
"Marie, apa kau membersihkan laci?" di mana kertas itu yang pernah ku tulis
"Tidak nona, saya tidak menyentuh laci itu sama sekali. memangnya nona cari apa??"
"Hmmm, kertas itu lho... eh!!. tidak-tidak sudah ada kok" oh ternyata di bawah buku, astaga bagaimana aku bisa lupa
Baiklah mungkin akan ada persyaratan yang pernah aku tulis harus di hapus
• Jangan sampai bertunangan dengan putra mahkota
• Jangan terhasut kepalsuan mina, si gadis ular
• Hindari semua acara kerajaan, dengan berbagai alasan
• Dan jangan mati kedua kalinya
Ini adalah tulisanku dulu ya aku masih mengenalnya, sekarang gaya tulisku berubah. Wee Vanessa nggak ada sangkut pautnya dengan tulisanmu. kembali ke topik. aku gagal dengan yang pertama dan juy yang ketiga
• **Jangan sampai bertunangan dengan putra mahkota (X)
• Jangan terhasut kepalsuan mina, si gadis ular
• Hindari semua acara kerajaan, dengan berbagai alasan (X)
• Dan jangan mati kedua kalinya**
Mungkin mati kedua kalinya tidak akan, kalau masalah Mina ya aku tidak percaya dengan dirinya walaupun nanti dia berekting
Vanessa mengembalikan kertas yang sudah mungkin bisa di sebut berkarat (?), di kembalikan di laci dan kali ini di atas buku bukan di bawah buku
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar, Duke masuk dan menghampiri Vanessa yang sedang duduk di meja belajarnya
"Ada apa ayah?"
"Apa kamu masih sakit lagi??"
"Apa ayah menanyakan apa aku akan ikut atau tidak nantinya di acara pemburuan?, aku akan ikut!"
"Ayah hanya menanyakan apa kmau masih sakit atau tidak, bukannya tentang pemburuan. ayah tidak akan memaksa kamu untuk ikut"
Vanessa tertawa canggung "oh begitu ya, aku merasa sangat sehat sekarang ayah"
"Sebelumnya ayah sudah merencanakan ini semua, sebelum saat kamu di panggil keruang kerja ayah, pertemuan dengan nona bangsawan akan di laksanakan 4 hati lagi, tapi mengingat kamu masih dalam masa pemulihan kita undur saja Minggu depan setelah pemburuan bagaimana??"
Vanessa tampak berpikir sebentar dan dia berkata "Baiklah ayah terserah ayah saja"
"Cepat sembuh ya" ucap Duke mencium kening Vanessa
"Oh ya, bagaimana kamu tahu kalau nanti akan ada acara pemburuan?"
"Oh itu, sebelum ayah kakak kemari, katanya dia ingin mengajakku katanya semua gadis bangsawan juga datang menemani kakak dan ayahnya, dan aku berkata ya akan ikut"
"Nak kamu yakin mau ikut?"
"Lagian kan itu Minggu depan ayah aku sembuh seminggu dari sekarang, jadi bisakan??"
"Baiklah, ayah tidak melarangmu. kalau begitu ayah kembali ya" ucap Duke
"Nona, ini makan siangnya"
"Terimakasih"
Setelah makan Vanessa di haruskan minum obat lagi, terpaksa juga Vanessa meminum dan setelah itu dia memakan gula-gula agar pahitnya hilang
Aku akan menderita sepertinya batin Vanessa
"Nona setelah ini anda ingin apa?"
"Mungkin kita jenguk ibu, ibu di kamarkan?"
Vanessa dan Marie pergi ke kamar duchees, mereka memberi salam, Vanessa menghampiri ibunya
"Ibu aku dengar ibu demam karena lelah bekerja?, tolong jangan paksakan kalau memang sudah lelah ibu"
"Bagaimana lagi sudah tugas sebagai seorang duchees, mungkin ibu terlalu larut. itu mungkin sebab ibu demam"
"Ibu..." lirih Vanessa
"Ibu dengar kamu juga sakit?, apakah parah?"
"Aku, aku hanya pusing. sekarang sudah mendingan sedikit, berkat obat hitam yang pahit di resep kan dokter saat itu, apa ibu juga meminumnya??"
