Japanese Herons

Japanese Herons
Origami Kelima




🎏


"Ini kunci motormu." Milo melebarkan mata dan secepat kilat mengambil kunci motornya yang diletakkan ayah di atas meja makan. Sudah satu bulan motor miliknya ditahan oleh sang ayah sebagai hukumannya karena ketahuan bolos kuliah. Kini, akhirnya setelah penantian yang cukup panjang ia mendapatkan motornya lagi.


Milo mencium-ciumi kunci motor itu saking senangnya. Satu bulan ini Olivia sering menggerutuinya karena Milo menjadi jarang menemaninya berpergian dengan alasan motor yang ditahan ayahnya. Jika berpergian menemani pacarnya pun, Milo hanya bisa mengajaknya menaiki angkot, dan itu super duper melelahkan.


"Tapi ingat, Ayah memberikan motornya lagi hanya karena Lucy. Sebentar lagi Lucy akan mulai berkuliah dan kamu wajib mengantar dan menjemputnya."


"Apa?" Milo tersentak. "Gimana dengan Olivia?"


"Terserah Olivia harus seperti apa, yang penting pastikan kamu antar-pulang Lucy," tegas ayahnya.


Milo menarik napas tak terima, ia menghunuskan tatapan tajam pada Lucy meski ia tak dapat memastian apakah Lucy melihat tatapan tajamnya atau tidak. "Aku tidak mau."


"Milo!"


"Lucy akan pelajari jalannya, Om," tanggap gadis itu seketika, "nanti kalau sudah hafal jalan, Lucy bisa pulang-pergi kuliah sendirian."


Lisa menggeleng dan tetap memutuskan keputusan sepihak yang ia dan suaminya ambil sebelumnya. Kembali, Milo memberontak dan menolak.


"Kalau kamu menolak, Ayah akan tahan lagi motornya."


Laki-laki itu menghentak. Mau-tidak mau, suka-tidak suka, dia terpaksa harus menerimanya. Itu juga berarti dia harus menjelasakan hal ini pada Olivia serta mencari alasan yang tepat. Butuh lebih dari dua setengah jam untuk menjelaskannya kali ini.


"Nah, sekarang kami berdua ingin bicara denganmu, tapi kamu buatkan dulu Instagram untuk Lucy. Kamu udah janji, kan!" Ibunya memberikan Milo senyuman bertopeng yang secara tak langsung mengatakan, 'Jika tidak mau, akan kubunuh kau!'. Milo menelan ludah dan kembali menghela napas.


"Lucy Sayang, kamu ke atas duluan, ya!" Perintah Lisa yang langsung dilaksankan gadis itu. Saat Lucy sudah terbungkuk-bungkuk menaiki anak tangga, Milo baru berdiri dari kursi meja makan dan mengekori. Namun, ayahnya menahan lengannya. "Setelah membuatkan Lucy Instagram, kau langsung temui Ayah di garasi." Bisik sang ayah yang justru ditanggapi cibiran oleh putranya.


Milo menaiki tangga dan langsung menyamai langkah Lucy. Ia sempat menjulurkan kakinya hingga gadis itu tersandung.


Melihatnya yang tertatih-tatih, membuat Milo tertawa senang. Akan tetapi, tawa itu hilang ketika Lucy juga ikut tertawa. Gadis itu membuka pintu kamarnya dan mempersilakan Milo untuk masuk.


Milo melebarkan mata saat melihat ruangan yang kini hampir tidak pernah dimasukinya lagi. Semua barang-barangnya lengkap tertata di tempat sebelumnya kecuali untuk piala-pialanya. Beberapa meja terlihat kosong, tak ada satupun barang Lucy yang tergeletak di sana. Ia melihat barang-barang gadis itu tersusun rapih di lantai dekat ranjangnya.


