
🎏
Lisa berdiri tepat di tengah-tengah lorong antara pintu kamar Milo dan Lucy. Kedua kamar tersebut terbuka sehingga jika ia menoleh ke kiri, ia dapat melihat Milo yang sibuk berkutat dengan laptopnya. Sementara jika ia menoleh ke kanan, ia bisa menemui Lucy yang tengah menuliskan sesuatu di atas kertas, yang mana beberapa kertas remuk telah tersebar di sekitar gadis itu.
"Akhir-akhir ini semua orang menjadi sibuk, yah." Lisa melipat kedua tangan di depan dada seraya bersandar di kusein pintu kamar Milo. Milo melirik sebentar sang ibu yang berdiri di ambang pintu kamarnya, lalu segera mengusirnya.
"Ibu pergilah, aku sedang mempersiapkan presentasi." Laki-laki itu terus memeriksa data dan sumber dari buku-buku dan ponselnya.
"Benarkah? Kau tidak melakukan observasi sama sekali menurut Ibu," goda Lisa yang membuat Milo sekali lagi mengusirnya dengan lebih jelas. Lisa tertawa dan mangkir dari sana. Ia kemudian beralih pada kamar yang satunya lagi.
"Sedang membuat tugas?" Pertanyaan itu tidak ditanggapi Lucy yang begitu fokus dengan kata-kata yang ia tuliskan. Hal itu membuat Lisa berdehem beberapa kali guna membuat Lucy menyadari keberadaannya.
Lucy mendongak dan tersenyum pada ibu Milo. "Tante? Ada apa?"
"Wah-wah, sepertinya semua orang sibuk akhir-akhir ini, padahal baru satu bulan kuliah." Lisa duduk di sisi ranjang yang berbeda. Lucy tersenyum menanggapinya dan mengatakan jika tugas-tugas memang sedang menjamur akhir-akir ini.
"Meski tak bertemu mata pelajaran lain, tapi ini lebih sulit dari SMA."
Lisa tertawa mendengarnya, ia kemudian mengambil salah satu kertas remukkan yang berada di bawah ranjang dan melihat coretan dari kata-kata gadis itu. "Bagaiman kabar kedua orangtuamu? Mereka sudah dua bulan tak berkunjung, Om dan Tante kira dia mengontakmu secara langsung."
Lucy tertegun untuk beberapa saat. Matanya melirik ke samping. "Iya, mereka beberapakali menelponku. Mereka baik-baik saja."
"Syukurlah." Lisa bernapas lega. "Apakah Milo sudah berubah akhir-akhir ini?"
Lucy terhenti seketika. "Eum, lumayan."
Lisa tersenyum seakan mendengar kenyataan jika Lucy seharusnya mengatakan 'Tidak sama sekali."
"Tante agak khawatir sebelumnya karena beberapa kali dalam satu bulan ini dia tidak mengantarmu pulang," ungkap Lisa terhadap kekhawatirannya selama ini. Milo kadang pulang sendiri dan mengatakan jika dia hanya mengantar Olivia pulang karena Lucy tak ingin di antar pulang. Lisa sempat meragukan itu, namun ketika Lucy mengaku jika dia diantar Toshi, itu membuatnya percaya meski kekhawatiran itu tetap ada.
"Ya, Kak Toshi akhir-akhir ini punya waktu senggang."
"Aku harap itu kebenarannya." Lisa mencoba menilik kemungkinan kebohongan dari suara Lucy barusan, tapi dia tak menemukannya sama sekali. "Tante senang mendengarnya."
Lucy tersenyum dan mengangguk dengan tangan yang terus menari-nari berasama pena di atas secarik kertas. "Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya."
"Ya, jika mendengar tentangnya terus darimu, Tante rasa Toshi laki-laki yang super baik. Dia dulunya kuliah di mana?"
"Di Malaysia, jurusan Sastra Melayu."
"Sekarang dia mengajar kelasmu?" Tanyanya lagi. Lucy mengangguk sebagai jawaban.
"Kau sendiri, apakah nanti ingin menjadi dosen juga?"
Gadis itu terhenti tepat setelah penanya menuliskan kata gugur. Lisa merasakan sebuah kesalahan atas pertanyaan itu setelah melihat wajah diam Lucy yang menunduk.
Untuk beberapa saat Lucy mengheningkan suasana sebelum akhirnya kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar, "suatu hari nanti aku hanya ingin menjadi istri dari Dosen Sastra."
Lisa tertawa mendengar hal itu. Lucy pun turut tertawa. Namun, tawa itu terdengar seperti sebuah guyonan yang tidak lucu.
