
kisah ini kisah teman kebetulan aku jadikan cerita dan lebih di dramatisir pake bumbu fiksi.
Seting ceritanya tahun 2007/2008 sehingga harga tanah dan rumah saat itu masih murah.
jika di bandingkan tahun sekarang nilai sembilan juta itu mungkin sekitar sembilan puluh jutaan.
oh iya di *** app aku nulis denfan judul yang sama, namun akunnya Yaniafwa.
selamat membaca.
************
'Saat aku terbangun ternyata kasurku sudah basah, aku fikir aku ngompol. Nyatanya justru cairan bening yang keluar dari jalan lahir justru tak mau berhenti. Mungkinkah aku akan melahirkan. ' monologku.
"Kang, maaf membangunkanmu tapi sepertinya aku mau melahirkan." sambil menggoyang kan tubuh suamiku.
"Kenapa? masa mau melahirkan, kandungan mu itu mau jalan delapan bulan belum waktunya melahirkan." Ucap suamiku enggan terbangun.
"Tapi kasurku basah, dan gak bau pesing malah cairan bening ini terus keluar dari v****aku tanpa jeda, gak bisa berhenti." Ucapku
Kang Jaya pun terbangun dan langsung memeriksa apa yang aku katakan, dia bergegas keluar membangunkan Mih. Namun Nihil tak ada yang terbangun.
Mereka semua terbuai dalam mimpi, dan mungkin berfikir jika aku dan suamiku berbohong, karena usia kandunganku yang baru menginjak delapan bulan.
Kami pergi memakai motor Yamaha Vega, motor milik suamiku yang baru lunas cicilannya. kami di Desa saat itu belum di gerak kan melahirkan di bidan hingga yang kami tuju saat itu rumah mak paraji Mak Cacah namanya.
"Mak, assalamualaikum....." kang jaya menggedor pintu, kemudian Mak Cacah keluar. Tak susah membangunkannya karena waktu memang hampir subuh.
" Ada apa toh Jang?"
" ini mak, istriku mau melahirkan, keluar air dari jalan lahir gak bisa berhenti mak." Ucap Kang Jaya panik.
" Oh mari masuk."
Kami masuk, dan aku tiduran di kasur, Mak Cacah memeriksaku perut ku dan jalan lahir di periksanya. "Neng, bagaimana bisa kamu mau lahiran sedang kandunganmu kan baru jalan delapan. Ini bayimu saja masih di atas dia masih muter-muter cari jalan." Ucap Mak Cacah.
"Iya Mak, kemarin Aku ngambil kayu bakar di saung ladang dan menggendongnya ke rumah, tapi aku terpeleset dan jatuh terlentang." Ucap ku.
"MasyaAllah Neng, perut udah kaya ikan impun aja masih bawa yang berat nyari masalah kamu, jadinya bayimu lahir prematur." Ucap Mak cacah sambil memijit punggungku.
" Tapi ber doa' sama Allah neng, moga kamu dan bayimu lahir selamat dan di beri kemudahan."
Mak Cacah menyuruh Kang Jaya pulang mengambil kain jarik dan juga pakaianku dan bayi, sementara aku terus merasakan mulas di perut setiap dua puluh menit, dan terus minum air putih serta berjalan mondar-mandir.
**********
Oek-Oek, suara bayiku menangis kencang. Putra ku, yang terlahir sebelum genap sembilan bulan ku kandung itu terlahir selamat jam 08;00.
Bahagia dan syukur tak henti terucap, karena meski baru delapan bulan tapi Dedek lahir sempurna tanpa cedra, dia terlahir dengan bobot 2,2kg saja begitu mungil.
Kang Jaya mengadzani dan iqomat bayi kami, tiba-tiba rasa haru menyeruak di hati. Air mata mengalir perlahan, teringat begitu bersusah payahnya aku melahirkan dedek, membuatku ingat begitu banyaknya dosa pada ibuku, yang pastinya sama denganku merasakan kepayahan ketika melahirkan.
