Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Pernikahan Rahasia



Semenjak ku tagih hutang para ipar satu persatu, mulai terkuak semua rahasia perilaku mereka, kalau selama beberapa tahun terakhir ini hanya bersandiwara, pura-pura sayang aslinya ingin menendang. Pura-pura perhatian dalam hati mereka membenci.


Kang Jaya tak lagi ku hiraukan kemana dan di mana dia berada, karena setiap hari pergi ke Cisitu, entah dia melakukan kewajibannya sebagai insan Tuhan ataupun tidak, karena nafkah tak pernah ku dapat lagi. Yang ada setiap pulang uring-uringan tidak jelas, marah dan kemudian mengurung diri di kamar.


Fokus ku saat ini adalah kedua putraku, dan menagih hakku pada para ipar, toh dulu waktu nikah tak bawa tanah, sawah dan juga tumpukan uang, jadi jangan harap Jaya mampu membodohi ku.


Semua tanah, dan rumah suratnya sudah ku ubah atas nama diriku, bukan berbuat licik tapi berjaga-jaga saja jika nantinya justru Kang Jaya kembali berbuat curang.


Bukankah selain cinta dan kepercayaan selalu bersanding pula rasa curiga dan pengkhianatan.


*****


Entahlah setiap malam selalu ku selipkan doa' untuk keluarga ini, untuk Kang Jaya juga memohon agar sikapnya kembali seperti semula. Jika di renungi memang agak janggal, suami yang penyayang, dan teramat memperhatikan keluarga justru berubah menjadi lelaki yang misterius cenderung berbohong, dan acuh pada keluarga. Bahkan ke dua anak kami tak lagi mengenal sosok ayah yang begitu di cintainya.


Dulu Kang Jaya kepala keluarga yang ku banggakan suami setia, romantis dan perhatian. Kini dia berubah tak tersentuh, mengabaikan dan lebih memihak pada saudaranya di banding istri dan anak.


Semenjak adanya percobaan guna-guna itu dia berubah bagai kan orang lain, bukan lagi Jaya Suamiku.


Bahkan perhatiannya untuk Hikam pun sangat minim, padahal dulu dia yang paling sewot jika aku lalai mengurus anak, tapi sekarang justru dia yang berubah, bahkan Hikam cenderung menjauh dan tak lagi menempel pada Ayah nya.


******


Semenjak tujuh bulan ini tak lagi ada komunikasi antara aku dan Kang Jaya, hambar dan seperti tak saling mengenal, kadang dia marah tak tentu arah dan hilang kendali.


Hingga hari ini rasa sakit hati ini mencapai puncak dari segala kesakitan yang pernah ku alami. Di khianati dan hancur luruh tak berkeping, bukan cuma para ipar dan Abah saja yang kini menyakiti, bahkan suami yang ku percaya, tumpuan harapan, tempat ku mencurahkan keluh kesah dan pundak untuk bersandar. Dia menjadi penghancur terbesarku mungkin rasa sakit ini takkan hilang hingga nanti.


Sore itu ku duduk santai di ruang keluarga bersama Hikam yang anteng menonton film kesukaannya upin ipin, tetiba saja seseorang dengan nomer tak di kenal mengirim video lewat Wa.


Betapa hancur perasaan ini, lemas tak berdaya, tak percaya lagi diriku padanya bahkan mungkin padam sudah rasa cinta ini untuknya.


Sesak memenuhi rongga dada, bahkan seketika kepala ikut pening, keringat dingin membanjiri dan tubuhku mendadak lemah tak berdaya.


Ku pegang gawai itu ku putar sekali lagi video nya. Benar tak salah lagi orang yang sedang mengucap ijab qobul itu suamiku tercinta Kang Jaya.Terlihat seorang wanita yang ku kenali yang memakai kebaya putih dan hiasan melati itu, ternyata selama ini mereka berkhianat di belakangku.


Nunung, wanita itulah yang menjadi pengantin wanita di video itu, terlihat bahagia wanita srigala itu tersenyum penuh kemenangan. Kulihat Kang Jaya di sana dia tanpa ekspresi cenderung seperti boneka bodoh yang di manipulasi.


Entah siapa yang mengirimkan video itu, yang jelas orang-orang yang ada di sana akan menjadi target pembalasanku.