🎐🎐🎐
"Aku benci gadis itu." Elisa mengakhiri kalimatnya. Panjang lebar ia menceritakan pada teman-temannya tentang kekesalannya yang akhir-akhir ini merasakan jika Kak Toshi menjauhinya. Ia mengatakan jika Kak Toshi hanya mau bicara padanya hanya untuk perihal tugas yang harus diwakilkan. Kak Toshi juga tidak membalas pesan Line-nya jika itu tidak bersangkut paut mengenai masalah perkuliahan, padahal sebelumnya tidak begitu.
Menurutnya hal ini terjadi semenjak tahun ajaran semester baru dimulai. Atau tepatnya ketika kedatangan gadis cacat itu. Shinzui ikut membenarkan dan juga merasakan hal yang sama. Ia mengerti jikalau Kak Toshi memang kadang menjaga jarak dengan para mahasiswinya, hanya saja tidak dengan Lucy.
Erika yang hanya menjadi pendengar, berkali-kali mengingatkan jika Lucy adalah sahabat dari kecil Kak Toshi. Namun, tetap kedua temannya itu masih tidak terima dengan kenyataannya.
"Ini tidak adil untuk gadis cantik seperti kita. Apa hanya karena dia sahabat dari kecil sampai-sampai Kak Toshi tidak menyadari kejelekan gadis itu? Bagaimana menurutmu, Via?"
Erika memalingkan wajah setelah argumen shinzui yang dilemparkannya pada sahabatnya yang juga kontra terhadap hal itu. Sejak awal Via sudah tidak menyukainya dan dia yang paling tidak terima dengan kedekatan Kak Toshi bersama gadis itu meski Via sendiri sudah punya pacar.
"Menurutku dia pengganggu dan tidak tahu diri. Aku sudah berkali-kali memperingatkan, tapi dia konsisten dengan kepercayaan dirinya yang berlimit tak hingga." Gadis itu menyedot coffe lattenya. "Gula darahku rendah gara-gara terus-terusan memikirkannya. Padahal tugas sedang menumpuk."
"Bagaimana jika kita memperingatkannya dengan sedikit kekerasan?" Elisa menyeringai dan itu membuat Shinzui ikut tersenyum miring.
"Tidak perlu. Erika sudah berbusa-busa mulutnya menjelaskan kepada kalian berdua jika mereka hanya sahabat dari kecil."
"Tapi, Via, gak ada yang namanya sahabat antara cowok sama cewek."
Gadis itu mengidikkan bahu. "Terserah, lagipula Milo sudah mengatakan padaku ..." Dia mengatupkan mulut dan terhenti seketika ketika menyadari kesalahan yang sudah ia lakukan.
Elisa dan Shinzui melotot. "Jadi pacarmu juga kenal sama dia?"
Via menggigit bibir dan memalingkan wajah. "Y-ya, tentu saja ..., lagipula jika aku kenal seseorang pastinya Milo juga kenal sama orang itu, kan?"
"Tapi kenapa ...."
"Apa?"
Olivia menepuk mulutnya sendiri. "Bercanda-bercanda. Kalian ini sensitif banget kayak angka di belakang koma yang nentuin segalanya." Olivia bangkit dan meninggalkan ketiga temannya. Ia menghembuskan napas jengah dan memutar bola mata.
🎐🎐🎐
Butuh waktu setengah jam untuk Lucy menemukan gedung fakultas MIPA yang ternyata gedung tertinggi di kampusnya. Entah kabar baik apa sehingga nomor yang tak dia kenal menelponnya, dan itu ternyata Olivia yang memintanya untuk menemui gadis itu di sana.
Sebenarnya waktu yang lebih banyak Lucy habiskan ialah saat ia mulai menaiki tangga. Butuh waktu yang menggenapi tiga puluh menitnya hanya untuk menyelesaikannya. Lucy agak bingung karena dia harus menuruni tangga sebnyak ini nantinya.
Ketika gadis itu telah sampai di tangga teratas, ia membuka pintu atap gedung itu. Matanya terpaku pada pemandangan langit yang begitu memukau. Angin yang menerpa wajah dan anak rambutnya turut membuat jantungnya berdegup kencang. Namun, matanya menoleh ketika bunyi decitan pintu yang tertutup.
"Olivia." Lucy tersenyum mendapati Olivia yang menutup pintunya, tapi senyum itu berganti dengan kekagetan tatkala gadis itu menarik kerah baju Lucy dan menghantamkan tubuh Lucy di pintu besi itu.
Lucy meringis dan merasakan sesak saat Olivia masih menahan tubuhnya di sana. Dengan tatapan yang penuh emosi, Olivia mempererat cengkramannya pada kerah baju gadis itu.
Meski arah matanya tak beraturan, Olivia menyadari jika Lucy tengah menatapnya dengan sorot ketakutan.
