
Aku dan Amaya sedang berada diluar atau depan pintu. Amaya ragu-ragu dalam dirinya, takut traumanya kembali datang.
Menepuk pundaknya, agar dia percaya diri dan yakin akan dirinya. Amaya mengambil nafas dalam-dalam dan memberanikan dirinya.
Kami berjalan masuk kedalam, dimana semua orang sudah duduk di kursi makan masing-masing.
"Akhirnya... mereka sampai juga... hore...."
Mereka bersorak gembira saat melihat aku dan Amaya baru saja datang untuk makan malam.
Suasana yang ramai, dipenuhi kegembiraan, kebahagiaan dan kebersamaan yang aku inginkan selama ini.
"Ehh.. ada apa ini?"
Amaya kebingungan karena mereka bersorak demikian aku juga sama.
Rumi, Karla dan Eisa. mendekati Amaya untuk menyambut dia ke acara makan malam bersama di kursi mereka.
"Hei.. ada apa ini? kalian tiba-tiba membawaku ke meja makan!.."
"Udah, kamu ikuti apa yang kami lakukan!.."
"Itu benar sekali, kami ada kejutan untukmu.."
Rumi menarik tangan Sada, Karla mendorong Sada dari belakang dan Eisa cuman tertawa kecil dan tersenyum melihat tingkah mereka.
Amaya akhirnya duduk, dia bingung kepada mereka yang tiba-tiba memaksanya duduk disini.
Mereka kenapa sih? aku di tarik tiba-tiba... apa yang sebenarnya mereka rencanakan?
Amaya menatap mereka bertiga yang berdiri dibelakang Amaya. Amaya yang bingung, secara tidak sengaja melihat omelette kesukaan dengan gambar saus muka keluarga dia.
"Ini... ini.... apakah kalian yang membuat ini?"
Amaya terkejut, bertanya kepada teman-temannya untuk memastikan pertanyaannya.
"Iya, kami bertiga yang membuat itu khusus kamu!.. kami ingin kamu tidak trauma dan tidak ingat masa lalu yang kelam itu!.."
Jawab Rumi lembut, mencoba untuk bisa melakukan hal yang bisa membantu Amaya.
"Benar sekali, ditambah ini bisa mengobati rindu kamu kepada keluarga kamu yang sudah tidak ada!.."
Karla yang perhatian dan peduli kepada Amaya, apalagi mental Amaya yang terguncang sampai ratusan tahun.
"Kita adalah sahabat layaknya saudara. jika kamu rindu mereka, maka temuilah kami sebagai obat rindu kamu itu!.."
Eisa berbicara dengan penuh peduli, seperti sesosok sahabat yang peduli dalam keadaan apapun itu.
"Kalian!.. hiks!.."
Air mata keluar dari Amaya, dia menangis karena merasakan bahagia yang luar biasa dari sahabatnya yang peduli kepadanya.
Dia memeluk ketiganya, pelukan hangat dan dilihat oleh kami semua. menyaksikan keakraban dan peduli seorang sahabat sejati.
"Senang rasanya berakhir indah, benar begitu Enju?"
"Iya, itu benar sekali. tidak ada yang indah dari persahabatan."
Ucap Enju yang membawakan cemilan kepadaku. tentu saja aku memakannya dengan menyerap kedalam portal kecil dari tanganku.
Setelah pelukan dan kejadian itu. kami semua bersiap untuk makan malam bersama. mereka menunggu aba-aba dariku untuk makan malam.
"Semuanya, terimakasih sudah bekerja keras. membantu aku mengelola dan mengurus rumah kita. aku senang kalian bisa membantu diriku!.."
"Dulu, tempat ini sepi.. hanya aku, Marisa dan Sada yang tinggal. saat itu masih canggung dan belum seramai sekarang."
Aku menunjuk Marisa dan Sada yang sedang duduk didepan meja, menatap diriku yang sedang berpidato.
"Pokoknya, semua harus bersama-sama. bersama kita bisa melakukan apapun. ingat itu semua!.."
"Yahh..... tentu kami akan mengingatnya!.."
Sorak mereka yang keras dan kencang, membuat getaran di ruang makan dan gemuruh.
"Kalau begitu, selamat makan, semuanya!.."
"Selamat makan"
Sorak bersama mengucapkan selamat makan. mereka mulai menyantap makanan, mengigit, mengunyah dan meminum segelas air.
Menyantap banyak menu makanan seperti omelette, sup, daging, dan beberapa cemilan dengan segelas air bir yang sudah disiapkan sebelumnya.
