
π
"Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu sih?" Olivia mulai risih pada mata Milo yang tersenyum menilik wajahnya dalam waktu yang cukup lama. Gadis itu mengelap bibirnya, mengira Milo menatapnya seintensi itu karena noda kecap yang mungkin belepotan.
"Gak ada kecap," tanggap Milo masih dengan tatapan anehnya, "kalo ada udah aku bersihin dari tadi."
Olivia melirik ragu sebelum kembali mengunyah cilok gorengnya. "Kalau begitu kenapa kamu mandangin aku kayak orang mesum?"
Milo tertawa dan menggeleng. Ia mengusap kepala pacarnya dengan penuh kasih sayang. Setelah kejadian di taman belakang kampus waktu itu, Olivia lebih menjaga jarak dengan Lucy meski dia sering mendeklarasikan rasa tidak sukanya akan kedekatan Lucy dengan Toshi pada Milo.
Oleh karena itu, beberapa pekan terakhir, ia meminta Elisa dan Erika untuk mengawasi Lucy. Erika tak ambil pusing karena ia lebih mementingkan penyicilan tugas-tugas semester yang membuatnya merasa seperti mayat hidup. Sementara Elisa, perempuan itu mengatakan pada Olivia jika tak ada sesuatu yang spesial karena akhir-akhir ini Toshi jarang terlihat bahkan sudah berbulan-bulan Lucy dan Toshi tak menghabisakan waktu bersama.
Olivia lega mendengarnya. Beberapa minggu terakhir, hidupnya terasa kembali berjalan normal tanpa harus mengawasi Lucy. Dia bahkan setiap harinya bercerita pada Milo tentang perasaan leganya karena Lucy yang tak bisa dekat dengan Toshi dikarenakan kesibukan dosen itu.
Namun, beberapa hari yang lalu, ia kembali melihat Toshi yang pulang berasama Lucy. Pria itu bahkan tidak menyapanya sama sekali saat hendak membeli cilok goreng. Olivia tak dapat memastikan Lucy saat itu melihatnya atau tidak, tapi Olivia tetap kesal melihatnya.
"Beberapa hari yang lalu, aku melihat Lucy yang pergi dengan Toshi."
"Di hari aku mengantarmu pulang?"
Olivia mengangguk dan kembali mengingat betapa dongkolnya ia hari itu. Ia jengkel melihat Lucy yang terus-terusan menempel pada Toshi padahal dia sudah memperingatkan gadis cacat itu berkali-kali. Mulai dari cara kasar sampai cara kekerasan.
"Aku ingin membuat Toshi hilang dari pikiranmu," ungkap Milo kemudian. Olivia mengernyit dan tersenyum miring.
"Memang kau bisa?"
"Tentu saja aku bisa." Milo berdiri lalu menggenggam tangan pacarnya. "Kan di hatimu cuma ada aku."
Olivia tersenyum dan hanya bisa mengekori tuntunan sang pacar yang membawanya entah ke mana. "Kita mau ke mana?"
"Ikut saja."
"Bagaimana dengan Lucy? Kau kan harus menjemputnya."
Milo terhenti dan menatap sang pacar dengan heran. "Sejak kapan kau peduli pada Lucy? Aku tinggalkan saja dia seperti hari itu."
Olivia mengulum senyuman mendengar hal itu. Ia mengikuti langkah Milo yang menuntunnya ke parkiran dan duduk pada boncengan motor laki-laki itu.
Gadis itu menatap siluet punggung Milo ketika laki-laki itu menyuruhnya untuk pegangan tangan. Olivia melingkarkan tangannya di tubuh laki-laki itu, dan seperti biasanya detak jantungnya meningkat dalam beberapa frekuensi.
Saat motornya mulai melaju, gadis itu membiarkan angin menerpa wajahnya yang mendongak memperhatikan kepala Milo yang memakai helm. Ingin sekali rasanya dia melihat keseriusan wajah Milo ketika mengendarai motor.
Sesaat, ia mengencangkan pelukannya. "Milo, kamu ... tidak akan meninggalkanku, kan?"
"Apa?" Milo tak mendengar jelas karena desauan angin yang mengisi pendengarannya. Laki-laki itu memperlambat laju motornya untuk mendengar apa yang pacarnya bicarakan sebelumnya.
Olivia menggeleng. "Akan kubunuh kau jika membawaku ke tempat yang aneh-aneh."
