I Will Change My Destiny

I Will Change My Destiny
Pergi ke kerajaan



"Nona, dari tadi anda mendengus kesal. apa karena pria itu?"


Ya benar, aku kesal sekali padanya. padahal itu cuman satu-satunya, kenapa pria tidak bisa mengalah pada perempuan sih!?. aduh lama-lama aku stress.


Kalau di pikir-pikir aku melihat rambutnya berwarna hitam, tapi di ibu kota banyak yang berambut hitam juga. aku sempat berpikir itu adalah putra mahkota, tapi tidak mungkin


"Nona waktunya makan siang" ucap marie mengingatkan majikannya untuk makan siang


"Ah, ya" aku dan marie turun tangga dan pergi ke meja makan. "selamat siang ayah, ibu dan kakak" ucapku sembari mengangkat gaunku


"Ayo nak duduk, di sisi ibu" ucap duchess


"Vanessa, tadi kamu ke ibu kota yah. beli apa saja?" tanya duchees


"Oh, aku hanya beli roti dan puding... yah puding!" ucapku melotot, kenapa aku harus mengingat pria itu!


"Kamu kenapa vanessa?" tanya davide melihat adiknya berkata sembari melotot


"Huh, anu kak. eeee... tidak apa-apa moodku sedang jelek sekarang"


"Moodmu jelek?, kenapa" duke mengangkat alis. "Anu... tuan duke, nona tadi dia kesal dengan. hmmp!"


Vanessa menutup mulut marie. "Ah!, itu... aku kesal dengan batu, yah batu haha"


"Ada apa dengan batu?" tanya davide menggaruk tengkunya. "A-aku terjatuh karenanya"


"Terjatuh!!, apa lututmu sakit?" ucap duchees khawatir. "Tidak!, tapi syukurlah marie memegangku sebelum jatuh"


Maafkan aku ayah, ibu, kakak. aku harus berbohong, kalau aku berbicara yang sebenarnya... aku tidak ingin melihat orang mati oleh ayah T_T, hanya masalah kecil


"Kalau begitu, terimakasih marie" ucap duke tersenyum. "I-ya tuan. tidak apa-apa"


Nona, kenapa anda harus berbohong? batin marie


...***...


"Nona kenapa anda berbohong!" tanya marie


"Kau mau melihat orang mati oleh ayah, hanya karena masalah kecil. aku pun terpaksa berbohong, hatiku yang bilang... tapi otak ini ingin aku mengadu pada ayah" sulit sekali pilihan ini, jadi aku pikir yah sudah bohong saja


"Benar juga nona" aku hanya mengangguk kecil. ngomong-ngomong apa aku tidak punya jadwal seperti minum tea dengan bangsawan atau lain-lain. dari kemarin aku hanya diam dan berkeliaran


"Marie, apa sekarang aku mempunyai jadwal?, dari kemarin aku hanya diam saja dan berkeliaran"


"Nona anda seharusnya memang mempunyai jadwal seperti biasa, tapi tuan duke bilang untuk beberapa hari ini nona istirahat saja"


Aku sudah sehat, dan nyatanya aku bisa jalan kemanapun aku pergi. "tapi aku bosan" lirihku tak berdaya


"Nona bagaimana kalau kita ke kerajaan"


"Uhuk!, u-untuk apa?" kenapa marie mengajakku mati!. "Bukankah kata nona kalau anda bosan seperti ini, tempat untuk menghilangkan bosan adalah pergi ke kerajaan dan bertemu dengan putra mahkota"


Apa aku salah? tanya marie


Itu adalah kata-kata dulu dan sudah basi, buat apa sekarang aku pergi kesana. aku tidak mau mati kedua kalinya


"Nona anda jangan khawatir, kaisar mengizinkan nona untuk keluar masuk kerajaan dengan sesenang hati!" ucapnya tersenyum


Aku tidak sedang khawatir itu, aku tidak ingin kembali ke tempat yang ku benci selamanya.


Tok..tok..tok! suara ketukan.


"Masuklah" ucapku dengan malas


"Nona, ada surat dari kerajaan"


"Oke, terimakasih" aku melempar surat itu ke meja di depanku.


"Nona anda kenapa tidak membacanya?"