Milo turut membuka lemarinya dan mendapatinya tak berisi sama sekali. Dengan begitu, ia berani bertaruh jika Lucy menyimpan pakaiannya di dalam kopernya sendiri.


"Ak-aku sudah mengunuduh aplikasinya." Lucy memberitahukannya pada Milo seraya mengaktifkan ponselnya. Suara gugup gadis itu tak diindahkan Milo karena laki-laki itu terpaku pada etalase yang kini dipenuhi dengan origami bangau.


Matanya menyipit melihat seluruh origami terletak di etalase bagian tengah. Ia bahkan melihat origami oranye dengan ukuran paling besar di antara origami lain yang pernah ditemuinya di atas pagar rumahnya.


Alisnya semakin bertautan saat melihat pada bagian etalase atas terdapat satu buah origami bangau, sementara etalase bawah kosong, tidak memiliki origami sama sekali. Entah mengapa, rasa penasaran datang begitu saja dalam dirinya. "Kenapa kau meletakkan origaminya seperti ini?"


Lucy cukup kaget mendengar Milo yang ingin tahu tentang hal itu. Gadis itu mendekati etalasenya. "Bagian tengah, itu untuk origami yang berisikan harapanku. Bagian atas khusus untuk harapanku yang terkabul. Sementara yang bawah, itu untuk harapanku yang takkan pernah terkabul."


Milo memandang etalase atas yang berisi satu bangau dan etalase bawah yang kosong secara bergantian. "Kau menulis harapanmu di sana?"


Lucy mengangguk. Kini Milo kembali terpatri pada bangau yang paling besar.


Laki-laki itu menggelengkan kepala ketika menyadari apa yang saat ini tengah dilakukannya. Ia mencoba menghilangkan pemikiran anehnya dan memilih untuk duduk di ranjang gadis itu. "Mana handphonemu?"


Lucy menyerahkannya kemudian duduk di samping Milo.


"Kenapa duduk di sini? Menjauh!"


"Kalau aku menjauh, bagaimana caramu mengajariku?"


Milo mendesah saat menyadari jika ucapan Lucy barusan ada benarnya. Laki-laki itu mengaktifkan ponsel yang terlihat tua dan ketinggalan jaman. Matanya seketika melotot saat mendapati walpaper ponsel Lucy. Terlihat di sana foto Toshi yang masih remaja, meskipun mungkin belasan tahun, tapi Milo dapat menganali jika itu wajah dosen kampusnya. Di samping Toshi terdapat anak perempuan yang kedua bola matanya tidak melihat ke arah kamera. Di sampingnya lagi ada anak laki-laki yang lebih kecil dari si anak perempaun.


Melihat foto ini, membuat Milo tak dapat mengelak jika Lucy memang teman Toshi.


Milo melirik Lucy sekilas dan mendapati gadis itu yang sudah mendekatkan wajahnya. Laki-laki itu menahan geli saat melihat tidak ada aplikasi apa-apa pada ponsel tua itu selain game Piano Tales.


"Kau akan memberi nama akunmu apa?" Tanya Milo saat mulai membuka aplikasi Instagram.


"BangauLucy." Jawab Lucy yang semakin membuat Milo merasa geli. Milo menanyakan beberapa hal lagi pada Lucy seperti e-mail dan yang lainnya. Setelahnya, Milo meminta Lucy untuk mengikuti akun seseorang.


"Apakah kau tahu akun Kak Toshi?"


Laki-laki itu memutar bola mata dan menunjukkan pada Lucy cara mencari akunnya. "Akunnya diprivate, tunggu dia terima permintaanmu baru kau bisa melihat fotonya." Milo menghembuskan napas. "Di sini tempat jika kau ingin mengupload foto. Yang pasti jangan upload foto dirimu karena kau menyeramkan." Bukannya tersinggung, Lucy malah tertawa.


"Di sini jika kau ingin membuat SG."


"SG itu apa?"


