Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Sakit Ditubuh Di obati, Sakit Hati terbawa mati



" Kang, uang satu juta tiga ratus itu besar dari mana kita bisa mendapatkannya?" Ucapku


"Entah lah, uang yang kamu dua ratus ribu belum terpakai kan?"


"Belum, Tapi kurangnya masih gede satu juta seratus." Cicitku menahan air mata.


"Aku mau pinjam uang ke Bandar Tembakau saja, sekarangkan kita sedang mengurus tembakau, mudah-mudahan saja Bang Rendi mau memberi pinjaman, Aku akan bilang sejujurnya keadaan kita saat ini."


"Iya Kang."


Sedang selama Aku dan Kang Jaya pergi, Asyifa putra kami di urus dan di tunggui Ibuku dan Bapakku.


Mereka rela menunggui Asyifa tanpa pamrih, karena rasa sayang Bapak pada Asyifa begitu besar, meski masalah rezeki mereka terbatas.


Tapi dengan rela mereka menunggui putraku, berbeda dengan Abah dan Mih mungkin karena cucunya sudah banyak, hingga cucu dariku sudah tak lagi istimewa. Diberi tahu Asyifa di rumah sakit saja mereka cuek, padahal bagiku ibunya Asyifa sakit itu musibah.


Jangankan menunggui Asyifa di rumah sakit, Abah dan Mih menjenguk saja tidak, alasan nya tetap sama dan klasik Tak ada duit.


*******


"Bang, Aku mau pinjam Uang." Ucap Kang Jaya.


"Berapa?"


"Satu juta dua ratus saja bang, buat bayar rumah sakit anakku."


"Ok, tapi nanti pas kamu jual tembakau aku potong semua."


"Iya Bang." Ucap Kang Jaya lega.


Sedang dalam hati aku sangat bersyukur, karena tanpa menjelaskan panjang lebar, Bang Rendi memberi pinjaman, aku ikut bersama Kang Jaya namun tak sepatah kata pun aku bicara karena rssa sungkan.


*****


Allah swt memang tak pernah menguji umatnya di luar batas kemampuan, selalu ada hikmah di balik musibah. Sebulan paska kejadian itu, tetangga kami Bah Rasyid menawarkan tanah halaman rumahnya, dua belas tumbak. Dia meminta kami Dp saja dulu sebesar dua juta rupiah sisanya lima juta rupiah lagi dia meminta jika kami sudah menjual hasil panen tembakau dan sayur.


Padahal saudara kami di pinjami uang yang cuma satu juta lima ratus saja mereka gak ada yang ngasih, kalau gak ada gak mungkin kan emasnya kaya toko emas berjalan. Di pinjam emas malah menghina sedemikian rupa.


Tapi dengan kemurahan Allah swt, orang lain justru memberikan hutang tsnah pada kami senilai lima juta rupiah.


Uang hasil sunatan Asyifa terkumpul tiga juta rupiah, Uang itu di belikan tiga ekor kambing yang di urus sama Bspaj, maksudnya selagi nunggu hasil panen semoga kambingnya bisa di jual dan punya untung untuk membayar tanah ke ws rasyid itu, supaya kami tidak terlalu besar nambah kekurangannya.


******


Hari berlalu, akhirnya Tembakau kami sudah di jual, hutang pada bang Rendi pun sudah di potong sisanya bisa di pake bayar tanah pada Bah Rasyid, di tambah uang hasil prnjualan kambing. Bahkan masih tersisa uang satu juta rupiah.


Uang satu juta rupiah itu ku gunakan untuk modal berdagang kecil-kecilan, di rumah aku buka warung kecil dan juga jualan beras. 


Selain berjualan aku pun mulai mengoles jual hasil bumi seperti kunyit?, jahe dan singkong. Alhamdulilah setiap harinya bisa bertambah penghasilan dan juga tabungan kami.Tekadku adalah hidup sukses dengan cara kami hingga mampu membungkam mulut Teh Ela dan Iparku yang lain.


Sakit hatiku dengan ucapan Teh Ela tempo hari menjadi cambuk untuk setiap usaha dan pekerjaan yang aku geluti.


Sakit hati ini masih berdarah meski telah berlalu, namun nyatanya kata-kata hinaan dari Teh Ela masih membekas.


Selama Asyifa pulang dari rumahsakit hingga setahun berlalu, tak pernah satupun ipar ku atau keluarga Kang Jaya yang datang ke rumah untuk sekedar menengok bahkan meski hanya bertanya kabar.


Entah enggan atau alasan yang klasik itu lagi yang jadi alasannya, atau mungkin karena mereka memang tak pernah peduli pada kami.


Namun apapun alasan mereka berlaku seperti ini pada kami, luka itu terlanjur menganga dan berlobang. Mungkin tak akan ku lupa hingga ajal menghampiri.


Tak akan kubalas mereka, biarlah karena setiap perbuatan mereka pada akhirnya tetap akan ada perhitungannya dengan sang khalik, untuk itu cukup berdoa' saja semoga Allah swt memberi kesuksesan dan keberkahan pada keluarga kami.