'Ya Allah beratnya ujian ini, seandainya memang Jaya bukan lagi jodoh ku maka berikanlah jalan keluarnya, jika dia jodoh ku maka tunjukan lah kuasa Mu karena hamba tak ingin di madu, bahkan di bohongi seperti ini.' monologku.


Tak terasa air mata ini terus meluncur terisak diri ini di pembaringan, Hikam yang polos mengikutiku, menciumi ku seakan dia tahu betapa sakit nya sang bunda, padahal dia tak tahu saja bahwa sang Ayah telah berkhianat dalam keluarga, membohongi kami sedemikian rupa bahkan menghancurkan dinding ke percayaan kami.


Bangkit dari pembaringan, ku pikir kan bagaimana cara membalas telak mereka, akan ku hancurkan mereka seperti mereka menghancurkan ku.


Ku ambil gawai dan ku trkan nomer seseorang, bukan waktunya menangisi semua yang terjadi, tapi harus bergerak secepat angin untuk membuat mereka menyesal telah mempermainkan hidup ku.


"Assalamualikum..." jawaban dari sebrang.


"Waalaikum sallam wa, boleh saya minta tolong, Uwa datang ke sini sekarang juga ya, ada hal penting yang ingin saya bicarakan, Jangan lupa nanti Uwa ajak Bapak juga di rumahnya aku tak bisa ke belakang, Hikam sendiri di rumah penakut dia kalau sudah magri begini." kataku.


"Iya, nak tunggu di sana." Kata Uwa di sebrang sana.


Uwa memang type tak banyak tanya dan tak banyak bicara.


Kututup gawai dan kembali duduk menunggu Uwa Anan datang.


Bagus kita lihat apa masih bisa Nunung beserta ipar-ipar julid ku tersenyum setelah ini, takkan ku biarkan kalian bernafas lega, senyum kemenangan dari kalian takkan lagi bertahan dan berganti dengan tangis dan jeritan pilu penyesalan.


'Maaf kan istri mu ini Kang Jaya, rasa cintaku padamu masih besar dan teramat tulus, namun kau merusak mahligai suci ini dengan kebohongan dan pengkhianatan, maka tunggu saja balasan dari istri tercinta mu ini.' ucap ku dalam hati.


******


Ba'da magrib Uwa Anan datang bersama Bapak, ku ceritakan dan ku berikan gawaiku agar mereka melihat video ijab qobul Kang Jaya.


"Riyani kenapa kamu tak pernah cerita pada Bapak nak, jika selama ini kau tak baik-baik saja?" tanya bapak yang terisak.


Tak pernah ku lihat Bapak menangis meski sakit atau bahkan terluka sekali pun dia selalu tegar, tapi kini ku lihat cinta pertama ku itu terluka dan rapuh karenaku.


"Maaf pak, Aku tak ingin membebani bapak." jawabku terisak karena tak tahan lagi melihat Bapak yang begitu kecewa melebihi diri ku.


"Jadi apa yang terjadi?" kata Wa Anan.


Kuceritakan semua kejadian yang ku alami semenjak awal menikah hingga semua perbuatan para ipar dan mertuaku selama ini, yang tak pernah ku ceritakan pada siapapun termasuk pada Bapak dan Ibu sekalipun. Bahkan tentang kemungkinan teluh dan guna-guna yang di kirim Nunung kuceritakan tak terlewat perubahan Kang Jaya juga kebohongannya yang menggadaikan tanah di Cipasir.


Ku ambil semua surat rumah dan tanah yang telah ku rubah, serta surat nikah ku. Aku mantap ingin bercerai dari Kang Jaya dan akan ku sita semua barang yang ada pada Teh Ani dan Teh Didah serta akanĀ  ku laporkan Wanita gila Nunung pada polisi malam ini juga. tentu itu hadiah pernikahan dariku untuk mereka.


Tentunya siapapun tak kan menyangka jika selama ini semua surat sudah ku ubah,bahkan mobil pick up kami sekalipun sudah ku oper nama menjadi milik ku. Akan ku telanjangi Kang Jaya tanpa jeda bahkan tak sehelai baju pun yang akan ku berikan. Biarkan dia menikmati kemelaratan karena itu adalah pilihannya.


