Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Kasih orangtua sepanjang Masa,Kasih Anak sebatas harta



Setting cerita tahun 2015-2016


*****


Acara aqiqah berjalan lancar para tetangga datang mendoa'kan silih berganti, hampir satu kampung kami hadir semua. Karena orang tuaku meski mereka miskin harta tetapi keluarga kami cukup pandai bersosialisasi dan religius.


Marhabaan di adakan malam hari, para orangtua dan anak-anak hadir untuk mendoa'kan Hikam. Sekitar seratus orang hadir dalam acara ini.


Kebiasaan di kampung kami jika aqiqah itu malamnya di adakan acara marhaba dan sholawat yang di hadiri kerabat dan juga tetangga sekitar.


*****


Esoknya.


"Kang,kamu antar nasi berapa bungkus buat ke cisitu?" tanyaku


"Terserah kamu Ri, toh mereka juga tidak ada yang hadir." jawabnya lemah.


"Kalau begitu aku bungkus lima buat adik dan kakakmu, satu pakai rantang untuk Abah, dan dua untuk keponakan mu yang sudah menikah." Aturku.


"Iya, nanti biar aku antarkan pada mereka, aneh rasanya semenjak kita pindah, apa tak ingin mereka datang berkunjung?" tanya kang Jaya.


aku tahu itu bukan pertanyaan tapi bentuk kecewa dirinya pada saudaranya.


"Sudahlah, mungkin mereka sibuk, lagi panen Tembakau." ucap ku.


"Tapi Ri, bukankah yang namanya saudara itu jauh lebih penting dari sekedar uang, dan kedudukan? Tapi mereka menjadikan semua melebihi batasnya, atau memang mereka tak pernah perduli padakku? Aku serasa tak diinginkan bagaikan kotoran yang di buang." Kang jaya pun terisak menangis.


Aku hanya membisu, membiarkan imam ku ini meluapkan segala rasa sedih dan kecewanya, aku tahu hatinya saat ini sangat lah patah.


Memang benar Kang Jaya seolah menjadi anak buangan, tak pernah seorang pun keluarga menjenguk ke sini semenjak kami pindah, tak pernah pula menanyakan kabar walau hanya basa-basi.


Setidaknya untuk acara penting seperti ini mereka mampu hadir dan memaksakan waktu, bukan cenderung lada pekerjaan, karena acara seperti ini belum tentu terulang lagi, sedangkan pekerjaan bisa di tunda lain waktu.


Padahal demi menitipkan diri kami pada mereka suamiku rela mengesampingkan urusan kami demi mereka. Setiap mereka membutuhkan tenaga Kang Jaya, Dia selalu sigap dan siaga.


Seperti ke kebun, suamiku selalu membantu kakaknya dan baru mengerjakan pekerjaannya setelah pekerjaan kakaknya beres.


****


Di cisitu


"Kang, ini Nasi aqiqah Hikam kamu bagikan saja sesuai tulisan namanya, aku tak mampir takutnya kalau siang Hikam kepanasan." kata Kang Jaya.


"Iya, maaf kami tak datang, kami belum punya uang dan juga lagi panen tembakau yang tak dapat di tinggalkan." ucap Kang Amir


Lalu Aku dan Kang Jaya segera pulang, tak ingin kami8 berlama di sana, karena selalu teringat dengan sikap mereka yang mementingkan tembakau dari pada krluarga.


Entah itu benar karena mereka sibuk atau hanya alasan saja, bahkan hingga delapan tahun pindah ke Cileutik, mereka seolah enggan walau hanya sekedar mampir.


******


Ke esokan hari nya.


Drtttt...drtttt..


Ada Sms masuk di hp ku itu sms dari seorang teman di cisitu, atau tetangga yang memang menyayangiku dan selalu membela ku di sana, Teh Nur namanya.


'Ri, kemarin kamu mengirim nasi ya ke Abah?'


kubalas sms itu


'iya, ??'


'kamu tahu nasi dari kamu mereka bilang, kayak ngasih kucing cuma sedikit, belum lagi lauk nya cuma sepuluh tusuk perbungkus katanya kamu 'medit'


'Masa?'


'Asli loh, malah mereka bilang kamu itu, menantu cari muka, gaya nya pakai aqiqah segala, padahal uangnya nge hutang'


'Siapa yang bilang?'


'Teh Ani sama istrinya Kang Amir.'


Ku simpan hp ku, bahkan dada ku sudah bergemuruh. 'Segitu benci kah mereka padaku, hingga setiap kebaikan yang ku beri kan tak pernah mereka terima, justru selalu menghujat dan menghina.' monolog ku.


Aku hanya mampu menangis, sambil ku timang Hikam dalam ayunan, aku tergugu menangis terisak menahan suara sesenggukan.


Asyifa sedang tidur siang di sampingku, Aku tak ingin Asyifa melihat ku menangis. Anak itu sudah mulai mengerti segala hal bahkan sangat kritis bertanya jika ibundanya ini terluka walau sedikit saja.


***********


Bulan berganti bahksn rasa sakit hatiku pada mereka mulsi pudar, aku sering mengikuti kajian di mesjid terdekat,kata salah seirang ustadz tak pernah ada ujian untuk seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.


