
Villa Puncak
Deg !!!!
Dava terdiam sejenak,,memikirkan arah bicara Vanessa
" Vanessa,, kamu sadar apa yang kamu bicarakan,,?? ini bukan sesuatu yang bisa di ucapkan sesuka mu, aku tahu umur mu yang terlalu muda, tapi bukan kah aku gak pernah memaksa apa pun padamu,,? "
Kata Dava
" Ini bukan karena umur, diluar sana malah umur 16 tahun sudah berumah tangga juga, bukan kah pernikahan ini karena kemauan kedua orangtua kita, sekarang orang tua ku sudah tiada, jadi sebelum aku yang di tinggal kan, aku sadar diri untuk mundur dari awal, aku harap kamu mengerti "
Jawab Vanessa sambil menahan rasa sakit di dada nya
" Mengerti,, apa yang harus aku mengerti kan hah ?? siapa yang akan meninggalkan kamu ?? " Ucap Dava
" Sekarang ganti pakaian mu, kita kembali ke Kota D, kamu butuh istirahat Vanessa jangan terlalu memikirkan hal yang gak perlu yaa,, kak Dava tunggu di bawah, jangan terlalu lama,, "
Sambung Dava lagi
Dava terlalu lelah dengan kejadian beberapa hari ini, apalagi memikirkan keadaan istrinya yang tak kunjung sadar, namun saat sadar dengan gampang nya bermain kata kata,,
Dava langsung turun gak memberi Vanessa untuk menjawab lagi, Vanessa yang tinggal hanya duduk terdiam lalu dia bangun mengganti pakaian nya
Dava dan Vanessa berangkat ke Kota D, sedangkan para karyawan Brahmana mulai berpencar sesuai yang di saran kan Dava ke mereka, lebih tepat nya mereka pergi ke beberapa tempat yang sudah di berikan Vanessa nona mereka tanpa sepengetahuan Dava
Kota D Kediaman Rules
Mama Jessy sedang sibuk menyiapkan masakan untuk menyambut kedatangan menantu nya, tak lupa dengan hiasan di dalam kamar Dava yang tentunya akan menjadi kamar Vanessa juga
Ini pertama kalinya Vanessa ke kediaman Rules, seharusnya Dava sudah membawa nya di awal awal pernikahan mereka, namun karena dia melihat kesibukan Vanessa mempersiapkan diri untuk olimpiade dan ujian nya jadi dia urung kan
Para karyawan kediaman Rules mulai penasaran dengan istri Tuan Kedua mereka
" Ma,,,Jessica kuliah nya pindah kejurusan yang sama dengan Vanessa aja yaa,,?? "
Rengek nya
" Nak,, Mama gak maksa Jessica mau ngambil jurusan apa pun,, tapi Jessica yakin bisa,,?? ilmu bedah itu gak gampang lho,, "
Kata Mama
" Kan nanti Jessica belajar Ma, mungkin di awal nya aja kesusahan,,,berarti deal ya Ma,,?? " Jawab Jessica semangat
" Papa gimana,,?? tanya ke Papa juga yaa,, "
Ucap Mama lagi sambil mengatur makanan di atas meja
Dalam Mobil
Suasana sepi dan hening karena Dava dan Vanessa hanya duduk diam tanpa bicara, sesekali suara Dava yang sibuk dengan laptop nya dia sedang bekerja
Vanessa larut dalam lamunan nya, dia mulai mengatur apa pertama yang harus di lakukan untuk masa depan nya, apa lagi setelah menerima email dari sebuah kampus bergengsi, kampus impian sejuta orang tua yang ingin anak anak mereka terakui dunia
Saat sampai ke Kota D mobil langsung berjalan kearah kediaman Rules, sampai kedepan nya Vanessa melihat betapa besar dan megah nya kediaman Rules jauh lebih besar dari rumah nya, jadi rindu rumah dan Papi Mami nya kata nya di hati
Di depan sudah berkumpul seluruh anggota keluarga Rules, mereka menyambut kedatangan Vanessa dengan hangat
Setelah bersalaman Vanessa di bawa masuk oleh Mama yang terus merangkul Vanessa, mereka duduk di ruang tamu
" Sayang,,,bersihkan diri dulu ke kamar yaa biar segar, Mama udah nyiapin air hangat di kamar mandi, setelah itu kita makan malam yaa,,"
Suruh Mama sambil bangun mengantar Vanessa ke kamar nya
" Makasih Ma,, Vanessa mandi sebentar yaa,, "
" Gak perlu makasih sayang,, kita ini keluarga "
Balas Mama sambil tersenyum
Vanessa masuk ke dalam kamar, hal pertama yang di liat adalah kesepian dalam ruangan.
