
3 hari sudah berlalu kakakku Davide akan segera pulang dari hutan timur dan membawa kemenangan. Aku sudah mandi pagi-pagi dan memakai baju cantik untuk menunggu kakak pulang dan aku akan memberikan selamat atas kemenangannya
"Apa kamu merindukan kakakmu?" Tanya duchees
"Hm! Tentu saja ibu, ibu. Apa kita menyambutnya di aula begini tidak di luar?"
"Ya kita menyambutnya di aula saja, tidak perlu di luar bukankah di luar pasti akan banyak prajurit yang di sambut juga oleh keluarga masing-masing, agak sulit untuk kita menemukan kakakmu di kerumunan kan?"
"Benar juga kata ibu"
"Nona!, Akhirnya tuan muda pulang ya"
"Ya, aku berjanji ketika kakak pulang aku tidak akan menggangunya atau menjahilinya"
Itulah janjiku. Sudah terdengar suara kuda dan roda kereta mereka sudah memasuki gerbang dan semua orang turun dan menghampiri keluarga mereka dengan suka cita telah menyelamatkan desa yang memang dekat dengan hutan
"Aku pulang, kerumahku yang ku rindukan sepama 3 hari. Memang terasa seminggu bahkan seperti 1 abad bagiku" ucap Davide yang baru turun dari kereta
"Semua orang sudah bekerja keras mereka bahkan di sambut oleh keluarga nya masing-masing. Ngomong-ngomong di mana keluargaku?"
Aldrich mencari-cari di kerumunan tidak terlihat ibu ayah dan adiknya, apa mereka melupakanku?
"Tuan muda anda sudah pulang!" Ucap seseorang yang berlarian menuju Davide
"Ya. Apa kamu tahu di mana keluargaku, kenapa mereka tidak menyambut ku di sini?" Tanya Davide
"Saya tidak tahu tuan muda, mungkin mereka di dalam rumah"
"Baiklah, terimakasih" ucap Davide menepuk pundak orang itu dan pergi
"Aku pulang ibu, ayah! Vanessa!. Di mana mereka dan kenapa semua jendela di tutup kan jadi gelap. Aku bisa jatuh huh"
Tiba-tiba lampu kembali hidup dan garden tidak di tutup lagi ada pelayan yang menarik garden di setiap jendela dan di hadapan aldrich keluarga yang dia cari ada di depannya
"Kamu pulang nak" ucap duchees menghampiri Davide dan memeluknya
"Apa kau terluka?" ucap Duke menghampiri putranya dan mengusap kepala nya dengan lembut
"Aku tidak terluka ayah, aku pulang ibu" ucap Davide tersenyum bahagia
Dirinya di sambut keluarga nya bahkan dengan para pelayan, mungkin mereka menyambut di dalam rumah karena mungkin agak akan banyak orang dan mungkin mereka tidak bisa melihatku di kerumunan
"Ibu, ayah Vanessa di mana?"
"Kamu menanyakan adikmu, itu dia di sana sedang memakan macarons" ucap Duke menunjuk Vanessa yang sedang duduk memakan makanan ringan
"Vanessa!"
"Eh ya?" ucap vanessa setelah nama nya di panggil
"Apa kau tidak melihat kakakmu hah! dan kau sibuk dengan makananmu?, Kau tidak menyambut kedatangan ku!"
"Oh! Hehe, selamat kembali kakak" ucap vanessa yang berlarian menghampiri Davide dengan senyuman manis
"Maafkan aku kakak, aku lapar tadi"
"Sudah jangan ribut, nak apa kamu sudah makan" tanya duchees
"Belum hihi, aku ingin di suapi"
Aku tidak salah dengar? ingin di suapi?
"Kakak! Kau bukan anak kecil lagi. Apa kau tidak malu dengan usia tua mu itu!"
"Biarlah, suka-suka aku!. Kau tahu jadi tua itu menyenangkan!"