Meski yang namanya nasib memang masih bisa di ubah dengan segala bentuk doa' dan ikhtiar, kecuali takdir seperti jodoh, kematian  kehidupan kebahagiaan dan kesedihan sudah tertulis di lauhulmahfudz paten tak bisa di ubah.


Aku berusaha meng ikhlaskan segala bentuk ke julidan dari para ipar ku, bahkan segala bentuk fitnah dan hinaan dari mereka, mungkin semua yang terjadi dan yang aku jalani memang sudah garis takdir. Allah tahu aku mampu melewatinya meski harus berderai air mata dan berjuang hingga tak mengenal kata lelah dan menyerah.


Berusaha memaafkan mereka tanpa di minta, karena mereka memang tak pernah sadar menyakiti ku berkali-kali bahkan terus menerus.


*******


Setelah kelahiran Hikam rezeki kami semakin mengalir, beberapa kali ku ingatkan suamiku untuk membayar hutang pada Abah, namun dia enggan.


Alasannya karena uang yang nanti kami bayarkan tentunya akan kembali di pinjamkan pada Anak-anak yang lain, sedangkan mereka tak pernah sedikit pun ingat memberi pada Abah.


Kadang para ipar ku itu membayar hutang pada Abah dengan cara di cicil, hingga uang itu tak lagi utuh.


Apalagi mereka sudah bisa menikmati tanah bagian pemberian Abah, namun mereka seperti enggan untuk menopang kebutuhan dan biaya ber obat Abah sekalipun.


Sudah setahun Abah mengalami struk ringan, kaki kanan nya tak lagi ber fungsi dengan baik, berjalan pun memakai tongkat, apalagi bekerja je sawah atau ke kebun, sama sekali abah sudah vakum.


Untuk makan Abah mengandalkan hasil sawah dan juga hasil sewa kebunnya, apalagi semenjak kami mampu memberi padanya, kebutuhan pokok dan uang jajan abah kami menjatahnya setiap bulan.


Bukan untuk pamer atau mengharap pujian semua yang kami lakukan murni karena kami menyayangi Abah.


*****


"Jay, Abah sakit." ini Wa dari Teh Didah.


"Iya Teh, Kenapa?" balasku


"Kata Dokter typus, harus di rawat."


"Sekarang di mana?"


"Lagi di klinik Wal**a, Kalian cepat nyusul ya."


"Baik Teh, tapi aku mau nyusul dulu Kang Jaya ke kebun." balas ku, lalu ku simpan hp dan segera menyusul Kang Jaya ke kebun yang kami sewa dari tetangga.


********


Usia Hikam saat ini baru delapan bulan, dia sedang aktif-aktifnya merangkak, sedang Asyifa sudah kelas 2 SD, setiap hari dia cuma sekolah, pulang menonton kartin lalu pergi mengaji.


Tak pernah Asyifa rewel, dia setiap hari tak lagi ikut aku dan Kang Jaya bepergian, dia lebih memilih tinggal di rumah bersama ke dua orangtuaku. Kakek dan nenek kesayangannya.


Hingga saat Abah sakit pun aku dan Kang Jaya leluasa pergi ke Klinik, Hikam ku titip pada Adikku, karena dia juga memiliki anak laki-laki se usia Hikam. Kami melahirkan cuma beda dua bulan. Hingga aman menitipkan Hikam padanya karena memiliki Asi.


******


Sesampainya di klinik.


"Kang, gimana kabar Abah" kata suamiku.


"Lagi di infus." Jawab Kang Wawan.


"oh, tapi gak parah?"


"Lemah dan lesu saja karena tidak ada makanan yang masuk." Teh Ani menimpali


"Jay, gimana bayar rumah sakitnya, di aku ada sih uang Abah yang aku pinjam lima ratus ribu." kata Kang Amir.


"Di aku juga ada satu juta rupiah." jawab Teh Ela.


"Apalagi di Aku, Uang Abah ada dua juta yang aku pinjam." timpal dudung lesu.


"Jangan begitu masalah uang Abah mah Aku juga punya hutang delapan juta tiga puluh ribu." Ucap Kang Jaya.


"Lalu biaya untuk bayar klinik mau bagai mana?" Teh Didah.


"Aku mah manut sama yang besar aja, mau patungan aku mah ikut aja." kata Kang Jaya.


"Ih, enggak lah kan Abah juga ada duit, kenapa harus patungan, sok aja nanti tanyakan berapa biayanya terus di bagi enam, kena nya per orang berapa, nanti kata bayar saja hutang kita ke Abah." Ucap Teh Ela.


"Iya bener tuh kata Ela, kslau patungan mah boro-boro kita jufa gak ada duit." kata Istri Kang Amir.


Kesepakatan pun di ambil biaya abah akan di bayar dengan uang Abah yang ada pada anak-anaknya.


Sebenarnya inginnya sih patungan, bahkan aku bayar sendiri uang rawat inap Abah, namun melihat gelagat para Ipar ku yang segitu perhitungannya meski dengan orangtua mereka sendiri, aku pun jadi mundur.


Biaya rawat abah selama dua malam tiga juta rupiah, kami masing-masing mengeluarkan usng lima ratus ribu untuk membayarnya.


Tapi tekad ku jika nanti Abah memotong hutang kami dengan uang itu kami tidak akan menerimanya dan akan full membayar hutang kami pada Abah. Meski para kakak tetap akan memotong uang Abah yang ada pada mereka.


,,