Japanese Herons

Japanese Herons
Origami Ketujuh




๐ŸŽ


Hari pertama Ospek merupakan hari Ospek untuk keseluruhan maba. Hari berikutnya baru Ospek dilaksanakan perfakultas dan perjurusan. Milo sendiri sebagai mahasiswa yang andil dalam bagian Ospek, telah melancarkan misi penghancurannya.


Beruntung baginya karena Olivia merupakan mahasiswi yang aktif di kampus, jadi banyak senior yang dapat membantu misi pembasmian gadis tak tahu diri nan buruk rupa seperti Lucy. Seperti dugaan Milo sebelumnya, semua orang pasti menjadikan gadis itu pusat perhatian. Bukan pusat perhatian dalam artian positif, melainkan bahan tertawaan karena matanya yang cacat.


Menyebalkannya lagi, Lucy malah beranggapan seolah semua orang menyukainya dan ia tetap tampil apa adanya. Beruntung bagi Milo karena gadis itu tak memperkenalkan dirinya sebagai adik Milo seperti yang telah dilakukannya pada Olivia pagi tadi.


"Aku masih tidak mengerti mengapa ibumu memungut gadis cacat itu. Maksudku, lihatlah dia. Apakah dia akan menjadi adik iparku?" Cemooh Olivia yang membuat telinga Milo terasa panas. Sekali lagi Milo menyanggah dan meminta pacarnya untuk berhenti mengolok-olok dirinya. Sejak gadis itu bertemu Lucy tadi pagi, topik yang Olivia bicarakan hanya seputar ketidak percayaannya akan kedua orangtua Milo yang bersikap kontradiktif terhadap Lucy.


"Kenapa kamu tidak pakai kacamata?" Tanya salah seorang senior dan diikuti senyum geli oleh senior yang lain. Jika kalian menyangka mereka aliran listrik paralel dari Olivia, maka itu benar. Sesuai dengan permintaan Milo, Olivia sudah menyiapkan semuanya untuk mempermalukan gadis itu.


"Jika aku memakai kacamata, ketebalannya akan menutupi mataku. Aku tidak mau menutupi mataku karena ada seseorang yang bilang kalau mataku sangat indah." Semua orang, maksudnya senior yang terlihat seakan mengintrogasi Lucy, tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban 'ngawur' gadis itu. Yang benar saja, bahkan anjingpun tahu jika mata gadis itu mengerikan.


"Memangnya siapa orang yang mengatakan kalau matamu cantik?"


"Kak Toshi." Jawaban frontal itu membuat semua pasang mata melebar. "Dia alasan aku masuk ke universitas ini."


Semua orang menatap Lucy dengan tatapan tidak senang. "Kamu kenal Kak Toshi?"


"Ya, dia temanku sejak kecil. Aku sendiri sudah suka sama Kak Toshi sejak kecil."


Beberapa mahasiswi menggretak tak senang, orang-orang berbisik-bisik satu sama lain. Sejak awal Lucy sudah dipisahkan dari barisan sesuai dengan yang mereka inginkan.


"Perang baru dimulai. Mereka semua pengagum Kak Toshi." Bisik Olivia dengan senangnya. Milo balas tersenyum sambil menggigit bibir tak sabar melihat bagaimana mereka memperlakukan Lucy di kampus ini.


"Kami tidak percaya, memangnya kamu punya bukti?" Salah satu dari mereka memasang senyuman miring. Lucy menggaruk tengkuk dan bergumam, "ada di ponsel."


"Mana ponselnya?"


"Tapi sekarang semuanya lagi Ospek, tidak ada yang boleh memegang ponsel kan, Kak?"


"Tidak untukmu." Yang lain ikut tersenyum dan berjalan mendekatinya. "Karena kamu dekat dengan Kak Tosi, maka kami akan melakukanmu dengan istimewa."


"Jadi boleh?" Semuanya mengangguk mengiyakan. Tanpa aba-aba, Lucy langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Para senior itu menoleh ke arah Olivia kemudian mengacungkan jempolnya. Milo dan Olivia membalas hal yang sama.


