
Ke esok an harinya kang Jaya pulang ke rumah, wajahnya kusut bukan seperti pengantin yang baru melewati malam pertama, justru seperti petani gagal panen. Tepatnya tentara kalah ber perang.
Ku diam kan Kang Jaya tak ku tawari makan atau pun ku sapa, biar kan dia tahu bahwa dia bukan arjuna yang pantas di perjuangkan melainkan pantas untuk di abaikan.
Selama ini aku bertahan dan berjuang demi masa depan anak-anak, tak ingin membiarkan mereka kekurangan kasih sayang orangtua dan tak ingin di bully karena memiiliki orangtua tak lengkap. Bahkan dulu Kang Jaya layak ku pertahhankan karena kasih sayang dan perhatiannya pada keluarga, namun kini semua tak lagi sama, pengkhianatan telah membawa separuh jiwa ini pergi hanya tersisa hati yang terluka.
"Ri, kita perlu bicara." Kang jaya
"Aku sibuk, yang belanja masih antri." Jawabku di sela meladeni pelanggan.
"Nanti jika udah agak sepi."
"Ya." jawabku.
Kang Jaya berlalu masuk ke dalam rumah, kebetulan warung dan Rumah berbeda bangunan.
********
Setelah agak sepi pembeli, warung ku titipkan pada adikku, Arina.
Ku susul Kang Jaya yang katanya ada perlu dengan ku.
"Ada apa?" Tanyaku to the point.
"Gini Ri, apa kamu beneran ingin menuntutku? kenapa? Padahal Aku menikahi Nunung juga itu bentuk tanggung jawab karena kamu yang sudah menyebar gosip kalau Kami selingkuh, kalau tidak dia mau menuntut mu atas pasal pencemaran nama baik." Jawab kang Jaya.
"Gosip? fitnah? Kamu selingkuh sama Nunung. Kapan aku menyebarkan gosip itu Hah? Justru Aku yang kamu khianati, selingkuh dengan Nunung tanpa sepengetahuanku, pantas saja setiap hari bulak balik Cisitu tau nya ada udang di balik batu." Jawabku agak meninggikan suara, karena merasa tersinggung dengan ucapan Jaya.
Tapi Ri, Aku bulak-balik itu ke Cipasir bukan ke cisitu, lagi pula kalau bukan melindungi mu dari pelaporan itu mana mau Aku nikah sama pengkhianat."
"Siapa yang bilang Aku nyebarin Fitnah tentang Nunung?" Tanyaku.
"Teh Ani." Jawabnya.
"Gila ya tu kaka kamu apa perlu aku yang lapor dia ke polisi karena pencemaran nama baik dan fitnah. Kang Jaya itu sudah di tipu sama Teh Ani dan Nunung, bodohnya lagi kenapa gak coba bertanya padaku untuk konfirmasi." Marahku karena Jaya mau aja dibodohi Si Nunung dan nenek lampir kaya Teh Ani.
"Jadi kamu gak fitnah Nunung?" Tanya nya cengo.
"Enggak lah seburuk-buruknya aku pada orang gak bakal fitnah takut juga sama dosa, kalau ngomongin sih iya pernah."
"Terus kita harus gimana?" Lagi Kang Jaya seperti kebingungan.
"Lah itu urusan kamu ya kang, suruh siapa bodoh di piara, ayam noh piara biar bertelor, bodoh mah malah bikin susah, eh enggak bikin enak dong, karena beristri dua habis malam pengantin lagi." Sindiran pedas ku.
"Ri jangan sinis gitu, Demi Allah aku gak mau sama Nunung, gak mau pisah juga sama kamu." Katanya Sayu dan lemah.
"Bukannya mendingan sama Nunung ya daripada Aku yang gak becus apa-apa. Bisanya nyusahin suami gak bakal bisa di ajak ber tani dan ke ladang." terus ku keluarkan unek-unekku atas apa yang sering di bicarakan keluarganya tentang ku.
"Ri, Aku akan cerai kan Nunung hari ini juga kamu antar aku ke KUA untuk pembatalan Nikah." Kata Kang Jaya.
Ri, kenapa dari semalam Aku Diam karena Aku ingin bicara dulu dengan mu tak mau gegabah takut jika Nunung melapor kan mu, bodoh nya Aku langsung percays pada mereka, Kini semuanya sidah terlihat jelas di depanku, semuanya terbuka, siapa yang sayang dan siapa yang memanfastksn." Ucap Kang Jaya.
"Lalu, menurutmu kesimpulan dari yang terjadi sekarang ini kesalahan siapa?" tanyaku pura-pura, ingin tahu saja pendapaynya.
"Keluargaku mereka dalang semua kekacauan ini, ingin menghancurkan kita dan memanfaatkan ku." Ucapnya lemah.
"Jadi bagaimana sekarang, kamu mau menceraikan Nunung? tapi untuk kembali bersama denganku, maaf Kang Aku butuh di yakinkan, sebaiknya Akang pikir kan lagi, menceraikan Nunung tapi tetap berpisah denganku untuk meyakinkan ku hingga aku menerima mu lagi, atau tetap bersama dengan Nunung dan menikmati dinginnya sel penjara namun tak berpisah denganku dan juga yakin kan Aku jika kamu berubah."
