
Lea masuk ke dalam mobil van khusus dengan duduk di belakang bersama Alice, sedangkan Mbok Surti duduk di depan di samping Mang Jaka.
Selama perjalanan Lea tidak henti-hentinya tersenyum melihat pemandangan di luar yang memanjakan matanya.
"Akhirnya bisa juga keluar rumah, sepat juga gak bisa kemana-mana dan jadi burung dalam sangkar! " ucap nya dengan mata melihat keluar jendela.
"Emangnya kakak sebelum menikah ada kegiatan lain ya?? " tanya Alice penasaran.
"Ada, tapi gak banyak sampai sibuk seharian! Setidaknya apa yang kakak lakuin bisa menghasilkan uang dengan cara halal! " jawab Lea ambigu.
"Maksud kakak kayak mana? Aku jadi bingung! " tanya Alice dengan kening berkerut.
"Maksud kakak itu pekerjaan kakak tidak seperti orang yang kerja di kantor, tapi sama-sama menghasilkan uang malahan lebih banyak dari orang yang kerja kantoran. " jawab Lea santai.
"Wah hebat.. ! Berarti kerjaan kakak gak perlu takut di marahin bos dong, soalnya gak terikat! " ucap Alice tepuk tangan dengan mata berbinar.
"100 buat kamu! " jawab Lea dengan memberikan jempol nya.
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sampai di pasar tradisional yang besar. Jaka langsung memarkirkan mobil tersebut di tempat yang mudah untuk keluar nanti.
"Non, nanti jalan nya di belakang kami aja ya? Kalau Nona muda capek, jangan ditahan dan langsung ngomong sama si Mbok! " ucap Surti dengan ramah.
"Iya Mbok, Lea gak akan pergi sendiri kok! " jawab Lea santai.
Alice berjalan bersisian dengan mbok Surti dengan membawa catatan kecil di tangan nya. Sedangkan mbok Surti membawa keranjang untuk tempat barang belanjaan yang akan mereka beli.
Lea berjalan di belakang mereka berdua sambil matanya melihat keramaian di pasar ini.
"Udah berapa lama ya gue gak masuk ke pasar tradisional?? Dulu Mama sering banget ngajak gue dan Naya ke pasar, sampai-sampai gue selalu di marahin Mama karena selalu menghilang! " gumam Lea lirih.
Saat sedang melamun mengingat masa lalu, terdengar suara heboh orang berteriak-teriak mengejar seseorang.
"Copet.. !! Kejar copet nya! Kejar.. !! " teriak beberapa orang berlari ke arah Lea dan rombongan.
Seorang pria dengan wajah ketakutan berlari sambil memegang sesuatu berwarna hitam di tangan kanan nya. Dari jauh tampak beberapa pria dan wanita mengejar pria tersebut dengan membawa alat untuk menghajar pencopet itu.
Dengan santai Lea menjegal pria itu dengan kakinya hingga pria tersebut jatuh tersungkur dengan muka mencium tanah.
"Akh.... " teriak pria tersebut dengan meringis kecil.
"Mau lari kemana lagi kau brengsek! Serahkan plastik itu! Dasar bajingan tengik! Bisa-bisanya kau mencopet di depan kedai ku! Bugh... Bugh... " teriak pria paruh baya yang berambut keriting dengan wajah emosi dan langsung menghadiahkan beberapa bogem mentah di wajah pria tersebut.
"Ampun Tuan, ampun!! Saya terpaksa mencopet Tuan, ampuni saya! " teriak pria pencopet memohon sembari melindungi dirinya dengan menahan pukulan pakai tangannya.
"Berhenti Pak! Jangan main hakim sendiri! Kita dengarkan dulu alasan Mas ini! " ucap Lea menahan tangan pria rambut keriting yang ingin memukul pria itu lagi.
Karena pria tersebut masih berusaha memukuli pria pencopet membuat Lea kesal dan dengan sekali tonjokan pada rahang pria rambut keriting hingga terduduk di tanah.
