
Gua yang sangat gelap. suasana yang menyeramkan dan sunyi kecuali suara kelelawar atau suara angin yang berasal dari dalam gua.
Medan dan struktur tanah atau bebatuan yang tidak rata. kami berjalan disepanjang jalan gua ini.
Semakin dalam, semakin kelihatan ada cahaya kecil diujung jalan. Sada dan aku memutuskan untuk pergi memeriksanya. kami yakin ada sesuatu didalam gua ini yang menarik.
Kami berjalan terus menerus menuju cahaya itu dan menyadari kalau ada pohon mati yang banyak disekitar kami.
Sepertinya ada kehidupan didalam gua ini? apalagi kayaknya kita ada di bawah permukaan karena jalurnya menurun kebawah.
Sada melihat-lihat kawasan sekitar kami yang terdapat hutan pohon mati yang sudah tidak ada daun atau kehidupannya.
"Wah... sepertinya, dulu ada kehidupan didalam gua ini? terlihat jelas sekali ada hutan disekitar sini!.."
Sada berjalan sambil melihat-lihat, aku membalas pertanyaan atau ucapan dia agar suasana tidak terlalu sunyi.
"Iya, apalagi ada beberapa benda seperti peralatan dibuat manusia yang ditinggalkan bahkan dibiarkan untuk terbengkalai."
Saat tadi kami berjalan menelusuri gua ini, aku melihat banyak barang-barang benda yang sudah rusak dan berkarat.
Berbentuk seperti peradaban yang sudah lama sekali dimasa lalu. terlihat jelas sekali dari bentuknya.
Akhirnya kami sampai dititik dimana cahaya menyala, berupa lampu lentera yang di gantung didepan rumah.
"Tempat apa ini? terlihat rumah yang sudah tua dan tidak berpenghuni!..."
Sada bertanya-tanya, apalagi penasaran dengan rumah yang kami temukan di dalam gua ini.
"Mungkin iya, ditambah dari tadi kita tidak melihat ada makhluk hidup disekitar sini?"
"Iya sih... apalagi ada banyak bangunan kuno di sini, layaknya peradaban yang sudah tidak ada penghuninya!..."
Sada memikirkan hal yang sama denganku. kami akhirnya memutuskan untuk mengelilingi tempat ini sekaligus melihat, apakah benar ini adalah tempat peradaban yang ditinggalkan?
Kami mengelilingi tempat ini sambil mengobrol santai untuk membuat suasana tidak canggung atau sunyi.
"Hihihi... apaan itu!. cerita yang sangat lucu!. kucing buas dipelihara itu mustahil tahu!."
Sada tertawa kecil karena mendengar ceritaku yang sepertinya lelucon baginya.
"Emang bener ada, mereka santai sekali memelihara kucing buas seperti harimau dan mereka semua jinak, loh!.."
Aku mencoba membuat Sada percaya karena ini adalah cerita dari bumi atau lebih tepatnya ada di salah satu kota terkaya.
"Iya iya aku percaya dah, mungkin mereka ada teknik untuk memelihara kucing buas meski mereka manusia biasa!.."
Sada berbicara seakan-akan mengejek ceritaku, dia tersenyum kecil karena menahan tawa didalam dirinya.
Aku hanya bisa diam saja, karena perbedaan pandangan atau pengalaman.
Kami melanjutkan perjalanan dan melihat ada ukiran kuno di dinding.
"Sada-chan!.. tunggu sebentar!.."
Aku menyuruh Sada untuk berhenti dan Sada terkejut sekaligus bingung dengan apa yang terjadi.
"Hemm!.. ada apa emangnya?"
Sada bertanya-tanya kepadaku yang sedang melihat ukiran kuno seperti gambar dan tulisan.
"Coba kamu lihat!. kira-kira ini ukiran tentang apa?"
Aku menyuruh Sada untuk melihat ukiran tersebut. tentu saja Sada melihatnya dan kaget karena melihat ukiran yang belum dia lihat.
"Ukiran apa? ini pertama kalinya aku melihatnya!."
Sada benar-benar pertama kali melihat ukiran ini, dia heran dan penasaran dengan ukiran kuno ini.
Sada dan aku melihat-lihat bahasa dan gambar ukiran dengan seksama. meskipun tidak tahu apa arti isinya tapi setidaknya kami telah mencoba.
