I Reincarnated Into The Absolute

I Reincarnated Into The Absolute
Chapter 34: Khawatir berlebihan



Aku dan Marisa, saat ini ingin membuka isi surat dari raja yang diberikan kepadaku melalui burung elang Windstorm.


Membuka gulungan surat itu dengan ingin tahu apa isinya, surat itu terbuka dan kami berdua membaca dengan seksama.


"Terhormat untuk Daichi. Saya, raja dari Great Kingdom yang merupakan kerajaan terbesar yang pernah ada. saya sudah membaca surat dari anda yang dimana itu membuat saya senang dengan itu, maka dengan hormat. saya mengundang anda ke kerajaan besar saya untuk jamuan, minum bersama dan membicarakan sesuatu yang penting. sekian terimakasih."


Hmm... jadi dia ingin mengajak diriku untuk ke kerajaan dia? menarik sekali.


Membaca surat itu dengan seksama sambil memegang daguku. Marisa yang membaca dari belakang sampingku, memberikan pendapatnya.


"Daichi-sama, sepertinya kita terima undangan raja untuk ke sana!. undang raja adalah hal yang paling langka untuk orang seperti kita ini, loh!..."


Ucap Marisa dengan pendapat dan sarannya dengan ekspresi yang imut. sumpah, rasanya ingin aku cubit nih anak!...


"Tentu saja, ini adalah jembatan kita untuk dipandang dan bisa membuat desa secara resmi!. mungkin aku bisa membuat mereka jadi sekutu yang kuat!."


Iya, itu yang aku rencanakan demi kepentingan pribadi dan orang-orang disini!.


Demi kehormatan, kejayaan dan kesusksesan apalagi impian yang ingin aku gapai disini dengan usaha sendiri tanpa kekuatan yang aku punya!.


"Wahh... ide yang cemerlang, memang benar, Absolute memiliki pikiran yang luar biasa dan di atas rata-rata makhluk hidup!.."


Marisa berbicara dengan memujiku dan kedua tangannya memegang kedua pundak ku dari belakang.


Aku membiarkan dia saja untuk melakukan itu, malahan sentuhan tangan dia terasa lembut di baju zirahku atau kulit sesungguhnya.


"Kalau begitu... siapa yang kamu bawa jadi pengawal atau pendamping?"


Tanya Marisa dengan kepala yang disampaikan ke kanan bawah sambil menatapku dengan tatapan mata yang sepertinya ingin dia menjadi pendampingku.


"Hmm.. tentang itu, mungkin Sada-chan dan kamu!. yah bertiga sudah cukup karena cuman kalian yang aku kenal paling awal!"


"Wahh.. begitukah? aku senang sekali bisa di ajak, hore... terimakasih Daichi-sama!."


Ucap Marisa dengan bahagia dan senang, matanya melebar dengan senyuman yang lebar juga.


Ekornya bergoyang-goyang dari sisi ke sisi lainnya, telinga yang ikut bergoyang dan menyatukan kedua telapak tangannya dengan sedikit diangkat ke bahu kiri.


Tersipu melihat senyuman Marisa yang begitu manis dan imut sekali, mata biru yang indah dan kelucuan karena ada telinga kucing di kepalanya.


"I....i... iya sama-sama, mmm... ka.. kal...kalau begitu, aku mau berbicara dengan yang lain dulu!... kamu selesaikan tugasmu dan bersiap-siap untuk besok, yah!.."


Cukup bikin jantung berdebar karena imutnya kucing satu ini, lebih baik aku pergi ke Sada-chan atau ke Enju untuk membicarakan soal ini.


"Oke... sampai jumpa lagi, Daichi-sama!.."


Aku berjalan menjauhi Marisa yang melambaikan tangannya kepadaku dengan suasana hati yang bergembira penuh semangat.


Berjalan melewati jembatan yang menjadi penghubung jalan yang terpisah saluran pembuangan air yang tentu jernih dan sudah di kelola sebelum dibuang.


Aku menyapa beberapa warga yang sedang jalan kaki menuju peternakan atau berlawan arah denganku. mereka sangat hormat dan sopan saat aku menyapa mereka.


Melanjutkan perjalanan menuju ladang, saat di sana. aku melihat sudah ada Amaya, dan beberapa demon yang membantu tugas Amaya menyirami ladang.


Aku cuman menatap dan melamun dari kejauhan, sambil memikirkan tentang surat undangan raja sekaligus tentang apa yang ingin aku bicarakan saat di istana nanti.


Hmm... kira-kira, apakah aku bisa melakukan sikap yang baik didepan raja? jujur saja aku gugup apalagi aku belum pernah bertemu raja di bumi atau di dunia ini..


