Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Biang Kerok



"Keluar!!Nunung, temui Aku." lantang ku berteriak


Tetangga di sini berkumpul, melihatku berteriak dan mungkin mereka ingin tahu ada apa.


"Ada apa Neng?" tanya Pak Aca ter gopoh keluar dari rumah.


"Apa Nunung nya ada?"


"Nunung, lagi pergi nak, dia kerja di rancaekek, lagi banyak orderan jadi dari krmarin dia tidak pulang, katanya semua jahitan harus beres minggu ini juga." jawab pak Aca.


"Tapi pak, Aku ada perlu sama dia."


"Ada apa?"


"Yakin bapak mau ku beberkan masalahnya di sini di saksikan para tetangga, hingga keburukan putrimu jadi konsumsi publik dan bahan gunjingan."buruku


"Mari masuk Neng," jawab pak Aca.


Aku pun masuk kedalam rumah mengikuti Pak Aca.


"Sebenarnya Ada apa neng? kok tiba-tiba Neng riyani teriak-teriak di depan rumah bapak?"


"Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan pada Teh Nunung ada masalah apa Dia sama Saya." jawabku.


"Memangnya kenapa?"


"Begini pak, kemarin malam sekitar jam dua dini hari saya terbangun dan seperti biasa mau ambil whudlu tetapi tiba-tiba saya mendengar ada orang di halaman, ku intip dari balik tirai ternyata Teh Nunung dan Ksang Wawan sedang menggali tanah di halaman rumah saya dan mereka terlihat menguburkan sesuatu. sepeninggal mereka ku gali lagi tanah itu dan ternyata ada sesuatu bingkisan yang di bungkus kain putih." jawabku menerangkan.


"Memang kemarin Nunung naik ojeg Wawan waktu mau ke Rancaekek, mereka berangkat jam delapan malam. Tapi untuk apa subuh buta mereka di halaman rumahmu? dan apa yang mereka kuburkan? kata Pak Aca.


Ku sodorkan sesuatu itu pada Pak Aca.


"Astagfirulloh, Ini... ini kan guna-guna kenapa di lakukan Nunung padamu? apa sebelumnya kalian ada masalah?"


"Justru itu yang ingin saya tanyakan pak, Apa kesalahan saya padanya hingga dia setega ini pada saya, bahkan keganjilan-keganjilan pada keluarga Saya sudah berlangsung dua bulan hingga terkuaknya fakta hari ini."


"Baik Neng, perkara ini sebaiknya kita ambil jalan kekeluargaan besok kita kembali berkumpul di rumah bapak, dan Akan Bapak suruh Nunung pulang, begitu pula dengan Wawan dan juga pengurus Rt dan Rw."


"Baik pak besok saya ke sini bersama Kang Jaya, juga Bapak undang seluruh keluarga Kang Jaya termasuk Mih dan Abah, Saya tidak mungkin mengundang mereka, sebaiknya Bapak saja."


"Baik neng."


"Kalau begitu Saya permisi dulu dan untuk keamanan, barang bukti ini saya yang simpan. Assalamu alaikum, saya pamit pak" Lalu Aku berlalu pergi dari rumah Pak Aca.


******


Jam empat sore, Aku dan Kang jaya serta semua keluarganya berkumpul di rumah Psk Aca, Rt, Rw dan juga dua warga sudah berkumpul, terlihat kepanikan di wajah Nunung dan juga Dua saudara Kang Jaya Kang Wawan suami Teh Ela juga Teh Ani, mungkin mereka ikut andil dalam masalah ini. Anehnya Kang Jaya begitu lekat memandang Nunung seperti remaja yang sedang kasmaran saja atau mungkin ini hanya perasaanku saja.


Nunung adalah teman sepermainan Kang Jaya usianya denganku terpaut enam tahun, dia janda dan lebih tua dariku. Aku tak tahu motifnya apa melakukan santet pada keluargaku.


"Assalamualaikum warohmatulloh, Saya selaku Rt di sini di undang oleh keluarga Bapak Aca untuk menyelesaikan sebuah masalah antara Nunung dan juga Riyani, serta meluruskan segala bentuk kesalah fahaman yang terjadi, untuk itu mari kita buka kumpulan ini dengan membaca Bismillahirrohmaanirohiim." Pak art memulai ceramahnya.


"Saudari Riyani, silahkan ceritakan apa permasalahan saudari pada Nunung?" lagi pak rt mengajukan pertanyaan.


Lalu kuceritakan semua yang kulihat pada pak rt seperti yang kucerotakan pada Pak Aca, bahkan ku ceritakan pula keganjilan-keganjilan yang terjadi pada keluarga selama dua bulan ini.


"kalau begitu saudari Nunung silahkan di jawab" kata Pak Rt.


"Heh Riyani, syukur deh, lo sudah tahu kalau gue yang nyantet, karena Gue benci sama lo, gara-gara kehadiran lo Jaya tak melirikku lagi padahal dulu dia sangat mencintaiku menyayangiku bahkan hampur menikahiku, memang sih dulu aku yang tinggalin dia menikah sama Suamiku dulu tapi saat Aku menjanda ku lihat Jaya mulai memperhatikan ku lagi tapi gara-gara Lo dia malah menikahi lo., dasar wanita pelakor." Nunung tanpa malu menjawab semua pengakuannya di hadapan semua orang.


