
Pov Riyani
Semenjak Abah menagih hutang saat itu, tak lagi ku perdulikan kebutuhannya, rasanya sakit hati ini, semua yang Aku lakukan dan kasih sayang yang di berikan padanya bagai sampah tak berharga.
Padahal ketika sakit tak ada seorang pun dari ke enam anaknya yang mau patungan biaya, untuk kebutuhan sehari-hari saja tak ada yang mau memberi selain dari kami. Bahkan setiap hari raya tak pernah ada yang ingat untuk membayarkan fitrah atau sekedar membelikan ayam untuk opor selain Aku. Bukan maksud untuk menghitung kebaikan, namun rasanya cara yang Abah lakukan untuk menagih hutang sudah melampaui batasan normal.
Kang Jaya bahkan mulai berubah sering melamun, bahkan sakit-sakitan. Aku sedih melihatnya yang kuyu tak bersemangat walau sekedar untuk ke ladang. Segala cara untuk kesembuhannya ku upayakan mulai dari rukiyah hingga psikiater yang biayanya jutaan.
Trauma membekas di pikirannya merasa tak di inginkan, di buang dan menjadi beban besar bagi orangtua. Itulah penjelesan psikiater dari rumahsakit, Dia butuh di perhatikan dan di sayangi agar merasa di butuhkan.
Selama tiga bulan pengobatan,Alhamdulillah Kang Jaya sembuh. Aku melimpahkan perhatian dan kasih sayang pada nya teramat sangat protektif hingga dia kembali bersemangat untuk hidup, apalagi sering ku biarkan ke dua putraku bermanja ria, hingga mungkin pikirannya kembali sehat dan memikirkan masa depan putra-putra kami.
Selama sakit Kang Jaya tak pernah muncul ke Cisitu, namun tak ada satu pun keluarga yang datang walau sekedar menengok, atau bertanya kabar. Bahkan tak satu pun dari mereka yang memperjuangkan hak Kang Jaya pada Abah.
Bukan urusanku untuk menanyakan perihal rumah panggung yang Abah tempati karena rumah itu memang di bangun sebelum menikah, namun setidaknya ada aturan yan di buat mengapa hingga sebelas tahun pernikahanku tak pernah di urus. Pernah dulu Abah mau membelinya dengan hasil menjual tanahnya, namun bahkan hingga saat ini pun tak pernah ada pembahasan.
Mungkin harus meng ikhlaskan semua dan mulai bangkit dari keterpurukan, Ku mulai lagi usaha yang sempat terbengkalai karena mengurus Kang Jaya, bahkan modal pun hampir habis, biaya untuk membayar psikiater dsn rukiyah tidak lah murah, selama tiga bulan bahkan hampir lima puluh juta modal kredit ku tersedot.
Meniti kembali usaha yang hampir hancur dan berpindah haluan, dengan sisa modal yang ada ku mulai usaha baruku yaitu berdagang sayur du pintu gerbang perumahan di daerahku, kebetulan setahun yang lalu mengambil cicilan sebuah rumah di perumahan Griya permata di dekat rumah kami.
Ku buka lapak sayuran di depan rumahku itu, Alhamdulillah di beri ke larisan dan ke untungan yang lumayan setiap harinya, setidaknya di cukup kan untuk biaya hidup dan sedikit menabung.
********
Jualan semakin hari semakin laris, namun ada yang aneh sikap Kang Jaya mulai berubah, setelah kesembuhannya dari trauma, dia menjadi pemarah dan sering kali main tangan terhadapku.
Kang Jaya semakin sering pergi ke Cisitu kerumah Kakak dan Adiknya, Aku tak ikut karena berdagang, entah apa yang terjadi di sana namun sering kali pulang dari sana dia marah tanpa alasan, terkadang menudingku berselingkuh, atau bahkan katanya menyembunyikan kebohongan besar. Jika saat dia pulang belum ada nasi, murka nya tak terkendali sedang dulu ada nasi atau tak ada tak pernah menjadi masalah karena dia sudah tahu aku yang berdagang sangat lah sibuk.
Semua Aset yang Ada di Cileutik mulai di jual kebun juga tanah kami yang dekat mesjid serta dari Uwa Rasid sudah terjual, Kang Jaya memindahkan aset kami ke daerah Cipasir dekat dengan tanah yang kami beli dulu.
Aku mulai tak memahami nya setiap hari, kemurkaannya padaku membuat kapal ini oleng dan mungkin tenggelam, tak sanggup rasanya melanjutkan perjalanan ini jika nahkodanya saja sudah tak lagi sejalan dengan ku.
