Japanese Herons

Japanese Herons
Origami Ketiga




🎏


Milo menyembunyikan wajah dengan ponselnya. Lebih tepatnya dia hanya berpura-pura fokus pada ponselnya tatkala mendapati ayahnya mengetuk pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Milo, boleh Ayah masuk?"


"Tidak," jawabnya gamblang dengan tangan yang mengutak-atik layar ponsel. Padahal hanya menggeser-gesernya saja. Sebelumya, dari pintu kamar yang sedikit terbuka, ia sempat melihat Lucy dengan wajah tertunduk dan agak membungkuk melalui pintu kamarnya dan membuka pintu di ruangan seberang. Tepatnya ruangan pribadi Milo sebelum akhirnya direnggut oleh gadis itu.


Lalu, ia kembali melihat gadis itu keluar kamar saat teriakan ibu memanggilnya dari bawah. Aneh rasanya jika melihat orang yang keluar masuk ruangan itu dan bersitatap dengan Milo yang berada di ruangan seberang. Ini artinya Milo tak dapat membiarkan pintu kamarnya tak tertutup lagi, ia membuatnya merasa membutuhkan privasi.


Beberapa saat setelah Gadis itu dipanggil ibu, ia tak terlihat lagi kemunculannya. Dan sekarang, giliran ayahnya yang terlihat di depan pintu kamarnya.


"Ayah ingin membicarakan sesuatu." Ayahnya berdiri di ambang pintu dengan tangan yang bersedekap.


"Terserah."


"Kau ingin mendengarkan ayah?"


"Tidak."


"Bagaimana kalau lima menit?"


"Lebih baik aku mati."


Ayahnya menghela napas dan mendesah. Matanya menangkap tajam Milo yang masih perpura-pura memainkan ponselnya. "Jika masalahnya ada pada Olivia, Ayah akan memberitahunya."


"Jangan mendekat!" Teriak Milo seraya menghempaskan ponsel di bantal. "Olivia tidak boleh tahu kalau aku bakalan dicantolin sama anak cacat."


"Itu tidak baik Milo," ucap ayahnya sepelan mungkin. Ayahnya berjalan mendekati ranjang anakanya sebelum akhirnya memilih untuk duduk di ujung ranjang biru bergambar mobil Cars. "Panggilan 'cacat' adalah sesuatu yang sangat kasar. Tidak ada orang yang ingin terlahir cacat."


"Tapi kenyataannya dia cacat," tukas Milo dengan mata yang penuh amarah.


"Kalau begitu ayah akan memanggilmu 'Anak Manja'."


Milo membuka mulut hendak memprotes. Akan tetapi, ayahnya tidak memberikannya kesempatan bicara. "Kamu itu sudah sembilan belas tahun, tapi kamu tidak pernah dewasa. Ayah heran, kenapa Olivia bisa suka sama kamu."


Milo mencibir. "Aku lebih heran, kenapa Ayah suka sama anak cacat itu."


Arthur mendengus. Laki-laki itu memalingkan wajah menatap keluar jendela. "Ibumu yang minta. Lagipula Lucy anak yang baik."


"Tapi dia cacat."


Kini ayahnya melirik tajam Milo, membuat anak itu menelan ludahnya. "Ayah lebih suka anak cacat yang baik daripada anak sempurna tapi manja alias egois alias seenaknya sendiri alias tidak bisa menghargai orang lain alias suka bicara sembarangan aliasβ€”"


"Jadi Ayah menyalahkanku? Lagipula kenapa Ayah mau nurutin kemauan ibu?"


"Kita melakukan apa saja demi orang yang kita cintai." Ucapan ayahnya kini membuat Milo diam seribu bahasa. "Suatu hari nanti kau pasti akan melakukan hal yang sama."


🎐🎐🎐


Dengan perasaan jengkel, Milo menaiki tangga. Menyebalkan baginya harus melakukan hal yang tak ingin dilakukannya. Meskipun ibunya sudah tahu kalau kelasnya dimulai lima belas menit lagi, ibunya tetap memaksa Milo untuk membantu Lucy membereskan barangnya. Tepatnya memindahkan barangnya.


Sulit bagi ibu dan ayahnya melakukan negosiasi di pagi hari dengan putranya dalam masalah barang-barangnya. Sampai akhirnya keputusan disepakati dengan memindahkan sebagian barang-barang Milo di sana.


Milo bersama Lucy dan ibunya, memindahkan barang-barang yang sering Milo gunakan. Sementara barang-barang penyimpanan seperti lemari dan beberapa meja, ia tinggalkan.


"Siang nanti, ranjangmu akan diantarkan. Nanti ranjangnya akan bibi letakkan di sana." Ibunya Milo menunjuk pojok ruangan yang berada di dekat jendela. Lucy mengangguk senang melihatnya, sementara Milo mendesah melihat tempat yang sebelumnya diisi dengan meja komputernya harus berpindah fungsi.


"Ibu harus mencuci pakaian, kalian berdua selesaikan, ya."


