
Sebulan sejak insiden itu kehidupan kami kembali seperti biasa, namun tetap hambar seperti kata pepatah kalai rumah tangga ini kurang garam. Hubungan dengan Kang Jaya pun biasa saja, binar cinta di matanya tak lagi terlihat. Entah lah semenjak kena guna-guna dia berubah seperti kurang gairah hidup, tak lagi yang menggebu baik usaha mau pun bersua.
Aku tetap menjalani aktivitas berdagang setiap haeinya, Alhamdulillah dagangan laris dan kehidupanku mulai tertata lagi.
Setiap seminggu sekali ku kunjungi anakku Asyifa di pesantren, Hikam pun sudah mulai masuk PAUD, setiap hari Hikam berangkat sendiri, mandiri sejak dini aku terapkan padanya, apalagi jarak rumah dan Paud hanya beberapa puluh meter saja. Hikam tak pernah rewel meski sering aku mendengar kabar burung tentangku dari para tetangga yang mengantar anaknya, menggosip kan ku yang terlalu duniawi mencintai harta hingga tak mampu mengantar Hikam. Ku diam kan mereka, biarlah toh hidup itu pilihan, kita benar atau salah tetap saja di gunjing orang, yang penting pribadi kita yang harus tahu aturan.
Kang Jaya semakin sering ke Cisitu katanya dia sedang bertani di Cipasir kebun yang kami beli dari memindahkan tanah dekat mesjid, setiap hari komunikasi kami semakin minim.
*****,
Drttt...Drttt...
Ku angkat Hp ku.
"Assalamualaikum Ri, apa kabar? Lama kamu gak ke sini?" Tanya Teh Nur tetangga Abah di Cisitu.
"Waalaikum sallam teh, baik alhamdulillah, sebaliknya kabar Teteh gimana? Iya sibuk aku jaga warung."
"Ri, gimana ya mbak ngomongnya bingung mau ngasih tahu kamu Teteh takut ketahuan keluargamu, gak ngasih tahu serasa dzolim padamu."
Deg hatiku mulai tak karuan.
"Iya teh gak enak gimana? Bicara saja lah ada apa toh?"
"Gini sebenarnya nanti malam bakal ada acara di rumah Abah sama Mih, apa kamu di kasih tahu? Kalau m..m... gimana ya Ri?"
"Kalau apa Teh? Riyani gak ada yang ngasih tahu apapun, malah tahu dari Teteh sekarang."
"Sebenarnya Kakak tertua mu mau menikahkan putrinya, katanya Dedeh mau nikah sama orang pasir hayam."
"Teh Ani mau menikah kan Dedeh? Kang Jaya gak ngomong ya?"
"Iya makanya teteh heran kok kamu gak ada di sini padahal seluruh keluarga besar Abah dan Mih semua hadir lagi pada sibuk masak buat acara nanti, Jaya juga ada di sini, malah katanya uang biaya pernikahannya dapat minjam dari Jaya, Tanah di Cipasir Jaya gadekan ke orang sana sepuluh juta rupiah Ri." Teh Nur menjelaskan.
"Baik Teh terimakasih info nya."
Kututup telpon dari Teh Nur, kuremas dadaku yang semakin sesak bahkan tanpa terasa air mata ku luruh.
Deg rasanya hati ini sakit bagai kena palu godam, serasa di khianati dan di bodohi keluarga Abah, padahal semua kakak ipar punya hutang padaku yang tak kunjung mereka bayar, Teh Didah berhutang tiga belas juta, Kang Amir empat juta Dudung delapan juta dan Teh Ela lima belas juta, sudah tiga tahun mereka berhutang namun tak pernah membayar. Di tagih pun selalu saja banyak alasan.
Sekarang Teh Ani meminjam sepuluh juta tanpa sepengetahuanku, bahkan kebun kami di gadeikan saja aku tak tahu.
Kini rasa sakit ini semakin menjadi, serasa tak di hargai lagi oleh Kang Jaya, setega itukah suami yang aku pertahankan, ku agungkan dia meski diri ini selalu tersakiti, tapi balasannya justru jurang pengkhianatan yang aku terima.
'Baik permainan sebenarnya akan kita mulai Kang, Kamu jual Aku beli' monologku.
******
Ketika malam berlalu, Kang Jaya tak pulang, bahkan sekedar Wa atau telpon pun tidak, padahal dulu tak pernah dia seperti ini, selalu pulang selarut apapun, jika terjebak hujan pun akan mengabari meski lewat sms.
"Assalamualaikum..."
Terdengar suara salam di depan rumah, itu Kang Jaya baru pulang ketika sore menjelang. Bahkan warung pun sudah kututup.