******
Kemarahan tak beralasan serta tudingan-tudingan dari Kang Jaya setiap hari terus berlangsung, bak kaset rusak mengoceh tanpa alasan, dulu jarang menemui kakaknya namun sekarang hampir setiap hari mengabaikan Aku yang begitu repot berdagang.
Pernah juga saat Aku mau menyodok nasi, justru ada belatung hidup di nasi itu, kejadian tak masuk di akal berlangsung berminggu-minggu, bahkan hati ini sudah tak kuat lagi dengan caci maki yang terlontar dari bibir sang Nahkoda.
Aku mulai jengah dengan sikapnya, ber ksli-kali meminta cerai aku lakukan, tapi justru tudingan kalau aku berselingkuh yang terlontar dari bibirnya, menyangka diri ini sudah merencanakan perceraian dan menikah dengan selingkuhan, padahal tak pernah terbesit untuk memiliki kekasih atau selingkuh, bahkan aktivitas hanya berdagang, dan ke pasar itu pun bersama dirinya, lalu kapan Aku berselingkuh?'.
Ada rasa curiga jika mungkin ada orang yang bersekutu dengan dukun untuk menghancurkan rumah tangga ku, namun tak baik ber suudzon hingga ku tepis prasangka itu. Namun kian hari ke ganjilan yang Aku alami justru semakin menjadi.
Dagangan sayurku yang ku beli waktu subuh dan segar, setiap jam sembilan pagi semua nya berubah membusuk seketika, rugi terus berjalan hingga seminggu, setelah itu wajahku pun mulai di penuhi dengan luka seperti terkena api, bahkan dari jalan lahirku keluar segumpal darah seukuran kepalan tangan, padahal sedang tidak hamil juga tidak dalam keadaan haid.
Bahkan Hikam tiba-tiba sakit panas mengigau setiap jam sebelas malam, sedang pagi hingga sore tubuhnya sehat dan tidak panas. Ke anehan terus berjalan hingga dua bulan lamanya, bahkan setiap hari kerugian-kerugian berjualan seakan tak ada hentinya. jualanku laku namun justru uangnya yang selslu kurang bahkan cenderung hilang.
Jika pagi kuhitung uang dapat tiga juta dan pelanggan sayur masih banyak yang berbelanja, namun kuhitung kembali uang itu saat sore jumlahnya tak pernah bertambah.
Aku terus bertahan berdagang sayur meski kerugian sudah mencapai dua belas juta rupiah, namun tetap di hati ku serasa ada yang tidak wajar dengan yang terjadi di kehidupan ku, Aku tetap bertahan dan shalat malam semakin ku khusu kan. Aku yakin bahwa Allah swt sebaik-baiknya penyembuh dari segala bentuk penyakit lahir maupun batin.
Bertahan dalam perjalanan hidup, rumah tangga yang kacau serta kecurigaan suami yang semakin menjadi, berdagang yang laris namun uang yang selalu berkurang hingga akhirnya menombok terus, justru membuat beban batin semakin berat, meminta bercerai malah suami yang bertahan bahkan mengancam akan bunuh diri jika berpisah. Tapi rumah tangga justru semakin hari semakin oleng membuat batin dan mentalku tertekan.
Hampir Aku depresi dengan kejadian tiga bulan ini, namun sering beristigfar dan bertafakur bahwasanya kerumitan ini sekelumit ujian yang Allah berikan, atau mungkin teguran karena Aku sering melalaikan kewajiban hingga sering shalat di akhir waktu. ku buang semua prasangka buruk, dan ku yakini ini Adalah garis takdir hidupku.
Semenjak kisruh dan prahara terjadi dalam rumahtanggaku, tak pernah Aku berkunjung pada Abah bahkan ke Cisitu, karena Kang Jaya benar-benar mengabaikan ku tanpa alasan.
Terus kurenungi semua yang terjadi hingga pada saat itu semuanya terkuak tak bersisa.
Karena setiap ke dzolim an tak akan berlangsung lama, se pintar-pintarnya menyembunyikan bangkai tetap akan tercium juga.
******
Ku temui mereka dalang kehancuran ini bahkan pikiran dan hatiku sudah di kuasai amarah yang hampir meledak.
Sesampainya di sana,secepat kilat Aku berteriak di depan halaman rumahnya.
"Tega kau bahkan bermain dengan curang?Hah!!! ucapku lantang.
Bersambung..