Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Kemurkaan Abah



Pencapaian demi pencapaian di tahun ini cukup signifikan, kehidupan yang damai dan usaha yang maju menjadi berkah tersendiri bagiku.


Bahkan para ipar pun sudah mulai ber baik hati, ketika musim panen tembakau Aku yang tak memungkinkan untuk mengurusnya, maka Dudung mengurusnya dengan penuh keseriusan.


;****


Asyifa dan Hikam tumbuh menjadi anak-anak yang pengertian, bahkan Asyifa masuk pesantren sambil sekolah, di daerah Sukasari sana. Pesantren Miftahul Hasanah namanya, cukup berkompeten dan disiplin.


Hanya Hikam yang ada di rumah bersama kami, kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, para saudara suami mulai menyayangi, mereka meminjam uang, meski masih ada yang mengganjal di hati mengapa. kiranya mereka tak pernah mau berkunjung walau sekedar bermain atau perayaan Hari Raya.


******


"Ri, sebaiknya kita beli tanah di daerah Pasir dekat daerah Cisitu yuk, kebetulan ada yang mau menjual tanah di pinggir jslan dan harganya lumayan murah, yang punya tanah minta tiga juta rupiah pertumbak, luasnya ada empat puluh tumbak." ksta Kang Jaya suatu sore.


"Iya Kang, tapi tabungan kita gak bakal cukup."


"Kita pinjam saja dulu dari Pak Aleh, katanya dia piunya tabungan buat bikin rumah."


"Lah nanti bayarnya?"


"Ya kita usaha nabung lagi, dan jual hasil paneb tembakau nantinya."


"Iya deh terserah Akang saja."


Sejak saat pembicaraan itu, akhirnya kami membeli tanah di Cipasir itu tanpa di ketahui oleh keluarga Kang Jaya. Namun mungkin akan cepat tersebar ke telinga merek, karena letak Cipasir dsn Cisitu itu bertetangga.


Uang yang ku belikan tanah itu separuhnya pinjaman dari Pak Aleh untuk membeli bahan bangunan nantinya, dia akan menagih nya setahun lagi.


******


Selang sebulan setelah pembelian tanah itu, akhirnya seluruh keluarga sudah tahu, begitu pula Abah dan Mih. Semenjak mereka tahu, ada beberapa Ipar yang kembali memperlihatkan jati dirinya, kembali menyindir dan kadang tak pernah bertegur sapa lagi.


Teh Ani dan Kang Amir seperti kebakaran jenggot ketika tahu Aku membeli tanah di Cipasir, sedang kan aku menyikapi dengan biasa.


Bahkan ketika Teh Ela membangun rumah, Kang Jaya membantunya tanpa pamrih, selama enam belas hari membantu tanpa upah, bahkan Aku menyumbang satu truk pasir untuk mereka.


****


Tiga bulan setelah membangun rumah Teh Ela, Dudung mengadakan Hajatan di rumahnya yaitu Sunatan putra bungsunya Tedi.


Dudung adalah Anak bungsu Abah, adik kesayangan Kang Jaya, hingga ketika akan di adakan hajatan maka kami pasang badan meminjam kan dan menyumbang biaya.


Bukan hanya biaya bahkan jajan kedua putranya sering kami topang, karena mereka keponakan kesayangan.


Tahun ini hampir semua saudara kami mengadakan hajatan dan pembangunan rumah, Kang Amir pun membangun rumah lagi Kami menyumbang dan membantu tanpa upah.


Kami sering berkunjung pada semua saudara dari mulsi Teh Ani sampai Dudung, berharap mereka akan membalas kunjungan itu dengan bertandang ke rumah.


Setiap ada kesulitan atau hajatan, Aku full membantu mereka tanpa pamrih. Karena ingin menitipkan diri ini pada mereka, seperti halnya orang lain yang Akur dan saling menyayangi sesama saudara, bukan malah berlomba saling mendahului memperlihatkan harta dan saling senggol kanan kiri.


********


Hari ini Telpon ku berbunyi, Teh Didah mengajak untuk botram nasi liwet.


Kebetulan semua pesanan barang kreditan sudah kami antarkan, dan di kebun pun sudah tak ada kerjaan, Kami pun pergi ke Cisitu memenuhi undangan Teh Didah.


Sesampai di sana semua saudara sudah berkumpul, kami mengobrol sambil menunggu semua makanan siap.


"Jaya!!! begitu ya sikap kamu setiap harinya, makan saja minta di tempat oranglain, kaya pengemis di pasar saja." Tiba-tiba Abah murka.


"Maksudnya?" bahkan nasi yang baru saja satu suap di makan itu pun di simpan di lantai, Kang Jaya terlihat menahan amarah.


"Iya kamu gak mampu ya beli nasi dan makan dengan uang mu sendiri, bisa nya hanya minta kaya pengemis di pasar, pantas saja bisa beli tanah bikin rumah nyatanya karena biaya makan kalian itu cuma modal ngemis." jawab Abah lantang.


