
Ponsel yang di pegang Nara terjatuh dan ia seketika pingsan. Untung saja waktu menerima telepon mereka sudah di dalam mobil menuju bandara.
Oma Wijaya sangat panik saat cucunya pingsan setelah menerima telepon dari cucunya yang satu lagi. Ketika sampai di bandara, Nara di gendong Billy naik ke dalam pesawat karena tidak mungkin Tuan besar yang menggendongnya dengan tubuh tua nya itu.
Tuan besar Wijaya menunggu di luar kamar yang ada di dalam pesawat pribadi mereka sambil menunggu kedatangan dokter yang di panggil Billy sebelum Nara dan Oma nya sampai di bandara.
"Tuan besar! Dokter Steve sudah datang! " ucap salah satu bawahan Billy pada Tuan besar Wijaya dengan hormat.
"Persilahkan ia masuk! " jawab Tuan besar Wijaya datar.
Pria tersebut mengangguk paham dan menjemput sang dokter yang baru akan menaiki tangga pesawat.
"Grandfa.. ! What happen? Who is sick? " tanya seorang pria Bule yang terlihat cemas saat memasuki badan pesawat.
"Nara Steve! Masuk lah ke dalam, pastikan Nara tidak apa-apa! " jawab Tuan besar Wijaya dengan nada sedih.
Steve mengangguk paham dan bergegas masuk ke dalam kamar tersebut dengan menenteng tas medis nya. Billy langsung keluar begitu dr. Steve masuk untuk memeriksa cucu majikan nya.
"Billy! Pantau terus perkembangan kabar ini dengan orang mu yang ada di Indonesia! Usahakan keselamatan untuk cucuku Naya tanpa sepengetahuan nya! Terlebih benar tidaknya kabar ini, aku tidak mau kecolongan lagi untuk yang kedua kalinya! " perintah Tuan besar Wijaya dengan raut muka seram pada asisten pribadinya itu.
"Baik Tuan! " jawab Billy dengan tegas dan mengangguk hormat.
Oma Wijaya memegang tangan Nara yang dingin saat Steve memeriksa cucu nya tersebut. Mulut nya komat kamit seraya berdoa agar cucunya tidak apa-apa.
Steve memasukkan kembali stetoskop nya ke dalam tas medis setelah selesai memeriksa keadaan sepupu nya.
"Granny... Ayo kita keluar! Biarkan Nara istirahat dulu sejenak! " ajak Steve dengan lembut pada perempuan tua yang tampak sedih tersebut.
Oma Wijaya mengangguk pelan dan meraih uluran tangan Steve yang menuntun nya keluar dalam kamar di pesawat tersebut.
"Bagaimana keadaan Nara? " tanya Tuan besar saat melihat istri nya dan Steve keluar kamar dengan bergandengan tangan.
"Nara tidak apa-apa GrandFa! Dia hanya shock dan sedang tertidur! Nanti kalau ia sadar pastikan ia makan dengan teratur karena sepertinya lambung nya agak sedikit bermasalah! Aku curiga jika sebelum pingsan maag nya kumat! " jawab Steve setelah mendudukkan Oma Wijaya di sebelah suaminya.
Tuan besar Wijaya menghela napas kasar setelah mendengar jawaban Steve akan kondisi Nara.
"Tuan! Apa pesawatnya bisa berangkat sekarang? Pilot dan Co-pilot sudah siap di tempat kemudi! " tanya Billy yang datang tiba-tiba menginterupsi pembicaraan mereka.
"Tunggu sebentar! Aku sampai lupa bertanya! Apa yang terjadi saat ini hingga kalian semua sudah ada di dalam pesawat? " tanya Steve dengan wajah penasaran.
"Ibu nya Nara dan Naya terjebak dalam kebakaran di sebuah Mall dan di kabarkan meninggal dunia beberapa saat yang lalu di Indonesia, dr Steve! " jawab Billy dengan wajah serius.
"Oh my god.. ! " seru Steve dengan wajah shock.