"Ibu, aku sudah hampir terlambat." Protes Milo. Ia berdalih jika dia juga enggan melakukan semua ini.


Ibunya tersenyum, "Saat ini jam kuliah dosen yang sering tidak masuk itu, kan?"


Seketika Milo menyesal pernah menceritakan tentang dosennya yang sering tidak masuk setiap hari selasa pagi.


"Lewatkan saja jam kuliahnya. Kau selesaikan ini baru setelahnya ketemuan sama Mrs. Popeye."


"Oliv!" Teriak Milo menggeram. Sebelum sang anak melemparkan sesuatu, ibunya tunggang langgang melarikan diri ke lantai bawah.


Lucy terkekeh meskipun Milo sudah menghunuskan tatapan tajam.


"Kau tidak lihat aku sedang marah?"


Lucy memicingkan mata sampai-sampai ia mendekat untuk beberapa langkah. Ketika dari jarak yang cukup jelas melihat wajah kemarahan Milo, gadis itu segera meminta maaf.


"Sudah tahu rabun, kenapa tidak pakai kacamata?" Milo berjalan menuju kotak berisikan komiknya. Ia mengambil beberapa komik lalu melemparkannya ke hadapan Lucy. "Itu, pindahkan."


Belum sempat Lucy memunguti komiknya, Milo sudah menambah lemparan baru hingga isi dari kotak komik itu habis. Gadis itu memejamkan mata saat beberapa hantaman komik mengenai wajahnya.


Terakhir, Milo mendorong kotak komik yang sudah kosong itu. "Bawa kotaknya ke kamarku, lalu kau susun kembali." Milo berjalan mendekati gadis itu dan berhenti tepat di depan wajahnya, "Mengerti?"


"I-iya ...."


"Kalau begitu cepat!" Laki-laki itu menendang kotaknya dan meninggalkan Lucy menuju ruangan seberang. Ia merebahkan diri di atas ranjang dan kembali menyuruh Lucy untuk menyelesaikan semuanya ketika gadis itu telah membawa koktak komik ke dalam kamarnya.


Saat ia melihat ponselnya, ia kembali mencoba menghubungi Olivia yang sebelumnya merejeck lima belas panggilannya. "Itu jangan ditaruh di sana!" Teriaknya pada Lucy yang salah meletakkan Laundry Basket, "Taruh di sana!"


Tepat setelah Lucy membenarkan posisi yang ditentukan, Milo seketika menegakkan badan ketika Olivia mengangkat panggilannya. "Halo? Liv? Kamu kok gak angkat telpon aku sih dari tadi?"


Terdengar gerutuan Olivia dari seberang telpon yang mengungkit-ungkit masalah kemarin. Milo meminta maaf berkali-kali dengan pelan meski Lucy dapat mendengar hal itu baik saat berada di kamar Milo ataupun di ruangannya.


"Kamu juga mana? Kenapa gak kuliah? Aku udah nungguin kamu tahu!" Teriak Olivia yang kembali membuat telinga Milo terasa berdengung.


"Iya, ini lagi ada masalah di rumah. Lagipula mata kuliah Pak Bardi kadang gak ada isinya."


"Sekarang kamu di mana?"


"Di kamar."


Setelahnya, Olivia kembali mengocehi Milo dan menggerutuinya. Kali ini omelannya kembali tentang masalah kemarin yang disangkutpautkan dengan masalah hari ini.


"Milo, semuanya udah aku pindahin," lapor Lucy tepat di samping ranjang Milo. Ia sengaja berada di sana agar bisa melihat Milo dengan lebih jelas.


Milo yang terlonjak, langsung menjauhkan ponsel dan menutupnya rapat-rapat agar Olivia tidak mendengarnya meski itu sudah terlambat.


"Kenapa dekat-dekat! Pergi sana!"


Lucy pergi setelah kalimat pengusiran itu Milo lontarkan. Milo menggretakkan gigi tepat saat gadis itu sudah hilang dari pandangannya. Ia kemabli meltekkan ponsel di samping telinga.


"Miloooooo!!!!!" Olivia kembali berteriak, dan kali ini Milo sedikit menjauhkan ponselnya. "Kenapa ada suara cewek di kamar kamu??!!!!"


Milo gelagapan. Ia mencoba segala cara untuk menjelaskannya pada Olivia meski Olivia-lah yang mengambil alih pembicaraan.


"Beneran, suer deh!" Milo sampai bersumpah-sumpah demi meyakinkan pacarnya, "Liv, Liv, ja-jangan dimatiin. Lho? Lho, Liv, jangan dimatiin dulu! Nanti aku beliin ciloknya dua kali lipat deh!"


Laki-laki itu menyerapah saat sambungan teleponnya terputus. Ia melampiaskan hal itu dengan melemparnya ke sembarang tempat di ranjangnya. Milo mengacak-acak rambutnya dan kembali merebahkan diri.


"Semuanya akan semakin rumit sekarang." Ia membatin sebelum akhirnya memilih untuk memejamkan mata beberapa saat.


