
Nara memasuki kamar Harvey dengan mata menelisik semua penjuru kamar. Ia di antar langsung pelayan di rumah tersebut ke kamar itu.
"Tidak terlalu buruk untuk pria brengsek seperti dia! Sangat rapi dan bersih untuk di huni. Setidaknya lumayan lah suasana nya! " gumam Lea dengan nada pelan.
Ia menutup pintu kamar tersebut tanpa sepenuhnya hingga agak sedikit renggang. Kemudian menyeret kopernya di sudut kamar karena ia tidak tau mau menaruh pakaian nya di mana karena sengaja berjaga-jaga kalau pemilik kamar menolak nya.
Kamar pribadi yang sangat luas dengan sebuah ruang ganti pakaian dan toilet seperti hotel bintang lima. Berbagai macam lemari pakaian serta perlengkapan pemilik kamar seperti lemari sepatu, lemari aksesoris seperti jam dan dasi, lemari khusus kemeja, lemari jas dan lemari celana.
"Ckckck... Sultan emang beda! Harus banget ya punya lemari banyak kayak gini kayak mau jualan aja! Aku juga kaya tapi gak berlebihan kayak gini! Cih, buang-buang uang dan sangat boros! " celutuk Lea dengan sinis saat mengintip walk in closet milik Harvey.
Setelah puas mengintip isi walk in closet milik suaminya, Lea kembali berjalan menyusuri bagian depan yang mengarah ke balkon yang ada di kamar tersebut. Ia membuka tirai nya hingga cahaya matahari masuk semuanya dan membuka pintu yang terhubung dengan balkon tersebut.
"Udara yang segar untuk saat ini! " gumam nya pelan sembari memejamkan matanya untuk sesaat.
Sementara itu, Harvey mengeram menahan marah karena terjebak macet dalam perjalanan nya.
"Sean! Apa tidak bisa cepat sampai di rumah?? Cari jalan lain agar bisa sampai di rumah secepatnya! " bentak Harvey dengan nada geram pada asisten pribadinya.
"Maaf Tuan! Ini adalah jalan pintas agar segera sampai ke rumah! Kalau kita jalan biasa mungkin akan sampai setengah jam lagi! " jawab Sean dengan nada datar.
"Aku tidak mau tau Sean! Cepat keluar dari posisi ini! " bentak Harvey lagi dengan raut wajah memerah.
"Astaga Tuan! Ini lampu merah dan bukan terjebak macet panjang! Bisa gila aku lama mendengar teriakan nya! Ya Tuhan, kirim kan seseorang yang bisa mengimbangi kemarahan laki-laki ini! " batin Sean mengerang frustasi.
"Kau mengumpat ku Sean! " tuduh Harvey dengan tatapan tajam dari bangku belakang.
Sean terkejut sesaat namun cepat-cepat menormalkan ekspresi nya karena tidak mau menjadi sasaran empuk kemarahan sang Bos.
"Mana saya berani Tuan! " jawab Sean pelan.
"Huh.. ! Awas saja kalau kau berani mengumpat ku! Akan aku kirim kau ke antartika untuk mengasuh pinguin di sana! " sahut Harvey dengan tersenyum miring.
Sean tidak menjawab ucapan bos nya, ia langsung memerintahkan sopir untuk segera melajukan mobil karena sudah lampu hijau.
Perjalanan yang hanya lima belas menit menjadi berjam-jam bagi seorang Harvey Anderson. Ia bergegas turun dari mobil dan memasuki rumah tanpa membalas sapaan para pelayan di kediaman Anderson.
"Kau sudah pulang Kak! Bagaimana keadaan Kak Rissa?? " tegur Starla yang sedang membaca majalah fashion di ruang keluarga.
"Apakah perempuan itu sudah pulang?? Dimana dia?? " tanya Harvey tanpa memperdulikan pertanyaan Starla.
"Kenapa kau menanyakan ****** itu?? Kau sudah jatuh cinta pada istri pengganti mu?? Secepat itu kakak melupakan Kak Clarissa?? Cih, perempuan ****** itu tidak pantas menjadi keluarga Anderson! " cibir Starla menghina Lea dengan mulut lemes nya.