"Aku malas" vanessa yang asalnya duduk berganti posisi menjadi tidur dan menghadap punggung sofa. "Ya sudah biar saya yang membacanya"


Vanessa mengangkat tangannya artinya silahkan. "Kepada nona vanessa, saya mengajak anda untuk minum tea bersama dan berbincang-bincang hal yang menarik. -kaisar"


Vanessa yang sudah menutup mata mendenngar kata kaisar langsung berlari menuju pelayannya. "Apa! kaisar!?, aku tidak sedang berimajinasikan"


"Apa boleh aku tidak datang?" tanya vanessa dengan senyuman benar-benar menolak


"Tidak!, nona anda harus datang" marie membantu nonanya untuk membuka bajunya dan memakaikan gaun yang ia pilih


Yah ini hanya dengan kaisar, tidak dengan si putra mahkota itu. batin vanessa


"Sudah selesai" gaun dengan perpaduan biru bagian atas dan putih bagian bawah menampilkan elegan dan kharisma


"Terima kasih, ayo kita berangkat"


...***...


"Bagaimana kabar nona vanessa" tanya kaisar sambil menyeruputi tea nya


Vanessa telah sampai dan sekarang sedang berbincang dengan kaisar ayah putra mahkota


Tidak terasa sudah sampai batin vanesaa


"Saya baik-baik saja baginda" ucapku canggung


"Bertahun-tahun aku sudah menjadi kaisar dan sekarang aku harus mewarisi tahta ini pada anakku" memang sudah seharusnya mewarisi tahta, mengingat usia baginda sudah semakin tua, tidak baik untuk terus berkerja


"Dan sudah seharusnya anakku mempunyai pedamping masa depannya, maukah nona vanessa menjadi pendampingnya"


"Uhuk!..uhuk!!" aku menepuk-nepuk dadaku, apa yang di bilang kaisar tadi? pendamping? aku? "No-nona!"


"Baginda cu-cuman asal bicarakan" tanyaku dengan tersenyum gagap


"Eiy~, bukankah nona vanessa suka dengan caesar?" yah nama putra mahkota adalah 'Caesar Etan De Halbet', pria yang harus aku hindari


"T-tapi..." belum sempat vanessa berbicara, caesar muncul. "Salam ayah, semoga dewi aries menyertaimu"


"Oh!, caesar. panjang umurmu kemari dan duduk" sekarang caesar dan vanessa duduk berhadapan hanya meja bundar yang menjadi jarak di antara mereka


"Caesar, kamu tahu ayah sudah tua. dan tidak bisa melanjutkan sebagai kaisar lagi, karena kamu adalah anakku satu-satunya. ayah ingin kamu menjadi kaisar selanjutnya" ucap kaisar meneluk-nepuk bahu anaknya


"Dan, nanti sebelum kamu menjadi kaisar. kamu menikahlah dengan nona vanessa dan jadikan lah dia ratu sekaligus istrimu"


Oh! tidak!! batin vanessa


"Kenapa aku harus menikah, lagi pula aku tidak ingin mempunyai istri ayah" ucapnya sambil menatap vanessa dan beralih menatap ayahnya


"Kalau begitu" ada jeda yang begitu lama. "kamu tetap harus mau!"


"A-apa ayah, tapi"


"Kalau kamu sudah menjadi kaisar, para mentri akan bertanya kamu kapan akan menikah dan memaksa kamu untuk menikah, karena ini untuk kebaikan negara" kaisar memegang tangan vanessa dan caesar dan menyatukan mereka


"Kalian itu cocok!, caesar kamu sangat bijak sepertiku, dan vanessa kamu sangat pengertian dan juga baik"


Cocok dari mana? mata baginda kenapa? tolong perhatikan lagi dan tolong jangan nikahkan aku dengan anakmu


Caesar berpikir dan mengatakan. "Baiklah, akan aku jadikan nona vanessa menjadi istriku"


"Tidak!!" ucapku dengan memegang kepala


Caesar dan kaisar melihat vanessa yang menolak. "Tidak kenapa vanessa?, apa kamu tidak ingin" tanya kaisar


Kalau aku tolak, akan tidak enak. mengetahui kebaikan kaisar padaku sangat besar. dia memperlakukanku seperti anaknya juga


"Ma-maksudku, tidak kuduga. aku akan menikah istri caesar haha" aku tidak menduga ini sungguh π_π


"Terimakasih kamu sudah mau menerima caesar sebagai suamimu nanti, walau nanti caesar akan membebanimu bilang saja padaku oke. aku akan memukulnya!"


Aku terkekeh." baik baginda" ucapku tersenyum



Tolong dukung like, komen dan vote


Terimakasih ><