Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Luka yang tak pernah sembuh



Setting cerita tahun 2013


*****


Rumah sudah terbangun, dan usaha kredit barang serta sembako yang aku jalankan setiap harinya semakin maju.


Semakin banyak konsumen yang menjadi pelangganku, bahkan ada beberapa teman menjadi mitra untuk mengkreditkan barang yang aku keluarkan dengan sistim persentase.


Rasanya meski ujian datang silih berganti, namun akhirnya kami mampu melewatinya, bahkan bisa di katakan rumah tangga yang aku jalani begitu tentram tanpa ada rintangan kecuali recokan dari keluarga Kang Jaya.


Setiap bulan aku mampu memiliki penghasilan bersih tiga juta rupiah, namun semenjak aku membuat usaha kredit barang, Kang Jaya mulai membantu di rumah tidak lagi berjualan keliling, tapi urusan bertani dia tak pernah berhenti.


*****


Meski aku punya usaha kredit, aku tetap memasok barang hasil bumi pada bandar, lumayan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Sebab sekarang Kang Jaya tak lagi memberi uang. Kang Jaya dan aku memutuskan untuk usaha bersama saja bertani, mengkreditkan barang dan memasok barang hasil bumi pada bandar.


Kami bahu membahu bekerja sama menafkahi rumah tangga kami, tak pernah aku merasa lebih mampu dari Kang Jaya, bagiku Kang Jaya tetap kepala rumah tangga yang wajib di hormati, apapun dan bagai mana pun ke adaan nya.


Meski hidup rumah tangga kami memang tak seromantis romeo dan juliet tak pula se sopan seperti suami istri ke banyakan, karena hidup aku dan Kang Jaya justru seperti sahabat.


Saling memberi pendapat, saling membantu dan saling menyayangi meski cara komunikasi kami seperti teman, tapi kata Kang Jaya dia memang tak gila penghormatan dengan kata, justru penghormatan dengan sikap dan kesetiaan yang di junjung tinggi oleh Kang Jaya.


Karena dia pernah trauma dan terluka dengan pengkhianatan dari perempuan di masa lalunya.


****


Asyifa putra kami pun tahun ini mulai masuk SD, dia tumbuh menjadi anak yang baik, mengerti keadaan orangtua, tidak rewel dan rela di tinggal di rumah bersama Kakek dan neneknya.


Asyifa bahkan sudah berumur enam tahun, namun tak pernah ada satu pun uwa atau Mamangnya dari pihak Kang Jaya yang menengok ke rumah, bahkan tak pernah seribu rupiah pun Asyifa mendapatkan uang jajan dari mereka.


Meski hari perayaan idul fitri sekalipun, tak pernah keluarga Kang Jaya menginjakan kaki di rumah kami, atau pun memberi ampau pada Asyifa. Pernah sekali waktu lebaran, teman-teman Asyifa memperlihatkan uang tabungan yang mereka dapat dari sanak saudaranya ketika lebaran, namun Asyifa justru pulang dan menangis.


Bahkan dia tak mau lagi di bawa ke rumah Abah atau ke rumah keluarga Kang Jaya yang lain seperti Dudung atau pun Teh Ani.


Sungguh aku tak mengerti dengan mereka pelit, irit atau memang kere, tapi mana mungkin orang kere emasnya banyak.


Mereka memang pelit jangankan untuk bersedekah untuk makan saja berfikir dua kali untuk membeli lauk pauk, kalau tidak mereka menenteng piring kosong ke rumah Abah lalu pulang ter isi penuh.


Mungkin ibarat kata rumah Abah itu, seperti cas san saja, tempat mereka mengisi energi. Upps ngegibah yang hakiki.


*******


Percakapan suatu sore antara aku dan Kang Jaya.


"Kang, setiap sebulan sekali kita tentukan waktu untuk memberikan nafkah belanja pada keluarga kita, insya allah sekarang penghasilan kita sudah ada lebih dari pada untuk menutupi kebutuhan sehari-hari." kataku pada suatu sore ketika bersantai di rumah.