"Oh ya!, Tingkah mu yang seperti anak kecil Sudah bisa di bilang itu wajar karena tua cih! Rasanya ingin ku muntah"
"Kenapa kalian ini jadi tambah ribut?" Ucap Duke
"Ini lho... Kakak! Ayah"
"Tidak dia ayah!, Dia yang duluan"
Merengek seperti anak kecil, gila ya dia nggak tahu umur apa? Harusnya yang seperti itu aku bukan dia. Apa-apaan sih
"Nona dan tuan muda sangat lucu hihi" gumam Marie
Ini lalat apa-apaan sih ikut-ikutan! Berhenti mengelilingi kepalaku aku sudah keramas rambutku wangi tahu. Lalat yang mengelilingi kepala vaness beralih mendarat ke pipi Davide
Dan plak!
"Ehh?..."
"Apa yang kau lakukan Vanessa!" Ucap Davide memegang pipinya
"Apa karena aku marah kepada mu dan kau sampai memukul pipiku?"
"T-tidak!... Kakak, itu di pipimu tadi ada lalat" ucap vanessa
Sial, mana lalatnya berhasil kabur lagi
rasanya kesalahpahaman ini, aku ingin menangis rasanya. Jelas-jelas aku membantunya menyingkirkan lalat di pipinya
"Aku baru pulang, dan kau mengajakku ribut lagi?!"
"Kakak aku tidak salah! Jangan kejar aku!!"
"Berhenti kau vanessa!"
"Ayah! Ibu!, Tolong aku!"
Dan pada akhirnya aku tertangkap dan di marahi oleh kakak dan di sana aku menangis, ya karena di tuduh olehnya. jelas-jelas aku sudah mengatakan bahwa itu salah paham yang sebenarnya kan aku memukul lalat di pipinya. ibu yang melihat ku menangis memarahi kakak karena membuat nangis diriku dan aku juga di marahi oleh ibu karena sudah membuat keributan. padahal itu hanya perkara kecil
...****...
"Marie, apa aku salah?"
"Setelah mendengar cerita nona, seperti nona memang tidak salah"
Tuh kan jelas aku tidak salah, Marie juga mengerti
"Tapi nona setidaknya anda izin kepada tuan muda untuk memukul lalat di pipinya"
"Eh!?, minta izin... Marie! untuk apa aku minta izin, kalau aku minta izin keburu lalatnya pergi"
"Mungkin lebih baik seperti itu..."
"Ah sudahlah~, Marie tolong ambil buku-buku novel di perpustakaan ya. hari ini aku ingin membaca"
"Baik nona, saya permisi"
Tok...Tok...Tok...
Cepat sekali Marie mengambil buku, padahal ruang perpustakaan di paling atas
"Marie! cepat sekali kamu membawa buku..."
"Hai"
".... Novelku"
"Ku kira kau Marie!, ternyata kau... ada apa?"
"Aku kesini ya untuk minta maaf"
"Soal tadi?. sudahlah aku sudah melupakannya" walau aku masih mengingat nya terus
"Aku juga minta maaf karena menampar pipimu terlalu keras"
"Ya aku memaafkan mu"
"Hanya itu saja?"
"Tidak juga sih, tadi aku berada di ruangan ayah, dan ayah membericarakanmu"
"Oh ya? apa itu"
"Katanya..."
Author:
Eh hallo teman-teman hehe... aku... mau Hiatus dulu untuk sebentar aja sampai tanggal 6, maaf ya aku jarang upload 🙏. nanti aku buat jadwal deh, jadi gini untuk upload [I Will Change My Destiny] bakal upload seminggu 2x deh, gimana??. kalau kalian nanya novel yang di sebelah Hiatus nggak?, tenang nggak kok. nah kalau [The princess Who Nedds Love] bakal upload seminggu 1x. hehehehe.... nggak apa-apa kan??,
Baca juga novel terbaru aku maaf nggak di noveltoon, aku buat di Watt*ad
Nah yang itu 👆, nggak maksa harus baca kok