"Ibu juga meminumnya, memang pahit. tapi kamu makan gula-gula tidak sehabis minum?"
"Aku memakannya, itu cukup membantu"
"Vanessa kamu sudah dengarkan Minggu depan akan ada acara pemburuan yang di adakan 1x dalam 3 bulan, sepertinya ibu tidak bisa ikut"
"Aku sudah mendengarnya dari kakak dan ayah, tidak perlu khawatir ibu beristirahatlah di rumah. aku yang akan ikut dan aku bisa berbaur di sana dengan yang lain"
"Sedikit mulai sedikit kamu mulai ingin berteman dengan yang lain, itu kemajuan yang bagus"
"Terimakasih ibu" ucap vaness
Setelah berbincang cukup lama, Vanessa pamit dan kembali ke kamarnya
"Nona sangat beruntung memiliki orang tua dan kakak yang menyayangi anda, saya sangat iri" ucap Marie ekspresi nya sedih
Ya aku sedikit tahu tentang kehidupan Marie, Marie hidup sendiri karena orang tua nya menaruhnya di panti asuhan tidak tahu karena apa, mungkin Marie yang berapa tahun ini denganku melihatku dengan keluarga yang sangat bahagia membuatnya sedih, dia juga ingin keluarga yang menyayanginya
Marie bisa menjadi pelayanku sekarang ini karena jalur temannya, memang temannya pernah bekerja menjadi pelayan dan berhenti dan di gantikan oleh Marie, yang memang butuh pekerjaan dan tempat tinggal
"Marie jangan bersedih, kau ada aku. kita semua keluarga termasuk kau, bukankah kau sudah menganggap ku seperti adik sendiri?" ucap Vanessa tersenyum hangat membuat Marie tak tahan membendung air matanya dan memeluk Vanessa
"Terimakasih nona, anda adalah keluarga saya yang paling berharga dan semua orang di istana ini hiks...hiks"
Vanessa membalas pelukan marie, Vanessa sudah menganggap Marie seperti saudara kandungnya sendiri
"Vanessa bisakah kau ikut aku sebentar?" Davide tiba-tiba masuk
"Apa aku merusak momen kalian?"
Marie yang canggung karena terlihat oleh Davide kembali berdiri dan menyeka air matanya
"Ada apa kak?, ikut kemana?"
"Ayo kita ke kamarku, ada yang ingin kutunjukkan padamu!" ucap Davide memegang tangan Vanessa menariknya
Mereka tiba di kamar Davide, Davide menunjukkan sangkar burung yg ang di tutupi kain dan di buka oleh Davide, dan Vanessa melihat burung kakak tua
"Eoh!, bukannya ini burung yang bisa bicara itu. maksudku burung kakak tua"
"Aku menemukannya di ranting pohon dekat kamarmu dia terus melihat kearah jendela, sungguh aneh bukan?"
Burung itu berwarna marah kuning dan biru, tapi dia tidak sama sekali berbicara, apa burung ini cacat pikir Vanessa
"Apa burung ini cacat??, dia tidak berbicaranya"
"Aku tidak tahu, tapi dia tampaknya melihatmu terus"
"Burung manis~, siapa namamu?. apa kau bisa berbicara" tanya Vanessa
"Aku cleo!, aku cleo!" ucap burung itu
"Cleo?, berarti dia mempunyai majikan dong, kak balikin lagi burungnya!"
"Aku mau kembaliin dia kemana?, aku menemukannya di ranting pohon, dia memang sudah ada di situ"
"Minta maaf!, minta maaf!" ucap burung itu tiba:tiba mengatakan minta maaf
"Minta maaf?, kepada siapa?" tanyaku
"Vanessa!" ucap burung itu
"Wah kau mengetahui namaku!, sungguh luar biasa"
"Vanessa aku rasa burung ini di kendalikan, mana ada burung ini tiba-tiba tahu namamu!?"
"Dari siapa?" tanya Vanessa
"Put-" belum burung itu berbicara Davide tiba-tiba kembali menutupi sangkar itu dengan kain
"Burung itu sepertinya tadi berbicara, kenapa kau menutupimya?!"
Tolong dukung like komen dan vote
Terimakasih ^^