Japanese Herons

Japanese Herons
Origami Keenam Belas




🎏


Lucy hanya rabun, tidak buta. Setiap orang terus-terusan mengatakannya untuk sadar diri dan mengejeknya. Kenyataannya Lucy sadar diri. Ketika ia melihat ke cermin, yang ia lihat hanyalah gadis dengan tampang aneh yang mana bola matanya tidak sinkron satu sama lain. Lucy sadar dia jelek, Lucy sadar dia tak pantas sedikitpun untuk mendapatkan kata 'menarik'.


Kebanyakan orang tua pada umumnya mengatakan bahwa anak mereka ganteng ataupun cantik walaupun nyatanya wajah anaknya tak jauh beda dari pantat kuwali. Akan tetapi, hal itu tak berlaku bagi orangtua Lucy yang selalu menjatuhkannya. Lalu, jika bukan Lucy sendiri yang meyakinkan kalau dirinya cantik, siapa lagi yang akan mengatakan hal itu?


Lucy bisa saja menaiki puncak tertingggi dan berteriak pada dunia tentang seberapa jeleknya dia, hanya saja dia sendiri tak ingin menyakiti keyakinan yang pernah Toshi berikan padanya. Entah sesuatu yang benar-benar tulus atau sekadar rasa kasihan belaka.


Saat itu usia Lucy baru tujuh tahun sementara Jun hampir menginjak enam. Dari kecil, Jun sudah menunjukkan tanda-tanda kalau dia suatu hari nanti akan menjadi anak yang pintar dan berbakat. Tentu itu tidak mengecilkan Lucy yang tidak dapat disandingkan dengan sang adik, Lucy justru bangga punya adik seperti Jun. Namun, tidak dengan Jun.


Tidak tahu kesalahan apa, hanya saja ia memang orang yang memalukan. Dari kartun yang pernah ia tonton, ia melihat jika taman bermain itu sangat indah. Lucy menuliskan harapan pertamanya untuk mengunjungi taman bermain bersama Jun. Sampai suatu hari, tersiar kabar jika pasar malam sedang berlangsung di pusat Kecamatan sebelah. Yang Lucy tahu, pasar malam itu seperti taman bermain dalam ukuran kecil sehingga ia dan Jun meminta ayahnya untuk mengajaknya ke sana.


Kedua orangtuanya pergi bersama Jun, tapi Lucy tidak. Mereka meminta Lucy untuk tetap di rumah karena khawatir akan kesehatan jantung Lucy. Itulah yang mereka yakinkan saat itu seolah pasar malam adalah tempat yang mengharuskan orang-orang lari berkilo-kilo meter jauhnya.


Di hari yang lain, Lucy juga pernah mengunjungi taman desa bersama Jun. Menaiki perosotan atau jungkat-jungkit membuatnya sedikit senang, tapi tidak dengan Jun karena orang lain justru menjauhinya. Lucy mengatakan pada Jun kalau mereka bisa bersenang-senang meski hanya berdua dan Jun justru membantah. Secara gamblang bibir tipisnya mengatakan jika Lucy terlalu jelek sehingga semua orang menjauhinya.


Sesuai permintaan orangtuanya, Lucy mulai menjaga jarak dengan sang adik demi kebahagiaan bersama. Ia tak diizinkan bermain dengan Jun, tidak diajak berpergian, bahkan festival desanya hanya dapat dilihatnya melalui jendela rumah.


Jika ingin bermain, maka bermain sendirian saja atau cari teman sendiri. Setelahnya, ia mulai merasakan kebenaran dari perkataan sang adik, dia terlalu jelek sehingga tak ada orang yang mau berteman dengannya. Kalau sedang bermain, Lucy sering bicara sendiri bersama teman khayalannya yang ia beri nama Jun Kedua.


Jun Kedua mengatakan kalau Lucy gadis yang cantik meski yang mengatakannya hanyalah Lucy sendiri. Sampai-sampai kegiatan anehnya itu diketahui oleh kakak-kakak yang mengintipnya bermain. Dia tersenyum saat Lucy sembunyi di balik pohon setelah kedapatan mengobrol sendiri.


Laki-laki itu terlihat heran menatap bola mata Lucy.


"Jun Kedua tidak mengajak orang yang mengatakan kalau aku jelek," ucap Lucy guna membuat laki-laki itu menjauh darinya.


Akan tetapi, laki-laki itu justru tertawa. Tertawa adalah reaksi berbeda dari orang-orang yang menjauhi Lucy, kebanyakan dari mereka merasa takut ataupun jijik.


