Japanese Herons

Japanese Herons
Origami Kedelapn Belas




🎏


Ketakutan Lucy pada malam itu terjawab sudah. Toshi menjauh darinya. Lagi. Kali ini Toshi semakin disibukkan menjelang ujian-ujian semester yang akan dilaksanakan bulan depan. Lucy hampir tak pernah melihatnya di kampus. Kalaupun melihat hanya saat pria itu dengan tergesa-gesa masuk ke ruangannya kemudian pergi lagi.


Di kekas saat mengajar pun dia terlihat seperti orang yang ingin buang air kecil, setelah keluar Toshi tak kembali lagi. Elisa memberikan tugas-tugas yang mungkin membantu untuk ujian akhir semester sebagai penggantinya.


Pernah satu kali Lucy menanyakan perihal Toshi kepada Elisa. Menanyakan apakah toshi benar-benar akan dimutasi atau pindah mengajar. Atau mungkin Toshi tengah mempersiapkan kuliahnya ke strata yang lebih tinggi mengingat dulu Toshi pernah mengatakan bahwa perisapannya saat ini merupakan kejutan untuk Lucy.


Elisa tak membantu. Gadis itu hanya menyeringai ketika Lucy menanyakan hal itu padanya. Mungkin gadis itu senang mendengar kedekatan Lucy yang mulai renggang.


Setiap harinya, Lucy selalu menunggu postingan Instagram dari Toshi meski postingan atau SG terakhir Toshi sekitar empat bulan yang lalu. Lucy kadang memberikan pesan singkat dan itu jarangkali dibalas.


Pernah ia menelpon Toshi waktu itu, dan Toshi hanya bicara beberapa kata dengan begitu tergesa-gesa.


Lucy menghembuskan napas berat. Jarak yang terbentang kembali terasa dalam jiwanya. Ia selalu merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika Toshi meminta Eiketsu no Asa dibacakan.


Sesaat Lucy menatap kosong pesan-pesan terakhir yang ia kirimkan pada Toshi. Ia bertanya-tanya seperti apa kesibukan pria itu sampai-sampai harus melupakan semuanya. Apakah kesibukan itu sama seperti yang Milo rasakan saat ini sampai-sampai Lucy tak pernah lagi melihat laki-laki iu bermain game? Atau seperti Olivia yang setiapkali Lucy ke perpustakaan, Lucy akan menemukan gadis itu tengah berkutat dengan kertas-kertas dan kalkulator yang ditekan dengan cepat?


Entahlah, yang pasti kerinduan itu kembali hadir dan menjalar bak pohon markisa. Terkadang ia mencoba menenangkan diri dengan mengingat ucapan Toshi malam itu yang mengatakan kalau dia tidak akan pergi ke mana-mana. Ia juga mencoba mempersiapkan ujiannya dengan sesibuk mungkin guna mengusir kegusarannya.


Hanya saja itu tidak mudah. Lucy sadar jika dia kuliah hanya karena Toshi. Dan karena jarak yang kembali terbentang, ia merasa jika ia tidak punya gairah untuk menyelesaikan studinya meski ia juga mencintai sastra.


Puisi dan aksara yang tertuang terasa hambar jika tak disertai emosi. Dan emosi yang ia punya saat ini hanyalah kerinduan.


Sementara itu, seperti yang Lucy katakan, Milo dan Olivia akhir-akhir ini jarang mengganggunya karena terlalu sibuk mempersiapkan ujian. Lucy sadar jika ujian perkuliahan ini memang membeban, akan tetapi jika boleh jujur ia tak peduli.


Yang ia pedulikan hanyalah Toshi sampai-sampai Lucy menanyakan perihal kesibukannya kepada Tante Lisa. Tante Lisa menjawab jika bulan-bulan seperti ini adalah waktu di mana orang-orang sedang sibuk-sibuknya, bahkan Om Arthur pun juga sibuk. Meski setahu Lucy Om Arthur setiap hari sibuk. Tante Lisa paham jika Lucy saat ini sedang merindukan Toshi sampai-sampai ia menambahkan jika kesibukan Toshi tak akan bertahan lama, setelah masa ujian selesai semuanya akan mengalami pengangguran masal berminggu-minggu.


Tak ada yang dapat membantu Lucy menemukan jalan keluar sampai-sampai ia menekatkan diri mengirim pesan pada Toshi yang berisikan tentang wacana Toshi yang kemungkinan akan pindah.


Lucy menghela napas setelah mengirimkannya, matanya menatap sedih etalase bagian atas yang sampai saat ini masih berhenti di delapan origami. Perlahan ia menggigit-gigit bibir dan mulai membuka bukunya.


Lucy kembali memutuskan untuk memfokuskan diri pada ujian bulan depan meski pengalihannya hanyalah bersifat sementara.