"Bugh.... "
"Akh... ! Brengsek kau! " teriak pria itu.
"Nona.... ! " pekik Alice dan Surti dengan wajah kaget melihat Lea meninju pria yang badannya besar hingga jatuh terduduk di tanah sembari memegang pipinya yang sakit dan perih.
"Buk, tolong periksa apakah ada barang ibuk yang hilang! " ucap Lea santai pada Ibu-ibu yang kecopetan.
Dengan tangan gemetar Ibu tersebut membuka plastik kresek yang di ambil tadi dari tangan Lea. Ia menghela napas lega karena tanaman obat yang ia beli masih utuh dan tidak hancur.
"Alhamdulillah Nona, tanaman saya masih utuh dan tidak hancur! Terimakasih banyak atas bantuannya! " ucap Ibu tersebut dengan wajah lega.
"Apa?? Jadi isi plastik itu tanaman obat?? Astaga, benar-benar menjengkelkan! Aku kira isinya barang berharga! Kalau gitu nyesal banget aku capek-capek ngejar pencopet sialan itu! Udah gitu mukaku juga bonyok di pukul perempuan gara-gara tanaman sialan gak guna itu! " teriak pria rambut keriting dengan wajah kesal.
"Eh Pak! Jangan sembarangan ngomong kamu ya! Ini tanaman obat langka yang harga nya sama dengan sebuah motor! Tanaman obat untuk segala penyakit berbahaya termasuk racun sekalipun inilah obat nya! " jawab Ibu itu ikutan kesal karena tanamannya di hina seperti itu.
"Haish.. ! Menjengkelkan! " ucap pria rambut keriting sembari pergi dengan memegang pipinya yang bengkak.
Lea hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan mereka dan berjalan mendekati pencopet yang masih terduduk karena kesakitan. Wajahnya babak belur hingga terlihat sudut bibirnya mengering karena darah meskipun tidak banyak.
"Ayo bang Lea bantu berdiri! Kenapa abang mencopet? Apalagi yang abang copet juga bukan uang! " tanya Lea sembari membantu pria itu berdiri.
"Maaf Nona! Karena kalut dan bingung saya tidak tahu kalau plastik itu isinya bukan uang! Saya bingung karena tidak punya kerjaan dan anak saya butuh susu karena sudah dia hari dia saya kasih air tajin. Tapi hari ini karena tidak ada beras, saya tidak bisa ngasih tajin. Niat saya kalau uang nya dapat mau saya belikan susu dan beras! " jawab pria tersebut dengan linangan air mata.
"Ya Tuhan.. ! Emang nya anak nya abang umur berapa kok di kasih air tajin?? " tanya Lea dengan wajah prihatin.
"Setahun setengah Nona! " jawab nya dengan menunduk malu.
"Ya Tuhan.. ! Jadi selama ini anak abang di kasih air tajin aja?? Emangnya abang gak punya kerjaan ya? Eh, ngomong-ngomong ayo duduk di sana aja! Kaki Lea pegel kelamaan berdiri! " ucap Lea dengan muka kaget dan mengajak pria itu duduk di bangku tempat orang jualan bakso.
Ibu yang kecopetan tadi ikutan duduk di bangku tersebut bersama mereka tanpa Lea sadari.
"Mbok, Alice! Lanjut aja belanjanya, Lea tunggu kalian di sana ya! " teriak Lea pada Alice dan Surti dengan di balas anggukan kepala keduanya.
"Ayo bang duduk dulu sambil pesan makan! Pasti abang belum makan! " ajak Lea dengan langsung memesan dia mangkok bakso untuk mereka.
"Bukan dua Mang, tapi tiga mangkok bakso! " ucap Ibu tersebut menambahkan.
"Eh.. ! Loh Ibu.. ! Lea kira Ibu udah pulang setelah ambil plastik tadi! " ucap Lea dengan wajah kaget.
Bersambung..