Ketika ia membuka matanya kembali, laki-laki itu berniat untuk memberangkatkan diri menuju tempat kuliah walaupun jam kuliah siangnya tebilang masih cukup lama.


Spontan, langkahnya terhenti di depan pintu saat melihat apa yang dilakukan Lucy pada ruangan yang sebelumnya menjadi miliknya.


"Apa-apaan ini?" Milo mendelik tak percaya. Mendengar hal itu, Lucy terhenti dan menoleh. "Apa yang kau lakukan dengan barang-barangku?"


Milo menyisir sekeliling ruangan itu. Semua barang-barangnya dipinggirkan dan digantikan dengan barang-barang gadis itu.


"Aku kan sudah bilang, jangan sentuh barang-barangku," teriak Milo seraya berjalan cepat menuju meja dan melempar barang-barang Lucy yang ada di sana. "Ini meja belajarku yang ketiga kalau aku bosan belajar di meja belajar yang pertama dan yang kedua."


Lucy berusaha memungut buku-bukunya yang berserakkan.


"Ini juga apa?" Milo beralih ke meja lain, melempar figuran dan botol-botol milik Lucy ke sembarang tempat. Lucy yang sebelumnya telah memungut beberapa buku, beralih memungut figurannya yang terhempas dan botol parfumnya yang pecah.


"Siapa yang suruh kamu pakai lemari ini?" Milo semakin tak terima dan menghamburkan baju-baju Lucy begitu saja.


"Milo, jangan dihamburkan. Nanti aku akan pindahkan sendiri," gumam Lucy saat pakainnya berhamburan kemana-mana. Tidak puas hanya melemparnya ke sembarang tempat, Milo juga melempar beberapa baju ke luar jendela. Lucy sempat meminta Milo untuk tidak melakukannya. Namun, laki-laki itu tidak menggubrisnya.


"Aku sudah peringatin kamu untuk tidak menyentuh apapun. Kenapa kamu ..." Milo terpaku pada piala-pialanya yang terpinggirkan di pojok ruangan. Matanya membulat melihat etalase tempat pialanya kini berganti menjadi tempat origami bangau yang begitu banyaknya. "Sialan kau!"


Lucy refleks menahan Milo kali ini saat laki-laki itu mulai membuka etalasenya dan menghamburkan origami Lucy. "Aku tidak mengizinkanmu menyetuh tempat ini!"


"Milo jangan yang ini!" Lucy memohon seraya menggeleyuti lengan laki-laki itu. Dengan penuh amarah, Milo mengubrak-abrik seluruh origami bangau Lucy dan menginjaknya. "Milo aku mohon!" Dengan sepenuh tenaga, Lucy menghalangi Milo mengubrak-abrik origaminya. "Aku mohon, aku tidak akan mengunakan meja manapun dan lemari apapun. Tapi aku ingin menggunakan etalase ini. Seb-ebelumnya di rumahku, bangau-bangau ini kuletakkan di tempat yang seperti ini. Jadi aku mohon!" Lucy mengatupkan tangan memohon.


Milo berdecak, "Tidak mau!" Dia mendorong Lucy hingga tubuh gadis itu membentur etalase piala, gadis itu terjatuh dan terduduk.


"Kenapa ibu menemukan pakaian-pakaian yang berterbangan dari atas ...." Ibu Milo yang tiba-tiba datang langsung terlonjak mendapati kamar yang seperti kapal pecah, tapi yang membuatnya lebih kaget adalah wajah putranya yang penuh amarah dan Lucy yang terduduk di depannya.


"Milo, apa yang kau lakukan?" Ibunya seketika melepaskan pakaian yang dipegangnya dan langsung membantu Lucy berdiri. Setelah Lucy berdiri, dia justru kembali jongkok dan memunguti origaminya.


"Jelaskan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi?" Ibunya berkacak pinggang.


Milo mendesah dan mengacak rambutnya. "Tidak ada. Aku ingin pergi kuliah." Milo tak menjawab apa yang ibunya tanyakan. Dengan perasaan kesal ia melirik Lucy yang memungut origami itu. "Hanya etalase ini saja. Kau hanya boleh menggunakan etalase ini saja."


Lucy terkesiap. Gadis itu berdiri seketika dengan wajah yang menatap Milo senang. "Terima kasih."


Milo terpaku saat gadis itu tersenyum kepadanya, dia turut bingung karena tidak ada ekspresi kekesalan pada gadis itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


Sekali lagi Milo tak menggubris pertanyaan ibunya. Pandangannya hanya menyorot heran pada Lucy yang memeluk origaminya dengan ekspresi yang begitu bahagia.


Tidakkah dia memiliki sedikitpun rasa kesal?


🎐🎐🎐


**ORIGAMI 3 : Tempat di Etalase


.


Hari Ketiga, Origami Ketiga.


Setiap kata mempunyai artian dan harapan masing-masing.


Silakan meninggalkan jejak pada cerita ini jika masih ditemukan kecacatan(banyaaak banget mungkin)


Ganbatte Kudasai🎌


πŸŽ‹


Qomichi**