dia jalan ke koper mengambil pakaian dan masuk ke kamar mandi
Kamar Dava bernuansa hitam putih elegant sama sekali bukan kesukaan nya Vanessa, menurut Vanessa terlalu sepi aja warna nya
Dava saat ini sedang bersama orang tua nya,
" Pa,, jadi Dava harus gimana sekarang, Vanessa ngomong gitu bukan karena lagi sensitif tapi memang kesungguhan dia, Dava bisa liat dari mata nya Pa,, ?? "
Tanya setelah bercerita kejadian waktu di Villa tadi siang
" Nanti biar Mama yang ngomong aja yaa,, biar Vanessa lebih terbuka kalo sesama perempuan tapi kalo Mama butuh bantuan Papa nanti panggil aja yaa,, "
Suruh Papa kepada Mama
" Iya Pa,, Mama juga gak kepikiran Vanessa akan berpikiran begitu,, Mama juga gak mau kehilangan Vanessa,, Mama sayang Vanessa "
Jawab Mama
" Nak,, sekarang kembali ke kamar bersih kan dirimu, temani Vanessa buat dia nyaman di sini "
Perintah Papa
" Iya,,,Pa Ma Dava ke kamar dulu yaa "
Ucap Dava pamit ke orang tua nya
" Ma,, seperti nya mereka lagi ada masalah, dan sepertinya Putra kita yang membuat masalah nya,, "
Kata Papa
" Masalah,, kenapa Papa tau,, ?? "
Tanya Mama
" Yaa dari cerita Dava sepertinya salah faham, cuman Dava gak sadari itu,, nanti coba mama tanya pelan pelan yaa,, "
Jawab Papa
" Iya Mama coba nanti,, kita siap siap yuk Pa bentar lagi udah jam makan malam "
Di sebuah Ruang
Angel hari sangat capek karena dia baru siap dengan belanjaan nya, tiba di kamar dia langsung melemparkan dirinya ke atas kasur yang empuk, dia mulai melihat dekorasi kamar baru nya, kamar Vanessa di sulap menjadi kamar Angel dengan warna dan isi kamar yang serba baru semua,
Angel menyuruh orang untuk membuang semua isi kamar Vanessa dan di isi dengan barang kesukaan nya, tapi tidak dengan pakaian dan aksesoris dengan harga selangit, lagian Vanessa gak pernah pakai juga, jadi semuanya milik Angel sekarang, Angel sedang sangat bahagia namun beda dengan orang tua nya
Di ruang kerja yang dulu nya milik Brahmana, sekarang sama dengan putri nya Hendra menyulap menjadi kepunyaan nya, bukan kah ayah dan anak gak jauh beda,
Hendra di buat frustasi dengan putra nya yang tadi pagi harus di bawa paksa ke rumah sakit jiwa, pihak rumah sakit mengatakan kalo putra nya mengalami gangguan kejiwaan
Yang membuat Hendra curiga, karena semalam putra nya masih baik baik saja, belum lagi dia kehilangan Putri asli Brahmana, dia berniat mengurung Vanessa di sini sampai usia nya genap 20 tahun untuk pemindahan hak harta, dia sama sekali gak peduli apa pun yang terjadi dengan keponakan nya itu
Hendra membenci Brahmana, padahal mereka dua adik kakak yang di tinggal pergi kedua orangtua walau mereka berasal dari keluarga yang berada, Hendra sejak kecil sudah tidak menyukai adik bungsu nya itu, saat umur nya 21 tahun dan Brahmana 20 tahun harta mereka di bagi oleh kakek mereka, di saat pembagian Brahmana mendapatkan harta yang masih utuh, sedangkan dirinya sisa seperdua lagi
Sebelum orang tua mereka meninggal, mereka sudah membuat pembagian yang adil, namun Hendra yang boros suka berfoya foya sedikit demi sedikit dari bagian nya terus berkurang, beda dengan Brahmana yang mulai mengenal kerja saat di bangku sekolah, dari hasil kerja paruh waktu nya dia tabung dan setiap bulan nya dia kumpul kan dengan uang bulanan nya untuk mulai menanam saham ke perusahaan perusahaan kecil sampai usaha nya sekarang menjadi no 2 di bawah menantu nya