Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Keberkahan berqurban



Setting Tahun 2017-2018


*******


Tahun 2017 ini awal dari segala bentuk kemudahan dan ke berkahan Yang Allah berikan pada kami, benar adanya bahwa setiap orang yang mau bersedekah, dan ber qurban maka Allah swt akan menggantinya berlipat-lipat.


Tahun 2012 silam saat Aku masih dalam keadaan sulit dan baru merintis usaha kredit barang, usaha kami yang pokok pun masih memasok hasil bumi pada bandar. Asyifa saat itu baru berusia empat tahun, saat datang bulan sawal putra ku itu merengek ingin membeli kambing.


Saat ku tanya untuk apa kambing itu, maka Asyifa bilang kalau kambingnya mau di sembelih buat qurban.


"A, memangnya kenapa Aa mau beli kambing? Emang mau Aa nyari rumput?" tanyaku.


"Aa mau sembelih kambingnya buat qurban mah, kata pak ustadz Wawan sebentar lagi lebaran haji kita harus berqurban." ucapnya tanpa jeda


" Aa tahu apa itu qurban?" tanyaku.


"Pokoknya katanya baik Mah, dan itu perintah Allah swt, Aa mah mau qurban." rengeknya.


Aku pun meng kode pada Kang Jaya, namun dia justru tersenyum bahagia.


Entahlah rasa haru menyeruak ke jiwa ini ketika putra kecil kami yang baru berusia empat tahun, justru ingin ber qurban. Bahkan di usia itu mungkin dulu aku belum bisa makan sendiri dengan benar dan tidur di dekap Ibu, justru Asyifa begitu terlihat dewasa di luar nalar kami.


Di usianya yang tentunya tak mengerti itu qurban dan tahu nya cuma jajan dan bermain, dia justru memiliki ke inginan mulya. Meski kami tak tahu apa itu hanya celotehannya saja atau memang hidayah dari Allah swt untuk membuat kami selaku orang dewasa mulai ber benah diri.


Terus terang bagiku yang sudah memiliki putra saja tak kepikiran untuk ber qurban, tapi dia anak piyik justru sudah berpikir sedahsyat itu.


Aku berpikir mungkin itu hanya celotehan saja, nantinya mungkin Asyifa akan lupa, hingga ku abaikan membeli kambing itu. Karena kami tak mau mencari rumput apa lagi waktu memasuki musim kemarau.


Namun dua hari sebelum hari raya, Asyifa kembali menanyakan kambing bertanduk. Aku pun yakin bahwa untuk berbuat baik, dan hidayah itu datang dari Allah swt tak mengenal usia, bukan hanya pada orang dewasa namun juga pada anak-anak. Allah swt memang Maha Rahman dan Rahim.


Karena waktu sudah mentok dan Asyifa selalu merengek ingin ber qurban kami pun menemui panitia qurban. kebetulan saat itu ada patungan membeli sapi untuk tujuh orang, dan baru enam orang yang berminat.


Maka ku ambil satu kesempatan itu untuk Asyifa, ku bayar uang dua juta dua ratus ribu yang di minta panitia qurban, dan di maksudkan untuk qurbannya Asyifa esok hari.


******


Tiba saat perayaan hari raya, Asyifa begitu khidmat melihat proses penyembelihan sapi qurban dia, entah lah bahkan pak ustadz dan para orangtua begitu takjub dengan keinginan putraku itu. Bahkan banyak yang merasa malu, karena kami orang dewasa justru selalu tak terpikir untuk berqurban bahkan selalu merasa belum cukup untuk berqurban, karena ekonomi yang masih kurang.


Namun saat ini semua pemikiran kami terpatahkan dengan kejadian ini, bahwa sejatinya berbuat baik tak menunggu waktu kita cukup atau kaya, tak pula menunggu waktu tua dan dewasa. Tapi selagi ada umur maka berbuat baiklah, ber sedekahlah dan berqurbanlah.


*******


Tahun 2017-2018


Usaha kami semakin hari semakin maju, bahkan setiap hari pesanan kriditan selalu full. untuk mengangkut barang pun kami tak lagi memakai motor, karena barang yang di pesan semakin banyak.


Alhamdulillah di tahun 2018 ini kami mampu membeli sebuah mobil pick up second.


Meski secend tapi kami teramat bahagia memilikinya, karena mobil ini hasil jerih payah sendiri, bukan warisan dari orangtua.


Seiring waktu ke julidan pun mulai merebak, bukan hanya muncul dari para kakak dan saudara suami, tapi juga dari para tetangga sekitar rumah, bahkan kami di fitnah kalau kami mengadakan pesugihan.


Padahal usaha kami itu nyata terlihat mata mereka, kami jual beli barang bangunan seperti pasir dan batu bata, mengkreditkan barang dan ber tani.