Milo berdecak, "SG artinya kau tidak perlu melakukannya. Di sini jika kau ingin mengedit profilmu, tidak perlu di edit lagi karena aku sudah membuatkan profilmu dengan baik." Meskipun kurang jelas, Lucy dapat melihat di bio profilenya yang tertulis "I'am a ..." diikuti gambar hidung ****.


"Kau bisa mencari akun jurusan kampusmu seperti mencari akun lainnya. Dan terakhir, kau hanya perlu menambahkan foto profilmu di sini. Ada beberapa peraturan di Instagram yang wajib kau ikuti. Yang pertama, jangan posting wajah serammu. Yang kedua, jangan posting vidio tentangmu. Dan yang ketiga, jika kau melakukan sesuatu yang menyangkutpautkan aku pada akunmu, maka kau akan mati."


"Itu aturan resmi dari instagram?"


"Itu atruran dariku." Milo beranjak dari ranjang dan berjalan keluar kamar.


"Milo," panggil Lucy. Milo berdecak dan menghembuskan napas jengah, dengan perlahan ia membalikkan badan, "apa lagi?"


"Om dan tante suruh aku untuk minta nomor kamu."


"Nomor apa? Celana dalam? XL."


"Bukan," Lucy mengibaskan tangan, baru saja ia ingin mengatakan jika ia membutuhkan nomor ponsel Milo. Akan tetapi, Milo telah merebut kembali ponsel Lucy dan mengisikan sendiri nomor ponselnya.


"Ini hanya sekadar formalitas demi memuaskan orangtuaku," ucap Milo, "kau jangan pernah hubungi aku." Laki-laki itu menambahkan kontak ponselnya dengan cepat. Namun, ia tertegun cukup lama saat melihat isi kontak ponsel Lucy. Di sana hanya terdapat, Om, Tante, Ibu, Ayah, Jun, Milo, dan Toshi.


Milo kembali menggeleng berusaha mengusir pikiran anehnya, kemudian mengembalikan ponsel Lucy dengan cara melemparnya.


🎐🎐🎐


"Kenapa kalian serius sekali? Aku tadi tidak melakukan kesalahan pada Lucy, kok."


Ayahnya menggeleng lalu membuka pintu belakang mobil. Dari kode wajah yang diberikan ayahnya, Milo dapat mengartikan jika ia disuruh untuk masuk ke sana. Dengan perasaan yang campur aduk, laki-laki itu mengikuti saja, kemudian ayah dan ibunya duduk di bangku depan.


"Kita mau pergi? Dengan pintu tertutup."


"Tidak," sanggah Lisa, "kita akan membicarakan sesuatu. Dan ibu ingin kamu berkepala dingin akan hal ini."


Milo mulai merasakan perasaan yang tidak enak. Terakhir kali perbincangan serius yang dilakukan keluarganya pasti menyangkutpautkan pada kuliah dan aktivitas Milo. Tak lupa juga karena Lucy.


Arthur memegang kemudi dengan tegang, ia tak bisa meskipun berpura-pura untuk bersikap santai saat ini. Saat Lisa mengodenya untuk mengatakannya sekarang, dia mulai menoleh ke belakang.


"Lucy sebentar lagi kuliah."


"Lalu?"


"Kami berdua terpaksa harus memotong uang jajan dan biaya klub yang kamu ikuti."


"Apa?!" Milo berteriak seperti orang kebakaran jenggot. "Gak, gak mau. Enak aja, dia udah numpang gratis, terus aku harus jagain dia, sekarang uang jajan aku dipotong untuk dia?"


"Milo dengerin dulu."


"Gak mau." Milo menendang jok mobil depan. "Peduli setan dia mau kayak gimana, yang pasti jatah uang aku gak berkurang. Enak banget dia datang-datang ke rumah dan malah aku yang kena getah."


Lisa menghembuskan napas panjang. "Milo, uang jajan kamu udah lebih dari cukup."


