Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Hasil tak Akan mengkhianati Usaha



Setting bab ini tahun 2010-2013


*******


Perjalanan hidup dari tahun 2010 hingga hari ini sungguh berliku, di mulai dengan menjual beras dan belajar menganyam lalu menjualnya sendiri dengan keliling kampung aku lakukan.


Bukan cuma pekerjaan seperti itu bahkan berjualan tembakau lempengan yang notabene ny pekerjaan lelaki pun aku lakukan.


Bahkan di rumah aku membuka warung kecil berdagang beras eceran dan basreng, setiap hari shalat malam pun tak pernah aku tinggalkan, setiap kali mengadu selalu saja rasa sakit yang kurasa, selalu terbayang kan begitu lancarnya Teh Ela memaki dan menghina hingga muncul energi lebih di tubuhku. Stamina tubuh yang menjadi lebih fit juga semangat yang berkobar bagai api tertiup angin bergemuruh di dada. Setiap hari aku bekerja tak mengenal lelah, dari gelap hingga malam, bahkan tak pernah ada waktu terbuang percuma.


Setiap bada subuh aku keliling kampung berjualan sayur matang dan gorengan yang aku ambil dari bibiku, Bi Arsih namanya bibi yang pandai memasak. Jualan yang ku jual dengan harga dua ribu rupiah akan ku dapat upah dua ratus rupiah, Alhamdulillah setiap dagangan yang ku bawa selalu habis tak bersisa, kadang ku dapat lima belas ribu rupiah setiap kali berjualan sayur matang itu. Sepulang berdagang aku mencari sayuran hasil bumi untuk di pasok pada bandar sayur di kampungku yang akan mereka jual ke kota bandung, tepatnya di pasar gede bage. 


Para bandar itu meminta di pasok Daun singkong, Waluh dan juga kunyit terkadang daun pepaya, sereh, salam, laja dan jahe.


Aku membeli borongan dari petani kemudian memasok pada bandar, setiap harinya keuntungan yang ku dapat bisa mencapai tujuh puluh ribu rupiah. Uang itu selalu ku sisihkan khusus untuk menabung dan biaya masuk paud Asyifa, Kang Jaya pun mendukungku sambil bertani ia membantuku mencari hasil bumi itu dengan motor butut kesayangan kami, Asyifa tak pernah kami tinggal, dia selalu ikut bersama kami baik hujan maupun panas.


Sedih rasanya ketika anak seusia Asyifa harusnya menghabiskan waktu untuk bermain, justru ikut dengan kami ke kebun-kebun untuk mencari rupiah, namun jika di tinggal pun rasanya kami tak tega. ber panas-panasan dan kadang ke hujanan, namun begitu Dia terlihat bahagia.


hari bergulir hingga tahun 2013 aku memulai usaha baru, tabunganku ku pakai untuk mulai mengkreditkan barang, dari mulai perabot dapur hingga barang mebel dan bangunan.


bahkan di tahun 2013 itu akhirnya kami mampu membeli sebidang tanah di depan rumah kami dengan luas sepuluh tumbak dengan harga dua puluh lima juta rupiah, bahkan tahun itu juga kami mampu mendirikan rumah permanen ukuran 8x10 meter meski rumah yang sederhana dan jauh dari kata mewah namun itu hasil jerih payah kami selama hampir empat tahun. Bukan warisan ataupun pemberian orangtua, semua mutlak hasil kerja keras kami berdua.


Hanya saja pada saat pembangunan rumah itu kami kekurangan uang lalu meminjam pada Abah, karena Abah habis menjual tanah bekas rumahnya dulu. Dan di sini bahkan kesabaran kami kembali di uji, karena saat sebelum menjual tanah itu Abah berjanji akan membayar tanah dan rumah kami yang di tempati Abah, namun nyatanya adalah bohong.


Malah capai menunggu, namun yang di tunggu tak juga kunjung datang mengantar uang atau bahkan sekedar penjelasan kalau uang itu sudah terpakai.


**********


"Bah, Aku mau pinjam uang untuk nambah modal dan juga pintu, karena modal kami kekurangan habis beli tanah yang di depan tumah." Kang Jaya memulai pembicaraan.


"Oh syukur Alhamdulillah, tapi kalau gak ada usng mah gak perlu beli tanah atuh jadi modalnya kurang." kata abah


" Sebenarnya kami juga udah beli pasir, batu sama bata buat bikin rumah permanen, jadi modalnya kepake separuh." 


"Emang kamu punya duit sok-sok an mau bikin rumah gedong?" Abah tersenyum sinis.


"Iya bah insya allah meski punya sedikit uang kami akan membangunnya."