"Hmm... sepertinya ini dari bahasa kuno!..."
"Bahasa kuno?"
"Iya, zaman dimana masih menggunakan bahasa yang ada di ukiran ini!. bahasa yang pakai di era penciptaan sampai zaman dimana Queen of Demon berhasil dikalahkan!."
"Oh begitu, tapi apakah kamu mengerti isinya?"
Aku bertanya untuk memastikan apakah Sada sedikit mengerti bahasa kuno ini.
Sada mencoba melihat lebih cermat dan memikirkannya dengan keras.
"Sayang sekali, aku tidak tahu bahasa ini!.."
Sada murung karena tidak mengerti bahasa kuno ini, dia terlihat kecewa dengan dirinya sendiri.
"Begitu yah.. tidak apa-apa.. lagipula aku bisa menerjemahkannya. kamu mau tahu isinya?"
Sada kaget dengan perkataan ku, dia tidak percaya dan matanya melebar karena perkataan yang aku ucapkan.
"Bisakah kamu melakukan itu?"
Aku mengangguk yang menandai iya, melihat ukiran itu dan menggunakan skill «Translator» yang mampu menerjemahkan semua bahasa yang aku lihat.
Bahasa yang cukup rumit, kosa kata yang sulit untuk dimengerti dan terlalu tinggi untuk diucapkan... apakah orang zaman kuno berbicara dengan bahasa dan nada yang seperti ini?
Aku akhirnya berhasil mengetahui arti dari gambar dan makna tulisan ini. bersimpati dan mataku sedikit diturunkan ke bawah.
"Hmm, ada apa? kamu terlihat lesu!. apa isi tulisan kuno ini yang membuat dirimu seperti itu?"
"Tidak, hanya saja isi atau arti bahasa kuno ini membuat aku bersimpati dan bersedih membacanya!.."
"Oh.. kalau begitu, aku juga ingin mengetahuinya dan aku ingin tahu, kenapa tulisan ini bisa membuatmu seperti ini?"
Aku akhirnya menceritakan kepada Sada arti dari tulisan itu dengan cukup panjang yang sudah aku ringkas lebih rinci.
Cerita yang aslinya cukup panjang tapi aku menceritakannya sependek dan bisa dimengerti.
"Di zaman dulu, atau pada tahun enam ratus ribu. di gua ini adalah peradaban manusia yang dibangun. mereka membangun peradaban disini karena ingin menjauh dari dunia luar."
"Singkatnya kehidupan mereka damai sampai akhirnya era perang besar antara manusia melawan demon. perang yang membuat mereka kena akibatnya. mereka dianggap ancaman karena memiliki kekuatan sihir yang kuat seperti «Black Shadow» yang mampu mengendalikan bayangan atau memanipulasi bayangan!.."
"Dan wujud mereka juga berubah seperti manusia berkulit pucat putih, mata biru bercahaya dan fisik yang lemah karena kekurangan cahaya bintang!."
"Akibat perang besar itu, mereka diperbudak oleh manusia yang ingin memanfaatkan kekuatan mereka melawan demon. kerja paksa, ditindas, para perempuan dijadikan objek bahan nafsu dan keturunan."
"Diperbudak selama berabad-abad dan perang yang berakhir membuat mereka dibawa oleh para manusia untuk diperbudak ditempat mereka yang akhirnya tempat ini ditinggalkan!.."
Sada mendengar ceritaku dan akhirnya mengeluarkan air mata dan merinding, dia kaget dan shock saat tahu sejarah kelam itu.
Dia terjatuh ketanah dan aku memegang bahunya karena khawatir dengan mental dan keadaannya.
"Kamu baik-baik saja? tenanglah, janganlah nangis seperti ini!.."
Aku mencoba membuat dia tenang dari air mata yang keluar dan shock berat.
"Bagaimana mungkin, mereka bisa sejahat sesama ras mereka sendiri? itu manusia loh!.. cuman beda fisik saja karena evolusi dan habitat!.."
Sada menatapku dengan air yang ada matanya, matanya berkaca-kaca dan aku tidak tahu harus berbicara apa.
"Kejam sekali, meskipun demon ada yang jahat, tapi mereka masih kenal hormat dan harga diri!."
