I Reincarnated Into The Absolute

I Reincarnated Into The Absolute
Chapter 33: Surat Tiba



Pagi yang cerah dan hangat, diawali dengan suara ayam yang berkokok dan beberapa hewan peternakan.


Beberapa orang sudah bangun dan melakukan olahraga ringan di pagi ini yang cocok karena sinar matahari, membantu tulang-tulang dan stamina mereka meningkat.


Aku mulai terbangun dengan mataku yang mulai melihat atap-atap kamar, mataku menyala layaknya lampu yang dihidupkan.


Terbangun dari tidur dengan sedikit mengantuk di mata, duduk di kasur dan melamun untuk sementara waktu.


Huuaah.. ternyata sudah pagi. lebih baik aku membuka jendela dulu, supaya udara segar pagi hari bisa masuk ke kamar...


Mulai berdiri dari kasur, meletakkan kedua kaki ke lantai kayu. berjalan mendekati jendela yang masih tertutup.


Aku membuka jendela kayu ini, membuat cahaya matahari pagi masuk kedalam kamarku. cahaya yang menyilaukan untuk mataku yang baru saja bangun.


"Huuuhhh.. pagi yang segar sekali, udara yang menyegarkan meskipun aku tidak ada hidung... tapi masih bisa merasakannya!.."


Merasakan angin pagi yang melewati diriku melalui jendela yang aku buka, angin segar dan sejuk membuat tubuh yang ngantuk menjadi lebih bugar.


"Baiklah, waktunya kembali melakukan aktifitas!.. mereka pasti sudah bangun lebih awal dariku!.."


Penuh semangat untuk melakukan sesuatu hari ini, berjalan dengan langkah kaki yang lebih ringan menuju pintu kamar. membuka pintu kamar dan berjalan turun ke lantai dasar menggunakan tangga.


Saat turun, aku melihat rumah yang sepi. tidak ada orang sama sekali dan cuman melihat sarapan pagi di meja makan.


Sarapan pagi? apakah itu untukku? harusnya sih iya...


Rasa penasaran dan ingin tahu, berjalan mendekati meja makan yang diatasnya ada sarapan pagi seperti roti lapis, susu dan selai kacang.


Melihat-lihat sarapan pagi yang terlihat lezat untuk dimakan, terkejut dengan kertas yang ada di samping piring roti lapis. aku mencoba mengambilnya untuk melihat apa isinya.


Surat!.. aku pikir, ini ditulis oleh Sada!. coba aku lihat aja deh!..


Membuka selembar kertas, berisi kata-kata yang merupakan dari Sada "Daichi-kun!. jika kamu melihat dan membaca surat ini, tandanya aku sudah ke ladang duluan!. sarapan yang kamu lihat, itu untukmu, yah!. makan dengan baik!." dengan ada gambar wajah cibinya.


"Sesuai aku duga, mereka sudah pergi dan ini sarapan untukku. aku jadi malu karena sebagai pemilik rumah, bangun terlambat!.."


Ekspresi yang merasa malu karena bangun terlambat mulu setiap pagi.


"Sudahlah, aku sarapan dulu dan menyusul mereka setelah ini!.."


Membuka portal dimensi untuk menyerap seluruh sarapan pagi kecuali piring dan gelas. menyerap untuk jadi sumber energi dan langsung terhubung dengan pencernaan tubuh.


"Hahh... enak sekali, aku kenyang banget!.. Sada-chan memang the best soal makanan!.."


Ekspresi yang gembira, merasakan rasa yang lezat dari roti lapis yang dioles selai kacang dan segelas susu putih dari sapi alami.


"Bagus, dengan begini!. aku bisa melakukan aktivitas seperti biasanya!.. ayok!.."


Penuh semangat untuk melakukan aktivitas hari ini, berbalik untuk melangkahkan kakiku ke luar rumah menuju peternakan terlebih dahulu karena lebih dekat.


Saat diluar, aku berjalan dengan santai dan penuh semangat. aura sihir positif yang membuat bunga-bunga dan tumbuhan menjadi lebih subur dan segar.


Cuaca yang indah, cocok sekali untuk melakukan pekerjaan seperti biasa.


Peternakan mulai terlihat, dari kejauhan sudah ada Marisa yang disana menjaga dan merawat beberapa hewan ternak seperti sapi, kambing, domba. ada juga Enju yang sedang membawa bebek menuju kolam dan saluran pembuangan air yang bersih dan jernih.


kerbau diurus oleh salah satu demon bernama Apollo Bachus. dia ditugaskan untuk menjadi pengembala kerbau. merawat mereka di kolam lumpur yang ada di samping sawah.


Bagus.. bagus, mereka bekerja dan melakukan tugas dengan baik!..


Menatap mereka dengan bangga dan senang rasanya.


Aku berjalan mendekati Marisa yang sedang memberi makan kelompok ayam di luar kandang karena sudah menjadi kebiasaan.


"Hei.. Marisa, rajin sekali kamu!.. seperti biasa yah!.."


Marisa sedikit terkejut dengan pujian ku dan dia berbalik menoleh diriku saat sedang memberi makan ayam-ayam.


"Eh.. Daichi-sama!.. aku kira siapa!.."


Balas ucapan Marisa yang tidak menyangka bakal ada aku yang datang dan mengobrol dengannya.


"Kamu kira aku siapa tadi?"


"Mmm... aku kira, yah!.. Sada-chan!.. hehehe..."


Jawab Marisa dengan cekikikan kecil dan wajah yang imut. bangsa kucing selalu imut tingkahnya.


"Oh, begitu!... dan kamu lebih rajin ketimbang saat hari pertama merawat mereka!.."