"Itu bukan urusanmu! Dimana dia?? " sahut Harvey dengan bertanya kembali tanpa memperlihatkan wajah dinginnya.
"Di kamar mu lah! " jawab Starla dengan mendengus kesal.
Ia melihat pintu kamar nya tidak tertutup rapat dengan matanya mengeram marah saat melihat Lea menyentuh lemari hias yang menyimpan barang berharga.
"Jauhkan tangan kotor mu dari sana! " teriak Harvey dengan suara menggelegar marah.
Lea tersentak kaget mendengar suara keras yang membuat telinga nya berdengung hebat. Ia sampai memejamkan matanya dengan ekspresi ketakutan dan wajah menunduk menatap lantai.
Harvey berjalan mendekati Lea dengan emosi memenuhi rongga dadanya. Ia mencengkeram erat rambut panjang Lea hingga membuat Lea mendongakkan wajahnya dengan linangan air mata.
"Jangan kau pikir dengan menjadi istri ku kau bisa seenaknya di kamar ini! Kau hanya bisa masuk kamar ini saat ada Daddy ku dan keluarga yang lain! Air mata palsu mu tidak akan membuat ku luluh untuk mengasihani mu sialan! Aku tidak sudi barang milikku di sentuh oleh tangan kotor mu! " ucap Harvey dengan tajam sembari menatap nyalang Lea.
"Sa-sakit... " rintih Lea dengan mata menghiba.
"Sakit hmmm.. ! Ini tidak seberapa sakitnya dengan apa yang di alami kekasihku! Kau membuat kekasihku koma di rumah sakit! Kau akan membayar semua perbuatan mu dengan menjadi budak ku di rumah ini! Status mu menjadi istri ku hanya berlaku di hadapan semua orang! Bukan di hadapan ku! Kau ingat itu! " ujar nya lagi dengan sinis dan mendorong Lea hingga jatuh terduduk di lantai.
Ia tidak peduli dengan tangisan pilu Lea yang lututnya memar terbentur lantai.
"Pelayan.. ! Pelayan.. ! " teriak Harvey dari pintu kamar nya.
Semua orang yang ada di kediaman tersebut menjadi pucat ketakutan mendengar suara keras menggelegar milik Harvey termasuk Starla dan ibunya. Mereka berdua tersenyum bahagia mendengar emosi Harvey yang meninggi itu.
"I-iya Tuan! " jawab kepala pelayan dengan berlari menaiki tangga menghadap majikan nya.
Harvey kembali memasuki kamar nya dan mengambil koper Lea yang ada di sudut kamar nya dan melemparnya keluar kamar.
Brak...
"Bawa koper sialan itu dari kamar ku! Aku tidak sudi sampah itu memasuki kamar ku! Terserah kalian mau taruh dimana karena aku tidak peduli! " perintah Harvey dengan mata menatap tajam kepala pelayan.
Ia lalu berbalik dan mendekati Lea yang masih menangis dengan bahu naik turun.
"Enyah lah dari hadapan ku *****! Wajah busuk mu membuat ku muak! Ini peringatan pertamaku pada mu! Jangan pernah tubuh kotor mu memasuki area pribadi ku! " ucap nya dengan melangkah pergi meninggalkan kamarnya.
Empat pasang mata tersenyum puas di balik dinding dengan tangan keduanya saling berpegangan.
"Aku bahagia sekali melihat kakak menyakiti ****** sialan itu Bu! Rasanya aku puas melihat wajah menderitanya itu! " bisik Starla pada Nyonya Siska.
"Kau benar sayang! Sepertinya kita bisa bebas menyakitinya karena tidak ada seorang pun di rumah ini yang bisa menolongnya! Harvey pasti tidak akan keberatan jika perempuan sialan itu menderita oleh kita! Hahahaha... ! " jawab Nyonya Siska dengan tertawa pelan hingga matanya menyipit.
Lea yang menyadari ada yang mengintip nya menyeringai devil dengan wajah menunduk hingga tidak ada yang bisa melihat seringai kejam di balik tangisan nya.
Bersambung...