
Hari yang dilalui dengan baik, tidak ada kejadian buruk untuk hari ini. para prajurit baru sudah berbaur dan akrab kepada para warga demon ataupun lainnya.
Hari mulai gelap, semua orang berkumpul ditempat khusus prajurit tinggal untuk cukup besar. berkumpul untuk makan malam bersama.
Itu kegiatan kami setiap makan malam, selalu bersama dan tidak ada yang boleh makan malam sendiri apalagi dirumah.
"Hei.. aku juga mau..."
"Iya.. iya, ayolah... berbagai, tahu..."
"Tidak mau, ini punyaku!.."
"Eh... kalian, jangan bertengkar..."
Anak-anak bertengkar atau berebutan mainan boneka. dua lainnya ingin memainkan boneka itu juga yang satunya tidak mau berbagi.
Salah satu pengasuh mereka bingung menangani anak-anak itu.
Aku mencoba mendekati mereka, agar mereka tidak berebutan kembali dan bisa bermain bersama-sama sekaligus membantu pengasuh itu.
"Hei.. kalian, ada apa? kok rebutan seperti itu."
"Hmm... ini, mereka bertengkar soal mainan boneka!.."
Jawab gugup pengasuh bernama Rumi, gadis cantik iblis. teman Amaya.
"Begitu, biar aku tanganin mereka."
"Hah.. terimakasih banyak, Daichi-sama!.."
Aku berjongkok didekat anak-anak itu, melihat mereka yang bertengkar tapi lucu saat dilihat.
"Kalian, kenapa bertengkar?"
"Ini.. Kishi tidak mau berbagi mainan dengan kami!.."
"Iyah... harusnya, kita bermain bersama..."
Jawab bocah itu dengan lucu dan imut, pipi yang tembem dan menggemaskan. ingin aku cubit mereka tapi aku harus bersikap tenang.
"Oh, begitu yah... tenang saja.. biar aku yang mengurus ini!.."
Aku mengelus kepala mereka dengan lembut dan memperlihatkan perhatian. yah aku menyukai anak kecil dan mereka tersenyum saat aku mengelus kepala mereka.
Aku mengangkat tanganku, berdiri dan berjalan mendekati Kishi. duduk di dekatnya yang sedang memeluk bonekanya dengan erat sekali.
Mencoba berbicara dengannya sambil mengelus kepalanya dengan nyaman.
"Kishi, aku ingin bertanya... kenapa kamu tidak mau berbagi mainan untuk dimainkan bersama?"
Bertanya dengan nada yang lembut, untuk anak kecil bisa berbicara tidak gugup apalagi ketakutan.
"Itu.. karena.... aku ingin bermain sendiri..."
Begitu yah, anak yang suka menyendiri. mirip seperti Roy salah satu temanku. lebih baik aku tidak membiarkan dia seperti ini terus untuk kedepannya.
"Kishi, dengarkan aku.. kita disini, tinggal bersama. saling berbagi dan menoleh satu sama lain. kebersamaan adalah hal paling indah untuk dilakukan karena tidak berjalan sendirian!.."
"Anggap saja, semut yang hidup berkelompok dan selalu bersama, bisa melakukan apapun itu!.."
Aku mencoba menyakinkan Kishi, berbicara untuk bisa dipahami olehnya yang masih kecil.
"Benarkah itu?"
"Iyah, itu benar. cobalah tidak menyendiri dan selalu bersama teman!. kamu akan menciptakan hal yang baru bersama mereka!.."
Aku mengangguk untuk membuat dia semakin yakin dengan kata-kata yang aku berikan, jujur saja aku tidak yakin dengan perkataan ku untuk bisa membujuk dia.
"Oke, aku mengerti... kalau itu benar, pasti menyenangkan, bukan?"
Dia tersenyum kecil, yakin dengan apa yang aku katakan.
"Iya, ingat kata-kata ini. bersama bisa melakukan apapun itu!.."
"Oke, aku akan mengingat itu!.. terimakasih!.."
Kishi tersenyum manis, dia berlari menghampiri Niro dan Wira. mereka akhirnya bermain bersama tanpa bertengkar.
Rumi berjalan mendekati diriku, dia menatap senang saat anak-anak itu kembali akur.
