Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Rumahku istanaku,Mulutmu Harimaumu



Empat puluh hari setelah melahirkan di rumah kami di adakan syukuran, tentunya rumah milik kami yang baru kami beli. Syukuran dedek Asyifa sekaligus syukuran ke pindahan rumah kami dari rumah mertua ke rumah kami yang baru. Bukan rumahnya yang baru tapi baru kebeli.


Rumah ini rumah panggung, ukuran 4x6 meter. Dapur 4x3 meter. Rumah sederhana kata orang mah gubuk tapi bagi kami ini istana.


Syukuran berjalan lancar, kami pun merasa sangat bahagia, memiliki rumah hasil jerih payah kami.


"Kang, katanya kakak-kakak mu mau ngejenguk Dedek kalau kita pindahan, tapi apa nyatanya tak ada seorang pun yang hadir." Ucapku ngambeuk.


" Mungkin mereka lagi sibuk ngurusin tembakau."


"Aneh orang lain aja para trtangga datang ngejenguk masa Uwa-Uwa sama paman nya gak pada Menjenguk, padahal ini anak pertama kamu."


"Ya gimana lagi Ri, jangan berharap pada mereka, mereka itu orang-orang yang sibuk."


Aku pun tak bisa lagi mendebat, sebenarnya iba juga melihat suami yang letih dan sepertinya banyak fikiran. Kang Jaya juga pasti hatinya gendok karena kakak nya tidak ada yang hadir satu pun untuk sekedar menjenguk bayi kami.


*******


Seminggu berlalu, kami datang ke rumah Mih untuk membereskan pakaian kami yang belum sempat ke bawa waktu pindah.


"Mih, pakaiannya kami beresin dulu kami sudsh pindah ke rumah yang baru di beli kemarin." Kata Kang Jaya.


"Iya beresin aja biar Teteh bisa nempatin kamar kamu nantinya, di kamar dapur itu pengap juga banyak nyamuk." Teh ela menimpali.


"Bantuin dong Teh biar teteh bisa cepat mindahin kamarnya." Ucapku


"Eh Ri, coba kamu beresin sendiri, punya anak jangan di jadikan alasan buat kamu berleha-leha." Timpal Teh Didah.


Tak lagi ku timpali ucapan mereka, percuma di lanjutkan ujung-ujungnya tetap aku yang bakal di salahkan.


setelah beres mengepak barang yang akan kami bawa, Teh Ani dan anaknya yang sudah menikah datang ke rumah Mih, katanya pingin lihak Dedek Asyifa.


Teh Ani ini kakak tertua Kang Jaya, usianya sekitar empat puluhan. Sudah punya dua anak dan satu cucu. Anak pertamanya Neneng suaminya Ahsin, mereka punya satu anak bernama Andika. anak kedua Teh Ani namanya Anita dia cantik namun masih lajang se usia denganku sembilan belas tahun.


Anak kedua Mih dan Abah Kang Amir berbeda dua tahun dengan Teh Ani. mempunyai satu putri satu putra. putrinya Ainun seumuran denganku sudah menikah tapi belum memiliki anak, anak ke dua kang Amir Din-din baru kelas 6 SD.


Teh Ela itu anak ketiga dan Teh Didah anak ke empat, sedang suamiku anak kelima. sedang yang bontot bernama Dudung berusia  dua puluh lima tahun.


Hari ini mereka semua berkumpul di rumah Mih dan Abah, katanya pingin ketemu dedek.


********


Setelah pindah rumah, berat badanku naik mungkin efek KB juga atau mungkin karena hati dan fikiran yang tak lagi mumet, di rumah sendiri itu bebasnya bagai tinggal di istana. Habus subuh bisa berleha-leha tak perlu langsung masak atau nyuci.


Dulu di rumah Mih bangun jam 04;00 langsung menanak nasi, memasak dan mengepel. Tersiksanya lagi karena semua menggunakan tungku sungguh sangat tersiksa.


Sedang di rumah sendiri masak pakai kompor minyak, menanak nasi pakai ricecooker. hingga bisa nyantai mengerjakan pekerjaan rumah.


Meski ujian lain datang silih berganti namun setidaknya hidupku berangsur pulih, yang ku dengar dari Kang Jaya Teh Didah dan Teh Ela pun mulai hidup mandiri membeli rumah sendiri.


*******


Dua tahun berlalu kehidupan mulai berangsur membaik, Dedek Asyifa pun sudah bisa berjalan dan bicara, ekonomi kami pun cukup membaik.


Tanah yang kami tempatipun sudah bertambah menjadi dua belas tumbak, dua minggu yang lalu Mang Dana, adeknya Mang Ade menjual tanah bagiannya padaku. Meski sekarang tabungan habis tapi hati ini cukup bahagia.


Hingga kejadian itu pun terjadi, Asyifa mendadak demam dia di bawa ke rumah sakit selama sehari ini dia tak bisa buang air kecil, *********** membengkak entah kenapa.


Di rumah sakit dia hanya menangis, selang untuk buang air kecil terpaksa di pasang karena air seni di dalam kantung kemih sudah penuh dan bisa berakibat fatal.


Sedangkan saat itu aku tak punya simpanan uang kecuali untuk biyaya dapur tiga hari ke depan, mana cukup. Aku dan Kang Jaya berupaya meminjam pada saudara ibuku dan Bapak, namun mereka tak punya simpanan karena keluargaku memang keluarga yang tarap ekonominya pas-pasan.


