I Will Change My Destiny

I Will Change My Destiny
Siapa dia?



Pria itu sudah membasuh rambutnya, sekarang warna rambutnya terlihat jelas dibandingkan sebelumnya


"Apa kau menyukainya sekarang?"


"Aku menyukainya, ini baju untukmu kau akan terlihat tampan kalau kau mengenakannya"


"Baiklah"


Vanessa memberikan baju kepada marie, Vanessa keluar kamarnya, masa dia akan melihat seorang pria memakai baju itu tidak sopan. Seorang pria berlari dari arah kanan Vanessa, dia adalah davide, dia berkeringat


"Kak, kenapa kau berlarian?"


"Hosh...hosh..., aku mendengar dari pelayan kau... meminta baju pria?, untuk siapa!" ucap davide dia berbicara ngos-ngosan


"Untuk ashlan"


"Siapa itu ashlan?"


"Bagaimana ya aku menceritakannya?, jadi tadi aku pergi ke ibu kota menemani Marie membeli sesuatu yang ku butuhkan, dan aku mendengar keributan dan aku melihat ashlan. aku tidak tahu dia berasal dari mana, dia di pukuli oleh penjual roti, dia mencuri roti pemilik penjual itu"


"Dia di pukuli terus dan tiba-tiba dia memukul penjual itu, penjual itu menyuruh anak buahnya memukul ashlan, tapi ashlan menghindari serangan mereka dia sangat gesit dia memukuli satu persatu membuat mereka babak belur, dari sana lah aku bertemu dan membawanya"


"Astaga Vanessa!!, dia itu pencuri kenapa kau membawa pencuri kemari?"


"Aku membawanya karena dia tidak mempunyai tempat tinggal, dia bahkan tidak tahu apa itu rumah saat aku bertanya rumahnya di mana, izinkan dia tinggal dengan kita ya!"


"Tidak, tidak! Vanessa. kita harus mengembalikannya"


"Kak, aku bertanya padamu dimana dia tinggal aku saja tidak tahu, tapi bukankah dia mempunyai bakat?"


"Bertarung?"


"Tepat sekali!, ayah pasti menyukainya baru kali ini ada pencuri yang sangat gesit dan lincah"


"Tapi Vanessa, memang ayah dan ibu akan menerimanya?, dia orang seperti apa??"


"Bagaimana ya... dia itu polos? dia tidak jahat, dia baik, dan berbakat"


"Aku tidak yakin..."


"Ayo aku akan memperkenalkanmu pada ashlan" Vanessa membuka pintu


Ashlan sudah berpakaian rapi dia terlihat baik kondisinya dari pada sebelumnya. ashlan yang melihat Vanessa tersenyum tapi dia melihat seseorang di samping Vanessa senyumnya luntur, dia sangat dekat dengan vanessa membuat pria itu cemburu


"Ashlan sudah kuduga kau memakai baju itu sangat cocok. ashlan aku ingin memperkenalkan seseorang ini adalah kakakku davide, kak ini ashlan yang kubicarakan"


"Halo davide, namaku ashlan" memberikan tangannya maksudnya ingin berjabat tangan


"Aku davide" davide menerima jabatan tangannya. muka ashlan begitu datar saat berjabat tangan dengan kakaknya Vanessa


Singkat sekali bicara mereka, mereka tidak saling membenci kan


"Vanessa kemari!" davide menarik tangan Vanessa


"Ih ada apa kak?"


"Aku tidak yakin dia baik, tadi saat aku dan dia berjabat tangan muka dia datar sekali padaku..."


"Datar..." Vanessa menoleh kebelakang, ashlan yang menyadari tatapan Vanessa tersenyum manis, Vanessa membalasnya dengan senyuman juga


"Tidak ah kak, tadi saat aku menoleh dia tersenyum, mungkin mata kakak yang salah"


"Mataku tidak salah, dia hanya tersenyum padamu bukan padaku!"


"Ya terserah kakak saja deh, ashlan ku manis bukan datar"


"Terus kau mau dia di pertemukan dengan ayah?"


"Tentu saja!"


