
"Cihh!, apaan dia. dia menang dalam bermain suit dan terus menerus menjitak dahiku awas saja nanti kalau aku menang, aku akan 2x lebih keras menjitaknya!" ucap Davide kesal
Dirinya pergi ke taman ntah mau kemana tapi dirinya hanya melempar batu-batu kedalam danau sambil duduk
"Kakak!~"
"Ada apa kau kemari?!, kau sudah menang dan aku kalah. kau mau apa?"
"Eits... kakak aku cuma mau menemanimu doang. melihat kakak seperti perjaka yang menyedihkan, aku kasihan melihatnya"
"Kau mengasihaniku!, lucu sekali hmph"
"Aishh... kakakku yang tampan yang baik dan rajin menabung. apa kau tidak menerima kekalahanmu kak hm?" ucap Vanessa menekan pipi Davide
"Lain kali pasti aku bisa mengalahkan mu!" ucap Davide sambil melempar batu kecil dan batu itu seperti memantul dan tenggelam
"Oh ya kak!. katanya kau di tugaskan ke hutan timur untuk menangkap monster yah?. apa itu benar wahh aku iri!!" seru Vanessa
"Eee... t-tentu saja, ayah bahkan menyuruhku untuk memimpin dan menyuruhku membunuh monster, yang berada di hutan timur. bukankah kalau begini aku hebat" ucap Davide berdiri tegak dengan tangan berada di pinggangnya
"Hm. tentu saja!, kakak kan hebat" ya cuman ini yang bisa kubuat supaya kakak tidak kesal lagi padaku hanya karena aku menang
"Jadi kakak berangkat kapan?"
"Kalau tidak salah 2 hari lagi, bukankah itu cepat jadi aku harus mulai berlatih dari sekarang. dan satu lagi kau buatkan aku sapu tangan yah"
"Sapu tangan? untuk apa"
"Aishh!, untuk... eee... bi-biasanya sih orang selalu seperti itu jika ada orang yang berpergian seperti berperang atau seperti sekarang. mereka akan membuat sapu tangan kalau tidak salah simbol keselamatan atau apalah aku tidak tahu!"
"Oh... aku mengerti maksudmu kak, bukannya tinggal beli saja sapu tangan dan aku akan memberikannya pada kakak. begitu kan!"
"Dasar bodoh!, bukan seperti itu kau harus menjahit sapu tangan dengan lembaga keluarga kita, lalu setelah kau selesai, di hari di mana aku akan berangkat kau kasih lah hasil sapu tangan mu itu padaku. begitu"
"T-tapi kak. aku ti-tidak bisa menjahit sapu tangan atau pun apapun yang berkaitan dengan benang"
"Belajarlah!, aku berangkat sebentar lagi lho. adikku yang manis berjuanglah. bye-bye~" ucap Davide beranjak dari tempatnya dan meninggalkan vanessa
Dasar kakak, sialan dia memaksaku untuk membuat sapu tangan. dia kan juga tahu aku tidak bisa menjahit apapun yang berkaitan dengan benang. sungguh sial diriku
Ah! aku akan bilang ke ibu bagaimana caranya menjahit sapu tangan. apa perlu guru penjahit?
"Tidak usah dengan guru penjahit"
"Lalu bagaimana, kakak kan sebentar lagi akan berangkat. lalu aku di paksa untuk membuatkanya sapu tangan"
"Ibu akan mengajarimu cara menjahit sapu tangan!"
"Be-benarkah?!, apa ibu bisa?"
"Karena itu pelajaran yang harus dilakukan wanita bangsawan. mau di mulainya kapan?" tanya duchees
"Hari ini... tidak mungkin, apa aku bisa esok pagi hari dan apa aku bisa melakukannya walau dalam satu hari?" ucap Vanessa tidak yakin bahwa dirinya mampu dalam satu hari hanya menjahit
"Percayalah pada dirimu sendiri, apakah nanti hasilnya berhasil atau gagal. setidaknya kamu sudah percaya diri. kalau masih gagal setidaknya coba lagi sampai kamu benar-benar bisa!"
Perkataan ibu masih terngiang-ngiang di kepalaku, aku perlu kepercayaan diri ku untuk membuat satu sapu tangan untuknya
"Marie, apa kau bisa menjahit sapu tangan?"
"Hm?, oh tentu bisa nona. bukankah itu bisa di lakukan oleh semua orang... astaga! maafkan saya!, saya berbicara tentang kekurangan anda!, saya mohon maaf!!"
"Tidak, tidak. kau ada benarnya... tapi kau tahu setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan nya tersendiri?"
"Ya, betul nona"
"Maka dari itu aku harus bersemangat supaya suatu hari nanti kekurangan ku akan tertutupi dengan kelebihan ku nanti!!"