Kang Jaya pun berinisiatif meminjam pada kakak-kakaknya.


*****


"Kang Amir tolong beri kami pinjaman uang atau emas untuk membayar biyaya rumsh sakit dan juga khitanan Asyifa." Kang jaya memelas pada Kang Amir. Kami mendatangi Kang Amir sebagai kakak laki-laki tertua.


"Boro-boro Jay, jang sapopoe ge meni susah kaboboraah bisa minjemkeun( jangankan untuk meminjamkan buat makan sehari-hari aja sulit)." jawab Kang Amir.


"Kemana ya Kang, Aku nyari pinjaman? ke Teh Ani gak mungkin dia juga lagi susah, kslau ke Teh Didah juga gak mungkin karena kemarin baru saja beli rumah, pasti gak punya simpanan lagi." Ucap Kang Jaya.


"Coba saja pinjam ke Ela, Kemarin saja dia habis beli emas, padi nya juga banyak, emas saja penuh di tangan dan di leher." Kang Amir memberi solusi.


Kami pun bergegas menemui Teh Ela, ke buntuan fikiran membuat kami tak mampu lagi berfikir harus ke mana mencari pinjaman.


****


"Teh, Aku mau pinjam uang atau emas kamu nanti dua minggu lagi aku ganti." kata Kang Jaya.


"Buat apa? berapa? datang-datang kok malah mau pinjam duit."


"Satu juta lima ratus teh, buat biyaya rumah sakit sama bayar Khitanan Asyifa, dia harus khitan langsung tadi malam, dia udah selamat namun aku harus menebusnya hari ini juga." Kang Jaya memelas.


"Gak ada duit segitu gede banget mana punya aku duit segitu."


"Pinjam kalung mu saja Teh, aku lagi proses jual Ubi, kemarin udah jadi dua juta rupiah, namun uangnya baru keterima nanti dua minggu lagi." jawab kang Jaya.


"Enggak, aku beli emas itu bukan buat di pinjan-pinjam ini khusus buat di pake gak bakal aku minjamin apapun ke kalian mana bayarnya nanti sulit." Ucap Teh Ela tanpa belas kasih.


"Makanya kalau hidup itu ya usaha cari duit bukannya malas-malasan, kamu sih Jay, bukannya istrimu di bing-bing usaha malah kamu jadi ikutan malas. Suruh istrimu itu buat belajar ngurus tembakau hingga siap jual jangan jual di kebun, biar kamu punya duit. Di jual nya lumayan mahal." tambah Teh Ela


belum puas Teh ela mencaci dia malah semakin mencaci


"Dasar kamu Riyani, wanita pemalas bisanya tidur doang, sekalinya butuh duit malah mau pinjam, usaha dong bantuin suami."


Aku hanya bisa menangis tanpa mampu berkata-kata.


Padahal sebelum ini kami tak pernah meminjam uang pada Teh Ela tapi dia bilang kami bayarnya susah, dan dia begitu tega tidak meminjamkan kami untuk biyaya rumah sakit, padahal ini keponakannya. Ternyata mereka jauh lebih mdncintai Uang daripada keluarga.


Aku dan Kang Jaya pulang dengan hampa menangis dan bingung harus bagaimana, apalagi rumahsakit mendesak kami membereskan biyaya Asyifa. Sedang uang yang ku pegang hanya dua ratus ribu rupiah.


Sepulang dari Cisitu Aku menangis sejadi-jadinya sungguh teramat pilu hidup orang miskin, sulit di percaya buat pinjam uang. Jika saja dua minggu yang lalu kami tahu akan terjadi hal seperti ini, kami tak akan membeli tanah ke Mang Dana.


Padahal apa yang di katakan Kang Jaya itu benar adanya, Kami sudah menjual Ubi di kebun hanya saja bandar menjanjikan pembayaran dua minggu lagi, hanya dua minggu saja kami hendak pinjam uang dari Teh Ela namun apa yang kami dapat justru luka hati yang teramat dalam.


Bukan uluran bantuan yang kudapat hanya hinaan yang mungkin akan membekas di hati se umur hidupku, padahal ini demi krponakannya yang sedang sakit. Keponakannya yang hampir kehilangan nyawa jika tidak segera di sunat. Bagaimana ada rasa iba di hati mereka jika menengok Asyifa saja enggan, sedang aku ibunya yang ada di samping Asyifa begitu sedih dan terluka melihatnya yang di selang hanya untuk buang air kecil saja, bahkan tangisannya menggema di seluruh ruangan.


Sehina itukah aku hingga untuk menolong putraku saja mereka enggan, segitu tak restunya mereka aku masuk keluarga mereka hingga keselamatan anakku bahkan tak ada harganya di banding dengan emas yang mereka pakai, hingga tak mampu melepas emas mereka demi keluarnya anakku dari rumah sakit.


Padahal setidaknya Asyifa tak tahu apa-apa dia suci, murni tak ber dosa tapi mengapa sebegitu tak adanya rasa khawatir di hati mereka para iparku.


Tunggu saja waktunya, kalian akan tahu siapa Riyani yang kalian hina ini, suatu hari nanti kalian akan menyesal dengan peng hinaan ini, akan ku ingat se umur hidupku bahwa aku harus tunjukan pada mereka kalau aku bukan pemalas, kalau aku akan lebih mampu menghasilkan uang dari pada mereka. 


,,,,