"Ini." Lucy menyerahkan ponselnya. "Semuanya aku simpan di galeri."


Semua orang yang sebelumnya tidak mempercayai gadis itu, kini tercengang dengan bukti-bukti yang begitu kuat.


"Tuh kan, dari SMA Kak Toshi udah ganteng." Mereka memekik melihat foto Toshi dengan seragam putih abu sementara Lucy yang berseragam putih merah terlihat seperti penampakan yang merusak fotonya.


"Dia memang berteman sejak kecil rupanya."


"Lihat, lucu banget!" Semuanya terlihat gemas dengan foto Toshi yang masih kecil sekaligus menatap iri pada gadis cacat yang tidak berguna itu.


"Kakak-kakak semua dekat dengan Kak Toshi juga ya?"


Tatapan mereka beralih tajam dan penuh permusuhan.


"Iya." Olivia bereaksi. "Kamu pikir orang sepertimu pantas dekat dengan Kak Toshi?"


"Kamu tidak layak." Senior lain turut mendorong Lucy dengan telunjuknya.


Lucy melebarkan mata saat mereka yang kini memegang ponselnya, menghapus satu persatu foto itu. "Lho? Jangan dihapus, Kak." Gadis itu berusaha meraih ponselnya kembali, namun senior tadi menghalanginya.


"Kamu harus mendapat hukuman." Olivia berjengit. "Aku mau coffe latte yang dijual di sebelah tenggara kampus dengan radius lima ratus meter jika mengikuti jalan rumput dan tujuh ratus dua lima setengah jika mengikuti jalan konblok. Belilah dengan menggunakan kedua jalan dan berikan takaran tiga perempat gula dari seharusnya, jika ternyata berlebih maka aku akan menuntutmu kalau saja diabetes melitus melandaku. Belilah minuman itu dalam kecepatan satu meter per sekon. Harganya dua puluh ribu."


Lucy hanya dapat menatap Olivia dengan tatapan tak mengerti.


"Kenapa? Tidak mau? Kalau begitu foto Toshi akan kami hapus semua."


"Jangan." Lucy tersenyum getir. Ia melirik Milo sekilas karena uang yang ia miliki hanya sepuluh ribu, tapi jika ia tidak melakukan perintahnya maka foto Toshi ...


"Jika kau berhasil melakukannya, maka kami akan sisakan satu foto mungil yang tertera di wallpapermu." Tegas Olivia yang membuat Lucy tak ada pilihan selain beranjak membelinya karena foto yang ia pasang sebagai wallpaper ponselnya adalah yang paling berharga.


Gadis itu sempat kebingungan menentukan di mana arah yang harus diambil sebelum akhirnya ia mendapat bantuan dari petunjuk arah kampus.


"Kita viralkan saat dia jungkir balik di lapangan nanti," ucap Olivia pada salah satu temannya.


Milo tersenyum bangga melihat kekejaman yang dimiliki pacarnya. Olivia balas tersenyum seraya kembali mendekati Milo. "Setelah ini bagianmu," jelasnya, "ngomong-ngomong aku berhak mendapat sekantong cilok selama seminggu."


Milo tertawa seraya menyaksikan para maba yang digiring menuju sisi lain dari kampus. Semuanya hanya menyisakan mereka saat Lucy kembali dengan tergopoh-gopoh.


"Aku sudah melakukannya sesuai perโ€”" Lucy yang berjalan mendekati Olivia tersandung kaki yang dijulurkan senior lain.


Dengan tubuh yang tersungkur, ia dapat merasakan secangkir coffe latte tadi tidak mendarat ke tanah, tetapi mengenai seseorang. Lucy menyipitkan mata saat memastikan wajah marah Milo dengan pakaian yang penuh bercak kopi. Gadis itu berdiri seketika.


"Aku tidak sengaja." Lucy melirik Olivia sebelum kembali menatap Milo dengan ragu. "B-biar aku bersihkan."


Milo mengangkat tangan setinggi dada dan itu membuat Lucy terhenti. "Bagaimana kau bisa membeli kopinya?"


Lucy menggigit bibir. "Aku membeli yang harga sepuluh ribu."