"Gak! Aku bilang enggak ya enggak! Sebenarnya siapa sih anak kalian? Kenapa semenjak cewek cacat sialan itu dateng ke rumah, kalian jadi kayak gini? Dia bukan bagian dari kita, Bu. Seharusnya kalo orang tuanya nitipin dia ke sini, mereka kasih uang ke kita." Jelas Milo panjang lebar dengan suara yang masih tegas menolak apa yang diusulkan ayahnya sebelumnya. Milo tak habis pikir, kenapa orangtuanya akhir-akhir ini suka memutuskan sesuatu secara sepihak. Jika seperti ini terus, maka kehidupannya akan penuh dengan kekangan.


"Milo kamu harus ngertiin kondisi kita."


"Kondisi apa? Kalau kondisi kita sekarat gara-gara tuh cewek, kenapa ayah sama ibu malah terima dia? Kalian terus-terusan minta aku ngertiin keadaan, emangnya kalian udah ngertiin aku apa?"


"Sejak kapan kami tidak mengerti kamu?"


"Ulang tahun kemarin aku minta motor baru tapi ayah gak beliin," tukas Milo tanpa kompromi pada ayahnya, "ibu juga gak beliin aku handphone baru."


Kedua orang tuanya saling bertukar pandang dan membisu. Dua detik kemudian Lisa tertawa sampai terbahak-bahak. "Kau ingin ponsel baru? Ponselnya sudah terbungkus dan terlilit pita di lemariku. Aku ragu memberikan itu padamu, dan keraguan itu terjawab saat kau bolos kuliah dua minggu."


Milo menggigit lidah mendengar kejadian bolos itu terungkit. Sekitaran dua bulan yang lalu, ia melakukan liburan secara diam-diam bersama teman-temannya. Milo menggunakan alasan untuk melakukan karyawisata. Dia membawa dan menggunakan kartu kredit ayahnya secara diam-diam. Pihak kampus menelpon kedua orangtuanya dan akhirnya hal itu diketahui kedua orangtuanya tepat saat di hari ulang tahunnya. Saat itulah Milo mendapat kado berupa hukuman dari kedua orantuanya.


"Jadi ibu udah beliin aku ponsel baru?"


Lisa mengangguk. "Tapi ibu berubah pikiran. Ibu akan memberikan ponsel itu kepada Lucy."


"Jangan! Anak cacat kok pakai ponsel bagus."


"Tutup mulut kamu!" Sergah Arthur dengan suara yang begitu menakutkan, bahkan istrinya pun turut kaget akan hal itu. "Mulai saat ini, turuti saja apa yang kami mau atau motormu aku buang."


"Ayah akan menggantinya dengan motor baru?"


"Ayah juga akan menggantimu dengan anak laki-laki yang baru. Mau?"


Semua orang terkesiap. Baik Milo maupun Lisa sama-sama menggeleng.


Di sisi lain, Lucy harap-harap cemas dengan mata yang terpekur pada layar ponsel. Sudah sepuluh menit berlalu sejak ia memasang foto profil Instagram dengan gambar origami bangaunya, tapi Toshi masih belum menerima permintaannya untuk mengikutinya.


Padahal Lucy sudah penasaran karena ada tujuh foto yang diposting di akun Toshi, meski ia bisa melihat foto profil pria itu yang bergambar tumpukkan buku. Sedikit minder dirinya setelah memastikan ada sekitaran dua ribu pengikut laki-laki itu, sementara ia hanya mengikuti kurang dari lima puluh orang.


Apakah Toshi sudah jadi orang yang terkenal? Lucy berharap tidak karena dia tak ingin melihat Toshi dekat dengan perempuan lain selain dirinya. Semenjak laki-laki itu menjadi seorang dosen, Lucy hampir tak pernah melihatnya lagi. Jangankan bermain seprti dulu, menyapanya pun ia tidak sempat.


