
Ketika Kang Jaya memberikan uang tiga juta hasil panen itu, sebenarnya tanpa dia ketahui aku memiliki sedikit simpanan. Setiap uang empat ratus ribu sebulan yang dia berikan untuk jajan tak pernah aku belikan, bukan pelit tapi aku benar-benar ingin segera keluar dari rumah rasa buian ini.
Sepuluh bulan pernikahan, aku bisa mengumpulkan uang empat juta lima ratus ribu rupiah, berikut uang Mahar seratus ribu waktu kami menikah.
Entahlah rasanya aku bahagia bisa punya pegangan uang hampir tujuh juta lima ratus ribu rupiah karena sebelum menikah mana pernah pegang uang jutaan paling gede pegang uang ya lima ribu rupiah jatah jajan dari Bapak. Ke esokan harinya kubelikan kalung emas dua buah, yang satu ku simpan dan yang satu ku pakai.
Sebenarnya Bapak sudah memberi tahu aku kalau paman, adiknya ingin pindah rumah ke kampung bibi di cilembu. Rumah panggung sederhana dan tanah enam tumbaknya akan dijual. Kata Bapak harganya sembilan juta rupiah itu gak bisa di tawar lagi. Aku belum memberitahu Kang Jaya kalau aku punya simpanan uang. Juga soal paman yang akan menjual rumah.
Bapak sangat berharap kami pindah agar dekat dengan mereka, karena Bapak cuma punya dua putri aku dan adikku.
Ya semoga saja aku bisa punya tambahan uang agar bisa membeli rumah paman, dan keluar dari istana mertuaku.
******
Meski kang Jaya punya bagian tanah dan tabunganku cukup untuk beli rumah panggung bekas tapi masalahnya tanah bagisn Kang Jaya justru tanah tempat rumah ini berdiri. Ya rumah dan tanah ini sejatinya milik kang Jaya bukan milik Abah. Bukan kami yang jadi benalu tapi mereka.
Tapi mempertahankannya pun percuma, karena mereka tak pernah mau keluar dari sini. Iya waktu bujangan dulu suamiku membangun rumah ini dari hasil dia berdagang dan berkebun. Sedang rumah abah di kosongkan alasannya pindah ke rumah suamiku karena abah sering sakit-sakitan.
Yang hijrah abah tapi anehnya tuh ipar kok malah pada ngekor. Sebel rasanya mereka pindah sebelum aku dan kang Jaya menikah. Kami menikah bukannya pindah malah abah menjual rumah panggungnya pada Teh Ani.
********
Teh Ani tadinya serumah dengan Abah, mereka petani yang Ulet, hingga saat abah sakit dan pindah ke rumah Kang Jaya, mereka membujuk abah agar menjual rumahnya.
Abah dan Mih pun menjual dan mereka pindah paten ke rumah Kang Jaya dari sebelum aku menikah, aneh ketika Kang Jaya memutuskan untuk menikah, bukannya abah pindah justru malah pindah dengan para ipar ke rumah calon suamiku.
Seakan mereka sudah berencana untuk mengambilnya, dan memilikinya.
Kata mereka Kang Jaya sudah cukup matang untuk menikah, tapi ketika memutuskan menikah denganku, uang tabungan Kang Jaya justru habis terpakai oleh Mih. Hingga saat kami menikah, kami hanya menikah di KUA tanpa ada resepsi.
Uang tabungan suamiku katanya ke pinjam Mih, bahkan emas untuk mahar seberat sepuluh gram justru habis terpakai ketika Abah sakit. Mereka memakainya tanpa sepengetahuan Kang Jaya, karena Kang Jaya tidak mengerti menyimpan uang di bank, dan menitipkannya ke Mih. Namun yang di titipi justru tak amanah, memakainya tanpa izin hingga habis.
Datang ke keluarga ini sebenarnya seperti masuk sel/ penjara, tak bisa aku bertetangga karena waktuku habis untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan berkebun. Aku yang gak bisa apa-apa sudah pasti belum terbiasa, di marahi dan di suruh ini itu oleh Mih dan para ipar sudah menjadi tradisi.
Kalau aku keluar rumah untuk mengobrol dan bermain dengan tetangga, maka baru sepuluh menit saja pasti Suara cempreng teh Didah akan terdengar seperti Toak berterian-teriak memanggilku, aku kemudian di marahi katanya hidup itu jangan buang waktu ber gosip mending menganyam bikin bakul dan Nyiru biar menghasilkan uang.
Padahal aku datang ke tetangga bukan bergosip, cuma ikut makan rujak mangga karena aku sedang mengidam.
Rasanya ingin segera di beri rezeki oleh Allah swt supaya bisa membeli rumah dan tanah, meski cuma rumah panggung. Daripada berdesak-desakan di rumah ini mending kami meng ikhlaskan rumah ini untuk mereka. Hitung-hitung tanda bakti suamiku pada mereka.
Setiap suamiku menanyakan tabungannya yang di pinjam Mih, Abah pasti marah mereka sepertinya memang tak berniat menggantinya. tapi biarlah, aku tak mau pusing mikiran mereka, hidup ku udah ribet ngapain juga ngurusin mereka.
Kadang aku meradang sendiri, rumah ini hanya rumah panggung berukuran 4x8 dapur 4x6 meter, ada dua kamar kecil di rumah dan dua di dapur. dan tempat ruang tv yang sempit, padahal Teh Didah dan Teh Ela itu banyak uang.
Mereka sudah punya bagian masing-masing Tanah dari Abah untuk bikin rumah, emas yang mereka pakai pun ibarat kata Toko Emas ber jalan, jika mereka niat jsngankan rumah panggung, rumah permanen pun mereka mampu.
Emang dasarnya mereka itu tak mau hidup mandiri, mereka pelit dan pemalas. semua pekerjaan rumah aku dan Mih yang ngerjain. Bahkan mereka cenderung susah untuk membeli kebutuhan dapur, jika di minta sama abah pun nunggu seminggu baru memberikan beberapa uang untuk kebutuhan dapur.
Pantas saja mereka bisa punya banyak Emas karena uang mereka jarang terpakai untuk kebutuhan sehari-hari.
Apalagi semenjak ada aku, mereka jadi punya pembantu gratis, hingga membuat mereka makin betah, jarang memasak ataupun men cuci waktu mereka habis untuk menganyamdan menghasilkan rupiah tapi uang mereka khusus untuk beli emas.
Padahal menurutku mending bikin rumah sendiri, kalau di rumah sendiri itu mau nyuci mau enggak juga tergantung kita. Mau tidur seharian juga gak ada yang larang. Tapi dasarnya benalu ya benalu, gak mau pindah dan mandiri karena gak mau keluar duit buat isi dapur.
jika Mih atau Abah sakit saja, mana mau mereka mengeluarkan uang untuk berobat pastinya hanya Kang Jaya dan Adik bungsunya yang patungan untuk membawa berobat kalau kakaknya yang empat, alasannya klasik Gak punya duit.
Jangankan untuk berobat Abah dan Mih, sekalinya ada yang nawarin jajanan atau pedagang lewat pasti alasannya gak punya Duit. Padahal uang mereka banyak.
Sungguh rumit hidup dengan mereka, hidupnya pelit dan ribet sekalinya jajan pasti mereka ngomong terus dan menghitung kerugian uang yang sudah keluar.
Intinya Aku masuk keluarga yang irit dan rumit.