"O-Olivia, sebenarnya ada masalah apa?"
Olivia meludah karena Lucy masih sempat-sempatnya memasang senyuman. Wajah tak bersalah gadis itu membuatnya semakin muak. Sementara bagi Lucy saat ini, wajah Olivia yang marah justru terlihat lebih cantik.
"Kamu sekarang makin berani, ya." Gadis itu tersenyum. "Aku bahkan beberapa kali melihatmu bersama Kak Toshi di motor. Aku tidak suka itu." Gadis itu menggeram.
"Kenapa kau tidak suka?"
"Aku ... menyukai Kak Toshi."
Lucy menggeleng tak mengerti. "Bukankah kau sudah punya Milo?"
Dengan napas yang memburu, Olivia memalingkan wajah sesaat. "Itu benar, tapi aku menyukai Kak Toshi dalam artian yang berbeda. Begitupun dengan Milo, aku menyukainya dalam artian yang berbeda."
Lucy menatap sedih gadis itu. Ia semakin merasakan sesak karena tekanan dari kepalan tangan Olivia di dadanya. "Bukankah itu tidak adil jika kau menginginkan keduanya?"
"Berani-beraninya kau!" Gadis itu menggeram lalu mendorong Lucy ke samping hingga Lucy terjungkal. Lucy terbatuk-batuk menahan sesaknya. Namun tak sampai di situ, Olivia menahan Lucy dengan menginjakkan kaki kananya pada bahu gadis itu. "Setidak adilnya diriku, akan lebih tidak adil lagi jika gadis cacat sepertimu yang mendapatkannya. Kau tidak memikirkan apa kata orang terhadap Toshi jika pasangannya adalah gadis yang matanya bergerak dengan momentum yang berbeda, karena yang kau pikirkan hanya perasaanmu sendiri."
Olivia mendorong kakinya hingga Lucy kembali terpuruk. Gadis itu mendekatkan wajahnya pada Lucy dan mengatakan, "aku sudah peringatkan jika orang sepertimu itu tidak pantas. Orang akan terlihat pantas jika setara di mata orang lain, kau tahu? Jadi, yang tampan mendapatkan yang cantik, yang jelek mendapatkan si buruk rupa, sementara yang cacat mendapatkan orang cacat juga." Olivia mengakhirinya dengan kembali mendorong bahu Lucy menggunakan kakinya.
Lucy meringis dan terbatuk-batuk, dadanya sesak dan ia mulai merasakan sakit dan kesulitan bernapas. Olivia menatap jijik pada gadis yang saat ini terbaring seperti orang sesak napas. Ia memilih pergi, dan decitan pintu terakhir mengakhiri keberadaannya di sana.
Lucy yang memegangi dadanya berusaha duduk dan menarik napas. Detak jantungnya terasa berdenyut dan nyeri. Ia merogoh ponsel di dalam tas dan berusaha menghubungi ayah dan ibunya untuk pertama kalinya setelah dua bulan dia tak bicara dengan mereka.
Sambungannya tidak di gubris. Lucy tak berani menelpon Jun karena adiknya sudah memintanya untuk tidak mengganggunya lagi. Akhirnya gadis itu memilih untuk duduk beberapa saat dan menetralkan napasnya. Namun, kepalanya mulai terasa pusing dan penglihatannya berputar-putar. Biasanya setelah hal ini terjadi dia akan pingsan. Maka dari itu Lucy kembali membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata.
Oliva yang sudah keluar dari gedung faultas MIPA, melirik sekilas puncak teratasnya. Dengan senyum yang mengembang, ia menelpon pacarnya.
"Milo? Aku baru saja memperingatknnya lagi." Sambil berjalan ia mendengarkan suara Milo.
"Siapa? Lucy?"
"Hmmm. Semua orang bahkan tidak menyukainya."
"Baguslah kalau begitu."
Olivia menyetop angkot yang tiba-tiba lewat, gadis itu masuk setelahnya. "Aku bahkan mendorongnya tadi. Dia terlihat seperti orang kehabisan napas."
"Apa?!!" Olivia hampir menjatuhkan ponsel mendengar reaksi pacarnya. "Kenapa kamu lakukan hal semacam itu?"
Gadis itu mengernyit mendengar reaksi berlebihan Milo. "Memangnya kenapa?"
"Kamu lupa? Lucy punya penyakit jantung."
Olivia terperanjat dan melebarkan mata. Seketika ia meminta pak sopir untuk berhenti.
🎐🎐🎐
**ORIGAMI 13 : Jantung
Haii Guys.
Jangan samapai bosen sama ceritanya yaaaa...
See you
🎋
Qomichi**