"Jadi ini tidak sesuai yang aku pesan?" Olivia mengangakan mulut.


"Akuโ€”"


"Hapus fotonya!"


"Jangan!" Lucy berusaha menahan orang yang saat ini memegang ponselnya, namun senior yang lain menahan tubuhnya. Wajahnya pasrah saat gerik senior itu telah menghapus fotonya dan melemparkan ponselnya ke tanah.


Olivia mengode temannya yang lain untuk mulai merekam.


"Lihat apa yang kau lakukan?" Teriak Milo yang tersulut emosi. Lucy menelan ludahnya seraya menoleh kembali ke pakaian Milo yang berantakkan.


"Sekarang kamu jungkir balik sepanjang lapangan." Milo menunjuk lapangan yang saat ini mereka tijak. "Sekarang!"


Dengan kasarnya, Milo mendorong Lucy dan membentaknya untuk jungkir balik sepanjang lapangan sepakbola kampusnya.


Lucy memulai hukumannya yang sama sekali bukan karena kesalahannya. Baru saja tiga kali jungkiran, napas gadis itu sudah terengah-engah. Butuh durasi sebelas menit setengah untuk akhirnya gadis itu mencapai ujung lapangan.


"Kembali ke sini." Perintah Milo dari seberangnya. Namun, Lucy terlihat sudah lunglai dan napasnya sesak. Tanpa bisa menambah satu jungkir balik lagi, gadis itu ambruk begitu saja.


๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ


Saat para senior mendekat, Lucy tidak pingsan. Namun, gadis itu terlihat menepuk-nepuk dadanya seperti orang sesak dan kejang-kejang. Hal itu membuat semua orang membawanya ke rumah sakit dan Milo akhirnya menelpon orang tuanya.


Akan tetapi, selama satu jam setelah ia menelpon orangtuanya, Milo melarikan diri dari rumah sakit karena takut bertemu dengan mereka. Barulah satu jam setelahnya ia kembali dengan perasaan yang membuncah di dada.


Di sana, Milo mengintip dari pintu ruang rawat. Terlihat ibunya yang duduk memegangi tangan Lucy sementara ayahnya berdiri membelkanginya saat ini. Lucy terlihat pingsan sejak ia dibawa ke rumah sakit dan belum siuman.


Ibu dan ayahnya langsung menoleh saat Milo masuk ke ruangan itu. Ayahnya berjalan cepat mendekati Milo, menarik tangan putranya, lalu ...


PLAAAAKKKK!!!


Milo merasakan panas dan sakit di pipi kanannya. Matanya melotot menatap ayahnya yang terlihat begitu emosional. Ibunya yang duduk di kursi menutup mulut dengan kedua tangan melihat kejadian barusan.


"Apa yang Ayah lakukan?!" Bentak Milo tak terima.


Arthur memalingkan wajah sebelum akhirnya kemabli menatap putranya dengan geram. "Aku sudah peringatkan kau untuk menjaganya. Tapi justru malah kau yang mencelakainya."


"Aku tidak mengerti apa yang Ayah bicarakan."


"Masih tidak mau mengaku, huh?" Arthur membuka ponselnya dan menunjukkan di depan wajah anaknya vidio Milo yang memarahi Lucy dan mendorong gadis itu untuk segera melakukan jungkir balik. Kemudian terlihat Milo menertawai gadis itu.


"Dasar anak tidak tahu diri."


"Ayah yang tidak tahu diri," tukasnya frontal, "kalian terus-terusan belain dia, sebenarnya siapa dia? Kenapa dia harus datang ke kehidupanku?"


"Kurang ajar kau!"


Dengan mata yang bekaca-kaca, Milo melarikan diri dari tempat itu. Arthur berkacak pinggang menatap kesal anaknya yang semakin keterlalauan.


"Kau tetap di sini. Biar aku yang bicara padanya." Lisa mengejar Milo yang sudah berada di parkiran rumah sakit. Beruntung saat panik tadi, ia membawa motor menuju rumah sakit, dan itu membantunya untuk mengikuti Milo yang sudah tancap gas.