Sada menutup wajahnya dengan tangannya untuk menangis karena shock. aku menutup dirinya yang menangis dengan pelukan untuk menenangkan dirinya.
Sada nangis di pelukanku, aku membiarkan dia mengeluarkan semua emosi sedihnya karena tidak bisa menerima kekejaman itu.
Berani sekali mereka membuat Sada menangis seperti ini, aku tidak terima hati Sada yang lembut dilukai!..
Tenanglah, aku akan membuat mereka menerima balasan karena para manusia yang perbudakan itu memberikan informasi letak mereka!.. aku berjanji Sada.
Setelah lamanya menangis, dia akhirnya selesai dan masih ada pelukanku dengan nyaman.
"Hei, apakah mereka bisa diselamatkan atau masih hidup?"
Aku tertegun dan mencoba menjawab pertanyaan Sada yang kata-kata yang bisa membuat dia tidak bersedih lagi.
"Iya, mereka masih hidup dan mereka bisa diselamatkan!.."
Sada yang tadinya lesu menjadi ceria kembali dan berbalik bertanya tentang mereka.
"Bagaimana bisa? apakah kamu tahu lokasi mereka diperbudak?"
Aku menatap senang Sada yang kembali seperti semula dan masih ada pelukanku.
"Tentu saja, nanti kita bakal menyelamatkan mereka disaat kita berhasil membangun desa atau desa kita sudah diresmikan dan diakui oleh kerajaan!.."
Sada tersenyum dan mengangguk percaya kepada diriku, aku cukup senang dia kembali ceria dan tidak bersedih kembali.
Aku melepaskan pelukan untuk melakukan sesuatu dari ukiran itu karena aku sempat membaca salah satu kalimat untuk menyentuh ukiran itu.
"Apa yang kamu mau lakukan?"
Sada bingung dengan apa yang aku lakukan dan cuma melihat saja dari belakangku.
Aku meraba-raba ukiran ini, mencoba melakukan sesuatu untuk bisa membuat hal yang seperti apa yang ditulis di ukiran itu.
Krekk!..
Suara saat aku menyentuh gambar ukiran seperti tongkat. ukiran itu terbuka seperti ruangan yang ada dibaliknya. Sada dan aku terkagum dengan kehebatan ukiran ini.
Dibalik ukiran itu, terdapat tongkat yang cukup kuno dengan ada permata hijau kebiruan.
Sada berbicara dalam hati atas tindakan yang aku lakukan Apa yang dilakukan Daichi-kun sampai bisa membuka ruangan rahasia itu?
Mungkinkah ini adalah tongkat yang dimaksud dalam tulisan diukiran itu?
Aku memberanikan diri mengambil tongkat itu dengan hati-hati, memegangnya yang dimana mendapatkan respon kekuatan yang besar.
Tubuhku menerima kekuatan baru berupa «Gölge». sepertinya ini bisa memanipulasi bayangan dan berbagai kekuatan unsur bayangan!...
"Tongkat apa itu, Daichi-kun?"
Aku berbalik tubuh dan memperlihatkan tongkat tersebut yang bernama Skygge.
"Ini adalah tongkat peninggalan mereka, aku mendapatkan perintah dalam tulisan itu, yang terdapat kata siapa yang berhasil menemukan dan membaca ukuran ini. maka terbukalah ruangan rahasia dan masuklah ke dalam ruangan tersebut untuk mengambil tongkat bernama Skygge untuk menyelamatkan kami sekaligus menjadi petunjuk bintang".
"Begitu rupanya, kalau begitu ini bagus untuk kita bisa menyelamatkan mereka, bukan?"
Sada tampak gembira dan ceria dengan senyuman manis yang dia berikan. aku terpana dengan senyumannya.
"Iya... dan sudah waktunya kita kembali!.. memberitahu tentang ini kepada mereka!.."
"Baiklah, Ayo!.."
Sada menarik tanganku untuk bergegas pulang ke rumah, aku mengikuti dia dan sekaligus memasukkan tongkat itu kedalam dimensi Absolute untuk membuat tongkat tersebut aman.
Setelah lamanya kami berjalan, akhirnya berhasil keluar dari gua dengan keadaan masih bergandengan tangan. melihat cahaya matahari yang mau terbenam, memandangi suasana sore menjelang malam di hutan.