Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Pembalasan Riyani



Kang Jaya datang di dampingi wanita gila itu, begitu percaya diri dia berjalan menggandeng Suamiku, Semua para ipar terlihat kikuk bahkan Abah dan Mih seperti meremehkanku.


Sebuah penghinaan dan pengkhianatan yang sangat ku benci dan merendahkanku, jika Kang Jaya selingkuh dengan wanita yang jauh lebih baik, lebih muda dan cantik dariku, mungkin sah-sah saja pantas karena level ku ada di bawah wanita itu. Tapi ini dia selingkuh dengan Wanita sebaya dengannya, janda tanpa anak yang mandul, bahkan tak lebih baik dan cantik.


Ku teliti kedua nya dengan hati yang sesak, terlihat Bapak menenangkan, mengusap punggungku. Pertahanan ku hampir goyah, hampir saja menangis dan mencakar Nunung di depan semua orang. Ku tahan rasa nyeri di ulu hati ini, mencoba terlihat biasa di depan mereka, ku tegaskan dalam diri bahwa mereka semua musuh, tak kan ku biarkan mereka melihat ke kalahan ku dan membuat mereka tertawa mengejek. Akan ku perlihatkan pada mereka siapa Riyani di hadapan mereka.


Tak lupa ketika Kang Amir menyusul Kang Jaya ku WA Mang Dadang supaya menyusul Rt dan Rw setempat untuk datang ke rumah Abah, untuk berjaga-jaga sekaligus saksi jika nanti terjadi sesuatu di luar dugaan, Aku tak boleh gegabah menghadapi irang-orang beracun seperti mereka.


Bahkan siapapun yang menjadi saksi pernikahan Nunung, bahkan penghulu sekalipun akan ku gugat mereka ke ranah hukum, siapapun yang menyakiti ku saat ini tak kan ku loloskan satu pun sekalipun mereka perangkat Desa, Akan ku perlihatkan pada mereka bahwa Riyani tak sebodoh yang mereka kira. Selama ini mengalah bukan karena Aku bodoh tetapi mengalah agar tercipta ke damaian, namun mereka semakin melunjak dan kini kesabaran ini tak lagi dapat menahan beban.


Sikap semena-mena mereka melampaui toleransi kesabaran yang selama ini ku jung-jung, ku anggap mereka saudara sendiri, ku utamakan kebutuhan dan keperluan mereka, namun justru mereka mengkhianati dan menusuk dari belakang, bukan hanya melukai diri ini bahkan telah melukai perasaan ke dua putraku. Ya tak kan lagi ku biarkan mereka mencabik kebahagiaan anak-anak, seorang ibu bahkan mampu mencabut gunung sekalipun demi melindungi anaknya.


******


Ketika semua orang telah berkumpul, bahkan rumah ini telah sesak oleh kehadiran semua orang, terlihat tegang meski permusyawaratan ini belum di buka, tampak Pak Aca tak tenang, keringat bahkan memenuhi wajahnya.


Pak RT dan Pak RW bahkan seperti kebingungan apalagi melihat Nunung bergelayut manja di tangan suamiku sementara Aku justru terlihat bersama Bapak. Mungkin kah  RT dan Rw juga tidak tahu menahu pernikahan itu.


"Bismillahirrohmaanirrohiim, Maaf sebelumnya Bapak RT Aban dan RW Tasman karena pada malam ini Saya mengundang Anda semua ke sini, karena ada satu dua hal yang perlu kami musyawarahkan serta membutuhkan saksi jika nantinya tetjadi hal yang tidak di inginkan." Kata Wa Anan.


"Iya Pak silahkan." Kata Pak RTDan RW serempak.


"Riyani silahkan kamu mulai." Wa Anan.


"Assalamualaikum warohmatullaohwa barokatuh. Bismillahirrohmaanirrohiim. Saya Riyani istri sah dari Jaya maka pada malam ini di saksikan Bapak Rt dan juga Rw setempat serta kedua pihak keluarga baik keluarga Saya maupun Keluarga Jaya, dengan semua bukti yang saya pegang saat ini yaitu sebuah Video pernikahan antara Kang Jaya dan Nunung yang di selenggarakan hari ini, serta tanpa seizin dari saya sebagai istri pertama, maka dengan kejadian ini Saya akan menggugat Kang Jaya beserta Nunung bahkan penghulu yang menikahkan, Pak Aca yang menjadi Wali Nikah serta ke dua Saksi pernikahan itu ke pengadilan Agama dengan tuntutan pidana dan ber lindung pada Pasal 279 KUHP, yang berbunyi: “(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun: 1. barang siapa mengadakan perkawinan padahal mengetahui bahwa perkawinan atau perkawinan-perkawinannya yang telah ada menjadi penghalang yang sah untuk itu; 2.barang siapa mengadakan perkawinan padahal mengetahui bahwa perkawinan atau perkawinan-perkawinan pihak lain menjadi penghalang untuk itu. (2) Jika yang melakukan perbuatan berdasarkan ayat 1 butir 1 menyembunyikan kepada pihak lain bahwa perkawinan yang telah ada menjadi penghalang yang sah untuk itu diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Ucap ku lantang tanpa ada lagi sesak di dada, karena permainan ini harus segera ku akhiri.