"Berjuanglah nona!!"
...****...
"Ibu... apa tidak terlalu pagi?" matahari belum terbit, mungkin sekitar 15 atau 20 menit lagi matahari terbit
"Bukannya kamu bilang mau pagi hari?"
"Tapi tidak sepagi ini!" semua orang masih tertidur pulas enak sekali mereka. seharusnya aku tidak mengatakan pagi hari. akan ku katakan siang saja
"Bagaimana?, apa kamu bisa..."
"Bisa ibu, tapi aku agak tidak rapi. bagaimana ini..."
"Jangan berkecil hati, ini adalah usahamu. pasti kakakmu akan menghargainya".
Benarkah akan seperti itu ibu... batin vanessa
1 hari kemudian, keberangkatan pergi ke hutan timur
Kenapa aku harus gugup dan takut akan responnya, aku kan sudah capek-capek membuatnya. aku seharusnya layak mendapatkan pujian. yosh memang seharusnya seperti itu, dan pertanyaannya adalah di manakah sang kakak di antara kerumunanan seperti semut ini
Apa aku harus desak-desakan bagaikan ikan sarden rasanya, tapi nanti aku tersesat bagaimana?. tapi kan ini kediamanku aku pasti tahu setiap jalannya, eh! kenapa repot-repot aku yang kesana bukannya kakak saja yang kesini yosh!
"Halo, maaf apa kau bisa mencarikan kak Davide yang di sela-sela keramanaian. dan tolong bawa kesini"
"Baik nona!, akan saya laksanakan"
Bukankah dengan begini dia yang kesini dan aku tanpa harus mencarinya dengan gaun yang ribet seperti kehidupanku ini.
"Tuan muda, nona Vanessa menyuruh Anda untuk kemari"
"Ada apa!" ucap Davide berlagak sombong
"Ada apa, ada apa... kau lupa aku kesini untuk apa?!"
"Memang untuk apa?"
"Nih!. bukankah kau menyuruhku untuk membuat sapu tangan hmph!, ini pakaikanlah di pedang atau di pergelangan tanganmu. ibu bilang seperti itu"
"Oh jadi kau di ajari oleh ibu. ibu memang hebat yah sangat berbakat tidak seperti putrinya satu lagi ~"
"Berisik!!, Davide" sial dia mempermalukanku, akan ku balas kau Davide
"Apa ini?, sapu tangannya tidak rapi sekali..."
"Kau tidak berhak berkomentar!!, bukannya ingin ku buat hah?. kau juga tahu kan kalau aku tidak bisa menjahit, tapi kau memaksaku ingat?!"
"Ya ya, kau tahu saat kau teriak seperti itu kau seperti toa berjalan, kau tahu?"
"Toa berjalan?"
"Ya, toa berjalan. Vanessa tolong ikatkan sapu tangan ini pada ganggang pedangku"
"Apa kau sedang menyuruhku!! kak?. Tuhan menciptakan tangan dan kaki gunanya untuk apa?!"
"Aku memintamu lho, untuk pertama kalinya. mungkin nanti tidak akan lagi... bisa jadi aku tidak pulang dan di kabarkan telah ma--"
"Berisik!, sini!. kau ini ribet sekali punya tangan tapi tidak di gunakan"
Davide tersenyum melihat adiknya menggerututinya, karena dia pun senang menjahili adiknya, tapi kadang Davide ingin terus memandang senyuman adiknya kalau sampai luntur akan ia habisi orang yang telah melunturkan senyuman manis adiknya
"Kak, kau bengong dari tadi kulihat. kau tidak apa-apa?"
"Eh!, tidak-tidak"
"Apa kau sedang memandang.... wajah cantik paripurna yang aku miliki ini!, betulkan?"
"Cantik? kau?, pfft... aku tidak tahu"
"T-tidak tahu!, kakak macam apa kau ini ahhh!" ucap Vanessa memukul dada davide dengan gemas menurut pandangannya
"Sudah perdebatan kita sampai di sini dulu, aku harus berangkat. doakan aku supaya selamat dan bisa membunuh Monsternya ya" ucap Davide mengacak-acak rambut Vanessa
"Kakak apa yang kau lakukan!, rambutku... ya! aku akan mendoakanmu semoga kau selamat dan berhasil membunuh monster di hutan timur. pergilah! kak" ucap Vanessa tersenyum dan mendorong kakaknya untuk melangkah maju memimpin pasukannya
Dia sudah dewasa ya. bukankah aku seperti seorang ibu yang membesar kan anakku sendiri
Maaf episode kali ini sedikit, maaf ya~
Tolong dukung like, komen dan vote
Terimakasih ><