" Akang mah ikut aja apa kata kamu Ri."


"Bagaimana jika setiap tanggal lima." ucapku.


"Iya, apalagi uang Abah sama Mih belum bisa kita ganti." kata Kang Jaya.


"Akang sih kan Riyani sudah pernah suruh Akang bayar, eh malah Akang pingin beli motor be*t." ucapku.


Ya kami pun sudah membeli satu unit motor matic baru untuku pergi berbelanja barang kredit.


" Bukan Akang tidak mau bayar hutang, namun hitung-hitung Abah gade rumah kita." ucap kang Jaya tanpa dosa.


"Ih Akang mah tetap saja hutang mah hutang, mau hari ini, besok, atau sepuluh tahun lagi tetap harus di bayar." Selaku.


Namun percakapan kami pun berakhir tanpa kepastian dari kang Jaya kapan mau membayar hutang pada Abah.


Tapi semenjak kami meminjam uang abah, tak pernah sekalipun tiap bulannya kami absen memenuhi kebutuhan dapur mereka.


Mulai dari sabun mandi, sabun cuci dan semua kebutuhan kamar mandi serta dapur aku penuhi, setiap bulannya kami menafkahi empat ratus ribu rupiah untuk Abah, bahkan bayar Listrik sama Gas kami penuhi.


Kang Jaya cukup adil, bukan cuma Abah yang kami nafkahi, namun kedua orangtua ku juga sama menerima nafkah bantuan dari kami setiap bulannya dengan jumlah yang sama.


*********


Tahun ini pun kami mulai program hamil, tapi alhamdulillah usaha kami masih tetap berjalan bahkan semakin maju.


Setiap bulan nafkah dapur untuk keluargaku juga Abah tetap berjalan, tanpa ada satu bulan pun yang terlewat. Bahkan selain kebutuhan dapur kami memberi Abah dan Bapak uang jajan pegangan untuk mereka.


Perjalanan hidup kami pun semakin bahagia, meski ujian itu silih berganti, para iparku itu mulai bersikap baik namun aku yakin hati mereka masih tetaplah sama. Namun sulit untukku membuktikan kebusukan mereka.


Seiring ekonomi kami yang berubah membaik para ipar ku itu satu persatu mulai meminjam uang pada kami, tak ada dendam di hati ini.


Semua perlakuan mereka padaku aku anggap semuanya sebagai ujian tangga menuju kesuksesan. Cambuk untuk aku yang pemalas.


*******


Aku menaruh harapan besar pada Hikam supaya di berikan sifat arif bijak sana, mampu menjadi manusia yang rendah hati dan bersikap adil. Tidak sombong ataupun pongah.


Seperti pada anak pertamaku, ku beri nama Asyifa berharap dia menjadi pelipur lara bagiku dan Ayahnya, karena dia lahir di tengah keterpurukan hidup kami, dan di tengah ke dzoliman mertua serta para ipar.


*****


Aqiqah Hikam.


Ku undang semua sanak saudara dari pihak Bapak dan Ibuku, begitu juga keluarga suamiku.


Kami bersuka cita dengan kelahiran anak ke dua kami, Aqiqahan ber jalan lancar, namun lagi dan lagi mereka para Ipar ku menorehkan luka yang tak nampak namun berdarah-darah melebihi darah melahirkan. Bahkan rasa sakitnya menusuk ulu hati dan mengoyak jantung.


Mereka ku undang dengan penuh penghormatan, namun mereka balas dengan pengkhianatan, tak ada sepatah kata pun permohonan maaf pada kami, jika mereka tak bisa datang.


Kang Jaya sengaja datang pada kakak-kakaknya, satu persatu Dia datangi mereka dan mengundang pada acara aqiqah Hikam, sekalian memberi tahu mereka bahwa aku sudah melahirkan dengan selamat.


******


Di rumah Kang Amir.


"Tok.... tok....


"Assalamualaikum...." ucap Kang Jaya.