Semua yang hadir begitu terhenyak, tampak syok dan tercengang dengan penuturanku mungkin mereka tak menyangka jika pernikahan itu akan terbongkar bahkan baru sehari usia pernikahan itu.


Kang Jaya lagi-lagi hanya diam tak berekpresi, padahal jelas dia akan ku pidana kan.


Sementara Nunung, begitu terlihat menahan Amarah, begitu pula Abah dan ipar-ipar julidku nampan ketakutan juga marah secara bersamaan.


"Maaf sebelumnya Neng Riyani, Kapan Jaya menikah dan apa boleh Bapak melihat rekaman itu?" Pak Rt memecah ketegangan ini.


"Baik Pak Mohon Saya minta nomer WA Bapak biar saya kirim video itu." 


Lalu pak RT menyebutkan nomer WA miliknya ku kirim video itu dan rasanya Aku ingin menertawakan keluarga Abah juga Pak Aca yang terlihat tegang bahkan keringat membanjiri wajah mereka.


Pak RT juga Pak RW menggelengkan kepala mungkin mereka pun kecolongan, tak ada yang memberi laporan terkait pernikahan itu.


"Maaf Pak Aca dan Pak Barna(Nama Abah), apa benar semua yang di katakan Neng Riyani kalau mereka(sambil menunjuk Jaya dan Nunung) sudah menikah dan itu hari ini?" Tanya Pak RT.


"Iya kami sudah menikah tadi sore tepatnya jam empat sore." Jawab Nunung pongah.


"Tapi kenapa kalian tidak melapor pada kami selaku pengurus di kampung ini?"  


"Kami baru mau lapor besok." jawab Nunung Lagi.


"Lalu kenapa baru mau lapor, urusan seperti ini harusnya lapor sebelum pernikahan bukan sesudahnya." Ucap Pak RW menimpali.


Mereka semua terdiam tanpa mendebat lagi, lalu ku lihat Mih menangis histeris, Dia meraung-raung karena ketakutan jika Jaya akan di penjara.


Baru satu kartu AS belum dua kartu lagi ku keluarkan.


"*Jaya, kunaon maneh teh boga pamajikan teh meni tega."* Mih meraung.


Gila tuh orangtua, anaknya yang berkhianat malah Aku yang di caci.


"Maaf Neng, sebelumnya jika Bapak memberi saran, sebaiknya masalah ini di bereskan secara kekeluargaan jangan secara Hukum, kalau sudah masuk ke ranah hukum perkara sulit untuk di cabut." kata Pak Rt.


"Maaf Pak, terima kasih sarannya, namun tak ada pilihan kecuali ku laporkan mereka semua ke pihak berwajib dan jika mereka ingin bebas perkara, maka Batalkan pernikahan itu lalu bayar lah Denda sebagai tanda permohinan maaf padaku." Ucapku.


"Tidak, aku tidak akan mundur dan membatalkan pernikahan ini, apapun yang akan terjadi." Nunung menangis dan meraung sambil terus berbicara dan berusaha menggapai tubuhku untuk di cakarnya.


Namun semua sudah ku prediksi akan terjadi jadi secepat kilat menghindar dari jangkauan wanita ular itu, bahkan Kang Amir dan Kang Alan memegang tangan Nunung yang tak berhenti meronta meminta di lepaskan dan berusaha menggapaiku.


"Apa lagi hah?" tanya Abah bringas.


Ku sunggingkan senyum meremehkan pada mereka.


"Permasalahan harta gono-gini yang telah kami urus dulu dan untuk itu mulai hari ini hingga semua urusan Kang Jaya dengan pihak berwajib beres, maka semua harta milik kami akan di pegang oleh Nama pemilik surat-surat yang ada." Ucapku.


Ku keluarkan semua foto copy surat-rumah dan Tanah juga Stnk  mobil pada mereka, serta ku berikan kunci dan STNK motor Vega milik Jaya pada mereka.


Abah dan semua anaknya terlihat pucat pasi, karena mereka tahu semua surat itu atas nama ku termasuk motor Beat kami dan tanah di Cipasir.


"Gila kamu Riyani benar-benar licik dan tak tahu diri!" Kang Amir tampak marah.


Bahkan Nunung pun ikut lemas mengetahui fakta jika kang Jaya tak memiliki harta apapun lagi selain motor vega yang sudah butut itu.


"Dasar kau wanita licik, wanita gila dan tak ber perasaan hah! " Nunung berteriak.


"Apa tsk salah kau bicara, bukankah kata-kata itu pantasnya untukmu." Senyum remeh ku sunggingkan padanya.