Bodohnya juga, Kang Jaya selalu membawa mobil tanpa pernah melihat STNK dan memeriksa surat-suratnya, hingga dia tidak menyadari jika surat itu sudah beralih nama.


Dia datang hanya dengan dua setel pakaian di ranselnya serta motor vega keluaran 2004 miliknya. Maka pulang pun takkan jauh berbeda dengan dirinya ketika datang ke sini dan menikahiku.


Bukan Aku tega namun kelakuannya telah mengoyak harga diri dan harga mati sebuah kepercayaan, ketulusan, cinta dan harapan.


Uwa Anan dan Bapak secepatnya berangkat ke Cisitu bersama tetangga kami yang mampu mengendarai mobil, Mang Dadang namanya. Semua surat telah ku bawa, Aku dan Bapak mengendarai motor Vega Kang Jaya, Wa Anan bersama Mang Dadang membawa motor beat ke sayanganku, maksud kami ke sana untuk meminta cerai dan menukar mobil yang di pakai Kang Jaya dengan motor Vega nya.


Tak lupa ku bawa surat perjanjian Antara Aku dan Nunung, ketika musyawarah kala itu. Akan ku laporkan dia dan ku ancam dari sekarang. Bahkan surat perjanjian untuk membayar hutang para ipar aku bawa. Di sana tertera jika mereka melewati batas waktu enam bulan dari surat itu di buat maka mereka akan sukarela memberikan barang berharga berupa tanah atau emas untuk di sita sebagai jaminan utang piutang. Tentu saja Teh Ani dan Dudung sasaran ku berikutnya setelah ku sita sawah milik Teh Didah. Akan ku tel*njang* kepongahan mereka, akan ku kuliti segala bentuk ke curangan bahkan ku balas pengkhianatan mereka selama ini.


Sungguh mereka tega, setidaknya jika membenci dan tak merestui pernikahan ku dengan Jaya tapi pikirkan perasaan kedua putra ku, mengalir darah keluarga mereka di tubuh putra-putraku, namun sebegitu tega membuat keduanya terpisah dari Ayah nya, membuat mereka memiliki ibu tiri dan membuat ayahnya menjadi seorang pengkhianat.


Rasanya bahkan tak ingin ku mengakui mereka sebagai paman dan bibi kedua anakku. Mereka yang tak berperasaan bahkan rela memstahkan kepercayaan kedua putraku.


******


Setiba di Cisitu.


Ku datangi rumah Abah terlebih dulu, kami sampai jam delapan malam di Cisitu, di sana keluarga inti sedang berkumpul, mungkin mereka sedang merayakan kemenangan.


Teh Didah, Teh Ani, Dudung, Kang Amir dan Teh Ela mereka bahkan keluarganya sedang berkumpul. Mereka tampak tercengang dengan kedatangan kami bahkan terlihat wajah-wajah pongah bercampur takut di wajah tanpa dosa mereka.


"Ada apa ya kok ramai-ramai ke sini?" Tanya Kang Wawan suami Teh Ela.


"Maksud kami ke sini ada sesuatu penting yang harus di rembuk." Jawab Wa Anan tenang.


"Masalah apa ya?" Tanya Abah.


"Maaf sebelumnya tapi harus ada Jaya di sini karena ini bersangkutan dengan Jaya." Kata Uwa.


"Oh Jaya lagi keluar." Kata Teh Didah menimpali.


""Keluar atau lagi senang-senang teh?" Sambar ku sudah tak sabar.


"Sst.... diam nak, harus sopan." Kata Bapak.


Mereka saling melirik, bahkan Teh Didah nampak kikuk. Sepertinya mereka tidak tahu jika aku sudah tahu kebusukan mereka, lalu siapa yang mengirim video itu apa mungkin Nunung, Wanita pelak*r bodoh, ingin menyakiti ku justru kebodohannya akan menghancurkan diri sendiri.


"Mir, kamu susul adik mu" Kata Abah yang nampak sudah tidak tenang pada Kang Amir.


"Baik pak."


Lalu Kang Amir berlalu keluar, mungkin menyusul Jaya ke rumah wanita gila itu.


'Baiklah, permainan akan segera di mulai sayang.' Monologku


Bersambung