"Kalau begitu, katakan pada Jun Kedua kalau aku memuji kecantikanmu."


Lucy tertegun mendengar kalimat indah yang pertama kali ditujukan untuknya. Mata rabunnya berusaha mengecap lekuk wajah laki-laki itu untuk dimasukkan ke dalam otak dan melabelinya sebagai orang yang berarti dalam hidupnya.


Sampai saat ini, hal itu tetap berlaku. Seiring berjalannya waktu, Toshi semakin berarti dalam hidupnya. Berkatnya ia merasakan sedikitnya kasih sayang kedua orangtua meski itu dari orangtuanya Toshi.


Berkat laki-laki itu yang mengatakan kalau Lucy cantik, gadis itu jadinya tak pernah meragukan dirinya sendiri meski di depan cermin sekalipun. Meski semuanya mencemoohnya dan kembali menyadarinya seperti dia sering menyadari dirinya sendiri.


Hal itu tidak berlaku untuk Toshi. Ketika Lucy merasa tidak percaya, dia justru percaya. Berkatnya Lucy menjadikan semua perkataannya sebagai patokan dan berjanji jika seluruh perkataannyalah yang mencerminkan kebenaran. Entah tulus atau sekadar perasaan kasihan.


Berkat hari itu dan dibawah pohon itu, berkat perkataan itu dan Jun Kedua, berkat keanehannya dan kecacatannya, Lucy menemukan seseorang. Seseorang yang mencerminkan masa depan. Seseorang yang membuatnya menumbuhkan kembali cercahan harapan, bahkan setelahnya Jun langsung menyukai Toshi.


Lucy berjanji kepada Jun Kedua bahwa dia akan menjaga Toshi secara baik sebagai penggantinya.


🎐🎐🎐


Dua setengah bulan berlalu sejak Lucy terakhir kali ke rumah orang tuanya Toshi. Juga sejak terakhir kali ia dibonceng oleh Toshi. Ia merasakan jarak yang kembali terbentang.


Salah satu pesannya yang menanyakan tentang rencana pekerjaan Toshi yang akan pindah, telah dibalas secara langsung oleh Toshi. Toshi mengatakan jika itu hanya sebuah wacana yang belum pasti. Meskipun begitu, Toshi justru semakin sibuk dengan dunianya yang lain yang tentunya belum Lucy ketahui apa.


Beberapa minggu terakhir pun Lucy sudah tidak pernah mendapat balasan pesannya lagi. Lucy pernah menanyakan perihal ini pada Milo meski Milo menjawab dengan sungkan jikalau dosen kadang memiliki kesibukan yang tidak dimengerti oleh siapapun.


Setiap kelas Toshi, Lucy selalu berharap jika batang hidung pria itu terlihat meski tidak lama. Hanya saja, akhir-akhir ini Toshi lebih sering memberikan tugas dan mewakilkannya pada Elisa. Ingin rasanya Lucy menanyakan perihal Toshi pada Elisa meski jawabannya kurang lebih seperti jawaban Milo.


Memang awalnya Lucy tidak terlalu mempermasalahkan ini karena tugas yang mengalihkan pikirannya. Hanya saja setelah ia mengingat alasannya masuk kampus ini tak lain karena untuk dekat dengan Toshi, Lucy mulai memikirkannya.


Kalau boleh menelpon, maka ia menelpon sekarang dan sepenjang waktu. Tapi ia tak ingin dicap sebagai pengganggu oleh Toshi. Maka beberapa hari ini, ia lebih sering menghabiskan waktu dengan merenung sambil melihat keluar jendela. Memikirkan sesuatu tentang kenangannya dulu bersama Toshi.


Berkat Jun yang menyukai Toshi, sedikit banyaknya Lucy bisa kembali dekat dengan Jun. Jun menjadikan Toshi panutan meski bidang yang mereka geluti berbeda.


Ketika pengumuman SBMPTN, yang mana hari-hari sebelum kepindahannya, Jun memergoki Lucy setelah tahu tujuan kakaknya masuk ke kampus itu. Jun mengekspresikan rasa ketidak sukaannya dan mengatakan jika Toshi layak mendapatkan wanita yang sepantar dengannya.


Sederhananya bukan Lucy.


Lucy hanay menanggapi dengan kepercayaan diri yang selama ini Toshi ajarkan padanya dan Jun membantah. "Apakah kakak sendiri merasa layak untuknya?"