Milo hanya menanggapinya dengan kekehan sesaat. Kemudian ia kembali memfokuskan pandangan pada jalanan dan mempercepat laju motornya.
Olivia menurunkan pandangan dan menghela napas. Perlahan, ia menyandarkan kepalanya pada punggung laki-laki itu dan mulai merasakan sensasi detak jantungnya yang semakin tidak bisa ia tawar.
πππ
Olivia tersenyum dengan mata yang penuh binar ketika motor Milo berhenti pada toko buku tempat pertama kali mereka bertemu. "Milo, kau membuatku ingin menghabisimu."
Olivia langsung ngonyor ke dalam toko buku dan menuju ke lantai dua tempat buku-buku ilmu pengetahuan berada. "Saat itu aku berdiri di sini, kan?" Olivia memposisikan diri pada rak buku filsafat di sebelah kanan dan rak teaori dasar matematika pada sebelah kirinya. Meskipun beberapa kali mengunjungi toko buku ini, tapi ini kali pertama mereka membicarakan kejadian ketika pertemuan pertama.
"Sebenarnya itu bukan pertemuan pertama kita." Milo mengakuinya dengan gugup. "Tapi itu pertemuan pertamamu denganku."
Wajah ceria Olivia berubah menjadi kerutan di dahi. "Maksudnya?"
"Iya, sebenarnya aku bertanya tentang buku-buku padamu hari itu bukan karena kebetulan. Melainkan karena semua itu sudah kupersiapkan." Wajah Milo memucat tatkala ekspresi iblis pacarnya mulai terlihat. "Ak-aku sebenarnya sudah lama menyukaimu, tapi aku tak pernah berani mendekatimu. Dan hari itu aku mencoba untuk mendekatimu dengan menanyai masalah buku di tempat ini. Aku tahu kalau kau bakal ke toko buku ini"
Olivia membuka mulut lalau mengatupkannya lagi. Tangannya yang berkacak pinggang mencerminkan amarah emak-emak kos yang hendak menagih penunggakan bayaran.
"Kamu menggunakan statistika dalam alasan akuntansi yang tidak mendasar? Kamu merencanakan semua itu?"
Milo mengangguk dengan mata terpejam.
Olivia menghembuskan napas panjang dan memutar kedua bola mata. "Jadi jauh sebelum hari itu, kamu sudah menyukaiku?"
Milo kembali mengangguk. "Aku mohon jangan marah."
Gadis itu mendesah, "caramu begitu kuno dan kaku. Seperti menggunakan penjabaran panjang dibandingkan mencoret angka yang sama dalam pembagian," ucap Olivia ketus. Gadis itu berbalik badan berjalan menuju rak buku di sebelahnya. Seketika kedua tangannya menutup bibirnya yang sudah membentuk lengkung ke atas.
"Kamu jangan marah, ya." Milo menyusulnya dan itu membuat Olivia langsung membelakanginya.
"Aku tidak marah kok." Gadis itu melirik ke samping sekilas. "Tapi karena kamu duluan yang menyukaiku, maka kamu tidak boleh meninggalkanku."
Milo tersenyum dan menjawab pasti. Laki-laki itu kemudian menarik tangan Olivia kembali ke tempat semula. "Mari kita reka adegan hari itu. Kali ini aku akan melakukannya dengan cara moderen. Cara coret-coret angka seperti katamu tadi."
Milo berjalan meninggalkan Olivia untuk bersiap melakukan reka adegan hari itu. Olivia mengulum senyum dan berusaha menetralkan perasaannya.
Ia mengambil buku matematika dan melihat sampul belakangnya seperti kejadian saat pertama kali ia bertemu dengan Milo. Gadis itu berusaha menyembunyikan senyumnya ketika Milo datang dengan ragu. "Permisi."
Olivia sempat kaget saat kata permisi yang diucapkan begitu berbeda dengan yang asli.
"Ada apa?" Olivia mempersiskan suara juteknya dengan yang asli.
"Jangan galak-galak dong, nanti cantiknya hilang lagi."
Gadis itu melebarkan mata mendengar reaksi yang seratus persen berbeda dan nyeleneh. "Kamu siapa?"
Milo memasang senyum genit dan menyenderkan tubuh pada rak buku. "Aku jodohmu."
Olivia mendesah dengan mata yang menatap ke atas. "Kau seperti jomblo tak tahu diri."