Nunung terlihat marah bahkan jika tak ada yang memegang sepertimya di sini akan terjadi pertumpahan darah, karena wanita itu terlihat begitu ambisius.


Pucat pasi, kebingungan dan kemarahan begitu mendominasi keadaan permusyawaratan ini, jika tak ada pengurus di sini maka aku yakin bahkan mereks akan tega memukul ku.


Untung saja semua ini sudah terbaca akan seperti ini hingga mampu ku tangani tanpa ada perkelahian. 


Rasanya ingin Tertawa melihat wajah mereka yang pias tanpa darah, rasakan pembalasan ku, bahkan akan tetap ku ajukan mereka pada polisi atas konsvirasi pernikahan rahasia ini.


"Riyani, maaf kan kami nak, kami mohon jangan laporkan Jaya dan Nunung, kami akan membatal kan pernikahan ini tapi jangan kau laporkan mereka." tiba-tiba saja Pak Aca memohon padaku, tangan tua itu mengiba di kakiku namun rada sakit ku pada mereka sungguh tak lagi bisa ku toleransi.


Mih menangis, Teh Ela dan Teh Didah menenangkan, sedang Abah dan para ipar lelaki ku masih bergeming dan kebingungan, tampak linglung dengan yang terjadi dan tak pernah menyangka akan sikap nekat yang ku pilih.


Pak Rt dan Pak Rw hanya mampu bernafas panjang tanpa bisa ikut campur karena ini urusan rumah tangga.


"Ri, kami mohon maaf padamu nak, tolong kembalilah seperti dulu bersama Jaya jangan kau teruskan semua ini, ingat jika Jaya itu suamimu dia Juga Ayah dari anak-anakmu, apa tega kau membuat anakmu menjadi anak narapidana? karena meski bukan membunuh atau mencuri masyarakat tetap akan berfikir negatif jika Jaya masuk Penjara." Abah pun mulai mengiba dan menangis mrmohon-mohon padaku.


"Maaf Bah, tak ada toleransi bagi pengkhianat siapapun itu, seharusnya Kang Jaya mampu berpikir jika ada konsekuensi untuk segala bentuk perbuatan, baik di balas baik buruk di balas buruk, jika memang dia sayang pada ansj-anaknya tak mungkin berani menghancurkan kepercayaan mereka." ucapku.


"Tapi Nak."


"Maaf Abah, hatiku sudah mati terbunuh oleh ke egoisan kalian maka nikmati saja hasilnya, apa yang kalian tanam itu yang kalian tuai." jawab ku.


"Pak Rt dan Pak Rw permusyawaratan ini belum selesai besok ba'da isya kita akan kembali berkumpul karena masih ada satu hal lagi yang hendak ku urus, dan benang merah masalah ini pun belum kita ambil." lagi aku berucap.


"Baik lah kalau begitu mari kita pulang dulu." Ajakku pada keluarga ku.


"Kang mana kunci mobil dan tas stnk nya sekalian." pintaku pada Kang Jaya.


Kang Jaya memberikannya Dia tampak menyesal dan tertunduk.


"Maaf, Ri" Dia tertunduk dan menahan air mata.


Rasanya hati ini ikut terenyuh dan sesak melihat sikap Kang Jaya, dia bahkan sedari perdebatan ini di mulai tak satu kata pun di ucapkannya, hanya menyimak bahkan seperti tak mengerti dengan yang terjadi, entah perasaanku atau hanya prasangka buruk saja, ku rasa semua yang terjadi ini seperti di atur seseorang, sepertinya Jaya di kendalikan orang lain, jiwanya seperti kosong.


Lalu kami berlalu dari sana dan pulang, karena aku khawatir jika Hikam tak bisa tidur jika tidak ada aku, Hikam ku titipka di rumah Ibu.


Di perjalanan pulang rasanya aku ingin menangis dan berteriak meluapkan semua kekalutan ini, namun ku tahan karena menghargai Uwa, Bapak dan Mang Dadang.


Seharusnya merasa puas karena mampu membuat mereka tak berkutik, namun justru hati ini kecewa dan sesak, bukan ini yang ku inginkan, aku ingin hidup tentram tanpa segala bentuk kejulidan dan juga gangguan dari mereka. Aku ingin hidup rumah tangga yang normal seperti orang lain, hidup bahagia bersama keluargaku, damai dengan para saudara dan hidup berdampingan saling membantu dan bahu membahu dalam kebaikan.


Tapi jalan takdir justru membuat alur rumah tangga ku berliku dan justru harus di hadapkan kebingungan, aku pun tak tega jika harus melihat Jaya di penjara, bagaimanapun Dia Ayah dari putra-putraku, namun jika tak ku gertak mereka, justru akan membuat mereka di atas angin dan semakin ngelunjak.


'Tuhan semoga kau berikan jalan keluar dari segala bentuk kerumitan ini.' monologku.