Fuuhhh... ditambah, aku harus bisa berbicara dengan topik yang bisa dibicarakan!. agar hubungan raja dan kami jauh lebih akrab melebihi sekutu saja atau layaknya teman.


Aku berpikir dengan tangan kanan memegang dagu, memandang ke bawah dengan penuh pikiran tentang hari esok.


Amaya yang sedang menyirami tomat, dia melihat diriku yang sedang berdiri dan terlihat melamun saja.


"Heii!.. Daichi-sama!.. sedang apa yang kamu lakukan disana?"


Teriak dan tanya Amaya kepada diriku yang membuat aku sedikit terkejut dengan teriakannya atau panggilannya.


"Eh? Hmm.. tidak ada, cuman sedang memikirkan sesuatu saja, kok!"


"Ehhh.. begitukah? lebih baik kamu kesini saja!. dibandingkan melamun dan memikirkan sesuatu yang rumit!."


Benar juga sih, itu tidak ada salahnya. mungkin lebih baik aku tidak memikirkan soal ini terlebih dahulu, menjernihkan pikiran dan melakukan sesuatu yang lebih berguna.


"Oke, aku akan kesana!"


Aku mengikuti saran Amaya, berjalan mendekati Amaya yang sedang di ladang. Amaya tersenyum karena aku mau membantu dia untuk melakukan tugasnya.


Kamu menyirami ladang dengan baik dan tanpa kesalahan, sedikit berbincang tentang surat undangan kepada Amaya dan Amaya mendengarkan apa yang aku katakan selama kami mengobrol bersama sambil menyirami ladang.


"Oh.. jadi, kamu gugup dan takut membuat kesalahan saat disana? aku mengerti tentang itu, sih. menemui raja bukanlah hal mudah!."


Ujar Amaya dengan tenang dan lembut saat berbicara sambil menyirami stroberi segar yang belum matang.


"Maka dari itu, aku memikirkan soal ini dengan seksama, jika membuat satu kesalahan saja, bisa membahayakan kita semua!."


Yah, tentu saja seperti itu. apalagi manusia tidak suka namanya Demon, jika membuat satu kesalahan saja... berdampak buruk kepada kami.


Khawatir, cemas, gugup dan memikirkan hal yang buruk, adalah hal paling penting untuk diriku.


Saat aku gugup dan khawatir, Amaya menepuk bahuku yang membuat aku melihat dirinya yang tenang.


"Hei, kamu tidak perlu khawatir. kamu pasti bisa melakukan itu dengan baik, tidak ada pemimpin yang seperti dirimu!. kami semua percaya kamu, loh!."


Ucap Amaya dengan kata-kata yang membuat aku tenang dan tidak khawatir. mendapatkan kepercayaan diri setelah mendengar mereka percaya denganku.


Jujur saja, aku terkagum dengan Amaya yang bisa tenang dan percaya denganku. tidak memikirkan hal buruk kepada diriku, apakah ras demon yang sesungguhnya seperti ini?


"Begitu yah? baiklah, aku akan berjuang dengan maksimal untuk kalian!. tentu sebagai pemimpin dimasa depan, aku tidak boleh membuat kalian kecewa!."


Aku tidak memikirkan apapun tentang resiko karena itu busa ditangani bersama-sama apalagi aku ada seorang Absolute.


"Tentu saja, kamu adalah pahlawan kami. kamu tidak akan membuat kami kecewa, kok!."


Aku mengangguk setuju dengan hati yang lega dan tenang kembali. melanjutkan menyirami ladang sampai selesai bersama Amaya.


Ada banyak hal yang terjadi seperti tangan Amaya yang ada ulat, tentu dia ketakutan. memetik beberapa hasil ladang yang sudah matang.


Anak-anak yang turut membantu meskipun awalnya mereka bercanda dan berlari-larian di ladang.


Setelah itu, kami akhirnya selesai menyirami ladang dalam waktu cukup lama dan matahari mulai dekat dengan titik atas. Kami duduk atau istirahat dibawah pohon dengan anak-anak yang membantu tadi pergi untuk makan siang dirumah. beberapa demon juga pulang kerumah untuk makan siang.


"Akhirnya, selesai juga. cukup melelahkan tapi menyenangkan sekali."


Ucap Amaya yang kelelahan, penuh keringat yang ada di keningnya apalagi diwajahnya.


"Hahaha... iya, aku tidak menyangka bakal lelah seperti ini. apalagi ladang makin luas dibandingkan pertama kali aku yang membangun."


"Oh, benarkah?"


Amaya memerhatikan ladang dari ujung ke ujung, dia menyadari kalau ladang benar-benar meluas dibandingkan sebelumnya.


"Kamu benar sekali, aku tidak menyadari itu sama sekali meskipun melakukan tugas disini!."


Amaya terkagum dan menggaruk-garuk kepalanya karena tidak menyadari ladangnya meluas.