Meski hanya dapat melihat titik terjauh dari ujung jalan Milo, Lisa dapat memastikan jika anaknya kembali menuju rumah.


Saat sampai di sana, ia mendapati Milo yang menendang-nendang pintu rumah yang terkunci.


"Kuncinya ada di sini." Lisa menunjukkan kunci rumah dan Milo langsung merebutnya begitu saja. "Milo dengarkan ibu."


Milo membuka pintu rumahnya dan masuk tanpa mempedulikan ibunya. Ibunya mengejar Milo yang sudah menaiki anak tangga dengan begitu cepat.


"Milo! Ibu ingin mengatakan sesuatu."


Milo tak menghiraukannya dan masuk ke kamarnya bagitu saja. Saat hendak menutup pintu, ibunya berhasil menahannya.


"Stop!"


"Apalagi?" Milo membentak dan membanting pintunya membentur dinding dengan keras. "Ibu juga mau menamparku? Kenapa sejak dia datang kalian selalu membelanya? Apakah aku bukan anak kalian lagi?"


"Bukan begitu,"


"Terus apa? Ibu tidak pernah lagi membelaku di depan ayah sejak cewek itu tinggal di sini. Kenapa aku harus menjaganya? Kenapa aku harus menjadi kakaknya? Kenapa dia harus datang ke sini?" Milo berteriak kesetanan.


Lisa memejamkan mata sesaat, "dengarโ€”"


"Kenapa aku harus berbagi dengannya? Uangku juga menjadi sebagian miliknya."


"Ibu inginโ€”"


"Kenapa orangtuanya harus membawanya ke sini? Kenapa? Mereka menitipkan? Mereka pasti membuangnya ke tempat kitaโ€”"


"Iya, dia dibuang!" Teriak Lisa seketika, "kau puas mendengar itu?"


Milo membisu. Matanya menyelidik tak mengerti akan ucapan yang ibunya lontarkan. "Ibu bohong kan?"


"Itu kenyataan yang harus Lucy terima." Mata Lisa mulai berair. "Mereka ingin membuang gadis malang itu. Lucy lahir prematur dan mereka tak menyangka jika anaknya harus cacat serta mengalami kelainan jantung."


Lisa memalingkan wajah dan membekap mulutnya. Ia bersandar di kusein pintu dengan tubuh yang gemetar. "Mereka sempat ingin membuangnya saat lahir, namun karena kasihan mereka mencoba untuk merawatnya. Tapi, dia hanya menjadi beban keluarganya karena biaya pengobatan jantung yang begitu mahal. Hidup Lucy juga dipenuhi dengan gunjingan orang-orang."


"Jadi maksud ibu, mereka menyerahkan beban keuangan mereka pada kita? Orang tua macam apa mereka?"


Lisa menggeleng. "Mereka juga punya anak laki-laki yang harus mereka biayai, Milo. Selama ini uang mereka habis hanya untuk membiayai pengobatan Lucy."


"Dan kalian mau membiayai pengobatannya yang mahal itu?"


Air mata Lisa jatuh begitu saja. "Kami hanya membiayai kuliah, makan, dan keperluannya sehari-hari. Kami hanya ingin membahagiakannya sedikit meski semuanya percuma. Mereka tidak punya biaya untuk melakukan cangkok jantung. Kalaupun ada, itu belum tentu berhasil. Ronald dan istrinya sempat ingin mengirimnya ke panti asuhan, tapi tidak ada yang menerimanya karena penyakitnya itu. Mereka bahkan berniat untuk membawanya ke suatu tempat dan meninggalkannya begitu saja sampai-sampai Ronald yang putus asa menceritakan niat buruknya pada ayahmu.


"Ayah kasihan padanya dan Ibu mau merawat anak perempuan. Jadi Ibu mohon padamu, jagalah dia dengan baik, setidaknya sampai dia pergi suatu hari nanti. Hidupnya tidak lama lagi, Milo, dia beruntung karena bisa menginjak umur tujuh belas."


๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ


**ORIGAMI 7 : Usia


Gimana ceritanya? Udah ada gambaran?


See ya.


๐ŸŽ‹


Qomichi**