"Waalaikum sallam" jawabku, ku mulai permainan ini, berpura-pura saja tak tahu menahu apapun meski sebenarnya Dongkol hati karena di bodohi.
"Kakang gak pulang semalam kok gak ngabarin sih? Riyani nungguin sampai malam, mau ngunci rumah takut Akang pulang ." ku tanyai dia dengan sikap sok manjaku.
"Iya maaf Ri, Akang ketiduran di rumah Abah."Kang Jaya menjawab lalu berlalu masuk hendak mandi.
Sudah ku tekadkan untuk membeli permainan dari Kang Jaya tunggu saja Kang, istrimu yang bego dan lugu ini mulai hari ini tak akan lagi bisa kau bodohi.
*****
Seminggu berlalu sejak saat itu tanpa sepengetahuan Kang Jaya ku ubah surat-surat Rumah dan juga kebun yang kami miliki, semua ku atas namakan diriku.
Kang Jaya tampaknya tidak tahu jika aku bisa berbuat seperti ini ketika ku minta dia menandatangani berkas dia mau-mau saja. Pernah bertanya dan ku jawab saja jika ini persyaratan untuk pinjaman ke Bank. Aku beralasan mau pinjam ke bank karena butuh untuk modal berdagang.
Semua berkas sudah aman kutitipkan pada orang tuaku, Bapak pun nampak kebingungan namun ku beritahukan saja pada Bapak jika surat-surat itu di urus Kang Jaya dan suruh di simpan di rumah Bapak.
Tak pernah ku ceritakan semua penderitaan ku pada Bapak, beliau sudah sepuh, ibu pun sering sakit, tak tega rasanya jika harus membebani mereka dengan permasalahan rumah tanggaku.
******
Ku mulai menagih hutang pada semua iparku, ketika datang ke Cisitu mereka memberi tahu kalau Dedeh sudah menikah, katanya cuma ijab qobul saja, maaf tidak memberitahuku. Aku pura-pura saja kaget. meski dalam hati gondok setengah mati. Dari dulu memang Aku tak pernah di terima keluarga ini, menganggapku tak pantas jadi bagian keluarga mereka yang katanya Ahli bertani dan bekerja bukan pemalas dan tukang tidur sepertiku.
Kutagih mereka dengan alasan jika warungku butuh modal dan punya hutang bang yang sudah terbengkalai lama hingga harus di bayar lunas, Orang yang pertama ku tagih Teh Ela dan Teh Didah ku beri mereka waktu tiga bulan jika mereka tak mampu membayar hutang akan ku sita sawah atau kebun sebagai gadei dari hutang mereka.
Tampak mereka terus mengulur hutang itu hingga sudah tujuh bulan berlalu dan tak pernah ada penyelesaian. Padahal yang ku dengar dari para tetangga di sana Teh Didah baru saja menjual Tembakau hasil panennya senilai empat puluh juta rupiah, saat di tagih dia beralasan belum di bayar dan hanya membayar lima ratus ribu rupiah saja.
Teh Nur memberi tahu bahwa Teh Didah telah membelikan uang hasil tembakau itu pada Tembakau kebun yang siap panen. Rasanya iparku yang satu ini sengaja mengulur- ngulur waktu dan Teh Didah sepertinya bahagia melihatku yang susah dan kelimpungan menagih tiap hari.
Ku datangi Teh Didah bersama Bapak, ku ambil sawahnya sebagai jaminan dari hutang itu, atau istilah di sini Gadei kebun.
Mereka marah, namun tak ku hiraukan karena aku mengambil hakku.
Sementara ipar yang lain ku biarkan saja dahulu mereka, jika esok lusa tak ada itikad baik juga akan ku urus semuanya tanpa sisa.
*******
Kang Jaya hingga kini tak pernah jujur soal menggadeikan kebun di Cipasir. Aku pun berpura-pura tak tahu. Hubungan kami pun makin hambar setiap harinya.
Anehnya Kang Jaya pergi ke Cisitu setiap hari katanya mau ke kebun di Cipasir, entah kemana saja dia setiap harinya berangkat pagi pulang sore, aku masa bodoh.
Semakin hari semakin gencar ku tagih para ipar julid ku, selama tujuh bulan ini hanya Teh Ela dan Kang Amir yang sudah full membayar, ku simpan uang itu di tabungan atas nama aku yang tak di ketahui Kang Jaya.
Kang Jaya tampak sedikit marah dan kecewa karena aku menagih pada para saudaranya bahkan menyita sawah Teh Didah, namun tak kuhiraukan ocehannya, ku anggap saja angin lalu seperti dia yang juga membohongiku, tak menganggapku bahkan cenderung mengabaikanku.