
"Pantas saja suamimu selalu minta makan, ternyata istrinya itu tukang keluyuran." Kata kak Ani kakak tertua suamiku mendelik sinis.
Padahal aku baru pulang mencuci pakaian seabreg dari kali, mana jalan yang aku lalui jauh dan menanjak di tambah menggendong sekarung cucian basah yang harus ku jemur.
Bukan cuma pakaianku tapi pakaian seluruh penghuni rumah ini termasuk mertua dan juga dua adik ipar dan juga keluarganya.
Suamiku kang jaya anak ke lima dari enam bersaudara, tapi dia yang terakhir menikah.
Namanya jodoh ya mana bisa di tebak meski dudung anak bontot tapi dia lebih dulu menikah dan punya rumah, sedangkan aku dan dua iparku yang lain masih tinggal serumah dengan mertua.
Kak Ani kakak tertua sudah punya rumah begitu pula dengan kang Amir dan dudung.
Hanya suamiku dan Didah dan Ela yang belum punya rumah.
Namaku riyani terlahir hanya dua bersaudara, hidupku juga tak kalah miskinnya dengan keluarga suamiku,namun karena jumlah keluarga kami kecil hidup kami tak sesusah di rumah mertuaku.
Kang Jaya suamiku cuma petani begitu pula dengan semua saudaranya kami hidup serba pas-pasan terkadang makan di rumah mertuaku sudah seperti balap makan waktu agustusan, siapa cepat dia dapat.
Aku tak mendengarkan ocehan Kak Ani lekas kujemur pakaian yang ku cuci lalu masuk dapur.
"Jaya udah ke kebun, tadi kamu suruh ke sana bawa minum" kata ibu
" iya bu, aku kekebun sekarang, titip jemuran ya bu
"Eh Riyani enak bener kamu nyuruh-nyuruh ibu, dia ibuku aku saja tak berani nyuruh-nyuruh." Ela adik iparku menimpali
"Kalau gitu aku titip ke kamu aja ya La, kan itu jemuran bukan cuma pakaian Teteh aj tapi juga pakaian kamu, anakmu dan suamimu" kataku setengah menyindir.
Iya aku memang menantu terakhir di rumah ini nsmun aku takan mau di bully apalagi di jajah, aku mau mengerjakan pekerjaan rumah saja itu karena aku tahu diri tapi jika di injak-injak maka aku pun tak segan melawan.
Aku bergegas pergi kekebun menyusul Kang Jaya yang sedang memupuk Kol.
****
"Doa' dan ikhtiar saja Dek, sekarang kan kita lagi ikhtiar menansm kol, semoga saja kol yang kita tanam penuh cinta ini akan memberikan hasil yang maksimal. Kol nya bagus harganya mahal supaya bisa buat beli tanah meski cuma cukup buat rumah yang kecil." ucap kang Jaya, kemudian dia meminum air yang ku bawa dari rumah.
Ya saat capai melanda, kami istirahat di bawah pohon pisang sambil bercengkrama, lapar sebenarnya namun apa boleh buat, jatah makan di rumah hanya sehari dua kali.
Pagi dan sore adalah waktu makan, itupun harus di bagi di piring secara merata, tidak bisa makan seenaknya tinggal sodok. Kalau kami masih lapar sekalipun jika jatah di piring habis kami gak bisa nambah, karena memang sudah tidak ada lagi nasi.
Terkadang lauknya pun cuma ikan asin sama sambal goang*.
Tapi inilah hidup meski di syukuri bagaimanapun bentuknya.
*****
Sepulang dari ladang aku lekas pulang, waktu dzuhur telah lewat bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengambil whudlu dan segera shalat. Namun sesampainya di pintu kamar justru sakit hati yang ku terima.
"Enak bener ya mantu kesayangan, datang langsung mandi terus masuk kamar. Tuh lihat jemuranmu udah pada kering belum kamu setrika." Itu seruan kak Didah untukku.
Padahal pakaian itu bukan cuma milikku tapi juga miliknya beserta anak dan suaminya, bahkan itu pakaian seluruh penghuni rumah ini.
Memang aneh rasanya aku di sebut menantu kesayangan oleh Teh Didah dan Teh Ela, padahal nyatanya Mih mertuaku justru membuatku seolah babu. Dari mulai mencuci piring, pakaian, menyetrika dan seluruh pekerjaan rumah aku yang mengerjakan.
Sedangkan mereka cuma makan tidur doang.
Rumah ini di huni aku, kang Jaya, Mih dan Abah. Teh Didah dan A wawan serta ika anaknya berusia tiga tahun. Teh Ela, A Alan dan Rianti anaknya yang seumur dengan Ika.
Jangan berfikir rumah ini besar seperti kebanyakan rumah di kota, rumah ini hanya rumah panggung kecil di kampung ukuran 5x7 meter. Uh sungguh miris hidup ini, namun harus tetap bersyukur meski kadang lelah menerpa, toh perjalanan ini masih panjang berliku.