🎐🎐🎐


Minggu-minggu ujian telah berlalu. Akan tetapi, apa yang dikatakan Tante Lisa tidak sesuai dengan harapan. Setelah ujian, Toshi hanya mengirimkan pesan singkat pada Lucy tentang bagaimana perkiraan hasil ujian yang Lucy selesaikan.


Lucy dengan semangatnya menjawab pesan itu dengan narasi tiga paragraf, tapi Toshi tak membalas lagi. Lucy bahkan sempat ragu apakah Toshi membacanya atau tidak.


Kenyataan tentang pengangguran berminggu-minggu hanya berlaku bagi sembilan puluh sembilan persen orang. Sementara Toshi merupakan satu persennya.


Milo yang sudah kembali menjadi gammer dan lebih sering menghabiskan waktu dengan Olivia mencemooh keadaan Lucy yang terlihat seperti dagangan tidak laku. Dia menertawakan Lucy dan mengatakan jika kebenaran mulai jelas bahwa Toshi memang tidak tertarik sedikitpun pada Lucy.


"Ingat perjanjiannya? Jika kau ditolak, maka pergilah dari kehidupanku." Bisik Milo sebelum mereka masuk ke rumah setelah mengantar Lucy hari itu.


Meski masih percaya diri, Lucy mulai merasakan keyakinannya itu mulai goyah. Toshi semakin sulit di hubungi. Dan Lucy semakin merasakan ketakutan bersemi di jiwanya.


"Milo." Lucy mendatangi kamar Milo dengan takut-takut. "Boleh aku minta tolong sesuatu?"


"Tidak boleh." Milo menekan-nekan layar ponsel dalam keadaan horizontal.


"Setelah ini aku tidak akan minta tolong lagi. Aku janji."


"Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang."


Lucy berjalan cepat dan membuka jendela kamar Milo, setelahnya ia berteriak. "Rumput maukah Milo membantuku?"


Milo melotot dan langsung bereaksi. Ia menarik Lucy dan menutup jendelanya dengan jengkel. "Kau ini apa-apaan sih?"


"Sekarang kau mau kan membantuku?"


"Tidak."


Lucy membeku dan menutup matanya perlahan. Ia mengangguk lalu keluar dari kamar laki-laki itu dengan gontai.


Milo hanya dapat menggelengkan kepala lalu kembali bersemedi di ranjangnya dengan ponsel yang berada di tangan. Ia mengetikkan pesan balasan pada Olivia yang mengatakan jika Lucy saat ini seperti orang gila karena kesibukan Toshi.


Tak lama, Olivia membalas dengan emot tawa lalu dilanjutkan pada kalimat yang mengatakan jika Lucy masih belum mengerti seperti apa sibuknya dosen. Milo tersenyum mendengarnya sampai-sampai senyumnya menghilang setelah mendengar keribuatn di luar.


Laki-laki itu mengintip dari jendela yang tertuju pada halaman depan, kemudian melihat ibunya yang berusaha menahan Lucy yang sepertinya hendak pergi. Milo bahkan mendesah saat mendengar ibunya yang menambahkan jika ia akan menyuruh Milo untuk mengantarnya.


Laki-laki itu berdecih kemudian turun ke bawah dengan kesal. Tanpa meminta kejelasan, Milo menarik Lucy begitu saja menuju garasi.


"Antarkan dia ke tempat Toshi," pinta ibunya menjawab keinginan yang Lucy mohonkan pada Milo sebelumnya.


Milo memutar bola mata seraya mengeluarkan motor dari garasi. Laki-laki itu kemudian menyuruh Lucy untuk segera naik dengan enggan. Lucy berterima kasih sebelum akhirnya menaiki motornya.


Ketika menjalankan motornya, Milo menggerutui Lucy yang pakai acara nekat ingin berpergian sendiri. Meskipun Milo sendiri sebenarnya tak peduli karena Lucy sudah hafal jalan, tapi reaksi ibunya yang kadang berlebihan membuat Milo tak suka. Ibunya terlalu takut jika apa-apa terjadi pada anak perempuannya.


Ketika beberapa meter mendekati rumah Toshi, Milo menghentikan motornya dan parkir di tempat itu. "Aku tunggu di sini paling lama sepuluh menit. Jika lewat sepuluh menit, maka aku akan meninggalaknmu."


"Kau tidak ingin menunggu di sana?" Pertanyaan Lucy dijawab gelengan oleh Milo yang kembali memperingatkan akan sepuluh menit waktu yang diberikan.


"Jangan sampai terjadi apa-apa. Aku tidak ingin kau membuat ibuku khawatir. Lagipula kenapa kau kebelet mau ketemu sama Toshi, sudah tahu dia sibuk. Apa sebegitu sukanya kau dengan laki-laki itu?"


Lucy tersenyum dan mengangguk cepat. "Sama seperti kau yang sebegitunya menyukai Olivia."


Milo tertegun. Entah apa yang terjadi namun pengakuan itu menyentuh hatinya meski Milo tahu pasti itu jawaban yang akan dijawab gadis itu.