"Sekali lagi, terimakasih banyak... aku terbantu sekali."
Berdiri dengan menatap anak-anak itu dan membalas ucapan Rumi.
"Sama-sama, dan ini sudah menjadi kewajiban. oh iya, dimana Amaya? aku tidak melihat dia semenjak sore tadi!.."
"Oh, Amaya berada dirumah, katanya ingin menyendiri. aku melihat dia dari tadi murung dan lesu, membuat aku khawatir!."
Terlihat jelas, wajah Rumi khawatir terhadap keadaan Amaya. ada yang terjadi kepada Amaya?
"Baiklah, kamu tolong jaga baik-baik anak-anak. aku ingin menemui Amaya."
"Baik, aku akan melakukan yang terbaik.."
Menjawab dengan penuh semangat, Rumi kembali melakukan tugasnya untuk menjaga anak-anak.
Sementara diriku berjalan kaki keluar melalui pintu pada umumnya, tetapi bertemu dengan Marisa yang sedang membawa tongkat.
"Marisa, sedang apa kamu dan kenapa membawa tongkat?"
Marisa memikirkan sebuah kata dan melihat tongkatnya.
"Oh, aku sengaja membuat dan membawa ini ke dalam. ini hadiah dariku untuk mereka, loh... tongkat berujung tajam layaknya pedang."
Marisa memamerkan tongkat buatannya, memperlihatkan tongkat yang panjang dan berujung tajam besi, cocok sekali buat melawan musuh berbadan lebih besar.
Marisa yang mendengarnya menjadi lebih percaya diri, tersenyum lebar dengan mata ditutup karena kegirangan.
"Terimakasih, kalau begitu aku masuk dulu. kamu mau kemana?"
Tanya Marisa yang sepertinya tahu aku akan pergi.
"Aku ingin menemui Amaya. dia tidak hadir untuk makna malam bersama, padahal itu sudah menjadi kesepakatan kita."
Marisa memikirkan Amaya yang tidak mau hadir di acara malam ini, menatap ke atas dengan tangan kanan menyentuh dagu.
"Mungkin ada sesuatu atau alasan. coba aja temuin dia."
"Iya, kalau begitu aku pergi dulu. beritahu yang lain, aku dan Amaya akan segera datang menyusul makan malam.
"Oke"
Marisa melakukan isyarat tangan oke, melihat diriku yang berjalan keluar dari pintu. secara tiba-tiba tubuh bercahaya emas terang, menerangi daerah sekitar dan akhirnya menghilang entah kemana tanpa jejak.
[Rumah Amaya]
Suasana yang sunyi, tidak ada orang sama sekali karena semua orang sudah berkumpul untuk acara makan malam bersama.
Angin berhembus kencang, secara mengejutkan muncul cahaya emas aneh. cahaya yang hangat dan berkilau itu menghilang, memperlihatkan diriku.
Aku yang sudah sampai dirumah Amaya, bergegas mengetuk pintu rumahnya.
Tuk... Tuk....
"Amaya, permisi... ini aku, Daichi. izinkan aku masuk!.."
Tuk.. Tuk...
Aku terus berusaha untuk mengetuk pintu agar Amaya dengar panggilan dariku.
Krekk!...
Pintu terbuka secara sendirinya, aku terheran dan tidak berpikir basa basi langsung masuk untuk menemui dirinya.
Berjalan dengan cukup cepat, mengetuk pintu kamar sebentar dan akhirnya membuka pintu yang dimana aku melihat Amaya duduk di kasur dengan memeluk bantalnya.
"Amaya, apa yang terjadi kepada dirimu?"
Dia tidak ada semangat sama sekali, bukan Amaya yang aku kenal sebelumnya.
"Hei, Daichi-sama..."
Sapa Amaya yang lesu, tidak ada semangat sama sekali dan suara yang lembut. dia berbicara sambil duduk di kasur dan memeluk bantalnya dengan erat sekali.
Aku menghampirinya, mencoba membuat dia kembali bersemangat dengan beberapa kata-kata dan membawanya untuk makan malam.
Aku duduk dipinggiran tempat tidurnya, menatap ke langit-langit atap.
Keadaan yang canggung sekali, aku tidak bisa mengatakan apa yang ingin aku katakan sementara Amaya cuman diam.