Marisa tersenyum kecil dengan tatapan jahat saat mendengar kata-kataku barusan. tangan kiri menyentuh yang di dagu dan tangan kanan memegang pinggul.


"Tentu saja, ini demi daging mereka!.. aku berbuat baik demi makanan saja, loh!.."


Tertawa kecil Marisa dengan senyuman jahat tapi dipandang ku dia tetap imut, dan sedikit merasa ngeri.


"Oke... itu kejam dan licik, tetapi aku suka dengan caramu itu!."


Marisa melanjutkan memberikan makan kepada ayam-ayam itu dengan berjongkok.. lemparkan makanan ayam ke tanah untuk di ambil ayam-ayam itu.


Aku cuman berdiri memandanginya saja, memerhatikan tugas Marisa yang tampak baik dan lancar.


Screeeech!....


Suara elang yang terbang berputar-putar di udara, tepatnya di atas kami. aku melihat ke atas untuk memastikan hal itu dan benar saja, ada elang yang terbang.


Marisa memasang sikap waspada, dia khawatir tentang ayamnya yang mau diburu oleh elang itu.


Mata yang tajam, bulu-bulu yang berdiri, cakaran tajam yang telah dikeluarkan. burung elang itu terbang mendarat ke lengan kananku yang aku berikan dia tempat untuk duduk.


Marisa terheran-heran karena elang itu tidak menyerangnya, melainkan duduk di atas lengan dan berjalan untuk duduk di bahuku.


Windstorm!. akhirnya dia sampai juga dan sudah membawa surat balasan dari raja!.


Aku melihat gulungan kertas yang diikat dibagian kaki elang Windstorm. mengambil burung elang ini untuk diambil suratnya.


Marisa yang penasaran, berjalan mendekatiku dan berdiri di sampingku. rasa penasaran yang ingin tahu surat apa yang aku pegang dengan kedua tangan.


"Surat apa itu Daichi-sama? apakah ini surat balasan raja yang kamu bicarakan kemarin?"


Tanya Marisa yang rasa ingin tahu apa yang ada didalam surat yang aku coba buka.


"Iya benar, aku sudah menantikan ini dan aku heran saja!"


"Heran kenapa?"


"Hmm.. kemarin, harusnya ini surat sudah sangat sekitar jam 9 malam. tetapi entah mengapa, burung ini baru sampai sekarang!.."


Aku berpikir, ada tragedi yang menimpa burung elang ini. terlihat ada bekas luka, dan beberapa bulu yang tercabut dari tubuhnya, tubuh elang ini berantakan sekali.


"Mmm.. benar, sih. burung elang Windstorm ini, ada banyak luka dia tubuh atau sayap! seperti di serang seseorang yang sengaja menargetkan burung elang ini!."


Marisa menunjukkan luka-luka burung elang Windstorm dengan telunjuknya, memberitahu kalau luka tersebut adalah luka dari serangan seperti sihir jarak jauh.


"Kamu bisa melihat, luka-luka ini. bukan luka tidak disengaja, melainkan disengaja dan burung ini diserang!."


Pendapat Marisa dengan tangan memegang dagu dan melihat elang Windstorm secara seksama.


"Kalau begitu, aku akan menyembuhkan burung ini!. dia sudah banyak berjasa!"


Aku memegang burung elang Windstorm yang jinak, dia nurut saat aku pegang dan meletakkannya ke tanah.


Menggerakkan tanganku ke arah bawah atau ke elang itu yang sedang berdiri ditanah dengan tenang.


Marisa sedikit membungkuk ke bawah, ingin melihat aku untuk menyembuhkan luka-luka elang Windstorm.


"Baiklah, aku akan mulai!.."


Aku memfokuskan energi sihir bersamaan dengan LE ke kristal merah yang ada ditanganku, memancarkan sinar hijau seperti lingkaran sihir di telapak tangan kananku dan burung itu diselimuti oleh sihir hijau milikku.


Skill penyembuhan «Healed»...


Aku mengucapkan skill dalam pikiran, memfokuskan menyembuhkan luka-luka burung elang itu yang terlihat lemah.


Marisa melihat itu, terpesona dan kagum. matanya melebar dan bersinar, menatap dengan penuh ingin tahu.


Woooshing!...


Luka-luka elang Windstorm mulai menghilang, tubuhnya sedikit demi sedikit mulai pulih dan kembali normal.


"Wah... dia sembuh, lihat! luka-luka itu telah disembuhkan secara total!.."


Ucap kagum Marisa yang masih membungkuk di dekatku, dia melihat sihir atau skill yang bisa menyembuhkan luka-luka.


Baguslah, dia sudah sembuh. aku lega.


Aku menghentikan penyembuhannya karena elang Windstorm sudah pulih seutuhnya, dia terbang dan berdiri di bahuku dengan cepat sekali.


"Eh? cepat sekali dia sampai di bahuku?"


Aku terheran-heran karena lumayan kaget dengan gerakan gesit itu.


"Biasalah, Elang Windstorm!. sesuai namanya, angin badai. mampu terbang dengan kecepatan tinggi layaknya badai."


Jawab Marisa dengan lembut dan pujian kepada elang Windstorm yang nyaman duduk di bahuku.


"Iya, sih.. kamu benar dan.. sudah waktunya untuk melihat isi suratnya!. dan satu lagi, terimakasih elang Windstorm!."


Aku mengelus kepala elang Windstorm yang nyaman saat dielus, dia jinak dan aku menyukai itu. dia telah berjasa dengan ini.


"Iya, aku tidak sabar ingin tahu surat dari raja!."


Ucap Marisa yang bersemangat, aku bangun dari jongkok dan berdiri tegak. membuka gulungan surat raja untuk tahu apa isi surat.