Ia kadang hanya beberapa kali melihat Toshi bermotor pulang pada waktu malam. Saat pagi pun harus benar-benar pagi jika Lucy ingin melihatnya lewat depan rumah lamanya. Kadang Lucy mampir ke rumah Om Johan dan Tante Vina, orang tua Toshi, untuk memastikan kabar Toshi. Dan yang Lucy dapatkan hanya kenyataan bahwa Toshi akhir-akhir ini memang sibuk, bahkan ia kadang keluar kota dan tidak pulang karena tuntutan pekerjaannya.


Itulah yang membuatnya bertekad besar untuk menjadi mahasiswi di kampus tempat Toshi mengajar. Jika matanya kurang, ia menggunakan kelebihan pada indra pendengarannya untuk menyerap ilmu. Hasilnya, ia selangkah lebih dekat untuk kembali berada di sisi orang yang ia cintai selama ini.


Lucy semakin jengkel karena angka nol masih tertera di tanda 'mengikuti'. Saat ia teringat nama instagram Milo waktu itu, ia mencari akun Milo. Senyumnya mengembang melihat apa yang laki-laki itu posting hampir sama banyaknya dengan jumblah pengikutnya.


Tanpa berpikir dua kali, Lucy langsung menekan tanda 'Ikuti'. Lagipula, Milo hanya melarangnya mengupload sesuatu yang bersangkutan dengannya, bukan melarang Lucy untuk menjadi pengikutnya.


Mata Lucy teralihkan pada rekomendasi orang yang tertera setelah ia mengikuti Milo. Akun bernama 'Olivia Alifie' tertera salah satunya. Saat ia melihat bioprofil akun itu yang tertulis 'pecinta cilok goreng', Lucy langsung teringat jika perempuan itu merupakan pacarnya Milo.


Ia turut menjadi pengikutnya meski itu belum pasti karena akun Olivia Alifie yang terkunci seperti milik Toshi.


Seketika Lucy teringat akan seseorang. Dengan cepat ia mengetik di pencarian nama 'Jun Efendi' dan melihat banyaknya orang bernama serupa. Saat ia melihat foto tak asing di salah satu akun, ia memilih akun itu dan terlihatlah isi Instagram milik Jun.


Dada Lucy terasa berbunga dan jantungnya berdetak kencang. Ia melihat foto paling baru yang menampilkan anak SMA tampan yang berdiri sendirian di ladang jagung. Captionnya tertulis "Corn or popcorn?", lalu ia melihat foto-foto selanjutnya satu persatu. Senyum Lucy kian mengembang seiring dengan foto-foto ke bawah. Ada beberapa foto laki-laki itu dengan sahabatnya, ada juga foto dengan pacarnya, dan kebanyakan foto Jun bersama keluarga.


Lucy sumeringah saat melihat foto hitam putih di mana Jun berdiri di tengah dengan sebuah piagam penghargaan, sementara di masing-masing sisi terlihat ayah dan ibunya tersenyum. Lucy bahagia karena dirinya belum pernah melihat orangtuanya tersenyum seperti itu. Tanpa berpikir dua kali, Lucy memberikan 'like' pada fotonya.


Kemudian foto-foto berlanjut dengan gambar Jun bersama orang tua. Mereka bertiga berfoto di gerbang Dufan, di Jembatan Ampera, ada juga foto dia bersama ibu atau ayah saja.


Lucy merasa terharu karena ia tak pernah tahu foto-foto kebahagiaan keluarganya yang sebanyak itu meski dirinya tak nampak dari satupun foto yang Jun posting. Tanpa pikir panjang, gadis itu menekan tanda 'Ikuti'.


🎐🎐🎐


**ORIGAMI 5 : Postingan Foto


.


Setelah sejauh ini, gimana ceritanya menurut kalian?


Jika masih banyak kesalahan silakan beri saran dan komentar. Terima kasih🙏


🎋


Qomichi**