Suasana yang menyenangkan, kebersamaan dan canda tawa. melepaskan lelah dan beban pikiran, kebahagiaan yang tidak bisa digantikan.
Benar-benar mereka... tidak bisa pelan-pelan kalau soal makan.
Menatap mereka yang beberapa ada yang makan super cepat, menghabiskan banyak menu dan berbagai macam makanan.
"Mereka bersenang-senang, dulu tidak seramai ini, bukan?"
Ucap Sada yang menuangkan bir ke dalam gelasnya dan dia duduk sampingku.
"Iya, dulu cuman ada kita bertiga. aku tidak menyangka bakal secepat ini bisa ramai!.."
"Bisa mendengar suara ramai ini, meskipun mengganggu tapi aku malahan merasa senang!.."
"Benar... aku sudah menganggap kita semua sebagai keluarga."
"Keluarga yah?"
*Keluarga? kedengarannya bagus, apalagi memang aku tidak ada keluarga semenjak terlahir kembali.
Mereka sudah bersama aku dalam waktu cukup lama, apalagi aku sudah akrab dan mengenal mereka semua dengan baik*.
"Yah, aku suka itu. mulai sekarang kita ada keluarga baru. aku akan pastikan keluarga ini tidaklah runtuh!.."
Sada tersenyum dalam keadaan mulai mabuk, bibir, pipi, mata yang elegan saat dia mabuk.
Ekspresi muka yang liat. Gawat, aku lupa dia lemah soal bir. dia mabuk bisa dalam bahaya!..
"Daichi-kun... ayo.. kita minum bersama!.."
Sada mendekati diriku, dia terlalu dekat dan mencoba menggoda diriku. tingkah yang cukup berbahaya.
Perasaan apa ini? aku tidak bisa bergerak saat dia terlalu dekat denganku. sial, aku harus bergerak.
"Daichi-kun... ayolah, mmm...."
"Marisa, tolong aku... Sada mabuk seperti biasa!.."
Marisa mendengar panggilanku, dia menoleh kepadaku saat terpanggil dan berjalan mendekati kami.
"Hahh.. dia mabuk lagi? padahal sudah diingatkan.."
Marisa kesal dan cemberut, karena peringatan dia tidak didengar oleh Sada yang dilarang untuk meminum bir terlalu banyak.
"Hehehe... jadi, tolong yah.."
"Hahh.. sudahlah.. biar aku bawa dia sebentar, supaya dia membaik!.."
"Terimakasih, tolong yah!.."
Marisa terpaksa membantu diriku untuk membawa Sada kembali sadar, dia membantu Sada berjalan menuju keluar agar dia bisa menghirup udara segar dan kembali seperti semula.
Menghela nafas lega, kembali menikmati makan malam seperti biasa. semua orang menikmati makan malam dengan puas dan kenyang.
Acara makan malam sudah selesai, mereka ada yang kembali ke rumah, ada yang masih mengobrol di ruang tamu, ada yang membantu membersihkan piring dan gelas kotor.
Aku membantu membersihkan piring dan gelas kotor agar cepat selesai, membersihkan piring sambil memikirkan Enju yang kecewa saat harus pulang lebih dulu. sebab dia harus menemani istri dan anaknya.
Aku hanya bisa tertawa melihat ekspresi dia yang ingin sekali membantu diriku dan kami semua dalam bersih-bersih.
Amaya yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya, dia menatap diriku sekilas dan tersenyum kepadaku.
Aku yang lagi mencuci piring, cuman bisa mengangguk saja.
30 menit kemudian...
Akhirnya kami selesai bersih-bersih, ada banyak pelayan yang telah banyak membantu.
"Iya, kerja bagus semuanya... pastikan kalian beristirahat dengan cukup untuk besok!.."
Menyuruh mereka untuk beristirahat lebih awal dan cukup untuk memulihkan stamina mereka.
"Baiklah, jika itu perintah anda. kami siap menjalankan itu!.."
Mereka semua, terlalu formal dalam berbicara. aku ingin sekali mereka berbicara dengan santai.
"Iya.. iya, kalau begitu terimakasih atas kerja keras kalian!.."
"Baik!.."
Mereka semua pergi untuk pulang kerumah masing-masing. meninggalkan diriku yang sedang berdiri di bawah langit gelap dengan bintang-bintang dan bulan yang cantik.
Menatap ke atas, melihat pemandangan indah ini.
Hari yang melelahkan, lebih baik aku tidur juga dah...
Mulai berjalan menuju rumah, sambil melihat pemandangan yang cukup gelap tapi ada cahaya sedikit dari pantulan cahaya bulan.
