
Sebenarnya perih hati ini melihat Riyaniku semakin hari semakin kurus, aku tahu dia tidaklah diet seperti alasannya, aku tahu dia menderita tinggal serumah dengan kakakku. Apalagi dari pertama Mih tak pernah menyukai Riyani.
Istriku orang yang sama dengan kami bukan orang kaya, sebenarnya masalah Mih tak suka bukan karena harta, tapi karena dia bukan petani seperti kami, kata Mih orang yang bukan petani itu tidak becus apa-apa.
Hingga tiap hari pekerjaan rumah Riyani yang mrngerjakan.
Padahal kakak-kakakku pun tidak pernah kekebun karena suaminya bukan petani, beda dengan dua kakak tertuaku memang petani ulet tapi nyatanya kehidupan ekonomi mereka juga masih biasa saja.
Sedang adik bungsuku juga sudah punya rumah sdndiri, sering istriku berkeluh kesah ingin pindah rumah, aku tahu dia sudah merasa tersiksa tapi bukan aku mempertahankan rumah ini. Ya prinsipku jika mereka memang menginginkan rumahku ini aku akan memberikannya jika kami sudah bisa membeli rumah dan tanah.
Iya tanah ini bagianku, dan rumahnya hasil aku berdagang sebelum menikah.
Tapi dulu abah sakit hingga pindah kerumahku dan aneh setelah abah sembuh justru kskakku juga ikut pindah. Rumah abah pun di jual pada Teh Ani alasannya karena Teh Ani pingin mandiri. Tapi sampai sekarang Abah tak ada itikad baik pindah dari rumahku.
Andai saja tabungan ku cukup buat beli rumah paman Ade di kampung Bapaknya Riyani, sudah ku bawa Istriku itu pindah, terlebih dia sedang mengandung dan sebentar lagi melahirkan.
Sayang pegangan uangku cuma satu juta, itu pun untuk bekal bersalin nanti, takutnya Riyani melahirkan tak punya pegangan uang, meski hasil panen kol sudah di belikan kalung.
Sekarang pun kami sedang menanam tembakau, dan mudah-mudahan bisa segera panen dan terjual supaya bisa mewujudkan cita-cita istriku untuk membeli rumah dan tanah, agar hidup kami mandiri.
Sebenarnya bisa saja aku menjual rumah ini pada Abah dan membelikannya di kampung Riyani, namun dari pertama keputusanku untuk menikah dengan Riyani saja, Abah dan Mih sudah tidak setuju. Buktinya tabunganku untuk menikah dengan Riyani saja habis tak bersisa.
Bahkan Kalung Emas yang ku titipkan untuk mahar pun ikut raib terjual atau mungkin juga sengaja di sembunyikan karena mereka tak setuju aku menikah dengan Riyani.
Alasan klise dari Abah dan Mih membuatku tak mundur menikahi istriku itu, hanya karena tidak terlshir dari petani, tak bisa ber tani menjadi alasan mereka melarangku menikahi Riyani.
Riyani gadis yang terpaut usia jauh denganku, sepuluh tahun, aku yang berusia dua delapan menikahinya yang baru masuk usia delapan belas. Gadis yang masih kekanakkan dan manja.
Riyani gadis sederhana yang bersahaja, baik budi pekertinya juga terdidik, cukup luas juga pemahaman agamanya,serta berasal dari keluarga baik-baik. Kekurangannya cuma masalah tak bisa bekerja di kebun.
Mana mengerti Riyani ber tani dia terlahir dari keluarga kuli, keluarga mereka tak memiliki sawah dan kebun, jangankan bertani bahkan melihat tanaman seperti kol dan tembakau saja ketika dia mulai menikah denganku.
Tapi aku menikahi Riyani karena memang menyayanginya, dan menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Bukankah menikah itu perkara saling melengkapi, saling menyayangi dan saling membimbing.
Aku yakin Riyani memiliki tingkat ke uletan dan ke rajinan yang baik, tak bisa bekerja di kebun karena tak bisa bukan karena malas.
Akan kubuktikan bahwa dengan bimbinganku Riyani akan mampu bekerja di kebun serta menjadi petani yang handal sama seperti yang di harapkan keluargaku.
*****
Setiap hari aku bertani, dan seminggu tiga kali sku berdagang, menjual aneka macamm perabot dapur hasil anyaman bambu.
Bahkan rumah ini pun dulu hasil aku berdagang hingga mampu membangun rumah panggung ini, namun jika memang keluaegaku tak lagi mengungkit masalah rumah ini maka rumah ini aksn kubirakan saja mereka tempati.
Fokus ku saat ini adalah mewujudkan impian Riyani untuk memiliki rumah sendiri dan juga menyiapkan tabungan untuk kelahiran anak pertama kami.
Saat ini Riyani sedang mengandung, tak ada morningsiknes seperti kebanyakan ibu hamil. Dia menjalani kehamilannya tanpa ada kendala, bahkan nafsu makannya meningkat. Namun di rumah ini dia sering tak bisa makan sampai kenyang, karena nasi di sini terbatas.
Meski hidup di era merdeka bahkan era reformasi, namun ekonomi keluarga ini belum merdeka, meski ke dua kskakku bekerja sepertinya untuk membeli kebutuhan dapur bsgi mereka itu sangat pelit.
Dapur ini bisa mengepul mengandalkan hasil panen dari sawah Abah, dan lauk serta bumbu dan kebutuhan dapur lainnya bertumpu padaku. Ingin aku rasanya aku protes dan meminta bantuan membeli minyak dan bumbu namun mereka teramat perhitungan dan pelit. Setiap Abah meminta uang pada mereka maka harus menunggu seminggu baru mereka memberikannya itu pun hanya sekali dalam beberapa bulan, kadang enam bulan sekali mereka baru membantu kebutuhan dapur.
Padahal di bandingkan denganku, penghasilan mereka melebihi penghasilanku. Bahkan emas yang mereka pakai pun begitu banyak seperti toko emas berjalan saja.
Tak ada rasa takut pada diri ke dua kakakku itu, padahal emas yang mereka pakai bisa mengundang perampok.
Tapi anehnya mereka tak mau hidup mandiri padahal sekedar membuat rumah panggung bahkan petmanrn sekalipun mereka mampu.
Tapi sepertinya mereka memang tak mau karena tak mau keluar uang untuk biyaya dapur dan makan.
Memang di antara semua saudaraku mereka berdua itu manusia paling pelit dan perhitungan, hitungannya melebihi kalkulator komputer. Tapi hitungan mereka selalu untuk di simpan dan di belikan emas.
Sedangkan setiap di minta untuk beli kebutuhan sehari-hari alasannya selalu Gak ada duit.
Pernah Abah sakit dan harus di periksa, kebetulan aku sedang tak ada uang, Aku meminjam pada mereka alasannya tetap tak ada Duit. Padahal itu Abah yang sakit bukan aku.
Keluargaku, keluarga yang aneh bin ajaib. Pelit, pait dan sangat perhitungan.