"Tapi Aku gak merebut, dia bukan suamimu juga bukan pacar, jadi siapa yang  merebut, atau mungkin wanita yang sering di sebut penghianat oleh Kang Jaya itu kamu?" buruku sambil memendam amarah. Bagai mana mungkin ada orang yang tanpa dosa mengakui telah menyantet bahkan tanpa rasa berdosa.


"Gara-gara lo Gue malah menikah dengan laki-laki yang tak bertanggung jawab dan tukang selingkuh, dan kembali menjanda lagi, seandainya gue menikah dengan Jaya pasti bahagia dan menjadi ibu dari anak-anaknya." lagi Nunung menjawab, bahkan menunjuk-nunjuk padaku, tak ada rasa takut bahkan bersalah dalam dirinya.


"Astagfirulloh, Sadar Teh, bahkan kamu jauh lebih dewasa dari pada Aku berfikirlah yang positif belajarlah menerima takdir dan garis hidup, jangan suka menyalahkan orang lain. Bahkan Aku tak pernah tahu kalian pernah pacaran, karena selama ini Kang Jaya tak pernah membahasnya kecuali dia pernah trauma tak ingin menikah karena dikhianati hanya itu, aku tak tahu jika itu kamu." jawabku.


Nunung kemudian menangis meraung-raung di hadapan semua orang, bukan tangis sesal justru dia semakin menjadi mengeluarkan sumpah serapah padaku, sedang Kang Jaya seperti kerbau di cocok hidungnya hanya diam tanpa ekspresi, mungkin dia masih ada dalam pengaruh guna-guna Nunung.


Keputusan finalnya, Nunung menandatangani surat perjanjian di atas materai akan mencabut guna-guna dan tak akan pernah lagi menyantet kami. Jika itu terjadi lagi dia siap masuk ke penjara.


**********


Semua keluarga tak menyangka kalau Aku dan Kang Jaya di santet. Mereka hanya tahu kalau selama ini Kang Jaya sering datang ke Cisitu untuk menemui Nunung, dan pernah mengakui ingin menikah lagi dengan Nunung dan berpoligami.


Mereka mengira mungkin ada masalah antara Aku dan Kang Jaya.


Sedang Kang Wawan dan Teh Ani mereka meminta maaf dan mengaku khilaf karena telah membantu aksi Teh Nunung, mereka terdesak uang dan Nunung memang menjanjikan sejumlah uang pada mereka sebagai upah menunjukan rumahku.


******


Aku dan Kang Jaya menikah tanpa melslui proses pacaran, bertemu sekali di pasar malam berkenalan dan menanyakan alamat.


Seminggu kemudian Dia datang kerumah dan langsung melamarku pada Bapak.


Terlahir di keluarga religius tentu saja Bapak menerima lamaran itu karena memang tak ada pacaran dalam kamus keluarga kami, tak baik dan merupakan pendekatan menuju zinah.


Tak pernah kami membahas masalalu, selama perjalanan rumah tangga, yang aku tahu Kang Jaya trauma menikah karena  dikhianati.


Kata para saudara Kang Jaya, Nunung itu mantan pacar Kang Jaya, mereka bersahabat dari kecil hingga saling jatuh cinta, namun ketika sebulan lagi menikah, Nunung justru berkhianat di temukan sedang mesum dengan lelaki lain hingga di arak keliling kampung dan di nikahkan malam itu juga.


Semenjak itu Kang Jaya Anti menikah, dan tak mau berpacaran, hingga dia membawaku dan mengenalkan pada mereka serta siap menikah serentak seminggu setelah pertemuan itu.


Kang Jaya sosok suami penyabar,penyayang dan perhatian, aku bahagia bersamanya. Namun di hadapkan dengan keluarga Abah justru Aku jengah dan lelah.


Ku renungi apa yang terjadi selama sebelas tahun ini, mulai dari hinaan dan juga restu yang sulit ku dapat. Para ipar julid yang sering membully, meng hina dan juga menggunjing.


Aneh rasanya, ketika kemarin-kemarin Kang Jaya yang datang ke Cisitu tanpa Aku dan Hikam, serta sering nya Kang Jaya menemui Nunung bahkan mengakui ingin menikahi nunung, kenapa tak ada seorangpun yang berusaha menemui dan menanyakan ada masalah apa hingga Kang jaya ingin poligami, lalu mencari solusi dan mendamaikan. Tapi mereka justru malah diam tanpa ada itikad baik menemuiku, atau mungkin restu itu memang tak ada untukku.


Padahal selama ini selalu ku berusaha menjadi menantu yang baik dan membantu para ipar, tapi mereka sepertinya malah menerima Nunung dari pada Aku.


Lelah rasanya menghadapi mereka, tak pernah ada pembelaan untukku, aku bahkan cenderung diam dengan sikap semena-mena mereka.


Ingin rasanya menyerah dengan keadaan, lebih baik menjadi janda dan hidup tenang bersama anak-anak dari pada berkeluarga namun tak pernah di anggap menantu. Bahkan sering di recoki para ipar julid.


Astagfirulloh, ya Allah ampuni aku yang sudah berpikir kemana-mana dan putus asa.


Kulihat Hikam dan Kang Jaya tertidur nyenyak dan tenang, sementara Aku masih berkelana pikiran ini ke masa-masa dahulu.


Kurebahkan tubuh ini di samping mereka, kupejamkan mata ini dan mulai memasuki mimpi.