Tentu Lucy mengatakan tidak, tapi nyatanya dia bohong. Dengan egoisnya dia mengatakan jika tidak ada orang yang pantas selain dirinya. Lucy menginginkan Toshi dan Jun tak terima jika Toshi hanya mendapatkan kakaknya.


"Kakak tidak pantas untuknya, bahkan tidak untuk siapapun."


Lucy tersenyum getir karenanya. Ia berusaha meyakinkan Jun jika dia akan menjadi sebaik mungkin demi tetap berada di sisi Toshi. Jun membantah dan bersihkeras jika Lucy tidak akan pernah menjadi pantas.


Beberpa hari kemudian orangtuanya memindahaknnya ke rumah Milo tanpa memberitahu atau meminta pendapat Lucy terlebih dahulu. Lucy sempat menolak dan berharap Jun membelanya. Akan tetapi, adiknya malah terlihat senang akan kepergiannya.


Ayahnya sempat membujuk jika dia akan menghubungi Lucy setiap minggunya dan akan mengajak Jun untuk mengunjunginya minimal dua bulan sekali.


Tapi nyatanya, sudah hampir lima bulan berlalu dan tidak ada pesan singkat tiap minggu apalagi kunujungan sesuai perjanjian. Janji untuk menjemput suatu hari nanti pun mulai membuat Lucy menjadi ragu.


🎐🎐🎐


Hari ini, secara mengejutkan, Toshi menampakkan diri di kelasnya. Ia bahkan meminta maaf pada para mahasiswa karena tugas yang diberikan dan kehadirannya yang hampir tidak pernah ada akhir-akhir ini.


Lucy tersenyum riang dengan kedatangannya dan kelas yang ia habiskan hingga waktu akhir. Setelah berminggu-minggu, Lucy menumpahkan rasa rindunya dengan memilih untuk tidak memfokuskan diri pada pelajaran. Ia berkonsentarasi pada suara berat Toshi yang berwibawa dan penampilannya yang semakin terlihat menarik.


Sejak jam pelajaran Toshi dimulai, ia hanya memperhatikan wajah laki-laki itu. Itu saja.


Ketika jam selesai, Lucy langsung menculik Toshi sebelum ada mahasiswi lain yang mendekatinya karena akhir-akhir ini bukan hanya dia yang dirundung kerinduan.


"Kakak akhir-akhir ini seperti lenyap ditelan bumi," komentar Lucy akan kekesalannya dengan kesibukan Toshi.


Lucy sempat bertanya namun Toshi justru mengatakan jika itu sebuah kejutan.


"Kau mau menculikku, kan? Kalau begitu telpon Milo sekarang." Ia mengenakan helmnya.


"Untuk apa?"


"Kau kan akan menculikku." Lucy melebarkan mata melihat Toshi yang menaiki motornya dan menepuk-nepuk bangku belakang menandakan untuk Lucy segera duduk di sana. Lucy memilih untuk mengirim pesan dibandingkan menelpon karena Milo seringkali merejeck panggilannya. Kemudian dia dengan senangnya menaiki motor itu setelah berbulan-bulan tidak menaikinya.


"Setelah ini kau tidak ada kelas lagi, kan?"


Lucy mengiyakan.


"Kalau begitu aku ingin diculik hingga menjelang sore." Toshi melajukan motornya sebelum singgah sebentar untuk membeli cilok goreng. Di sana terlihat Olivia yang juga sedang membelinya, gadis itu melirik tak senang kepada Lucy yang saat ini duduk di motornya Toshi.


"Hari ini tidak ada bakso bakar, jadinya pakai cilok goreng saja." Mendengar hal itu, Lucy langsung tahu ke mana Toshi akan membawanya hari ini.


Dan benar saja, mereka berhenti di pohon tempat pertama kali mereka bertemu. Lucy duduk berdampingan dengan Toshi yang membagi cilok gorengnya. Mereka menatap lurus hutan dan padang rumput yang terbentang luas di depan. Lucy melirik dan mendapati wajah Milo yang sedang memejamkan mata.


Ingin sekali ia menghentikan waktu dan menyentuh wajah tegas pria itu.


"Sepuluh tahun yang lalu, tempat ini sudah menjadi kuburan Jun Kedua." Toshi terkekeh mendengar ucapan Lucy barusan. Kemudian laki-laki itu kembali menatap lurus pemandangan di depan seraya memainkan lidi tusuk ciloknya.


