Ipar-ipar Julid

Ipar-ipar Julid
Flash back sebelum melahirkan



"Kang, Bapak bilang rumah Mang Ade mau di jual." ucapku manja serta setengah membujuk.


"iya aku sudah dengar, kemarin Bapak mu cerita, aku tahu kamu ingin kita yang beli kan?" 


" iya kang, tapi uangnya kurang." sambil ku menunduk.


" ri, rumah itu mau di lepas sembilan juta, sedang uang kita cuma tiga juta tabunganku buat lahiran utun cuma satu juta, jika di gabung juga tetap masih kurang." ucap kang Jaya sambil mengangkat wajahku.


"aku punya tabungan uang jajan, aku ada simpanan empat juta lima ratus." ucapku takut.


Kang Jaya ternganga, jelas dia shock secara selama ini dia tahunya aku suka jajan sesuai laporan para iparku, nyatanya aku cuma jajan kalau Bapak menjenguk ke rumah ini.


iya kalau bapak datang pasti ngasih uang lima puluh ribu buat jajan. uang itulah yang sering ku belikan baso jika lagi pingin jajan, itu juga di atur supaya bisa ke pakai satu bulan jajan. jadi jajanku itu gak tiap hari cuma lagi pingin saja baru jajan.


"Ri, beneran uang simpanan mu segitu jadi kamu gak pernah jajan dong?" 


"Iya kang, aku jajan kalau bapak ngasih uang aja."


"kalau gitu total simpanan kita ada delapan juta lima ratus." ucap kang Jaya.


" iya kang, kalau gitu mau kamu belikan rumah Mang Ade, berarti kurang lima ratus ribu."


"Tawar aja Kang, siapa tahu mamang ngasih discont." ucapku berbinar.


"Tapi utun butuh biyaya Ri, dua bulan lagi utun lahir." kang Jaya lemas.


Aku tahu Kang Jaya ingin membeli rumah itu juga. aku pun memberanikan diri untuk membeli rumah itu saja, utun masih ada waktu untuk ngumpulin lagi uang jajan aku dan juga Kang Jaya, apalagi dua hari lagi tembakau pun sudah ada yang mau membelinya.


Semoga saja, tembakau cepat laku sebelum utun lahir.


****


Esoknya aku dan Kang Jaya menemui Mang Ade, sekalian ketemu ibu. Rasanya sudah rindu tak bersua dengannya.


Akhirnya Mang ade menjual rumah itu pada kami, lega rasanya. Akhirnya aku bisa punya rumah dan tanah sebelum Utun lahir, mungkin memang rezekinya utun.


Setelah membayar rumah, aku atau pun Kang Jaya tak punya pegangan uang kecuali modal dagangnya, esoknya Kang Jaya berjualan lagi.


***


Kang Jaya pergi berdagang hari ini, Mih menyuruhku mengambil kayu bakar di ladang. Kayu bakar yang di kumpulkan Kang Jaya di Saung dan belum di ambil.


dengan perut buncit aku menggendong seikat kayu bakar, berat rasanya. Semenjak kandunganku memasuki tri semester ke dua, aku sering lelah dan jadi kurang tenaga.


Ditengah guyuran hujan aku memaksakan pulang dan....


Bugh... aku terpeleset jatuh terlentang di atas kayu bakar, pinggulku rasanya sakit banget. Tapi aku tetap bergegas pulang karena hari sudah sore, belum lagi jemuranku pasti belum di setrika dan belum ada yang memasak juga, ujung-ujungnya aku yang repot dan kena damprat.


*****


Setiba di rumah Kang Jaya sudah pulang berdagang. Dia menyerahkan lima puluh ribu uang hasil dagangnya, tak lupa sekeresek kebutuhan dapur dari mulsi beras, minyak, sabun, dan juga ikan Asin.


setelah mandi dan memasak, kami makan selepas magrib, sambil menonton tv. Aneh aku sangat mengantuk hingga cepat masuk kamar dan tertidur.


****


Pukul 03;00 aku terbangun dan 'Apa ini? kok Basah. '