I'm not stupid wife

I'm not stupid wife
Kemarahan James Freddy Anderson



"Benar apa yang di katakan anakmu Albert?? " tanya Tuan besar dengan nada dingin.


Albert menundukkan kepala sembari mengangguk pelan.


"Bangsat!! " umpat Tuan besar Anderson dengan memukuli lemari kaca yang ada di ruang tersebut hingga kacanya berhamburan di lantai.


"Antar kan menantuku ke kamar yang ada di samping perpustakaan atas! " titah Tuan besar Anderson dengan nada tegas.


"Suamiku/Daddy..." pekik Siska dan Starla kaget secara bersamaan.


"Tu-tuan.. !! " ucap Albert dengan nada lirih karena terkejut.


"Aku tidak mengulangi perkataan yang sama Albert! Ambil kuncinya dan pindahkan barang-barang menantuku ke kamar itu!! Setelah kau antar menantuku, temui aku di ruang kerja! Dan untuk kalian berdua, kalian aku hukum dengan menyita kartu kredit kalian! Ambil kartunya sekarang dan antar kan ke ruang kerja ku! " ujar Tuan besar Anderson sambil menatap tajam Albert, Siska dan Starla.


"Baik Tuan besar!! " jawab Albert dengan nada sumringah.


"Iya Daddy!! " jawab Starla dengan tubuh lemas begitu juga dengan Mamanya.


"Bersihkan kaca-kaca ini sampai bersih !! " perintah nya lagi dengan berjalan menuju ruang kerjanya.


Begitu Tuan besar Anderson menghilang dari ruangan itu, para pelayan dengan sigap membersihkan lantai yang penuh dengan pecahan kaca lemari yang di hancurkan majikan mereka.


Siska dan Starla berjalan ke kamar mereka di lantai dua dengan wajah benci, dongkol dan marah menjadi satu karena di hukum juga oleh Tuan besar Anderson.


Mereka berdua tidak henti-henti nya menyalah kan Lea, menghina nya dan mencaci maki Lea seenak perut nya karena membuat mereka ikut di hukum. Mereka berdua tidak menyadari jika apa yang mereka alami adalah buah perbuatan yang mereka lakukan pada Lea.


Albert mengantarkan Lea yang di papah Alice dan Surti kiri kanan ke lantai atas ke kamar yang di perintahkan Tuan besar Anderson. Albert mengambil kunci kamar tersebut di dalam lemari yang sengaja di simpan karena perintah Tuan besar Anderson.


"Bawa semua barang-barang Nona muda Lea ke kamar ini dan bawakan juga makan siang untuk Nona muda! " perintah Albert pada Alice dan Surti dengan di jawab anggukan kepala keduanya.


Selesai memberikan perintah nya, Albert pun segera keluar dari kamar tersebut untuk menemui Tuan besar Anderson di ruang kerja nya.


"Tok... Tok... Tok... ! " Albert mengetuk pintu.


"Masuk saja.. " jawab Tuan besar Anderson.


Ia duduk di kursi kebesaran nya dengan posisi membelakangi menghadap ke arah luar jendela kaca yang besar.


"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat aku tidak ada Albert! Aku tidak mau ada yang terlewat sedikitpun! " ucap Tuan James dengan suara berat tanda dirinya sedang emosi.


Tuan besar Anderson mengepal erat tangan nya mendengar semua yang di katakan Albert dengan wajah merah padam dan dada yang penuh dengan amarah pada Siska dan Starla.


"Lalu jelaskan padaku bagaimana menantuku bisa di kamar belakang?? " tanya Tuan besar Anderson dengan penuh intimidasi yang kuat seraya membalikkan badannya menghadap Albert.


Tubuh Albert bergetar hebat dengan aura intimidasi yang keluar dari Tuan besar nya. Keringat besar keluar dari seluruh tubuhnya dengan wajah yang putih pucat seperti mayat hidup.