"hidup itu jangan banyak mimpi sakit kalau pas bangun, apalagi tingi-tinggi mimpinya,nanti kalau jatuhnya sakit bahkan bisa koid." balas Abah


"Maaf bah, kalau bicara itu sebaiknya yang baik-baik, karena ucapan itu adalah doa', kalau gak mau minjam min ya udah bah gak perlu ngomong gitu, makanya abah itu harusnya main ke rumah kami yang reyot itu biar abah tahu kalau kang Jaya itu bukan cuma bermimpi, dan yang kami ucapkan itu nyata." Ucapku memburu menimpali obrolan mereka.


Sungguh terlalu abah itu menghina terus pada kami, semenjak aku dan Kang Jaya pindah ke kampungku lima tahun lalu tak pernah sekalipun dia berkunjung ke gubuk kami, hingga mungkin dia berfikir kalau omongan suamiku itu omong kosong atau mungkin halusinasi.


****


Abah menjual tanahnya seharga lima belas juta, bahkan dia sudah menawar rumah dan tanah milik Kang Jaya yang sekarang mereka tempati dengan harga lima belas juta itu, namun entah kenapa ketika tanah itu terjual justru tak pernah ada Abah yang mengantarkan uang pada kami.


Kata Dudung uang Abah di belikan kebon di kaki gunung seharga enam juta, dan membeli perhiasan emas untuk Mih satu set seharga tujuh juta rupiah, sementara yang satu juta di pakai untuk mengurus surat-surat. Sisa uang satu juta yang dipinjamkan pada kami hari ini.


*****


"Kang, sebelumnya maaf jika Riyani bicara tidak berkenan tapi sungguh rasanya sangat sakit hatiku ketika Abah bilang mau membeli tanah akang tapi nyatanya malah membeli kebun dan emas." kataku menangis terisak.


"Sabar ya Ri, mungkin belum rezeki kita dan mungkin karena tanah itu pemberian Abah, jadi abah merasa itu miliknya yang tak perlu di bayar."


"Tapi Kang, Abah sendiri yang bilang, harusnya jangan di dulu kan omong kalau akhirnya begini, padahal dulu aku udah ikhlas rumah dan tanah itu untuk mereka. Hitung-hitung tanda bakti Akang pada mereka."


"Sudahlah, jangan menangis malu kamu nanti orangtuamu kira kita bertengkar, untuk apa meratapi yang sudah terjadi."


Aku mulai berhenti menangis dan ku tancap kan dalam hati jika kehidupan ku harus berubah, akan ku tunjukan kesakitan ini dengan keberhasilannya di masa yang akan datang, akan ku bungkam mulut Abah dan ipar dengan segala bentuk kesuksesan.


*****


Tahun 2013 akhirnya kami membangun rumah, Abah meminjamkan emas seberat sembilan belas gram pada kami.


"Ini kamu pakai gantinya boleh kapan saja kalian punya, jangan di ganti emas lagi takutnya harga emas makin naik. Ingat saja harga belinya berapa. jadi gantinya pakai uang saja." 


"Iya bah makasih, insya Allah kami cepat menggantinya, harganya tujuh juta tiga puluh ribu rupiah ya bah." ucap Kang Jaya.


" Ini juga ada padi 60 kg kamu giling buat makan tukang nantinya. Juga beras ketan 30kg.  Terus kayu yang di sawah kamu pakai itu udah di tawar lima ratus ribu sama bandar tapi kamu pakai saja hitung-hitung Abah ikut bantu, bambu reng juga kamu pakai seperlumu kayaknya lima juga cukup." kata Abah


"Iya bah terima kasih banyak."


Sungguh hari ini aku sangat bahagia karena Abah ikut menyumbang kayu, bambu dan beras. Bahkan meminjamkan semua emasnya untuk kami pakai membangun rumah, padahal dulu dia yang begitu menghina kami bahkan menyebut suamiku itu pemimpi.


Mungkin Abah sudah insyaf. Atau mungkin sudah mulai merestui pernikahan kami, kadang amu sering berfikir kalau sikap semena-mena Abah, Mih dan para iparku itu karena mereka tak pernah merestui hubungan Aku dan Kang Jaya.


*****


Rumah pun akhirnya beres di bangun dengan waktu empat puluh hari pengerjaan dengan lima orang tukang dan tiga orang laden.


Bahagia meski hati ini lagi-lagi tergores namun aku mulai masa bodoh dengan tingkah para iparku.


Ya selama pembangunan rumah berlangsung, tak seorangpun kakak Kang Jaya yang hadir atau memvantu, padahal saudaranya itu ada lima namun sepertinya mereka enggan membantu. Meski mereka beralasan sedang sibuk mengurus tembakau.


Bahkan hingga syukuran di adakan di rumah kami untuk pindahan kami ke rumah baru, tak ada satu pun iparku yang datang. Sungguh terlalu mereka, namun untuk mengeluhkan semua pada Kang Jaya rasanya tak tega karena Kang Jaya begitu menyayangi mereka. Takutnya aku di anggap memfitnah dan menghasut.


Biarlah semua mengalir apa adanya karena suatu hari nanti jika memang mereka berhati busuk pasti akan terkuak dengan sendirinya.