Memasuki rumah, menaiki tangga sambil memikirkan sesuatu.
*Hmm... kenapa elang Windstorm belum datang? apakah terjadi sesuatu kepada burung itu?
Harusnya dia sudah sampai 2 jam yang lalu tapi ini belum sampai-sampai... sudahlah, mungkin dia kelelahan dan aku harus memberikan air atau makanan cocok untuk elang Windstorm itu*.
Berjalan mendekati pintu kamar, membukanya dan masuk kedalam kamar aku sendiri yang nyaman dan aman.
Berjalan mendekati ranjang, menyadari ada yang tertidur di kasur yang aku ingin berbaring.
Siapa itu? ada seseorang di kasurku!..
Mencoba mendekati dan memastikan apa itu yang terbaring di kasur. saat mulai mendekat. tiba-tiba aku ditarik ke kasur.
Menatap orang yang menarik diriku untuk berbaring dan dia adalah...
"Eh... Sada? apa yang kamu lakukan disini?"
Bagaimana dia bisa ada disini? apakah dia masih mabuk? gawat sekali, ini benar-benar gawat.
Aku mencoba melepaskan diri dari pegangan tangan yang kuat, menekan ke kasur dan aku memberontak tidak bisa.
"Hei.. ayo bermain, aku sudah menunggu tahu!.."
"Sada, sadarlah!.. ini aku Daichi!.."
Hah, berhasil juga... aku harus melepaskan diri.
Pegangan tangan yang melemah, aku memegang pundak Sada dan berdiri sambil mendorong dia kesamping.
Saat itu dia menarik tubuhku dengan dia terbaring dibawah dan aku berada diatasnya. tanganku diikat oleh tali iblisnya.
Sial, aku tidak bisa bergerak... dia mengikat pergerakan ku.
Sada mengangkat tangannya, jari dia menyentuh wajahku yang penuh gairah dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.
"Hei, Daichi-kun... suka, aku menyukaimu!.. tolong bermain denganku!.."
Wajah yang penuh gairah, seperti menggoda diriku untuk mengikuti keinginan dia, pakaian tidur putih yang cukup lumayan transparan, dan apa yang dia katakan?
Suka? apa maksudnya itu? dia mengigau yah!..
"Sada, sadarlah... jangan melakukan ini!.."
Mencoba melepaskan diri yang dimana tali-tali itu semakin kuat.
Swoosh!..
Ada benda yang terbang dengan cepat dan menancapkan di leher Sada yang membuat dia perlahan tertidur.
Tali-tali dia menghilang dan aku bisa bergerak kembali, berdiri dari kasur secara perlahan.
Menoleh ke arah pintu yang dimana ada Marisa yang berdiri.
"Marisa!.. syukurlah kamu ada disini!.."
Rasa lega yang ada di pikiranku karena Marisa datang menolong diriku.
"Untung saja, aku datang tepat waktu..."
Jawab Marisa yang lega dia tidak terlambat, berjalan mendekati Sada yang tertidur.
"Ternyata, berfungsi juga... hebat sekali!.."
Marisa mengambil benda mirip bola yang ada jarum di ujungnya.
"Benda apa itu Marisa?"
"Oh.. ini benda untuk orang-orang tertidur. aku membuatnya khusus untuk Sada!."
Cerdik sekali, dibandingkan berbicara untuk menenangkan dirinya. lebih baik menidurkan dia secara langsung.
Marisa membantu Sada berjalan saat dia tertidur pulas, membawanya ke depan pintu.
"Oh iya, aku baru ingat.. kamu diundang oleh raja yah?"
"Benar, memang ada apa? kamu ingin ikut?"
Marisa tertawa kecil saat mendengar pertanyaanku.
"Hihihi... iya... aku sebenarnya ingin, tapi jika kamu memperbolehkan hal itu. tentu aku ikut!.."
Marisa menjawabnya, berbicara dengan lembut dan perasaan yang ingin ikut bersama diriku.
"Iya.. kamu akan aku ajak, tenang saja!."
"Benarkah? senang rasanya!.. kalau begitu aku membawa Sada ke kamar.. selamat malam!.."
Marisa tersenyum gembira, membawa Sada keluar dari kamar menuju kamar sebelah mereka.
Aku cuman melihat hal itu, kembali terbaring ke kasur dan mulai tidur karena kelelahan dan penat ditubuh.
Aku harap, besok adalah hari yang lebih baik. apalagi untuk keluarga baru ini.
Aku berharap sesuatu yang aku impikan menjadi kenyataan dengan menatap langit-langit kamar, dan akhirnya mulai tertidur.