Kami menikmati istirahat, duduk dibawah pohon yang lumayan sejuk karena menutupi sinar matahari yang panas karena pagi menjelang siang.


"Daichi-sama. aku ingin bertanya sesuatu"


Amaya tiba-tiba berbicara tentang mau bertanya kepadaku, sepertinya ada pertanyaan yang ingin dijawab.


"Pertanyaan apa itu? coba katakan saja."


"Mmm....."


Amaya memikirkan pertanyaan terlebih dahulu sebelum diutarakan kepadaku. aku hanya menunggu pertanyaan dia saja.


"Apakah, aku boleh berlatih denganmu? yah berlatih untuk meningkatkan sihir yang aku punya ini?"


Berlatih? dari wajahnya, dia bersungguh-sungguh dengan ini tetapi sihir yang dia miliki? apakah itu sihir yang sama seperti Sada?


"Boleh saja, tetapi apa sihir yang kamu memiliki? aku harus tahu terlebih dulu untuk bisa melatih dengan sesuai kekuatan sihir!."


"Sihir yang aku miliki adalah sihir Darah Iblis Beku atau Sangue Demônio Congelado. sihir yang menggunakan darah iblis tetapi dimanipulasi seperti cairan darah menjadi padat beku layaknya es!."


Hmm.. sihir yang menarik, mirip dengan Sada cuman bedanya ini dimanipulasi menjadi beku!...


"Aku memiliki sihir ini sejak kecil, awalnya aku bisa menguasainya tetapi aku belum cukup kuat untuk mengembangkan kekuatan ini!. jadi aku minta pelatihan darimu!."


Jika dia bisa menguasai sihirnya sendiri dan beberapa sihir darah iblis? mungkin saja dia menjadi salah satu super demon...


Potensi Amaya yang aku lihat ini, terlalu tinggi dan melebihi beberapa demon yang ada disini!. dia berpotensi dan berbakat!. aku harus bisa membuat dia menjadi super demon!.


"Iya, tentu saja!. tetapi ada, kamu harus baca buku ini terlebih dahulu!."


Aku membuka portal didekat telapak tanganku dan memunculkan buku yang membuat Amaya penasaran dan ingin tahu isinya.


"Buku apa itu?"


Tanya Amaya yang penasaran dan tertarik dengan buku ini.


"Ini adalah buku Devil's Blood. buku berisi tentang semua sihir darah iblis yang dimana kamu harus mempelajari sihir darah iblis setidaknya lima saja termasuk meningkatkan sihir darah iblis yang kamu miliki!."


Aku memberikan buku itu kepada Amaya, Amaya menerimanya dengan menatap buku itu dengan penuh ingin tahu isinya.


"Buku ini, kamu baca dulu dan pelajari apa yang aku suruh. setelah itu, kamu bisa aku latih saat aku sudah pulang dari Great Kingdom besok!."


"Anggap saja, kamu pelajari dasarnya dulu, prakteknya nanti setelah kamu paham dasarnya!."


Amaya mengangguk setuju dengan senyuman kecil diwajahnya yang manis itu.


"Oke, aku mengerti dan aku pastikan kalau aku bisa mempelajari apa yang kamu suruh!. terimakasih Daichi-sama!."


Amaya berterimakasih dengan memeluk buku itu dan tersenyum manisnya. aku senang dan tersipu melihat itu.


"Sama-sama, dan aku pamit ke tempat Sada dulu!. ada yang ingin aku bicarakan dengannya.."


Aku berdiri dari dudukku, bersiap-siap untuk melangkahkan kakiku untuk pergi ketempat Sada. tetapi aku mengucapkan kalimat pamit dulu kepada Amaya.


"Kalau begitu, sampai jumpa!.. kamu makan siang terlebih dahulu sebelum melakukan tugas kembali!"


"Tentu saja, Daichi-sama!."


Amaya berbicara dengan mengangguk setuju, aku senang melihatnya dan pergi meninggalkan Amaya yang langsung membuka bukunya itu.


Memasuki kebun buah-buahan yang dimana Sada selalu ada disini untuk melakukan tugasnya menyirami dan memelihara kebun ini.


Kira-kira, dia sedang apa yah sekarang? harusnya sedang istirahat karena sudah waktunya makan siang sih.


Sudahlah, lebih baik menemui dia dulu.


Aku berjalan mencari keberadaan Sada yang berada di kebun buah-buahan, tentu saja sendirian karena para demon yang ada di kebun sudah pada makan siang dirumah dan Forza itu tidak ada disampingnya Sada.


Diakibatkan karena aku memerintahkan dia sekarang bersama demon lain yang mengurus peternakan kolam ikan. yah ini demi menjauhi dia dari Sada tapi bersifat sementara saja.