"Aku sih bagaimana terserah ayah saja, aku ikut ayah kalau dia berkata tidak ya tidak, kalau ya aku juga ya"


"Vanessa" ashlan memanggil Vanessa yang dari tadi sibuk berbisik


"Ada apa ashlan?" Vanessa menghampiri pria yang memanggilnya


"Apa aku akan dipertemukan kepada ayahmu?, apa ayahku akan menerimaku..."


"Apa kau mendengar pembicaraan kami, pendengaran mu sangat tajam ya, ya aku akan membawamu kepada ayah"


"Kau tidak mempunyai tempat tinggal, aku ingin kau tinggal bersamaku... kau mempunyai bakat"


"Tinggal bersama.... denganmu" wajah Ashlan tiba-tiba memerah, Vanessa yang melihat pipi ashlan mengira kalau dia apakah sedang demam


"Ya, kau mempunyai bakat berterung jarak dekat, jika ayahku mengetahuinya dia akan tertarik padamu dan mengizinkan mu untuk tinggal disini"


"Benarkah..."


Vanessa menganggu."Yakinlah oke"


"Kalau begitu, aku pergi menemui ayah untuk memberi tahukan ini oke"


"Baiklah kak, sebentar lagi kami akan menyusulmu. ashlan makanlah lagi puding cokelatnya aku sudah meminta dibuatkan lagi untukmu"


Segera pria berambut biru itu langsung duduk dan memakan puding cokelat yang sudah menjadi kesukaan nya mulai hari ini


Apa dia maniak cokelat sekarang... batin vanessa


Ruang kerja Duke


Semua hening tidak ada yang bicara, suasana di sana sangatlah mencengkram, tidak memungkinkan untuk membuka mulut. Duke melihat seorang pria yang di dekat Vanessa dengan tatapan ...


"Jadi siapa yang mau menjelaskan pria ini??"


"Aku ayah..."


"Katanya kau membawa pencuri ke rumah kita apa itu benar?"


"Ayah dia bukan pencuri, dia hanya kelaparan" Vanessa mengehela nafas berat, dia menceritakan kejadian dia menemani Marie sampai dia bertemu dengan ashalan


"Jadi maksudmu, kau memintaku untuk pria di sampingmu itu di izinkan tinggal di sini??"


"Ya ayah... dia bisa menjadi ksatriku!"


"Aku belum menguji kekuatannya, yang kau katakan hebat itu... bagaimana kalau besok anak itu mencoba bertarung dengan master"


Master dia seorang pelatih di kediaman Duke melatih para prajurit dan juga ksatria, dia adalah master nomer 2 setelah master kekaisaran, dia sangat tegas sekali membuat kesalahan hukumannya akan berat, dia dikenal sangat hebat bahkan master di kediaman kami pernah berduel dengan master di kekaisaran. tapi mereka seri jadi tidak tahu siapa yang menang


"Master... siapa itu?" tanya ashlan kepada Vanessa


"Master adalah pelatih dikediaman kami dia melatih prajurit dan ksatria di sini, dia sangat hebat dalam pertarungan jarak dekat seperti mu... aku khawatir kau tidak akan bisa"


"Tenang Vanessa, aku pasti bisa mengalahkan master itu!"


"Jangan paksakan dirimu nanti oke" ucap Vanessa memegang bahu ashalan


"Aku akan menyiapkan kamar untuk ashlan di lantai 5"


"Terimakasih ayah"


...*****...


"Entah kenapa... ayah harus menguji kekuatan ashlan, mungkin ayah masih meragukannya" ya wajarlah Vanessa


"Nona ini teh nya" Marie menaruh teh hangat untuk Vanessa di meja didepannya


"Terima kasih Marie" Vanessa menyeruput teh, rasanya dahaganya seperti ada air terjun


"Marie di mana ashalan" aku tidak melihat batang hidungnya disini, biasanya selalu terlihat


"Mungkin di kamarnya nona"


"Di kamarnya... begitu ya"


"Nona apa tidak ada lagi?. saya akan kembali ke kamar"


"Ya, Marie tidurlah malam sudah larut"


"Baik, terimakasih selamat malam nona"


"Selamat malam"


Tolong dukung like komen dan vote


Terimakasih ^^