πππ
Setelah melaksanakan salat magrib, gadis itu mengirim pesan jika dia menunggu Milo di masjid kampus. Hanya saja, pesannya belum dibalas hingga saat ini meski sudah dilihat.
Lucy duduk meringkuk dengan lutut terlipat. Pandangannya kosong melihat jumlah panggilan yang telah dilakukannya hampir lima bulan terakhir. Banyak sekali panggilan yang tak diangkat. Hanya beberapa panggilannya yang diangkat dan itu hanya terjadi pada orangtuanya Milo dan Toshi.
Lucy sempat tertegun saat satu panggilannya pada Jun yang pernah diterima laki-laki itu. Lucy menatap keluar jendela masjid, memikirkan seperti apa kabar adiknya sekarang dan seperti apa kehidupannya saat ini. Apakah Jun sudah berganti pacar? Apakah Jun kembali menjuarai perlombaan? Apakah Jun lebih sering bermain bersama teman-temannya?
"Claw?"
Lucy mendongakkan kepala seraya mendekat untuk memastikan laki-laki yang menyebut namanya. "Kak Toshi?" Senyumnya mengembang begitu saja setelah memastikan jika pria di depannya memang Toshi.
"Kamu ngapain di sini? Kenapa belum pulang?" Toshi menanyakannya dengan nada yang khawatir. Lucy menjelaskan jika Milo mungkin telat menjemputnya. Akan tetapi, jelas dari wajah Toshi kalau ia tak yakin jika Milo telat menjemput gadis itu.
"Kakak baru selesai salat, ini kakak sudah mau pulang," jelas Toshi seraya mengode untuk Lucy segera mengikutinya.
Dengan senangnya, Lucy mengikuti Toshi. Toshi menuntun Lucy menuju parkiran motor dengan cara menggenggam tangan Lucy karena Toshi sudah hapal jika penglihatan Lucy akan kacau di kegelapan. Lucy merasakan detak jantung yang abnormal, ia mencoba menetralkan keadaannya dengan mengajak Toshi berbasa-basi jika laki-laki itu akhir-akhir ini terkesan sibuk.
"Ya. Banyak yang harus dipersiapkan akhir-akhir ini." Toshi menambahkan pada Lucy jika ia ragu bisa sering bertemu dengan Lucy dalam waktu dekat ini.
Lucy agak kecewa mendengarnya.
"Aku akan mengantarmu dengan satu hal." Toshi menatap mata Lucy dalam meski Lucy tak dapat membalas tatapan itu. "Aku tidak akan mengantarmu pulang secara langsung. Aku akan menculikmu sepanjang malam ini. Bagaimana?"
Tanpa ragu, Lucy mengangguk setuju.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat yang dari dulu ingin kutunjukkan padamu. Untuk itu ...," Toshi menoleh ke dadanya dan langsung melepas dasinya, "aku harus menutup matamu selama perjalanan."
Detak jantung Lucy berdesir hebat terutama selama perjalanan, ia memeluk tubuh Toshi untuk berpegangan dengan mata yang tertutup. Toshi bahkan beberapakali menggenggam tangan Lucy guna mempererat pegangan gadis itu.
Lucy merasakan wajahnya yang merah dan hangat.
Ketika Toshi menghentikan motor dan memarkirkannya, ia menurunkan Lucy secara hati-hati dan menuntun gadis itu berjalan secara perlahan.
Dapat Lucy rasakan di kakinya jalanan rumput yang ia pijak dan beberapa perdu mengenai kaikinya. "Apakah kita di hutan?" Pertanyaan itu tak dijawab sama sekali oleh Toshi sampai akhirnya Toshi memberhentikan Lucy pada satu posisi dan kemudian membuka penutup mata gadis itu.
"Bagaimana?"
Lucy mengrejapkan mata beberapa kali. "Aku tidak dapat melihat apa-apa," ujarnya jujur yang tak dapat melihat sesuatu karena kegelapan.
"Aku tahu itu, tapi kau bisa melihat cahaya di kegelapan bukan?"
Toshi mengarahkan tangannya ke atas dan Lucy mendongak takjub pada bintang-bintang yang bertaburan layaknya seseorang yang tak sengaja menumpahkan gliter di karpet yang bernama Langit.
"Kamu harus tahu kalau ada keindahan di malam hari yang patut kamu saksikan." Bisik Toshi menatap gadis di sampingnya yang terlihat takjub dengan pemandangan di atas.
