
setting cerita ini tahun 2007/-2008 hingga tahun sekarang. Aurnya alur maju.
hingga harga tanah dan keadaan memang murni di tahun itu.
**********
Keluarga Mih dan abah memang bukan orang kaya, tapi untuk setiap anaknya Abah sudah memberikan tanah kosong untuk di bangun rumah, masing-masing sepuluh tumbak.
Ya dan selain tanah kosong itu abah juga memiliki seratus tumbak sawah yang kami garap bersama, hasil sawah itulah yang menghidupi keluarga ini kecuali untuk kebutuhan lainnya kami memang mandiri.
Tiga bulan sudah aku ikut suami dan rasanya bagaikan jadi babu tanpa upah, kerja rodi namun aku berusaha ikhlas meski kadang hati dongkol melihat kedua ipar yang sungguh luar biasa kejam.
Suami mereka bekerja di kantin sebuah kantor diklat di bandung, hingga mereka berkecukupan materi. Di belakang kami mereka berdua sering makan enak. Sering beli makan dan jajan. Sedang pada Abah dan Mih mana mau mereka ikut membeli bahan pokok. Hanya kang Jaya yang membuat dapur rumah ini mengepul. Setiap hari kang Jaya berdagang perabot anyaman bambu. Kecuali waktu dia harus ke kebun ya libur berdagang.
Aku di jatah uang seminggu seratus ribu katanya untuk jajan, namun kutabung uang itu demi membangun rumah nantinya.
*****
Setelah enam bulan berlalu, akhirnya Allah memberikan kami rezeki berupa janin di rahimku. Setelah aku hamil kang Jaya begitu bahagia, namun tak merubah kasih sayang Mih padaku. Tetap saja aku bekerja tanpa ada waktu istirahat.
Pernah suatu ketika aku ngidam makan baso, lalu aku mrmbeli di warung bi Titin tetangga kami dan ketahuan oleh Teh Ela dan Teh Didah mereka melapor pada Mih.
Waktu aku pulang ke rumah aku di marahi habis-habisan, bahksn ketika Kang Jaya pulang berdagang mereka melapor kalau sku tukang jajan dan gak ada ke ingatan sama mertua dan keluarga.
" Jaya tuh kamu lihat kelakuan istrimu setiap hari nongkrong di warung, jajan baso udah lupa sama mertua lupa pula pada suami yang kerja cari duit, dia bisanya ngabisin duit, istri kaya gitu mah cuma bawa sengsara." Mih menghasut suamiku.
Kang Jaya yang capai pun terhasut kata-kata ibu dan saudarinya.
*******
"Riyani!!! Kamu keterlaluan bukannya bantuin Mih malah jajan ngabisin duit. Kamu tahu aku itu cari duit dari subuh sampai sore, kadang aku nahan lapar kalau dagangan belum ada yang laku, coba kamu aku kasih uang jajan tuh ya bisa nyimpan jangan ke enakan di habis kan semua."
Ucap Kang Jaya lantang memarahiku.
Aku tergugu tak mampu melawan hanya menangis dan masuk kamar, tak ku peduli kan kang Jaya yang baru pulang. Biar lah Mih dan Kakaknya yang nyiapin air dan makan. Biar tahu rasa mereka jika aku gak keluar kamar maka merekalah yang repot.
****
Keesokan harinya Kang Jaya meminta maaf padaku, dia sebenarnya suami ter baik yang penyayang dan sangat peduli pada istri, namun dia mudah tersulut hasutan dan emosi.
Bulan kian berganti rutinitasku ya masih ngebabu di rumah mertua, tanpa rasa belas kasih mereka menyuruh ini dan itu, padahal Teh Didah dan Teh Ela anaknya udah mulai anteng tapi anehnya urusan cuci mencuci pakaian dan piring tetap jadi kewajibanku. Padahal kehamilanku sudah memasuki usia tujuh bulan.
Alhamdulillahnya panen kol kami bulan lalu dapat untung, Kang Jaya type suami tak mau pegang uang. Semua hasil panen dia berikan padaku.