Ia melihat langkah Lucy yang menjauh. Langkah yang lebih yakin dari biasanya.


Lucy merasakan detak jantung yang tak karuan ketika ia sudah memutuskan untuk menanyakan tentang Toshi kepada orangtua Toshi.


Akan tetapi langkahnya tersendat tatkala melihat kedua orangtuanya dan juga Jun baru saja keluar dari rumah laki-laki itu. Lucy melebarkan senyumannya karena sudah setengah tahun ia tak melihat kedua orangtuanya meski jarak mereka hanya beberapa kilometer.


"Ayah, ibu ...," Gadis itu tersenyum, "Jun ...."


Sayanganya ekspresi kebahagiaan itu tidak diikuti oleh ketiga keluarga di depannya. Mereka justru menatap lucy dengan perasaan tidak suka. "Sedang apa kau di sini?" Ibunya mendekatinya dan langsung mencekal pergelangan tangan gadis itu.


Lucy sempat merintih, "ak-aku mau bertemu sama Kak Toshi."


"Kakak pikir kakak siapa?" Jun turut menahan tangan gadis itu.


"Tapi aku ...." Lucy mendesah kesakitan saat kedua pergelangan tangannya ditarik secara paksa. Gadis itu sempat memberontak dan terus mengatakan jika ia hanya ingin menanyakan tentang Toshi kepada orangtua pria itu di sana. Namun, penjelasan itu tak diindahkan ibu dan adiknya. Keduanya terus memaksa Lucy menjauh, sementara ayahnya berdiri di ambang teras dengan tangan yang bersedekap.


"Ibu, aku mohon." Lucy kini tidak dapat memberontak. Tubuhnya sudah ditarik secara mudah menjauhi rumah Toshi.


"Aku bilang jangan datang ke tempat ini lagi. Jangan temui siapapun baik ayah, ibu, Jun, bahkan semua orang yang ada di sini, jangan temui lagi!" Teriak ibunya dengan penuh amarah.


Milo menegangkan tubuh ketika tiba-tiba ia melihat Lucy yang ditarik-tarik oleh perempuan yang enam bulan lalu pernah mendatangi rumahnya, dan juga ada laki-laki yang tak pernah ia lihat turut menarik gadis itu.


Mereka mendorong Lucy di tengah jalan tanpa tahu jika Milo menyaksikan itu dari kejauhan.


Milo melirik jam tangan yang menyisaihkan waktu dua menit lagi bagi gadis itu. Matanya memicing dan telinganya menajam melihat dan mendengar kedua orang itu menceramahi Lucy yang terlihat terpojokkan.


Setelahnya mereka pergi meninggalakn gadis itu. Lucy terlihat tertunduk dan terpaku di tempat dalam waktu yang cukup lama.


Milo memperhatikan gadis itu yang tidak melakukan reaksi apa-apa. Sampai saat ia melihat jam tangannya lagi, ia mendapati waktu ketentuan sudah lewat tiga menit.


Laki-laki itu mulai menghidupkan mesin kendaraannya dan melajukan motornya meninggalkan Lucy yang masih terpaku di tempat.


Ia melihat Lucy yang masih mematung di sana melalui kaca spion. Sampai akhirnya ia mendesah dan kembali memutar laju kendaraan.


🎐🎐🎐


Lucy kembali mendapatkan suara operator telepon ketika panggilannya tidak dijawab oleh Toshi. Gadis itu menatap kosong, kembali mengingat seperti apa reaksi wajah keluarganya yang tak terlalu jelas namun sudah tergambar melalui tindakan mereka sore tadi.


Gadis itu bangkit dari ranjang dan berhenti di depan etalase. Perlahan ia membuka etalasenya dan mengambil bangau hitam yang ada di bagian tengah.


Lucy menciumi bangau itu kemudian menatapinya dengan sorot mata kesedihan. Dengan terpaksa ia memindahkannya ke bagian terbawah etalase.


Ia mundur beberapa langkah setelahnya. Melihat wajah baru etalasenya.


Senyum mirisnya mengembang, kemudian ia menghembuskan napas gusar. Lucy menggeleng perlahan dan kembali merenggut origami bangau hitam itu dari etalase bawah, lalu meletakannya ke bagian tengah bersama teman-temannya yang sebelumnya.


"Mereka tidak membenciku bukan?" Ia bermonolog pada pantulan bayangannya di kaca etalase.


Lucy kembali membuat wajahnya menjadi riang, ia meyakini diri sendiri jika keluarganya sama sekali tidak membencinya. Keluarganya mungkin hanya kesal tadi karena kedatangan Lucy yang secara tiba-tiba. Ya, hanya sekadar kesal.


Lucy menarik napas panjang. Yosh!


🎐🎐🎐


**ORIGAMI 18 : Orang Tua


Udah mau masuk chapter 20.


Penasaran gak sama ceritanya?


Kasih author semangat dong😊


πŸŽ‹


Qomichi**