-tiba tidak ada. Terus aku cari akun Instagramnya di pencarian, juga tidak ketemu. Sebenarnya ini ada apa?"
"Itu artinya akunmu diblokir oleh dia," tukas Milo cepat.
"Itu karena dia membencimu. Lihatlah kenyataannya, adikmu saja tidak mau menerimamu, apalagi orang lain seperti kami." Milo bangkit dan merebut ponsel Lucy begitu saja. Ia menekan bagian 'mengikuti' pada akun gadis itu dan memutuskan pemberhentian mengikuti pada akunnya. "Lo juga jangan ikuti akun gue kalo nggak mau diblok."
Milo menyerahkan ponsel Lucy secara kasar dan pergi meninggalkan gadis itu sendirian. Dengan mata sedih, Lucy kembali melihat tiga angka nol pada akunnya.
🎐🎐🎐
Setelah menguncir rambut Lucy dengan pita hijau, Lisa tersenyum melihat gadis itu yang tampak sempurna. Matanya bahkan berkaca-kaca melihat Lucy yang siap di hari pertamanya.
"Kau putriku yang sempurna," ucap Lisa dengan bahagianya, "jadilah gadis yang kuat, oke?"
"Ibu alay banget deh." Milo bergumam dan melalui mereka berdua begitu saja. Laki-laki sudah siap di atas motornya.
"Sudah siap bertempur, cantik?" Arthur mengacak-acak rambut Lucy dan itu membuat Lisa marah karena ia harus mengulang kunciran gadis itu.
"Ayo cepat! Aku sudah ubanan menunggu kalian." Teriak Milo seraya membunyikan klakson motor berkali-kali. Hari ini merupakan hari Ospek, Lucy menjadi Maba yang akan melalui kegiatan ini, sementara Milo merupakan Kating yang ikut andil.
"Jaga dia baik-baik."
"Berjanjilah untuk menjaga dan melindunginya."
"Jangan biarkan dia kelelahan. Jika kau lihat dia kelelahan, maka biarkan dia istirahat sejenak."
"Yang penting kau harus jaga dia sebaik mungkin."
Desakan kedua orang tuanya membuat Milo jengkel.
"Awas saja jika terjadi apa-apa," tambah ibunya sebelum Milo tancap gas.
"Kau dengar, kan?"
"Iya-iya, bawel." Sedetik kemudian ia membawa motornya melaju kencang. Lucy berusaha pegangan di punggung Milo dan itu membuat Milo menghentikan motornya seketika.
"Jangan pegang aku!"
"Terus aku pegangan dengan apa? Kamu ngebut banget." Jawab Lucy setengah tertawa. Milo mendesah dan akhirnya memperbolehkan Lucy untuk menggenggam kemejanya. "Mana duit kamu? Kamu dikasih ibu uang juga kan?"
"Iya, kenapa?"
"Sini!" Pinta Milo dengan tangan yang menjulur ke belakang. Lucy memberikannya pada Milo, tapi laki-laki itu justru mengambilnya.
"Milo, kenapa kamu ambil?"
"Ini uangku. Sebelum kamu ada, semua uang yang diberikan milikku." Milo hanya memberikan Lucy satu lembar sepuluh ribu rupiah.
"Tapi ..." Lucy terhenti saat ponsel Milo berbunyi. Laki-laki itu kembali menjalankan motornya secara lambat seraya menerima panggilan telpon.
"Halo, Liv? ... iya aku lagi di jalan ... kamu stand by saja di tempat." Setelah memutus sambungan telepon, Milo kembali tancap gas dengan kelajuan yang cukup untuk menerbangkan kuncir kuda rambut Lucy.
Motor itu kembali terhenti di area sebelum wilayah kampus. Milo memarkirkannya di dekat seorang perempuan yang terlihat begitu cantik.
"Jadi ini ceweknya?" Gadis itu bicara pada Milo.
Milo melirik Lucy sekilas kemudian mengiyakan pertanyaan cewek itu.
"Sumpah jelek banget." Gadis itu tersenyum miring seraya menatap Lucy dari atas ke bawah kemudian kembali ke atas lagi dengan pandangan jijik.
Lucy menatap Milo meminta penjelasan, tapi Milo hanya diam saja.
"Halo, Kak, saya Lucy, adiknya Kak Milo." Lucy berusaha sesopan mungkin. Akan tetapi, gadis itu tertawa tak mempercayai apa yang Lucy katakan.
"Adik katamu?" Gadis itu mendekat dan mengangkat dagu Lucy dengan jarinya. "Kau sadar betapa menyedihkannya dirimu? Matamu tidak konsentris dan bergerak dengan cara yang kurang sistematis. Kau ingin menjadi adiknya Milo dan mengaku dekat dengan Kak Toshi? Menjengkelkan sekali."
Gadis itu mendorong wajah Lucy begitu saja hingga Lucy terpundur beberapa langkah. Lucy sendiri tak mengerti kesalahan apa yang ia perbuat sampai-sampai dia diperlakukan seperti itu.
"Maafkan kesalahan saya." Lucy menundukkan wajah. "Saya akan memperbaiki diri saya untuk lebih baik lagi."
Saat Lucy kembali mengangkat wajahnya, gadis itu hilang dari pandangnnya dan sudah berada di boncengan motor Milo. Milo sendiri sudah siap mengendarai motornya.
"Aku tidak mau membawamu sampai ke dalam, bisa-bisa semua orang mengejekku. Jadi mulai dari sini kamu jalan kaki saja."
Bersama gadis itu, Milo meninggalkan Lucy yang mati kutu karena tak tahu sedang berada di mana.
Untung saja beberapa orang memakai almamater kampus lewat dari tempatnya, hingga Lucy bisa mengikuti mereka.
🎐🎐🎐
**ORIGAMI 6 : Follower
Haii, terima kasih bagi kalian yang sudah membaca.
Semoga kalian suka ceritanya dan kalian selesaikan cerita ini sampai selesai.
See ya.
🎋
Qomichi**