I Will Change My Destiny

I Will Change My Destiny
Di tengah-tengah



"Apakah kau mempunyai harapan..."


Kenapa dia bertanya seperti itu.


"Tentu. aku punya, aku ingin kehidupanku ini di penuhi berkah dan tidak ada halangan. dan harapan kecilku aku ingin bersama dengan keluargaku selamanya"


Mereka sangat sayang padaku bahkan semua orang yang berada di kediaman. saat akan di eksekusi pun mereka menangis untukku dan meminta untuk tidak


"Dan juga untuk tidak mati kedua kalinya"


"Ke-kedua kalinya? maksudmu"


"Ya. aku pernah mati sekali apa kau percaya?"


Aku pernah mati olehmu Caesar, kalau saja kau percaya mungkin aku tidak akan hidup untuk kedua kalinya dan bahagia bersama mu


"Aku di eksekusi oleh seseorang yang aku cintai. tapi dia bersama wanita lain, dan saat aku membela dia tidak peduli. bukankah dia jahat"


"Dan kau tahu siapa dia"


Aku mengingat setiap memori aku dan Caesar dan juga saat eksekusi. begitu sakit, sakit di sini di dalam dada. kalau saja hati itu, kalau saja. tiba-tiba air mataku mengalir dengan sendirinya mengingat betapa sakitnya


"Kenapa kau menangis, apa kau tidak apa-apa" ucap Caesar hendak menghapus air mata Vanessa


Tapi Vanessa menepisnya dan berdiri menjauh dari Caesar beberapa meter


"Dan kau tahu siapa dia! hiks... hiks itu dirimu!!. kau membunuhku!"


"Apa maksudmu! a-aku tidak mengerti"


"Memang sekarang kau tidak mengerti tapi nanti kau akan tahu sendiri!!, kau tidak tahu betapa sakitnya tidak di perdulikan oleh orang yang kau sayangi dan justru orang yang kau sayangi itu membunuh istrinya sendiri!"


"Vanesaa..."


"Jangan sentuh aku!, aku benci padamu!!"


Vanessa berlari menuju festival dengan air mata yang bercucuran. di belakang Caesar mengejarnya, Vanessa tetap berlari sampai dia bertemu kakaknya dan juga kakak iparnya


Vanessa langsung memeluk Davide dengan erat, Davide dan levyna yang kebingungan menenangkan dan menanyakan apa yang terjadi


"Kau kenapa Vanessa?" ucap Davide


"Nona Vanessa apa yang terjadi" tanya levyna


"A-aku ingin pulang... hiks"


"Apa?"


"Aku ingin pulang!!, ayo kak..."


Caesar yang telah sampai dan menemukan vanessa melihat Vanessa ketakutan akan dirinya dan bersembunyi di belakang Davide kakaknya


Davide yang melihat caesar datang, dan melihat juga adiknya yang bersembunyi seakan takut dengan Caesar


"Apa yang kau lakukan dengan adikku!! yang mulia!" teriak davide membuat orang melihat kearah mereka


"Aku... tidak melakukan apapun" ucap


"Kalau begitu kenapa adikku menangis seperti ini!!" Davide menarik kerah baju Caesar


Semua orang di sana menyaksikan pertengkaran mereka. mereka mulai berbisik apa yang terjadi dan kenapa mereka seperti ini


Vanessa sekarang berada di pelukan levyna. mereka berkelahi sampai dari mereka ada memar di wajah mereka. Vanessa mendekat ke arah kakaknya dan menghentikan perkelahian mereka


"Kak cukup, banyak orang yang melihat kita"


"Tapi dia kan, sudah membuatmu menangis!"


"Sudah kak, aku tidak mau memperpanjang masalah ini lagi ayo kita pulang" Vanessa menarik tangan sang kakak dan pergi dan levyna menyusul mereka dari belakang


"Sungguh aku tak mengerti maksud dari perkataannya" gumam Caesar


"Apa kalian sudah puas melihatnya!, sekarang bubar!!" teriak Caesar membuat orang-orang di sana takut dan pergi


Di saat Caesar terdiam seribu bahasa, Roy sang pengawal menghampiri Caesar


"Yang mulia, ada apa?. maaf saya terlambat"


"Tidak ada apa-apa, ayo kita pulang"


Yang mulia?... batin Roy


...****...