"Aku tak pernah melihat keindahan di malam hari seperti ini selain kembang api saat festival desa." Lucy masih takjub pada apa yang ada di depannya.
Bukan hanya itu. Toshi tersenyum kemudian mengeluarkan ponsel lalu memotret sesuatu yang berada di depannya setelah cahaya kamera berpendar singkat. Pria itu kemudian memberikan hasil jepretannya kepada Lucy.
Lucy melebarkan mata melihat pohon tempat pertama kali mereka bertemu yang terlihat dari sudut bawah. "Indah sekali. Jadi kita berada di bawah?"
Toshi mengangguk dan mengatakan jika melihat pohon itu dari padang rumput yang menurun, akan terlihat lebih indah dari yang seharusnya. Lucy menatap pria di depannya meski hanya samar. Matanya memancarkan apa yang mungkin tak pernah dipancarkan kepada orang lain.
"Claw," bisik Toshi kemudian, "kamu ingat lagu dari film Walt Disney yang pernah kita tonton bertiga?"
"Yang mana? Toy Story? Up? Monster Inc?"
Toshi menggeleng. "Tangled. I See The Light." Toshi mengulurkan tangannya di depan Lucy. "Nyanyikan lagu itu dan mari berdansa."
Ingin sekali Lucy mengatakan jika dia payah dalam hal menari. Tapi ia tak ingin menolak kesempatan di waktu seindah ini.
Di bawah taburan bintang. Di antara rerumputan yang sedikir miring. Di hadapan orang yang sangat ia cintai. Lucy menerima uluran tangan itu kemudian menyenandungkan lagunya.
"All those days watching from the windows. All those years outside looking in." Lucy menyesuaikan irama pada langkah dengan tangan yang memegang kedua bahu Toshi dan tangan Toshi yang melingkar di punggung Lucy.
"All that time never even knowing just how blind I've been ... na-na-na, aku lupa liriknya." Lucy terkekeh menghancurkan iramanya.
Toshi tetap tersenyum. "Teruskan saja dengan bersenandung."
Mereka berdansa dengan khidmad yang mana keduanya menyenandungkan lagu bersama sesuai dengan lirik yang mereka tak ketahui.
Lucy merasakan debaran yang hebat meski itu menenangkan hatinya. Ia begitu dekat dengan Toshi, bahkan tidak berjarak dan ingin rasanya ia membeku dan menghentikan waktu saat ini juga.
Ketika senandungnya selesai, Toshi melepaskan tangannya. Laki-laki itu kembali menatap bintang-bintang dan duduk di atas rerumputan. Lucy turut duduk di sampingnya.
"Lucy," panggilnya lagi setelahnya, "maukah kau membacakan untukku puisi Eiketsu no Asa ?"
Lucy spontan menoleh dengan alis yang bertautan. Matanya mengatakan enggan untuk memenuhi permintaan Toshi yang satu itu karena Eiketsu no Asa (Pagi Perpisahan Abadi) adalah puisi yang dulu Toshi minta untuk Lucy bacakan sebelum laki-laki itu pergi ke Malaysia.
"Kakak ingin pergi lagi?" Sura Lucy terdengar bergetar dan takut-takut. "Aku tidak sanggup."
Reaksi Toshi justru membuat tubuh Lucy semakin gemetar. Laki-laki itu menatap bintang dengan wajah yang tersenyum. "Aku tidak pergi ke mana-mana," ucapnya kemudian.
"Kakak yakin?" Hal itu tidak ditanggapinya sama sekali. Setelahnya, Lucy turut menatap bintang dengan bibir yang bergetar.
"Dalam keadaan sakit ...," Toshi menutup mata ketika mendengar sajak itu mulai terlantun dari suara Lucy, "kau meminta padaku semangkuk salju terakhir, yang turun dari langit."
Suara Lucy tersendat. "Galaksi, matahari, dan lapisan atmosfer di antara dua potong granit ... membuat genangan air yang beku ... aku berdiri di atasnya, terhuyung. Menjaga keseimbangan antara salju putih dan air yang jernih. Dan membawakan kakaku tersayang makanan terakhirnya ...."
Lucy terhenti di tengah jalan. Tak dapat meneruskan. Ia melaihat Toshi yang membuka mata, lalu menghamburkan pelukan pada lelaki itu.
πππ
**ORIGAMI 17 : Tempat Pertemuan Abadi
Just stay and go on
Fightingπ**