"Katakan padaku dengan jujur Albert dan jangan takut untuk mengatakan nya! " teriak Tuan besar Anderson dengan sorot mata tajam.


"Tu-tuan muda Harvey yang me-mengusir No-nona muda dari kamar nya Tuan! Bahkan Tu-tuan muda juga lah yang melempar koper Nona muda keluar kamar! " jawab Albert dengan tubuh lemas saking takutnya.


"Keterlaluan anak itu!! Sepertinya dia terlalu meremehkan aku rupanya selama ini! Panggil dia sekarang dan suruh ia untuk menemui aku di kamar darah sekarang juga! " ucap Tuan besar Anderson dengan emosi yang menggunung di tubuhnya.


"Ba-baik Tuan besar! " jawab Albert patuh seraya cepat-cepat keluar dari ruangan itu sebelum menjadi samsak kemarahan majikannya.


Siapa yang tidak tau apa itu kamar darah. Kamar yang khusus di peruntukkan keluarga Anderson saat ada anggota keluarga yang melakukan kesalahan yang fatal. Tidak ada seorangpun yang bisa keluar secara baik-baik dari kamar tersebut saat ia melakukan kesalahan.


Begitu Albert keluar dari ruang kerja nya, James langsung membuka laci mejanya dan menatap sendu potret perempuan cantik seperti bidadari dengan penuh penyesalan.


"Maafkan aku sayang!! Aku gagal menjadi seorang ayah bagi Putra sulung kita! Aku membuat menantu pilihanmu menderita selama aku pergi! Aku malu jika pergi di ambil Tuhan dan bertemu Elang, apa yang bisa aku katakan saat anak kita menyakiti Putri kesayangannya! Maafkan aku Hannah!! " ucap nya lembut dengan jemari mengusap potret tersebut dengan penuh cinta.


Ia lalu meletakkan kembali potret tersebut di dalam laci meja dan menguncinya. Kemudian ia membalikkan lukisan pemandangan pada ruang kerja nya dan menekan tombol kombinasi yang membuat lemari buku di ruangan tersebut bergeser membuka sebuah pintu ruang rahasia. Sebuah ruangan yang dalam nya lengkap dengan peralatan komputer canggih yang lorong nya terhubung dengan kamar darah. Hanya ia dan mendiang istrinya Hannah yang mengetahui kamar rahasia tersebut.


"Anak bodoh itu harus di beri pelajaran! Maafkan aku Hannah, aku harus menyadarkan Putra mu kalau ia melakukan kesalahan yang fatal dengan menyakiti menantu pilihanmu! " ucap nya dengan wajah benar-benar kesal.


"Dia sudah mensia-siakan sebuah berlian hanya untuk membela batu kerikil jalanan! Dimana otak pintar nya itu!! Bagaimana bisa ia tidak menyadari jika pengacara murahan itu tidak ada apa-apa nya di bandingkan istrinya! Benar-benar bodoh!! " umpat nya lagi dengan sangat geram.


Ia segera mengganti pakaian nya dengan pakaian beladiri berwarna hitam dan berjalan menyusuri lorong yang terhubung dengan kamar darah.


Sementara itu Harvey yang menginap di kantornya nya langsung pergi buru-buru setelah asisten pribadinya mendapat panggilan dari kepala pelayan di kediaman Anderson.


"Apa yang membuat Daddy pulang secepat ini?? Padahal setau ku proyek kerjasama di Jerman masih berlangsung hingga dia minggu lagi?? Haish... Sungguh sangat menjengkelkan bermain teka-teki seperti ini! " ucap nya dengan nada gusar sembari menyugarkan rambutnya kebelakang dengan jemarinya.


Ia pulang dengan menyetir sendiri mobilnya meninggalkan Sean untuk meng-handle pekerjaannya di kantor.


"Daddy benar-benar sulit di tebak!! " gerutunya dengan wajah kesal.


Bersambung...