"Katanya kamu menangis karena yang mulia?, benarkah itu Vanessa" ucap duchees


"Ibu... sudah ku bilang jangan ungkit masalah itu lagi"


"Mungkin..."


"Ibu kau tahu! dia membuat vanessa ketakutan dan menangis. walaupun aku tidak tahu apa yang terjadi tapi dia benar-benar... ah!!"


"Sudahlah kakak, apa kau ingin berduel dengannya hah? supaya kau puas"


"Kalau itu pun aku bisa aku akan melakukannya!, tapi karena dia seorang putra mahkota aku tidak bisa apa-apa"


Benar walaupun kakak ingin melakukannya, tapi kakak juga tahu resikonya misalnya keluarga Duke di cabut dari jabatannya, hanya karena ingin membalas dendam sang adik


Hari ini aku sekarang dengan nona levyna minum teh berdua, di taman dan aku tHu pasti dia akan berbicara tentang kemarin dan apa yang terjadi. aku kan tidak bisa menjelaskannya


"Apa nona vanessa baik-baik saja"


"Saya baik-baik, tentang kemarin... maaf kalau anda mau menanyakan tentang kemarin saya tidak bisa"


"Tidak apa-apa nona vanessa, walaupun saya penasaran. saya tidak akan memaksa Anda untuk menceritakan, saya tahu itu bersifat pribadi"


"Maafkan saya nona levyna!" ucap Vanessa tiba-tiba berdiri dan menunduk


"Eh?!, maaf..."


"Ya. maafkan saya kemarin malam saya merusak jalan-jalan nona dengan kak David de!"


"Oh... hahaha, nona Vanessa tolong duduk saya jadi tidak merasa nyaman kalau anda seperti itu, saya tidak marah malahan saya berterimakasih kepada anda"


"Saya tidak tahu apa yang anda maksud tapi... tolong maafkan saya"


"Saya pasti memaafkan anda, jadi tolong berbicara lah non formal ya"


"Baik"


Kami mengahabis waktu penuh sampai menjelang sore dan nona levyna pulang dengan membawa oleh-oleh dariku yaitu teh yang di hasilkan dari kediaman Duke teh yang harum dan juga manis


"Bagaimana minum teh nya tadi siang?"


"Baik Bu, kami membicarakan banyak hal"


"Baguslah, kamu bisa akrab dengan kakak iparmu. tidak seperti Davide" ucap duchees lirik Davide


"Apa ibu?"


"Ya kamu, kamu tidak akrab dengan levyna"


"Ibu dengar yah aku dengannya tidak pernah akan akrab selamanya walau kami menikah"


"Kamu ini.... kamu ini anak siapa sih?"


"Anak ayah ibu lah"


"Sepertinya bukan deh, kamu kan ibu adopsi" ucap duchees dengan nada candaan


"Ibu!!, jangan bercanda!"


"Hahahaha"


Malam hari


"Nona apakah anda yakin saya boleh di sini?"


"Tentu saja boleh!, aku kan tidak ada teman tidur kalau aku tidur. jadi tidak apa-apa"


"Baiklah, saya akan menuruti nona"


Aku mengajak Marie untuk tidur bersamaku karena aku setiap malam selalu kesepian dan tidak ada teman mengobrol dan aku selalu berbicara pada diri sendiri itu sudah kebiasaan ku apa lagi saat di depan cermin, kalau ada orang lihat aku berbicara dengan cermin mereka akan bilang kalau aku gila atau aku kerasukan


"Nona apa anda ingin coklat panas?"


"Kamu tahu saja kala aku sedang ingin meminumnya, ya. tolong"


"Baik" ucap marie dan kekuar dari kamar


"Sembari menunggu marie kembali, aku akan membaca buku"


Olivia beranjak dari kasurnya dan hendak mengambil buku di rak kecilnya. tapi matanya teralihkan ke arah jendela ia melihat bayangan seseorang setelah bayangan itu menyadari ada yang melihatnya bayangan itu hilang


"A-apa itu!, apa aku salah lihat..."


"Nona saya sudah membawakan coklat panasnya!. nona..., ada apa?"



Tolong dukung like, komen dan vote


Terimakasih ><