Canggung sekali, aku tidak tahu apa yang aku katakan kepadanya. harusnya aku memikirkan ini lebih awal!..
Pada akhirnya, aku tidak tahu untuk memulai pembicaraan dengan baik kepada Amaya yang sedang lesu dan diam saja.
"Ada sebuah keluarga Demon!. mereka hidup sederhana dengan orang tua yang pekerjaannya termasuk kelas rendah seperti ayah bertani dan ibu berdagang....-"
Sepertinya dia menceritakan masa lalu yang dia pendam, mungkin aku cukup mendengarkan apa yang dia ceritakan.
"Mereka memiliki kedua anak laki-laki dan perempuan yang bernama Strong dan Amaya atau diriku sendiri. mereka hidup di era sebelum ada peperangan manusia melawan demon."
"Pada awalnya, mereka hidup damai, makmur, akur, suka berbagai dan hidup yang seperti keluarga pada umumnya. aku dan saudara laki-lakiku juga hidup normal seperti akademi demon. itu ada jauh sebelum dihancurkan oleh human di masa perang."
"Amaya mendapatkan julukan jenius karena nilai sempurna, mampu menguasai sihir dengan cepat sementara sang kakak laki-laki, mendapatkan julukan Powered. ini bisa terjadi karena kakakku selalu memenangkan semua pertandingan olahraga dalam bidang apapun. tubuh di atas rata-rata dan dikonfirmasi oleh dirinya dan guru-guru kalau, kakakku sudah menjadi super demon."
Kedengarannya mereka berbakat, ini bisa saja menjadi iblis yang jauh lebih baik dimasa kini.
"Kehidupan yang normal hingga akhirnya perang terjadi saat aku beranjak umur 100 ribu tahun atau dalam umur manusia itu sebanding 15 tahun."
"Peperangan yang membuat banyak korban jiwa di kota. anak-anak, orang dewasa dan semuanya dibantai. aku yang bersama keluargaku saat itu. dikepung mereka, mereka membunuh ayah dan ibuku saat mencoba melindungi kami!..."
Kelam sekali, tapi mereka orang tua yang hebat dan mau berkorban demi anaknya.
"Kakak memutuskan untuk balas dendam dengan menjadi prajurit Demon yang berperang ke Medan pertempuran. dia gugur saat melawan salah satu komandan pasukan manusia. yah dia juga yang membunuh orang tuaku. dia dijuluki The Fire Arrow."
"Salah satu manusia yang termasuk dalam peringkat besar yang berada diperingkat 15. aku selalu ingin membuat dia menyesal ditambah dia membuat aku trauma akan keramaian, itu bisa terjadi karena keramaian salah satu penyebab orang tua dan kakakku meninggal."
The Fire Arrow? apakah dia tidak memiliki rasa kasihan sama sekali kepada Amaya? aku harus memberikan balasan yang setimpal.
"Karena dia, trauma dan takut akan keramaian. membuat aku menyendiri disini."
Begitu yah, aku mengerti apa yang dialami Amaya. akan tetapi aku tidak ingin dia seperti ini terus.
Aku menepuk pundaknya, dia menatap diriku dengan ada air mata yang mengalir. rasa rindu, sedih, trauma dan emosi bercampur aduk.
"Tenanglah, kamu tidak perlu takut. kita bisa melakukan bersama-sama karena kebersamaan adalah salah satu kunci kemenangan."
"Kamu pasti bisa menghilangkan trauma itu, tidak ada yang tidak mungkin untuk diperbaiki."
Aku memberikan kata-kata yang dimana, Amaya tersentuh dan wajahnya sedikit memerah.
Dia kembali tersenyum kecil, menatap ke bantalnya.
"Terimakasih, aku akan mencoba menghilangkan trauma besar ini!..."
"Nah begitu, ini baru Amaya yang aku kenal dan soal orang yang membunuh keluargamu. aku akan menemui dia agar memberikan balasan yang setimpal kepadanya!..."
Amaya yang mendengarkan itu, tersenyum kecil dan air matanya terjatuh karena hatinya menjadi lebih tenang dan damai.
Dia kembali normal, senyuman, keceriaan, dan keadaan yang membuat dia bisa menjadi diri sendiri dan tidak takut keramaian kembali.