"Waalaikum sallam, eh Jay yuk masuk!" Ajak Kang Amir.


"Ada apa? tumben saja kamu ke sini?" tanya Kang Amir.


"Gini Kang, Riyani sudah melahirkan tiga hari yang lalu, Alhamdulillah selamat ke duanya, ibunya sehat anak kami juga sehat." Ucap Kang Jaya semringah.


"Loh bukannya baru nginjak delapan bulan ya?"


"Iya Kang, Riyani jatuh lagi kaya dulu, sebelum melahirkan dia ikut ke kebun buat memupuk Kol.


Pas pulang turun hujan, kami pulang lewat jalan setapak Riyani jatuh tergelincir karena jalanan licin. Malamnya dia langsung melahirkan." Jaya menjelaskan pada Kang Amir.


'


"Oh, Syukur Alhamdulillah, anaknya laki atau perempuan?"


"Laki-laki lagi Kang, Sekalian aku ke sini mau mengundang Akang sekeluarga dua hari lagi mau aqiqah sekalian biar gak berasa punya hutang."


"Iya insya Allah sekalian jengukin dedek bayi." Ucap Kang Amir.


Jaya datang ke setiap rumah saudaranya dan mengundang mereka, ke rumah Teh Ani, Teh Ela  juga Teh Didah.


Bahkan ke rumah adik bungsunya Dudung. Dudung itu anak bungsu Abah, adik dari Kang Jaya yang sangat di sayangi Kang Jaya.


Setiap mau lebaran atau punya makanan lebih, maka Dudung adalah satu-satunya saudara Kang Jaya yang wajib di perhatikan, setiap pakaian ke dua anaknya, baik Risna maupun Ule menjadi ke wajiban bagi ku dan Kang Jaya untuk membelikan pakaian lebaran, bahkan memberi uang jajan setiap kami bertemu dengan mereka.


*****


Waktu bergulir, hingga sampai waktu aqiqahan Hikam, namun hanya keluarga ku yang hadir.


Semua sanak saudara pihak ibu dan Bapak semuanya hadir bersuka ria bersama dalam perayaan Aqiqahan, mereka memasak bersama, bersenda gurau dan di jadikan waktu untuk bersilaturahmi satu sama lain.


Kebetulan Keluarga Bapak dan ibu itu satu kampung dan masih ada hubungan keluarga, hingga moment seperti ini sangat di pergunakan dengan baik untuk saling bercanda dan ber akrab-akraban.


Terlihat keluarga besar kami begitu bahagia, tanpa beban dan saling menyayangi.


Bahagia melihat mereka semua akur dan bersuka cita dalam acaraku, ada rasa syukur yang berbeda di dalam hati ini karena mampu membuat mereka bertemu dan bahagia meski hanya sebentar saja.


Sedang Kang Jaya terlihat bermuram durja, tak ada satu pun keluarganya yang hadir, baik Abah atau pun para iparku.


Entah lah kenapa mereka tak bisa hadir, namun yang pasti ketika kami bertemu nanti alasannya pasti alasan yang sama, kalau gak ada duit pastinya sibuk ngurusin tembakau atau sibuk ke kebun.


Aku sih sudah masa bodoh dengan mereka, toh aku tahu mereka tak menyukaiku, jadi buat apa meratapi mereka yang tak mau hadir menjenguk.


9kk


Tapi Aku tahu perasaan Kang Jaya pasti sakit, karena merasa tak di perhatikan tak di pentingkan bahkan di banding kan dengan kebun saja lebih berharga mengutus kebun atau tembaksu, sedang acara kami bagi mereka hanya sebatas angin lalu yang besok atau lusa pun tetap sama.


Padahal sehari saja mereka luangkan waktu untuk acara ini, karena bagi kami acara ini begitu berharga, bagian dari pada penebusan putra kami Hikam.


Namun nyatanya kami tak lebih penting dari setumpuk daun tembakau atau mungkin setumpuk pekerjaan menganyam.