" Ri, Kini semua nya sudah jelas, pilihanku tetap meneraikan Nunung meski harus berpisah dengan mu, dan Aku Janji akan meyakikan mu jika mulai sekarang keluarga atau pun siapapun takkan lagi seratus persen ku percaya, ternyata benar tak ada yang lebih menyayangiku selain kamu dan anak-anak. Maaf juga Aku mengabaikan kalian selama ini karena Keluargaku selalu saja menghasut dan mem fitnah mu, bahkan kata mereka kamu mungkin selingkuh, itu sebabnya aku mendiamkan mu." Ucap Jaya seperti tak ber energi.
"Baik, itu terserah padamu dan ingat Kang jangan lupa kamu tebus kebun di Cipasir yang kamu gadei kan tagih pada Teh Ani. Dan jika dia sulit membayat, itu artinya mereka hanya memanfaatkan mu dan ingin menghancurkan kita. Nanti malam akan ku tagih hutang pada Keluarga mu yang lain, jika mereka tak membayar akan ku sita emas atau sawah milik mereka." Terang ku.
Lalu ku pamit padanya bergegas kembali ke warung.
Lega rasanya mendengar penjelasan Kang Jaya, namun sulit ku percaya dia mungkin saja ini hanya akal bulus mereka untuk kembali menyerang, karena mereka tahu Jaya kelemahan ku, meski mulut berkata pisah namun hati ini kembali luluh setiap memandangnya, Jaya memang tulus dan terpancar kasih di mata nya, namun aku takut kembali terluka.
Entah lah mungkin benar sering nya bersama bahkan hampir 14 tahun menikah jelas sulit bagiku membenci Jaya dan menghilangkan rasa cinta ini secara bersih, tetap masih ada puing kasih yang tersisa.
Tapi semua jelas harus tegas, karena aku ingin tahu apa Kang Jaya jujur atau hanya akal bulus tuk kembali menyayat kan luka di hati ini, untuk itu pilihan berpisah adalah mutlak. Biarlah jodoh ini ku serahkan pada Takdir dan Sang Kholik.
*****
"Ri, aku pulang dulu, akan ku beres kan semuanya hati ini juga, akan ku batalkan pernikahan dengan Nunung." Kata kang Jaya.
"Iya."
"Aku juga izin padamu agar di biarkan tinggal di villa kita di Cipasir, Aku tak pulang ke rumah Abah, sudah hancur kepercayaan ku pada mereka, kecewa rasanya salah apa kuta pada mereka hingga tiga menghancurkan sedemikian rupa." terlihat kaca-kaca di mata jaya.
"Itu milik kita ber dua, selama kamu tinggal di sana sendiri aku izin kan." Ucap ku.
"Terima kasih, karena setidaknya kamu masih berbelas kasih pada ku. Sampaikan sayang ku pada Hikam juga Asyifa. Nanti jika aku punya uang aku jenguk Asyifa." lalu jaya berlalu.
Ku lihat langkah gontai Kang Jaya membawa ransel yang ku yakini berisi beberapa helai pakaian, wajahnya lusuh dan terlihat kusut, pasti hatinya hancur, dikhianati keluarga di usir istri dan terpaksa harus menikahi wanita yang pernah mengkhianati di masa lalu, pasti berat.
Sebenarnya Aku tak tega tapi ketakutan masih menghantui, jika ini kemungkinan konspirasi mereka.
'Tuhan meski dia mengkhianati ku tapi berkah i lah hidupnya, lindungi dia bagaimana pun dia tetap Ayah dari ke dua putraku' Ucapku dalam hati sambil melihatnya pergi menaiki motor Vega butut milik nya.
Biarlah waktu dan Tuhan yang membuka tabir keburukan ini, menunjukan siapa yang bersalah dan siapa korban, karena untuk menerima segala pernyataan Kang Jaya saat ini sulit ku terima.
Jika benar yang di katakan Kang Jaya, rasanya begitu tega keluarga Abah pada kami, padahal rumah tangga ini sudah berjalan belasan tahun, sudah memiliki putra yang hampir remaja masih saja mereka mencoba memisahkan kami.
Sebegitu tak pantaskah diri ini untuk menjadi menantu keluarga Abah hingga hinaan, fitnah, bully bahkan hingga memanfaatkan ketulusan kami pada mereka. Tidak kah mereka berpikir jika harta yang ku pinjamkan untuk mereka tidak lah sedikit. Dan dengan sengaja mereka mengulur membayar, menipu suamiku menggadaikan kebun, mem fitnah ku dan menyusun rencana pengkhianatan ini begitu apik, ingin menguasai harta gono- gini milik kami serta menghancurkan rumah tangga kami.
Astagfirulloh, terbuat dari apa otak mereka hingga se keji itu berkonspirasi, bahkan tega membuat putraku terpisah dari Ayahnya.
Rasanya pikiran ku lelah, ku tutup warung secepatnya dan ku tulis Status Di WA ku jika hari ini warung ku tutup karena kurang enak badan, rasanya lebih baik istirahat memulihkan energi untuk menghadapi malam nanti.