"Aku kesini memang minta makan tapi yang lain juga sama karena ini lagi botram, Teh Didah ysng mengundang." jawab Kang Jaya.


"Kalau benar bisa usaha pasti hutang di bayar."


"Hutang? hutang apa? emas itu? bukankah tahun lalu aku mau membayarnya tapi Abah menolaknya " Kang Jaya menahan isak dan amarah yang bergemuruh menjadi satu.


"Jika bukan pengemis bayar hutang mu padaku, beli tanah beli mobil saja sok gaya, makan saja minta, hutang gak di bayar." lagi Abah menjawab.


"Baik akan ku bayar hutang itu seminggu dari sekarang." kata Kang Jaya.


"Delapan juta tiga puluh ribu bukan?"


"Enak bener mau bayar segitu, di mana-mana hutang emas di bayar emas, hutang uang di bayar uang."


"Jadi maksud Abah aku harus ganti emas lagi."


"Baik, aku akan bayar."


"Bayar juga sekalian Kayu yang dulu kamu pakai untuk bikin rumah lima pohon dulu sudah di tawar lima ratus ribu kalau sekarang mungkin mencapai satu juta lima ratus, belum Bambu seratus ribu rupiah juga padi 60kg serta ketan 30 kg, bayar semuanya. " Kata abah lancar tanpa jeda.


Aku hanya mampu menangis menyaksikan Kang Jaya yang terluka karena sikap Abah, bahkan nasi liwet itu tak lagi kami sentuh.


Sakit rasanya bahkan sampai ke palung hati, Dulu Abah memberikan kayu, bambu dan padi itu untuk kami, bahkan hutang emaspun minta di ganti uang seharga pembelian, namun sekarang semua barang harus di bayar bahkan sesuai dengan harga tahun ini.


Kayu saja harus di bayar memperhitungkan jika kayu itu hidup hingga hari ini, sungguh tak terpikirkan akan seperti ini, jika semua yang di berikan waktu itu justru akan di perhitungkan dan harus di bayar seperti ini.


Semua Saudara melihat kejadoan hari ini mereka memberikan nasihat pada Kang Kaya supaya jangan di ambil hati, mungkin Abah sedang ada masalah. Namun kata-kata Abah itu muncul dari hatinya dan terlanjur membuat sakit di hati kami.


Hutangku yang dulunya hanya delapan juta tiga puluh ribu terpaksa harus di ganti dengan uang satu juta untuk pinjaman uang, sembilan juta lima ratus untuk emas sembilan belas gram. serta satu juta enam ratus lagi untuk membayar kayu dan bambu.


sedang padi harus di ganti padi lagi dengan berat yang sama.


Selama satu minggu kami mengumpulkan separuh modal kreditan untuk membayar pada Abah, Tiga belas juta yang pada akhirnya kami bayarkan.


Sungguh tak terlintas di pikiranku jika akan ada orangtua tega meminta kembali sesuatu yang telah di berikan. Bahkan pinjaman itu di hitung jika barang itu hidup dan dijual di waktu sekarang, membengkak Sudah seperti berhutang pada bank saja, karena jumlah uang yang kami pinjam dan bayar tidak sesuai jumlahnya, cenderung sangat besar seperti bunga berbunga.


*******


Seminggu dari kejadian itu, Aku membayar hutang pada Abah, hutang delapan juta rupiah membengkak menjadi Tiga belas juta lima ratus ribu rupiah. Ketika membayar sengaja ku kumpulkan para saudara supaya mereka tahu kalau semua barang yang di berikan dulu sudah kami bayar, bukan di beri tapi di beri pinjaman.


Ketika semua saudara Di beri tanah bagian, di beri kayu dan bambu untuk membangun rumah serta padi dan ketan untuk menjamu Tukang. Anehnya hanya padaku saja Abah meminta di bayar sedang pada yang lain Abah memberi.


Yang menjadi sakit hati ialah ketika Abah menerima uang pembayaran hutang itu sambil menghitung segala yang pernah Abah berikan pada Kang Jaya ketika kecil. katanya Kang Jaya yang sering sakit waktu kecil telah membuat Abah kehilangan tanah seluas sepuluh tumbak.


Sebab Abah mengungkit perihal tanah, maka tanah bagian yang di berikan pada Kang Jaya yang ditempati Abah saat ini, kami kembalikan bahkan sekalian dengan rumah panggungnya yang di jadikan sebagai bunga karena kejadian penjualan tanah dulu sudah puluhan tahun.


Lega rasanya tak berhutang pada Abah meski hati terluka karena tak menyangka segala kebaikan kami tak pernah berbekas, setiap bulan kutanggung biaya dapur dan pengobatannya, namun semuanya seperti tak berbekas.


Semenjak kejadian itu kuputus segala biaya pada Abah, karena semakin hari sikapnya justru seperti membenci, setiap hari Aku memikirkan apa dosa besarku dan Kang Jaya pada Abah.