Japanese Herons

Japanese Herons
Origami Kelima Belas




🎏


Lucy melamunkan sesuatu. Sesuatu yang mengingatkannya akan meja makan di rumah Toshi tadi malam. Sesuatu yang begitu menghangatkan hati dan perasaannya. Ia selalu senang berada di antara keluarga Toshi karena mereka keluarga yang dapat menerimanya secara baik.


Hanya saja, ada perbincangan antara ayah Toshi dan Toshi setelah makan malam kemarin. Perbincangan yang begitu tertutup dan sama sekali tak dapat Lucy mengerti. Selama perbincangan itu berlangsung, Lucy hanya bisa membantu ibu Toshi membereskan dan mencuci piring yang kotor. Ibunya Toshi juga membawanya ke dalam perbincangan ringan yang tak dapat Lucy selami karena konsentrasinya terbelah. Lucy takut jika wacana tentang pekerjaan di tempat lain yang pernah Toshi ceritakan sedang mereka perbincangkan.


"Itu yang namanya Toshi?" Pertanyaan Tante Lisa membuyarkan lamunan Lucy akan hal kemarin. "Dia terlihat sangat luar biasa."


Lucy tersenyum gembel masih di bawah pengaruh ketidakfokusannya. "I-iya, semua orang pasti menyukainya."


"Aku tidak," serobot Milo.


"Lagipula siapa yang menyukaimu? Hanya Olivia," sanggah Om Arthur kemudian dan itu membuat raut wajah Milo berubah masam. Tante Lisa dan Lucy terkekeh bersamaan melihatnya.


"Dulu Tante menyukai seseorang yang tegas, dewasa, dan berwibawa seperti Toshi ketika Tante masih kuliah. Tante bahkan sempat berpikiran kalau dia juga menyukai tante."


Lucy merasa penasaran. "Lalu?"


Lisa duduk di kursi dan bersiap untuk memulai sarapan sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Lalu Tante sadar jika dia juga punya perasaan yang sama dengan Tante."


Kini Milo turut membagi pandangannya pada sang ibu. Ia melirik sekilas ayahnya yang terlihat sungkan mendengarkan.


"Hanya saja ada anak cowok manja yang kekanak-kanakkan dan terus-terusan mengikuti Tante kemanapun Tante pergi." Lisa melirik ke arah sampingnya. "Jadinya Tante terpaksa deh menikah dengan dia."


Milo terbatuk dan terkekeh geli melihat ayahnya yang menyembunyikan wajah. Sementara Lucy mengulum senyuman.


"Kau membuatku malu di depan anak-anak," cibir Arthur kemudian.


"Tapi itu kenyataannya." Lisa bersikeras jika itu memang kenyataan yang ia alami.


"Kalau Lucy perhatikan, Om Arthur orang yang tegas dan tidak manja." Lucy menyerukan pendapat secara subjektif.


"Itu karena sifat manja Om sudah Om turunkan pada Milo," jawab Arthur kemudian, namun Lisa justru menggeleng.


"Dia begitu saat di depan kalian saja. Kalau di depanku dia beda lagi." Lisa menertawai suaminya yang terlihat memerah. Arthur kemudian bangkit dan pergi dengan alasan sudah terlambat berkerja.


🎐🎐🎐


Milo baru saja menerima pesan dari Olivia untuk mengajak Lucy bertemu dengannya. Olivia sudah beberapa hari ini ingin bertemu dan meminta maaf secara langsung pada Lucy meski rasanya sungkan. Milo yang beberapa hari pula membuat Olivia dan Lucy tidak saling bertatap muka, merasakan jika ini bukan ide yang baik mengingat butuh beberapa hari setelah kejadian hari itu untuk Lucy bisa kembali berkuliah.


Akan tetapi, Milo tak punya pilihan jika Olivia sudah memaksa. Tanpa sepengetahuan Lucy, Milo membawa gadis itu ke tempat yang Olivia janjikan.


"Milo, kita mau ke mana?"


Milo menggigit bibir saat Lucy menyadari motornya melaju di jalan yang bukan seharusnya. Milo hanya menjawab jika ia harus mampir ke suatu tempat sampai akhirnya dia menghentikan motornya di taman kampus belakang yang mana terlihat seorang perempuan tengah menunggu di tempat yang sepi.


Milo memarkirkannya cukup jauh dari tempat Olivia berdiri. Ia melirik Lucy yang kebingungan dan belum menyadari keberadaan Olivia yang masih berjarak bagi matanya. Setelahnya, Lucy kembali menanyakan hal serupa, tapi Milo tak menjawabnya. Laki-laki itu menuntun Lucy dengan menarik lengan gadis itu mendekati posisi sang pacar.


"Olivia?" Gadis itu terkejut dengan keberadaan Olivia di sana. Namun herannya, baik Milo maupun Olivia sama sekali tak melihat ekspresi takut dari wajah Lucy setelahnya. Gadis itu justru tersenyum lebar.