Lucy menggigit kecil bibirnya dan merasakan ada yang berbeda. Sorot mata Toshi seakan menunjukkan kalau dia sedang bersedih atau memikirkan sesuatu.


"Jun tidak boleh melihatku berada di sini," ucap Lucy lagi karena tempat itu berada tidak jauh dari rumah aslinya.


"Kau mau pergi?"


Lucy menggeleng cepat. Kemudian setelahnya keheningan kembali tercipta.


Lucy tak mengerti maksud dan tujuan Toshi mengajaknya ke sini. Sejak mendudukkan diri di tempat ini, Toshi justru merenung tak melakukan apa-apa.


"Kami duduk berdua di bangku halaman rumahnya." Lucy seketika menolehkan wajahnya ketika Toshi secara tiba-tiba mengucapkan bait yang benar-benar ia kenali. "Pohon jambu di halaman itu berbuah dengan lebatnya dan kami senang memandangnya."


Toshi tak mengalihkan wajah. "Angin yang lewat memainkan daun yang berguguran. Tiba-tiba ia bertanya,"


"Mengapa sebuah kancing bajumu lepas terbuka?" Sambung Lucy secara sepihak. Kini Toshi baru mengalihkan wajahnya kepada gadis itu. "Aku hanya tertawa. Lalu ia sematkan dengan mesra sebuah peniti menutup bajuku."


"Sementara itu aku bersihkan guguran bunga jambu yang mengotori rambutnya." Mereka mengakhirinya dengan mengucapkannya secara bersama-sama.


"W.S. Rendra. 1961." Lucy menambahkan setelahnya.


Gadis itu menatap dalam mata laki-laki di depannya dan mulai menyelaminya demi mengungkap rasa kasihan yang Olivia goyahkan pada kepercayaan dirinya.


Namun itu sulit. Lucy bahkan sulit hanya untuk menyelaminya dari luar. Tatapan tajam itu, tatapan yang kadang tak dimengertinya.


Angin lembut mengibaskan anak rambut Toshi. Lucy tak dapat memastikan jika pandangan pria itu melihat bola matanya yang bagian kiri atau kanan.


"Di kedalaman pikiranku, aku melihat dirimu." Kali ini Lucy yang memulai. "Seorang tampan yang belum habis. Berharap suatu hari kita akan bertemu."


Lucy melanjutkan setelah memastikan ekspresi wajah Toshi yang terlihat belum jelas. "Seorang yang mencuri pikiranku dan mengisinya dengan kehidupan. Yang merampok jiwaku dan membuatnya merasa benar. Sebuah gambar, berharap fantasi. Sebuah cinta dari kehidupan yang lain."


"Aku melihatmu begitu jelas. Kamu harus begitu." Toshi mulai melanjutkan.


"Aku menolak perpisahan. Aku tak dapat membiarkanmu pergi."


"Suatu hari kita akan bertemu dan pikiranku akan terasa damai."


"Perpisahan dengan kekasih pastinya membuat kita rindu. Apalagi jika perpisahan itu adalah kekasih kita meninggal dunia."


Mereka kembali menyuarakannya berasama, "ada harapan di hati, agar bisa bertemu kembali di kehidupan yang lain."


"Belum Jodoh. Chairil Anwar." Lucy kembali mengakhirinya dengan apresiasi.


Keduanya tertawa untuk beberapa saat.


"Ada dua senti jarak yang begitu membahayakan di antara kita." Lucy kembali menyuarakan sajak puisinya. "Dan aku tidak dapat mendekat barang satu mili pun. Namun, kau bisa menambah jarak bahkan ribuan mil sekalipun."


Toshi mengerutkan dahi masih tak dapat menangkap kelanjutannya.


"Kita saling menyapa dan menyanggah. Tapi tidak saling permisi. Dan aku rindu, aku rindu pada keadaan dulu,"


Toshi menggeleng, mengode jika dia tidak tahu sambungannya sehingga Lucy kembali melanjutkan.


"Di mana kebohongan terasa manis dan pikiran kekanak-kanakan ini melampaui titik magis. Kebahagiaan terpampang nyata di pelupuk mata. Namun kini, air mata yang menguasai segalanya."


Toshi melebarkan senyuman setelah Lucy menyudahi kalimat-kalimatnya. Ia bertepuk tangan singkat dan bertanya, "aku tidak tahu dengan puisi itu. Itu karangan siapa?"


"Lucy Sorokina Efendi." Jawabnya mantap.


🎐🎐🎐


**ORIGAMI 16 : Dua Senti


No Caption for this one**")