Tak pernah ada tetangga sekitar rumah yang belanja padaku, mereka seolah sekongkol untuk  tidak berbelanja.


Tapi rezeki tak pernah tertukar, meski para tetangga tak belanja di tempat kami tetap banyak para kenalan jauh yang ber belanja pada kami.


Kang Jaya bahkan sudah mulai bisa menyupir mobil, dan semakin sibuk karena harus mengantar barang pesanan.


Sebulan penghasilan kami mencapai lima juta rupiah, bagi orang miskin seperti kami penghasilan senilai lima juta itu sangat lebih dari cukup.


Kami bisa menabung dari sisa kebutuhan harian, belum lagi dari hasil tani Kang Jaya yang tak pernah terpakai, kami tabung semuanya.


***


Tahun ini Teh Didah bermaksud membangun rumah, namun terkendala ke uangan yang belum cukup, bahan baangunan sudah ful menumpuk, hanya tinggal biaya untuk membayar tukang saja.


Teh Didah meminjam uang pada kami, sebesar tujuh belas juta rupiah. Uang itu khusus tabungan dari hasil tani dan ternak kami selama setahun.


"Bi, boleh lah kami meminjam uang buat bayar tukang." Kata Kang Alan suami Teh Didah.


"Kapan Uwa mulai nge bangun?" tanyaku.


"Sepertinya bulan depan Bi." jawab Teh Didah.


"Berapa?"


"Tujuh belas juta, soalnya pembangunan rumah nya kami borong kan pada tukang, tinggal terima kunci saja." Ucap Kang Alan.


Memang kami saling memanggil Uwa dan Ibi yang di maksudkan panggilan itu untuk anak-anak kami.


"Nanti Kang, Aku sama Riyani mau ngecek dulu tabungan kami ada atau tidaknya sejumlahan itu." Ucap Kang Jaya tenang.


"Beneran ya Jay, soalnya kami gak tahu harus pinjam pada siapa, sedang rumah kami juga udah reyot, rapuh dan mau runtuh." Teh Didah sembringah.


"Insya Allah Teh." kataku.


Pertemuan ini pun bukan terjadi di rumah kami tapi terjadi di cisitu saat Aku dan Kang Jaya bertandang ke rumah Abah, untuk rutin memberikan biaya bulanan.


Padahal seharusnya jika mereka butuh ya datang kerumah kami, tapi alasan yang sama yang selalu terlontar yaitu sibuk dan tak ada Duit.


*****


Seminggu berlalu, aku mulai menjual tembakau hasil tani kami senilai sepuluh juta rupiah, juga menjual tabungan kambing milik Asyifa dan Hikam. Tiga ekor kambing jantan itu kami jual ke bandar, karena sebentar lagi perayaan Idul Adha.


Semenjak Asyifa dulu berqurban keadaan ekonomi mulai membaik, bshkan setiap dua tahun sekali kami pun selalu mengupayakan berqurban.


Setiap bulan Rajab kami akan membeli empat ekor kambing jantan untuk kami ternak, setiap Idul adha satu kambing kami qurbankan dan yang tiga ekor kami jual dan putarkan lagi membeli empat kambing yang masih kecil.


Jadi saat Teh Didah membutuhkan uang maka kami menjual tiga ekor kambing kami untuk menutupi kebutuhan Teh Didah.


Kami menguras tabungan kami dan me minjamkannya pada Teh Didah, sesuai jumlah yang dia minta.


******


Bukan hanya Teh Didah yang menjadi baik atau mungkin berpura-pura baik, tapi semua saudara Kang Jaya berubah menjadi baik, setiap aku ke cisitu tak ada lagi yang nyinyir dan nyindir, apalagi menghina ku.


Kang Amir dan Teh Ani pun bahkan sering meminjam uang pada kami, namun mungkin ini keberkahan dari Allah meski kami meminjamkan setiap tabungan kami, namun Alhamdulillah tahun ini aku bisa membeli lagi Dua puluh tumbak tanah di depan mesjid.


Tanah itu di maksudkan sebagai investasi masa depan kami. 


Karena letak tanah yang berdampingan dengan mesjid, maka tiga tumbak tanah itu kami wakaf kan untuk mesjid.


Sungguh indah di balik semua perjalanan hidup ini, aku yang di hina dan sering di bully pada akhirnya berpikir untuk mandiri dan membuktikan pada mereka bahwa aku mampu untuk berhasil.


Setiap ada kemauan pasti ada jalan. setiap Doa'ada jawaban dan setiap ikhtiar pasti ada hasil.


Semenjak kami memiliki mobil, kami pun pernah mau membayar hutang kami pada Abah, namun di tolak. Alasan Abah karena belum butuh.


Namun kehidupan mulus ini tak berlangsung lama karena ternyata ujian Allah sematkan lagi pada kami, bahkan lebih dari pada waktu yang telah lalu.


Ternyata....


Bersambung