Lucy melirik Milo sekilas. "Olivia aku ... aku ingin sekali bertemu denganmu akhir-akhir ini meski aku kadang masih merasa takut. Aku minta maaf."


Milo dan Olivia bertukar pandang tak mengerti. "Tidak. Aku yang minta maaf karena bertindak kasar padamu. Aku lupa kalau kau gadis cacat yang punya penyakit mengerikan."


Lucy tersenyum dan mengangguk beberapa kali. "Aku senang jika kita akhirnya bisa berteman."


"Tidak. Aku minta maaf hanya karena perlakuanku hari itu padamu. Aku tetap tidak ingin berteman denganmu karena aku tidak menyukaimu." Gadis itu menyilangkan tangan di depan dada. "Bagaimanapun, apa yang kukatakan padamu tidak akan pernah kutarik lagi."


Lucy diam, berusaha menemukan keraguan dari wajah cantik pacarnya Milo. Hanya saja, ia tak menemukan hal itu sama sekali. "Aku juga ingin minta maaf karena bertingkah tidak tahu diri seperti apa yang kau katakan padaku. Hanya saja aku tak bisa menjauhi Kak Toshi."


Olivia berdecak lalu hendak mendaratkan tinjunya. Namun, hal itu tertahan ketika Milo meneriakinya. Lucy tak berkedip sama sekali melihat kepalan tangan gadis itu.


"Aku sudah bilang kalau kau tidak pantas. Orang sepertimu tidak pantas!!!" Teriak Olivia yang begitu menggema. Milo mulai beranjak dan berusaha menenangkan Olivia. Olivia berusaha melawan dan terus mengatakan jika Lucy tidak pantas mendekati Toshi, tidak pantas mendekati Milo, bahkan tidak pantas mendekati siapapun.


Lucy tertunduk mendengar rentetan kata-kata mengerikan itu. Bibirnya bergetar dan tangannya terkepal. "Aku tidak akan mendekati siapapun karena aku memang tidak pantas. Tapi tidak untuk Kak Toshi. Tidak untuk semua orang yang mencintaiku."


Olivia tertegum mendengar hal itu. Tubuhnya mematung seketika. "Maksudmu Kak Toshi mencintaimu? Orang sepertimu? Gadis jelek, cacat, dan berpenyakitan?"


Lucy menggelengkan kepala. "Aku juga gadis yang cantik."


Olivia terbahak mendengarnya. Gadis itu menertawai Lucy seolah hal itu adalah lawakan yang paling menghibur dalam hidupnya. "Jika ada orang lain mengatakan kalau kau cantik, itu karena mereka kasihan padamu, tidak lebih. Kau harus sadar jika perasaan manusia itu bukan hanya suka atau tidak suka, mereka punya rasa empati, jijik, kasihan, segan, dan seluruh akar-akarnya."


Gadis itu mendekatkan bibirnya ke telinga Lucy lalu berbisik, "jadi, apakah sekarang kau yakin jika dia hanya mengasihanimu?"


🎐🎐🎐


Malamnya, Lucy termenung atas kebenaran yang harus ia terima tentang kehidupan. Beberapa hal harus ia pelajari jika hidup tidak dipenuh oleh cinta atau kebencian saja. Tapi, hei, sisi positifnya, mungkin saja orang-orang yang selama ini tak menyukainya hanya mempunyai perasaan segan atau kurang empati.


Lucy tersenyum memikirkan jika Jun ternyata tidak membencinya atau Milo yang kurang berempati padanya. Bukankah hal itu bagus? Tapi bagaimana jika ternyata selama ini seluruh orang hanya mengasihaninya? Mereka baik pada Lucy hanya karena kasihan.


Gadis itu menatap bintang dan mulai mengambil selembar origami dari plastik yang ada di sampingnya. Pena birunya sudah mulai bersiap beradu dengan kertas putih persegi itu. Lucy kembali melirik gemintang sebelum mengilahmi inspirasi dan menumpahkan emosi pada origaminya dalam bentuk aksara.


'*Jika saja seribu rasa di dunia ini terbagi menjadi ribuan hal kecil sejumlah bintang-bintang, maka di manakah letak cinta berada?


Apakah terletak pada bintang yang paling bersinar atau bintang yang sendirian? Begitu sulitkah kita menemukan tingkatannya sehingga harus menyelami dalamnya perasaan seseorang yang tak pernah kita ketahui.


Apakah rasa sebegitu rumitnya? Apakah dibalik rasa empati tersimpan ketidak tulusan yang tertutupi atau apakah di balik rasa kasihan ada secercah harapan untuk mencintai?


Jika diri memang tidaklah layak seperi insan yang seharusnya terkodratkan secara cuma-cuma. Lalu untuk apa diri ini diciptakan dengan segala kekurangan yang tak dapat di terima? Kalau saja beberapa jiwa tak terciptakan untuk cinta, maka leburkanlah raga setelah api menyala*.'