"GrandFa, Grandma! Izinkan aku ikut! Aku tidak bisa berdiam diri saja di sini saat aku mengetahui musibah ini! Aku juga akan memantau keadaan Nara dan juga Naya yang ada di sana! " pinta Steve dengan menggenggam tangan Oma Wijaya.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu di sini Steve? Apakah tidak apa-apa dengan rumah sakit mu kalau kau tinggal pergi? " tanya Tuan besar Wijaya pada Steve.
"Baiklah kalau itu mau mu! Billy, katakan pada pilot untuk take off sekarang! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi! " ucap Tuan besar Wijaya memberikan perintah pada Billy.
Billy mengangguk dan secepat kilat pergi menuju ruang kokpit untuk melakukan perintah majikan nya.
Tuan besar Wijaya beserta istri dan Steve langsung mengambil tempat duduk masing-masing dengan dibantu oleh pramugari yang bertugas di dalam pesawat tersebut.
Setalah menyampaikan perintah majikan nya, Billy kembali bersama mereka dan langsung mengambil tempatnya di belakang Tuan besar Wijaya.
Terdengar instruksi dari pengeras suara yang mengatakan jika pesawat akan take off dalam beberapa menit.
Pesawat pribadi itupun take off ke langit biru angkasa menempuh perjalanan udara ke benua Asia tepatnya ke Jakarta Indonesia.
Setelah menempuh perjalanan udara selama hampir 19 jam karena transit 1x untuk mengisi bahan bakar, akhirnya pesawat tersebut landing di bandar udara internasional Soekarno-Hatta jam 3 dini hari waktu setempat.
Nara sudah sadar pada saat mereka transit di Jepang untuk mengisi bahan bakar sekaligus menjemput pengawal bayangan milik Tuan besar Wijaya dari Jepang bernama Katsumi Akira dan Katsuro Akira.
"Nona! Apa anda mau di bantu untuk turun? " tanya Katsumi saat melihat Nara memijit kepala nya ketika bangkit dari tempat duduk nya.
"Tolong pegang lengan ku saja! Kepala ku tiba-tiba terasa berat! " jawab Nara pelan.
Katsumi langsung sigap memegang lengan Nara untuk membantunya turun dari badan pesawat.
Sementara itu, Naya kembaran Nara menangis histeris saat mengetahui jika Mama nya menjadi korban dalam tragedi kebakaran di Mall. Ia langsung pingsan saat petugas pemadam yang mengevakuasi jenazah Mama nya menggunakan tandu.
Saat ini jenazah Nyonya *Putri Maharani masih di rumah sakit bersama beberapa korban lainnya dan belum di bawa ke rumah duka. Naya masih menunggu kedatangan Oma Opa serta kembaran nya di kursi tunggu rumah sakit dengan wajah pucat dan bengkak karena kebanyakan menangis. Ia duduk seorang diri dengan memeluk lutut nya dalam pandangan kosong.
Terdengar suara langkah kaki yang keras menuju ke arahnya yang mana membuat Naya mendongakkan kepala nya untuk melihat siapa yang datang.
Ia langsung berdiri dengan linangan air mata saat melihat siapa yang datang ke arahnya.
"Nara... ! Mama Ra, Mama! Hiks.. Hiks... Hiks! Mama Ra! " ucap Naya dengan bahu naik turun dan langsung memeluk erat saudari nya begitu Nara sudah mendekat.
Tubuh Nara menegang saat mendengar isak tangis memilukan dari kembaran nya. Jantungnya berdebar kencang seakan-akan mau copot dari tempatnya. Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul di otaknya yang langsung terkoneksi jika terjadi sesuatu pada Mama mereka.
"Mama udah gak ada Ra! Mama pergi di jemput Papa! Mama ninggalin kita Ra! Mama ninggalin kita! " jerit Naya sambil memeluk erat tubuh Nara.
Tuan besar Wijaya, Oma, Steve dan Billy shock mendengar apa yang di ucapkan oleh Naya.
Nara dengan kasar melepaskan pelukan Naya dengan menatap Naya tidak percaya.
"Elo pasti bohong kan Nay! Mama gak mungkin pergi ninggalin kita! Katakan kalau elo bohong Nay! Katakan Nay! Mama gak mungkin pergi bersama Papa! Elo pasti bohong! " teriak Nara dengan histeris sambil menjambak rambutnya sendiri*.
Bersambung...