*******
Jam 16; 00 kami pulang, bukan pulang ke rumah Kang Jaya namun pulang ke rumah ibuku. Ini permintaan Bapak agar ibu bisa ikut mengurus dedek. Karena kami belum punya pengalaman mengurus bayi, terlebih lagi dedek cucu pertama ibu dan Bapak.
Setiba di rumah Bapak para tetangga berdatangan, namun rasa sedih mentyeruak di hati, sedih karena biyaya ke Mak paraji sebesar Tiga ratus ribu belum terbayar.
Uang pegangan ku cuma lima puluh ribu rupiah. Tiga hari yang lalu semua uang kami habis di bayarkan rumah, rumah Mang Ade yang tepat di belakang rumah Ibuku ini.
Hanya saja rumah belum bisa di tempati, karena rumah Mamang yang baru belum selesai dan baru akan beres sebulanan lagi Tembakau yang kami tanam pun sudah terjual, namun uangnya masih harus nunggu seminggu lagi.
Sungguh miris kelahiran dedek yang prematur, ke Mak paraji belum terbayar dan mertua serta ipar tak ada yang peduli. Tapi aku bahagia karena anak ini, anak yang sangat kami tunggu kelahirannya siang dan malam. Semoga menjadi pelipur lara di hidup kami.
"Ri, Alhamdulillah tadi akang nagih ke juragan Sardi, uang tembakau sudah di bayar tadi Akang juga udah bayar Mak Cacah. Kamu jangan banyak pikiran, sisa uangnnya tinggal dua juta lagi, kamu simpan buat aqikahan dedek ya." Ucap Kang Jaya membuyarkan lamunanku.
" Iya kang, syukur Alhamdulillah Ya Allah akhirnya kita gak punya hutang ke Mak Cacah." Ucapku lega.
****
Sebulan berlalu Mih datang terisak-isak menangis. Kukira ada apa, terharu atau bagaimana, nyatanya dia menangisi Kang Jaya. Karena saat Mih datang Kang Jaya sedang mencuci pakaian dedek yang ngompol terus.
Aku tersenyum dalam hati dongkol minta ampun, kukira menangis karena cucu dan menantunya pulang ke rumah orangtuaku, dan dia rindu. Eh malah nangisin anaknya yang dia kira lagi di jajah di suruh istrinya mencuci pakaian.
"Mih sedih, Jaya itu dari kecil sampai sekarang mana pernah Mih suruh cuci baju, lelaki itu bukan kodratnya nyuci." kata Mih sambil terisak.
"Mih gak tiap hari nyuci ko, Kang Jaya nyuci kalau Ibu sama Bapak lagi pergi kuli ke kebun juragan Aji saja." timpalku kesal, giliran anaknya yang nyuci psksian orok ditangisin, apa kabar denganku yang mereka perintah setiap hari. Nyuci baju empat keluarga, nyapu, ngepel, memasak dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa bantuan. Jangankan di bantuin atau di tangisi, bahkan sekedar ucapan Terima kasih saja mana ada, kayaknya ogah banget.
Mih datang sendiri, sedang para kakak Suamiku belum ada satupun yang melongok, semenjak Dedek Muhammad Asyifa lahir yang menengok para tetangga dan keluarga dari bapak dan ibu terus berdatangan setiap hari. Sedangkan dari keluarga Kang Jaya sepertinya mereka Haram menginjak gubuk Bapakku yang sederhana ini.
Padahal di bandingkan rumah kami di Desa Sukasari sana, masih enak rumah Bapak Ibuku, lebih leluasa dan terawat.
Mih datang hanya sampai dzuhur, selepas dzuhur ia pulang di antar Kang Jaya. yang dia bawa beras dan ayam untuk kami.
Kata Mih, para kakak akan menengok nanti saja jika kami sudah pindah kerumah yang baru kami beli. Mungkin mereka akan merayakan kepergian ku atau malah akan menangis karena kehilangan pembantu gratisan.