Lucy kemudian melipatkannya ke dalam bentuk bangau, dan ia tidak meletakannya ke dalam etalase, melainkan menggantungkannya di jendela kamarnya dengan benang yang sama putihnya. Ia menghembuskan napas dan mulai mengembangkan senyuman. Yosh!


Ketika hendak tidur, tante Lisa mendatangi kamarnya. Ia tersenyum dan menanyakan pada Lucy tentang sesuatu yang mungkin terjadi hari ini karena saat pulang, Lucy dan Milo terlihat diam tak bising seperti biasanya.


Lucy menggeleng dan mengatakan jika semuanya baik-baik saja. Ia menjelaskan jika Milo diam karena mungkin tugas yang akhir-akhir ini sedang menumpuk. Lisa mengangguk meski tahu jika Lucy sedang berbohong lagi.


"Mau cerita sesuatu?" Tawar Lisa pada Lucy kemudian.


Lucy sempat termenung kemudian mengangguk ragu. "Tante, apakah ada orang yang ... tidak berhak mendapatkan sesuatu yang seharusnya setiap orang dapatkan?"


Lisa mengerutkan dahi seraya tersenyum mendengar hal itu. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. "Tentu saja tidak ada. Semua orang pasti mendapatkan apa yang seharusnya sudah didapatkan setiap manusia. Mulai dari kepribadian, karakter, orang tua, cinta ...," Lisa menghela napas sejenak, "hanya saja Allah kadang memberikan semuanya dengan cara dan jenis yang berbeda. Sesuatu yang kita rasakan tidak adil. Sesuatu yang membuat kita merasa hanya memiliki-Nya. Dan itu menutup mulut kita tentang kemunafikan yang kita sebarkan jika tidak memiliki apa-apa."


"Termasuk cinta?"


Lisa mengangguk.


"Meski kita berbeda dari yang lainnya?"


Lisa kembali menganggukkan kepala. "Itu justru membuat kita menjadi lebih istimewa dibandingkan yang lainnya."


Lucy tersenyum getir dan ia meminta izin untuk memeluk perempuan yang saat ini ada di depannya. Tanpa ragu, Lisa memeluk gadis itu dan mengelus kepalanya perlahan. Sementara tangan yang satunya lagi mengelus perutnya secara perlahan sebelum kembali memeluk Lucy dengan erat.


Hari-hari berikutnya semakin melelahkan. Tugas-tugas mulai menumpuk dan Lucy mulai melewatkan minggu-minggu yang berjalan cepat karena kejaran deadline yang begitu menakutkan. Beberapa hal yang ia khawatirkan setelah pindah mulai memudar. Dia tak lagi menunggu telpon dari orang tuanya yang tak pernah memberikan kabar. Dia juga tidak lagi memikirkan Jun dan hanya berharap jika adiknya saat ini menjalankan kehidupan yang lebih normal.


Lucy mulai membiasakan dan semakin terbiasa dengan keadaan barunya. Entah sampai kapan ini berlangsung hingga orangtuanya menjemputnya lagi. Tekanan dari Milo yang selama ini membuatnya kebingungan, kini sudah biasa ia jalani.


Sepuluh ribu dalam sehari sudah cukup dalam kehidupannya. Ia juga kadang menunggu jika Milo ternyata ingin menjemput Olivia lebih dulu. Dan untuk Toshi, ia semakin terbiasa dengan gunjingan dan tatapan tak suka dari orang lain.


Entah penyimpangan apa yang dia lakukan, hanya saja semua pemikiran dan pusat perhatiannya hanya kepada tugas. Toshi juga cukup sibuk akhir-akhir ini, dia kadang tidak mengajar di kelas dan Elisa lah yang mewakilkannya untuk sekadar membagikan tugas.


Setelah terakhir kali ke rumah Toshi hari itu, Lucy tak pernah lagi menaiki motor pria itu karena kesibukannya yang membuat Lucy hampir tak pernah lagi melihatnya. Hal itu kembali mengingatkannya saat bertahun-tahun jaraknya dengan Toshi. Namun, kali ini Lucy tak terlalu memusingkannya karena ini hanya sementara.


Tak terasa dua bulan berlalu sejak kali terakhir ia menaiki motor pria itu, dan pertemuan Lucy dengan Toshi hanya dihabiskan dengan obrolan pendek di telepon atau pertemuan tatap muka sekilas di kelas. Sedikit banyaknya ia merasakan kerinduan. Sedikit banyaknya pula ia merasakan firasat baik akan segera datang bersamaan dengan kedekatannya kembali dengan Toshi.


**🎐🎐🎐


ORIGAMI 15 : Perasaan


Doain Author ya Gaesss. Semoga kalian juga betah baca nih cerita sampai tanggal 30 nanti


Bye:)"


🎋


Qomichi**