
Nara terjaga dari tidur panjangnya yang membuat ia mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.
Ia melihat di sekelilingnya yang dominan berwarna putih dengan bau obat-obatan yang sangat menyengat di hidung nya.
Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut hingga ia tersadar akan satu hal yaitu kematian sang Mama.
Tidak ada lagi suara tangisan seperti beberapa saat yang lalu pada wajah nya. Dengan susah payah sambil memegang kepalanya, Nara berhasil duduk di atas ranjang pasien dan berusaha untuk turun menginjak kan kakinya ke lantai.
Steve yang baru saja masuk kaget melihat Nara yang berusaha untuk turun dan segera berlari mendekati.
"Oh my god Nara! Kau mau kemana?? " pekik Steve dengan memegang lengan nya yang hampir terjatuh.
Tubuhnya melemas dan hampir roboh saat kakinya menapak di lantai. Ia membiarkan Steve membantunya dan berdiri dengan berpegangan pada lengan pria itu.
"Antar kan aku menemui Mama! " pinta Nara dengan nada dingin dan datar.
Steve kaget mendengar suara Nara yang terkesan datar dan dingin, tidak ceria dan lembut seperti biasa nya. Ia menatap lekat wajah sepupunya itu dengan pandangan yang heran dan hati bertanya-tanya.
"Jangan melihat ku seperti itu jika kau tidak mau aku congkel matanya! " ucap nya lagi dengan datar.
"Astaga Nara! Sejak kapan kau berubah jahat dan dingin begini?? Kau tega mencongkel mata sepupu tampan mu ini?? " teriak Steve tidak terlalu kencang.
"Aku tidak butuh ocehan mu! Antar kan aku ke tempat Mama! " jawab Nara dingin.
"Oke, oke! Aunty Rani sudah di bawa di rumah duka dan pemakaman nya sedang di persiapkan di samping makam Uncle Elang! Kita ke sana saja setelah aku memastikan kondisi mu pada dokter! " ucap Steve mengalah dan mengatakan semuanya.
"Hmmm... " jawab Nara tetap dengan ekspresi nya itu.
Steve membawa Nara duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut dan ia langsung keluar untuk menemui dokter yang menangani Nara.
Lima menit berselang, Steve kembali lagi ke ruangan Nara dan lagi-lagi ia melihat tatapan mata Nara yang menatap kosong objek di depan nya yang tidak lain adalah jendela luar.
"Dokter mengizinkanmu keluar karena terpaksa ! Jika kau pingsan lagi maka mau tidak mau kau harus kembali lagi ke ruangan ini! " ucap Steve sambil berdiri.
"Hmmm.. " hanya itu yang keluar dari mulut gadis itu.
"Ayo kita pergi sekarang! " ajak Steve dengan meraih tangan Nara agar berdiri.
Mereka berdua berjalan keluar dari ruang inap rumah sakit tersebut. Berjalan menyusuri lorong rumah sakit hingga akhirnya sampai juga di pintu keluar. Ternyata telah menunggu sebuah mobil sedan hitam yang pintu belakang nya sudah di buka oleh sopir.
Nara masuk ke dalam mobil dengan di ikuti Steve di bangku sebelah nya, yang masuk setelah menutup pintu sebelah duduk Nara. Selama perjalanan tidak ada percakapan dari mulut mereka berdua hingga akhirnya sampai di rumah duka yang sudah di pasang bendera kuning dan banyak nya para pelayat.
"Ayo turun.. ! " tegur Steve yang membuyarkan lamunan Nara.
Ia langsung keluar dari mobil karena pintunya sudah di buka sopir. Semua mata melihat pada gadis itu yang mempunyai wajah sama persis dengan Naya yang selama ini mereka kenal.
"Jadi itu anaknya Bu Rani yang di luar negeri! "
"Cantik ya, persis banget mukanya kayak si Yaya"
"Alah, kelamaan di luar negeri pasti lupa tuh sama emaknya! "
"Kasihan banget ya.. Tampaknya ia terpukul banget dengan kepergian Bu Rani! "
"Terpukul apanya! Mukanya datar gitu! Gak ada sedih-sedih nya! "
Begitulah bunyi suara-suara sumbang yang membicarakan Nara saat memasuki rumah duka. Para tetangga julid seperti mereka tetap menggunjing meskipun dalam suasana duka seperti ini.
Nara duduk diam di samping Naya yang masih menangis pilu sambil memeluk jenazah Rani yang sudah di bungkus kain kafan. Oma Opa Wijaya melihat Nara dengan pandangan heran akan sikap diam dan wajah datar gadis itu.
Mereka berdua melirik Steve dan Steve menjawab nya dengan mengangkat kedua bahunya seakan berbicara ia tidak tahu. Helaan napas kedua pasangan lansia tersebut membuat Nara menoleh sejenak tapi hanya beberapa detik dan kembali lagi ke mode semula.
Selama di rumah duka hingga akhirnya sang Mama di bawa ke pemakaman, ekspresi Nara tidak bergeming. Ia tetap mempertahankan raut datar dan dingin nya sepanjang proses pemakaman.
Ekspresi Nara di artikan lain oleh beberapa rekan bisnis yang juga mengenal Rani sebagai istri almarhum Elang dan menantu satu-satunya Wijaya.
"Saya turut berduka cita Tuan Wijaya! Tampaknya cucu anda yang berdiri itu sangat tegar dengan musibah ini! " ucap salah satu pria yang berdiri di samping Opa Wijaya.
"Terimakasih atas simpati nya Tuan Archie! " jawab Opa Wijaya singkat.
Opa Wijaya kembali fokus melihat acara pemakaman jenazah menantu nya yang di makamkan di sebelah jenazah putra tunggal nya.
Proses pemakaman selesai, para pelayat membubarkan diri satu persatu hingga hanya menyisakan keluarga inti saja termasuk Billy dan Steve.
Sejak saat itu kepribadian Nara berubah total dari gadis yang ramah dan ceria menjadi gadis dingin dan berwajah datar.
Kembali lagi pada saat ini...
Nara yang baru pulang ke rumah suaminya di sambut dengan wajah garang Ibu mertuanya dan juga iparnya.
"Aku kira ****** seperti mu tidak tau jalan pulang ke rumah! Jika saja kau bukan istri kakak ku kau sudah aku tendang dari rumah ini! " ucap Starla dengan nada sinis dan angkuh.
"Kau benar sayang! Entah apa isi dalam pikiran kakakmu hingga mau menikahi perempuan sial ini dan menjadikan nya anggota keluarga Anderson! " sahut Nyonya Fransiska atau lebih di kenal dengan nyonya Siska Anderson.
Nara terus berjalan sambil menggeret kopernya dan tidak memperdulikan atau menanggapi cibiran dan hinaan yang di lontarkan keluarga suaminya.
Ia terus menaiki tangga menuju kamar yang akan ia tempati selama di rumah ini yaitu kamar suaminya Harvey.
Sementara itu, Harvey masih betah memandang wajah pucat sang kekasih sambil berdiri tanpa berusaha untuk mendekat.
Suatu pemandangan yang aneh dan janggal mengingat mereka adalah sepasang kekasih.
"Tuan! Apa Tuan tidak lelah hanya berdiri selama hampir tiga jam?? Apa Tuan tidak ingin istirahat dan pulang ke rumah?? " tanya Asisten pribadinya sekaligus tangan kanan nya.
"Tentu saja aku akan pulang! Aku harus memastikan ****** itu ada di rumah dan menunjukkan apa posisinya di rumah itu! " jawab Harvey dengan menyeringai devil.
Bersambung...