"Ri, ini hasil panen kol bulan lalu tiga juta rupiah. Yang satu juta aku belikan lagi pupuk dan buat modal lagi menanam tembakau."
" iya kang, ini buat tabungan kita buat lahiran dedek ya." Sambil bergelayut manja
****
" Wow Mih anak tersayang mu agak kinclong nih." Kata Teh Ela sinis
" ya orang kagak pernah beli beras, kalau gak bercahaya itu justru aneh." Teh Didah menimpali.
Sedangkan Mih cuma melirikku sinis.
Aku berlalu keluar dan mulai mengangkat jemuran yang mulai kering, tak ku dengarkan ocehan mereka di teras, biarlah percuma meladeni ipar gak ada ahlak, sama-sama gak beli beras tapi sok suka belanja, padahal buat beli minyak goreng saja bilangnya habis buat beli pempers.
Tunggu saja waktunya' Batinku.
*****
Kadang aku berfikir untuk menyerah saja, namun melihag tubuh ringkih Kang Jaya serta semua perhatiannya kembali membuatku luluh.
Setiap hari Mih dan ke empat Kakakku selalu menggunjingku, setiap hari mereka menyebutku oramg yang tidak becus.
Mereka sering mengadu apapun pada Kang Jaya, kadang mereka bilang hasil nyuciku masih kotor, menyetrika gak rapih, atau masak yang ke asinan.
Aku cukup tahu diri untuk melawan, sadar jika aku memang berasal dari keluarga yang tidak kaya, namun Bapak serta Ibu begitumenyayangi kami. aku tidak bisa memasak karena memang jarang memasak di rumah. Terlahir dari keluarga sederhana dan cukup makan dengan sebutir telur plus kerupuk itu sudah cukup.
Tentu aku tak bisa masak, tapi setidaknya di sini bukankah setiap hari aku belajar memasak meski tak mampu, mulai dari bikin sayur, mengurap dan yang lainnya aku lakukan.
Alasan agar aku bisa bekerja mereka gunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci pakaian, menyetrika, mencuci piring hingga menyspu halaman dan mengepel menjadi rutinitas tiap hari. Setiap hari ke kebun untuk membantu suamiku bertani, menanam segala jenis sayur dan tembakau.
Iya Desa Sukasari kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang ini memang Argo wisata Tembakau. tepatnya di Dusun Ci situ Aku tinggal dengan suamiku.
Mayoritas orang Di sini bertani Sayur dan Tembakau serta menanam kopi arabica.
Rutinitas dari subuh hingga sore berkebun, jika ada waktu luang orang sini menganyam perabot rumah tangga dari bambu, seperti Tampah, Bakul, Kipas, dan macam- macam kebutuhan dapur.
Aku terus belajar, menganyam sekalipun aku lakukan dari yang tak pernah tahu hingga mampu membuat tampah/nyiru.
Tapi tetap saja mereka tak pernah puas menggunjingku, apalagi mengurus tembakau aku memang tak bisa, jangankan mengurusnya melihat bentuknya saja baru tahu ketika aku menikah dengan Kang Jaya.
Jarak tempat suamiku dan tempat kelahiranku hanya delapan kilo meter, namun sudah berbeda tempat tentunya berbeda sumber penghasilan dan adat.
Di tempatku, daerah Ci leutik Desa raharja Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang, mayoritas penduduknya ber tani singkong , jagung dan ubi yang akan kami pasok kedaerah Cilembu untuk di jadikan Ubi bakar, peyem gantung, dan juuga keripik singkong.
Memang ada yang bertani sayur, tapi tak terlalu banyak.
Apalagi sekarang banyak pabrik, anak muda dan remaja justru lebih memilih bekerja di pabrik. para lelaki pun memilih kerja bangunan ke kota.
Tapi rasanya bagi keluarga ini pantang menerima yang tidak sekupu dengan mereka, harus yang pandai di kebun, serta pandai mengurus tembakau mulai dari berbentuk daun hingga menjadi lempengan tembakau siap masuk pabrik.